
Aku sudah bangun sejak jam tiga pagi, sekujur tubuhku terasa sakit semua. Entah kenapa Fazila terus saja merengek, sebagai hasilnya aku tidak bisa beristirahat walau hanya sebentar saja.
Aahhh iya.... Aku lupa, aku sempat tertidur dan itu tak lebih dari sepuluh menit. Suara Alarm yang bersumber dari atas nakas sangat, sangat mengejutkanku. Berkali-kali menguap dan berkali-kali pula aku menutup mulut dengan tangan kananku.
"Ummi... Fazila takut!" Putri manisku berjalan kearahku sambil menatap wajah lelahku. Fazila duduk di pangkuanku sambil memeluk erat tubuh nyeriku. Sejujurnya aku ingin meringis menahan sakit. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu, seorang ibu adalah sumber kekuatan bagi anak-anaknya dan aku sendiri? Aku tidak ingin terlihat lemah di depan putri manisku, Fazila.
"Kenapa putri Ummi takut? Bukankah Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang selalu mengawasi hambanya?" Aku bertanya sambil mengangkat dagu Fazila, raut wajahnya menjelaskan segalanya, dia tidak ingin kemana-mana.
"Dengarkan Ummi, nak! Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat, dan dimanapun kita berada kita harus menebar kebaikan.
Ummi berharap, siapa pun yang melihat penampilan Fazila akan termotivasi untuk menghafal Qur'an. Karena Ummi tahu tidak ada yang bisa mengalahkan kemuliaan Al-Qur'an." Ucapku sambil berbisik di telinga putri salihaku. Tidak ada balasan dari Fazila selain pelukan hangatnya. Dan aku tahu, setiap Fazila memelukku dengan erat, itu artinya anak manis itu berusaha melepas segala gundah di hatinya.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda kru yang akan mengambil gambar untuk wisuda akbar hafizd Qur'an kali ini sudah bekerja sangat keras. Tata letak lampu atau pencahayaannya telah di atur dengan sempurna. Tidak ada kekurangan di panggung kali ini, dan tidak bisa di pungkiri acara penutupan hafidz Qur'an kali ini memakan biaya yang tidak sedikit.
"Hay... Nona Seren, apa yang membawa mu kemari? Aku tidak menyangka akan betemu dengan mu di acara hafizd Qur'an. Ini benar-benar kejutan besar." Sapa seorang pria bertubuh jangkung sambil membawa berkas penting di tangan kirinya.
"Saya yang merasa terhormat bisa bertemu dengan Pd. Surya di tempat ini. Justru saya yang tidak menyangka anda bisa terlibat di acara anak-anak seperti ini." Ucap Seren sambil menatap lawan bicaranya.
"Yah... Aku juga tidak pernah berpikir akan tertarik pada acara seperti ini, sayangnya kakak lelakiku sedang terbaring lemah dirumah sakit. Mau tidak mau aku harus membantunya menyelesaikan pekerjaan yang sudah ia mulai. Dan untungnya, aku sudah terlibat dengan acara ini sejak pertengahan bulan. Aku pikir acara ini sangat luar biasa dan sangat menginspirasi." Balas Pd. Surya tanpa melepas senyuman dari wajahnya.
"O iya... Acara ini di sponsori oleh Tuan Alan Wijaya, apa kau tahu itu...?"
Hahahha... Seren pura-pura tertawa hanya untuk menyembunyikan ketidak tahuannya.
"Yah... Aku rasa kau sudah tahu itu, Tuan Alan pasti menceritakan segalanya pada mu. Apalagi sekarang kalian sudah bertunangan, kami tinggal menunggu surat undangan dari kalian berdua. Kau sangat beruntung Nona Seren, mendapatkan Tuan Alan sebagai pendamping sama saja dengan kau memenangkan lotre dengan nominal tak terhingga." Sambung Pd. Surya.
Seren hanya bisa berpura-pura tersenyum mendengar ucapan pria paruh baya di depannya. Otak kecilnya kembali berpikir keras cara mendapatkan pria yang sudah ia sia-siakan itu, dan sekarang besarnya rasa cinta yang ia miliki membuatnya hampir tiada karena rasa rindu tak berbalas.
"Baiklah. Nikmati waktu mu, aku akan meminta staf membawakan minuman." Ujar Pd. Surya, kemudian meninggalkan Seren sendirian.
Beberapa waktu lalu aku melihat Alan dengan seorang wanita, siapa wanita itu? Jika di bandingkan dengan diriku, wanita itu tidak ada apa-apanya. Tidak mungkin Alan meninggalkanku hanya karena wanita norak itu. Sebelum semuanya benar-benar terlambat aku harus segera bertindak. Gumam Seren sambil menggigit bibir bawahnya.
Baru saja Seren berjalan bersama managernya, tak di sangka ia di kejutkan oleh pemandangan yang sangat mengganggu jiwanya. Ingin rasanya ia menghancurkan semua yang ada di dekatnya. Sayang sekali, ia tidak bisa memuaskan gejolak di hatinya karena tidak ada apa pun di dekatnya selain dinding-dinding kokoh yang seolah meledek dirinya.
"Abi..." Seorang bocah nampak berlari dan berakhir dalam pelukan pria yang sangat dicintainya, dan hal itu benar-benar membuat jiwa Seren terbakar cemburu. Rasanya ia ingin memberikan pelajaran pada anak kecil yang berani memanggil kekasih hatinya dengan panggilan 'Abi'.
Perlahan Seren berjalan sambil mengepalkan kedua tangannya, ia semakin mendekat berusaha mencuri dengar pembicaraan bocah yang berhasil membuat amarahnya semakin membuncah.
"Kenapa Abi baru datang sekarang? Fazila rindu Abi. Fazila ingin di peluk Abi, dan Fazila ingin di suapi Abi!"
"Abi juga rindu suara putri tersayang Abi. Abi rindu pelukan putri cantik Abi, dan lebih parahnya lagi Abi tidak bisa bernafas karena sangat, sangat, sangattttttt merindukan putri saliha Abi." Putri manisku Meyda Noviana Fazila semakin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa putri Abi sangat cengeng hari ini? Apa Ummi Fatimah tidak memberi putri cantik Abi makan? Lihat saja nanti, Abi pasti akan memarahi Ummi Fatimah!" Ucapku pura-pura marah.
"Tidak. Abi tidak perlu memarahi Ummi, diantara semua orang Ummi lah yang terbaik.
Tanpa berpikir panjang aku langsung menggendongnya keruang make up, karena aku yakin Umminya pasti berada disana. Sebelumnya Mama juga bilang akan menemui Ummi Fazila. Di bandingkan dengan semua orang, aku yakin Ummi Fazila yang paling was-was dan merasa ketakutan. Dan aku takut hasil lomba ini akan mempengaruhi jiwa putri cantikku.
...***...
"Kakak sangat cantik! Ayah nona Fazila sangat beruntung mendapatkan Kakak sebagai pendampingnya." Ucap wanita muda yang baru saja selesai mendandaniku.
Gamis biru polos yang di padu padankan dengan warna kain penutup kepala senada. Di tambah dengan bros sebagai pelengkap yang menempel di dada. Riasan make up yang terlihat sederhana memperindah penampilanku.
"Waahhhh... Ummi sangat cantik! Pantas saja Abi tidak berkedip." Fazila memberikan pendapatnya begitu ia memasuki ruang make up ku. Sikap polosnya membuatku ingin tersenyum bahagia. Ku akui aku memang tidak pernah berpenampilan glamor, aku juga jarang menggunakan produk kecantikan. Bukannya aku tidak menyukainya. Hanya saja, niat memberikan yang terbaik untuk putri manisku memaksaku untuk bekerja lebih keras di banding orang lain.
"Fazila tahu Ummi sangat cantik, tapi hari ini Ummi benar-benar cantik, lebih cantik dari hari-hari sebelumnya." Sambung putri manisku sambil menggenggam jemariku.
"Lihat wajah, Abi! Wajah itu bersemu memerah. Satu menit lagi Fazila yakin wajah tampan abi akan semerah udang rebus." Entah dari mana putri manisku belajar bicara seperti itu. Aku yakin ini pasti karena Amir, bocah gembul itu selalu ceplas-ceplos dan hal itu mempengaruhi Fazila.
"Maaffff... Fazila meledak Abi. Habis Abi terlihat bahagia, karena Fazila merasa bahagia Fazila sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda Abi." Ucap putri salihaku sambil menjewer telinganya. Sedetik kemudian ia keluar dari ruang make up untuk menemui Oma, Opa, Nenek Buyut dan Kakek Buyutnya di di studio lima di temani mbak Amelia yang baru saja selesai mendandaniku, kini tinggal kami berdua yang tersisa.
Dengan cepat aku berdiri dari depan cermin kemudian membuka pintu lebar-lebar, aku tidak ingin siapa pun berbicara buruk tentang ku, setidaknya dengan melihat pintu terbuka kami akan terhindar dari fitnah.
"Ummi Fazila apa kabar?"
"Baik!" Balasku singkat.
"Hari ini Ummi Fazila terlihat sangat cantik!"
Aku kembali mendengar komentar yang sama, sayangnya aku tidak bisa tersenyum padanya sama seperti aku tersenyum pada Fazila. Aku mendengar ucapannya namun aku tidak bisa menatap matanya.
"Aku sangat berterima kasih karena Ummi Fazila memutuskan untuk menerima ku. Aku tahu ini sangat berat, aku tahu ikhlas itu sangat sulit. Memilih bersama dengan orang yang menorehkan banyak luka sepertiku merupakan keputusan besar untuk Ummi Fazila.
Aku berdoa pada yang Kuasa agar bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita. Dan demi mewujudkan itu semua aku mulai belajar banyak hal tentang Agama, terutama tidak lupa belajar dan membaca Al-Quran. Perlahan-lahan aku akan memperbaiki segalanya." Pemilik wajah rupawan itu merunduk sambil memegang bantal kecil yang ada di samping kirinya.
Sungguh, tidak ada ucapan yang lebih baik dari ini. Dan aku tahu aku masih tidak nyaman berada di dekatnya, namun perlahan seperti yang di katakannya aku pun akan berusaha untuk selalu bersikap baik padanya. Ikhlas itu memang sangat sulit, terkadang walau dengan usaha besar yang sudah kita lakukan masih saja ada perasaan yang mengganjal di dada, hanya dengan pertolongan Allah lah semuanya akan baik-baik saja.
"Terima kasih untuk usaha anda. Dengan mengucapkan itu anda sudah membuat saya merasakan lega luar biasa.
Dan iya... Apa yang saya ucapkan kemarin lupakan saja. Saya sudah menumpahkan segala keluh kesah yang ada di dada dan sekarang saya baik-baik saja.
Seperti yang anda katakan, kita akan memulai segalanya dari awal, mungkin dalam proses itu anda akan merasa kesal atau marah pada saya, walau begitu tetaplah bersabar. Karena pernikahan itu tidak selalu tentang tertawa bersama." Ucapku sambil mengukir senyuman tipis.
Ada beberapa luka yang sulit di sembuhkan. Ketika hati terasa sakit, bukan jalan-jalan atau melempar diri kekubangan dosa yang kita perlukan, saat hati terasa sakit yang harus kita lakukan adalah semakin mendekatkan diri pada yang Kuasa agar memberikan ketegaran dan kekuatan sehingga kita bisa bangkit dari rasa sakit dan keterpurukan yang menyesakkan dada.
Hari ini aku mulai tersenyum di depannya, esok atau lusa entah apa lagi. Apa pun itu aku berharap semuanya akan baik-baik saja. Wisuda Akbar hafizd Qur'an kali ini benar-benar membuat ku tegang. Namun sekarang perasaan tegang itu seolah menguap keangkasa! Entah karena mendengar ucapan menyakinkan pria ini yang membuat resahku menghilang atau justru sebaliknya aku turut bahagia karena keluarganya menerima Fazila. Apa pun itu aku hanya bisa berserah diri pada Tuhan, Tuhan yang maha menggenggam jiwaku juga sedih dan senangku. Aku bergumam sendiri sambil bangun dari posisi dudukku karena ini sudah waktunya berada di atas panggung hafizd Qur'an. Entah kenapa aku merasa sangat sedih karena hari ini hari terakhir.
...***...