
Troetttttt!
Aku membuka pintu kamar penuh semangat. Aku benar-benar tidak sabar untuk melihat wajah cantik Ummi Fazila. Begitu aku berdiri di depan pintu, wajah nyaris sempurnanya memamerkan senyuman terbaiknya. Ia duduk sambil menyandarkan tubuh letihnya.
Tanpa berucap sepatah kata aku langsung berhambur kedalam pelukan Ummi Fazila. Aku menangis di dalam pelukannya. Aku terisak, perasaan haru yang memenuhi rongga dadaku membuatku tak bisa mengendalikan air mata yang jarang ku keluarkan.
"Hay... Ada apa ini? Aku tidak pernah tahu kalau suamiku pria yang sangat cengeng. Apa yang harus ku lakukan untuk menghentikan tangisnya? Apa aku harus menangis bersamanya?" Guyon Ummi Fazila sambil mengeratkan pelukannya. Suara lembutnya kembali menenangkan hatiku.
Tidak sulit untuk menenangkan ku. Selama Ummi Fazila bersama ku, sebesar apa pun dukaku semuanya akan terasa menguap keangkasa. Senyuman indah Ummi Fazila bagai penawar untuk setiap lukaku.
"Haha. Tidak. Ummi tidak perlu menangis bersama ku. Menangis itu tidak cocok untuk wanita secantik dan sebaik Ummi." Balas ku penuh semangat. Di sela-sela tangisku, aku malah tertawa lepas. Mendengar ucapan Ummi Fazila yang terkesan menggoda membuatku bahagia luar biasa.
Aku melepas pelukan ku dari tubuh rampingnya, menempelkan keningku di kening mulusnya, sedetik kemudian aku mulai mencium kening Ummi Fazila, darahku terasa mengalir sepuluh kali lebih cepat. Degupan di dadaku masih tetap sama, bahkan rasa cintaku semakin hari semakin besar pada wanita seindah Ummi Fazila.
Aku tidak akan bisa berpikir dengan jernih jika terjadi hal buruk dengan Ummi Fazila, mungkin karena perasaan takut itu membuatku tak bisa mengendalikan diri.
Karena masih merasakan senang dengan kabar yang ku dengar aku tidak berpikir panjang untuk menarik Ummi Fazila dan berbaring di pangkuannya.
"Aa-aku minta maafff!" Ucapku dengan wajah memelas, aku langsung bangun dan duduk menghadap Ummi Fazila.
"Apa aku menyakiti Ummi dan calon anak kita?" Aku bertanya sambil menangkup wajah cantik Ummi Fazila. Tidak ada balasan darinya selain senyuman manisnya. Dia kembali meletakkan kepalaku di atas pangkuannya.
"Anak kita tidak akan terluka hanya karena abinya meletakkan kepala di atas pangkuan Umminya. Apa Abi bahagia?"
"Tentu saja Ummi! Ini berita besar dan membahagiakan untuk kita semua. Abi sangat bahagia sampai Abi tidak bisa menahan diri untuk tidak menemui Ummi."
"Ummi juga sangat bahagia. Terima kasih untuk semua kebahagiaan yang Abi beri. Ummi tidak bisa berjanji membuat Abi selalu bahagia, tapi Ummi bisa berjanji Ummi akan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Sekarang, membuat Abi, Fazila dan calon anak kita bahagia akan menjadi tujuan hidup Ummi." Celoteh Ummi Fazila sambil menangkup wajah ku dengan jemari lentiknya.
Aku tersenyum lebar, mendengar ucapan Ummi Fazila membuatku merasa terbang keawan.
"Abi membayangkan wajah bahagia putri kita. Bagaimana reaksi Fazila saat dia tahu dia akan memiliki adik? Abi tidak sabar menunggu hari esok."
"Fazila pasti bahagia. Dia selalu bilang dia ingin adik. Ummi sangat bersyukur, setelah hari yang buruk akhirnya hari seperti ini datang juga." Ucap Ummi Fazila lagi sambil tersenyum tipis, ia mencubit hidung bangir ku tanpa mengedipkan mata. Sedetik kemudian, ia merunduk dan menatap mataku penuh cinta. Aku tidak menyangka bibir tipisnya akan mendarat di bibirku. Singkat. Sangat singkat sampai aku tidak bisa merasakan bibirnya.
"Nak, Ummi mu sangat nakal. Dia berani menggoda Abi dengan tingkah manisnya. Sekarang katakan, apa yang harus Abi lakukan untuk membalasnya?" Aku bicara sambil mengelus perut rata Ummi Fazila.
Hahaha...
Mendengar ucapan tidak bergunaku, Ummi Fazila hanya bisa cekikikan sambil menutup bibirnya. Aku merasa bahagia melihat tawa renyahnya. Jujur, aku tidak pernah melihatnya seriang ini sebelumnya.
"Nak, Ummi mu mengejek Abi. Apa yang harus Abi lakukan dengan-nya?" Aku kembali membuka suara di antara senyapnya udara. Ummi Fazila yang mendengar ucapanku hanya bisa menggelengkan kepala, ia tersenyum sambil mengelus perut ratanya. Kurasa dia mulai perpikir kalau aku orang yang aneh.
Malam semakin larut namun tak ada tanda-tanda aku akan tertidur. Setelah percakapan manis kami Ummi Fazila bilang dia mengantuk dan dia baru saja terlelap, tidak mungkin aku mengganggunya hanya karena aku tidak bisa tidur dan butuh teman bicara.
Disaat seperti ini tidak ada yang bisa ku lakukan selain memaksakan diri untuk memejamkan mata sambil menatap wajah teduhnya, aku mengangkat kepala Ummi Fazila dan meletakkannya di lengan berototku.
Ya Allah... Saat dia datang, datanglah sinar. Hidup ini tidak berarti tanpa kehadirannya, dan aku tidak bisa hidup tanpanya. Terima kasih atas karunia terindahmu. Karunia karena aku memiliki istri sebaik Fatimah Azzahra dan putri sebaik Meyda Noviana Fazila. Aku tidak akan pernah bosan mengatakannya walau ribuan bahkan jutaan kali kalau aku sangat bersyukur untuk kehadiran mereka. Walau orang lain bosan mendengarku mengulangi ucapan yang sama aku akan tetap mengulanginya. Aku bergumam di dalam hati tanpa melepas pandanganku dari wajah seindah purnama milik Ummi Fazila. Aku mencoba memejamkan mata sambil memeluk tubuh rampingnya. Aku tidak tahu kapan aku mulai terlelap saat aku mengagumi keindahan wanita yang saat ini menjadi kekasih halalku.
...***...
Pagiku di penuhi oleh senyuman, bukan hanya aku yang tersenyum bahagia tapi semua anggota keluarga Wijaya beserta Art-nya. Siapa yang tidak akan larut dalam bahagia melihat tingkah polos Fazila. Suara putri Saliha ku memenuhi ruang tengah. Dalam sepuluh menit terakhir entah berapa puluh kali sudah ia mengulangi pertanyaan yang sama.
Ummi beneran Fazila akan punya adek baru? Hanya ucapan itu yang keluar dari bibir tipisnya. Opa Ade dan Oma Ochi bahkan tidak bisa membendung tawanya melihat tingkah cicit manisnya. Fazila benar-benar menyatukan keluarga.
"Iya... Fazila akan punya adek baru. Apa Fazila senang?" Mama Nani menjawab pertanyaan Fazila sambil meletakkan cangkir kopi di atas meja.
"Mmmmm! Fazila senang dan Fazila juga sangat bahagia." Balas putri Saliha ku sambil menganggukkan kepala.
"Sudah, nak! Sekarang waktunya berangkat sekolah, bagaimana jika Fazila terlambat? Hari ini Abi sendiri yang akan mengantar putri Saliha Abi kesekolah, bagaimana?" Abi Fazila berucap sambil menangkup wajah cantik Fazila.
"Asik. Fazila suka." Fazila kembali berucap sambil memamerkan senyum bahagianya. Sedetik kemudian dia berlari kearahku. Abi Fazila yang melihat tingkah aktip putrinya hanya bisa tersenyum sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
"Dek, kakak pergi sekolah dulu yaa... Saat ini kau punya tugas baru, kau harus menjaga Ummi. Selama kau berada di dalam sana, kau tidak boleh nakal. Kau mengerti?" Celetuk Fazila sambil mengusap perut rataku. Lagi-lagi semua orang hanya bisa tertawa melihat tingkahnya. Setelah mencium tangan semua orang dan berpamitan, Fazila dan Abinya tak nampak lagi di netraku.
Sementara itu, lamaran Sabina akan di adakan besok malam, sepekan kemudian dia akan melangsungkan pernikahan. Dan hal ini mulai menyita waktu semua orang, termasuk Mama Nani yang sejak semalam sibuk mencari kontak semua kerabat dan relasi yang akan beliau undang di acara sakral Sabina dan Dokter Araf.
"Sabina, sayang. Apa ada teman yang ingin kau undang di pesta pernikahan mu? Waktu kita sangat singkat. Jika ada, Mama akan segera memasukkannya dalam daftar tamu."
"Iya, Mam. Sabina hanya punya sedikit teman akrab, Sabina akan menyerahkan nama dan alamat mereka." Balas Sabina sambil meletakkan majalah yang ia baca sejak sepuluh menit tetakhir di atas meja.
"Fatimah, nak. Apa kau butuh sesuatu? Atau kau ingin makan sesuatu? Katakan saja, Sabina atau Mbok yang akan membantumu."
"Tidak Oma, Fatimah tidak ingin apa-apa."
"Baiklah. Tapi kau harus ingat, jika kau menginginkan sesuatu katakan saja, jangan pernah di pendam. Dulu kau sendiri, sekarang tidak lagi. Jika Alan tidak perduli padamu cepat katakan pada Oma. Oma janji Oma akan mematahkan tulangnya untukmu." Ucap Oma Ochi serius.
Mendengar ucapan Oma Ochi aku hanya bisa tersenyum tipis, kasih sayangnya benar-benar tulus. Dan hal itu membelai lembut lubuk hati terdalam ku. Hari ini hanya kami berempat yang ada di rumah. Aku, Mama Nani, Oma Ochi dan Sabina. Sejak pagi Papa Otis dan Opa Ade sudah berangkat kekantor.
"Mam. Oma. Sabina permisi kekamar sebentar ya? Sabina harus menyelesaikan tugas yang akan di kumpulkan lusa." Sabina beranjak dari tempat duduknya. Ia membawa majalah yang tadi ia baca bersamanya, baru saja berjalan dua langkah ucapan Mama Nani menghentikan langkah kaki jenjangnya.
"Sabina, apa Mama bisa bertanya?"
Sabina mengerutkan keningnya, aku yang sejak tadi duduk santai langsung memperbaiki posisi duduk ku melihat ekspresi wajah serius Mama Nani.
"Kenapa Mama harus bertanya? Katakan apa pun yang Mama inginkan, Sabina akan mendengar tanpa ada bantahan. Apa yang membuat Mama terlihat tidak nyaman?" Sabina kembali duduk di sampingku. Ia menatapku sebentar kemudian kembali menatap wajah serius Mama Nani.
"Dengar nak... Mama tidak pernah memaksamu menikah dengan Araf. Jika kau tidak suka padanya kau bisa memutuskannya sekarang juga, mumpung acara pertunangan dan Ijab Kabulnya belum di laksanakan. Mama akan bicara pada kedua orang tua Araf." Mama Nani menjelaskan panjang kali lebar, tatapan matanya memerlukan jawaban.
Aku sendiri penasaran jawaban apa yang akan Sabina berikan. Apapun jawabannya aku berharap tidak ada yang akan terluka ataupun kecewa. Sebelumnya semua orang sudah menanyakannya pada Sabina, hanya saja Mama Nani perlu menayakannya sekali lagi agar Sabina yang menjadi putri kebanggaan keluarga Wijaya tidak akan menjadi korban.
...***...