
Tiga puluh lima anak berkumpul di asrama hafiz Qur'an yang salah satunya adalah Fazila. Hari ini Fazila di temani oleh Kiai Hasan. Untungnya anak manis itu tidak mengeluh ketika Nyai Latifa meminta Ummi cantiknya tinggal dirumah sakit untuk menunggunya dan membantu hajatnya.
"Kakek Kiai, kapan nenek Nyai pulang dari rumah sakit? Fazila tidak suka tempat itu! Tempat itu sangat menakutkan." Keluh Fazila dengan suara lembutnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Fazila, Kiai Hasan malah terkekeh melihat ekspresi gadis manis di depannya.
"Aku ingin Ummi dan nenek Nyai bersama kita disini!" Ucap Fazila lagi. Wajah cantik itu merunduk. Ada rasa rindu juga kecewa yang meliputi hati dan pikirannya
"Nenek Nyai-mu akan segera sembuh, setelah itu kita akan bersama lagi. Sekarang pergilah, kau harus menyapa teman barumu." Pinta Kiai Hasan sambil menunjuk kearah sekumpulan anak-anak yang baru saja tiba bersama rombongannya, entah dari mana mereka berasal.
Selama dua hari ini kondisi Nyai Latifa belum menunjukan perubahan apa pun, kondisi tubuhnya semakin melemah, di tambah lagi tadi malam Nyai Latifa mengalami sesak nafas luar biasa. Untungnya setelah penanganan dari dokter Rasyit kondisi Nyai Latifa berangsur membaik. Pagi tadi Kiai Hasan meminta seluruh Santri untuk mendoakan kesembuhan Nyai Latifa yang dipimpin oleh ustadz Fikri dari sambungan vidio.
Rasa takut yang memenuhi rongga dada Kiai Hasan membuatnya tak bisa berpikir dengan tenang, gelisah mulai menyapa lubuk hati terdalamnya, untungnya anak semanis Fazila bisa mengurangi resah dan gelisahnya.
"Assalamu'alaikum." Sapaan yang bersumber dari belakang punggungnya membuat Kiai Hasan terkejut. Ia berbalik sambil tersenyum.
"Wa'alaikumsalam... Nak Alan, anda disini?" Kiai Hasan bertanya sambil menjabat tanganku. Wajah separuh bayanya mengukir senyuman tulus. Aku tidak pernah bertemu seseorang setulus dirinya, ini pertemuan kedua kami namun ia masih mengingat namaku dengan jelas, itu artinya ia menghormatiku sama seperti aku menghormatinya.
"Ia. Saya baru saja tiba." Balas ku singkat.
"Ada sedikit pekerjaan yang harus saya selesaikan di tempat ini, saya benar-benar tidak menyangka bisa bertemu Kiai disini." Sambungku.
"Justru saya yang tidak menyangka bisa bertemu nak Alan disini, mengingat jam terbang nak Alan cukup padat." Balas Kiai Hasan dengan senyum tulusnya.
Jam terbang? Itu terdengar lucu. Aku balas tersenyum pada Kiai Hasan. Kali ini berbeda, bukan senyum yang coba ku paksakan seperti pada mama ataupun keluarga besarku.
"Apa yang Kiai lakukan di tempat ini? Jika Kiai mau, kita bisa mencari tempat ngobrol yang nyaman, maksud saya sambil minum kopi!" Ucapku pelan, mencoba bersikap ramah.
"Terima kasih atas kebaikan nak Alan! Insya Allah kita bisa minum kopi di lain waktu. Saat ini saya sedang mengantar cucu saya menuju Asrama. Insya Allah, dia akan ikut dalam kontes yang nak Alan sponsori."
Ahh ... iya, aku lupa. Waktu itu Kiai Hasan pernah cerita tentang cucunya. Aku tidak menyangka akan bertemu secepat ini dengannya.
"Banyak anak-anak disana, diantara semua anak, yang mana cucu Kiai?" Tanyaku sambil memandang kumpulan anak-anak yang sedang berbaris di depan Studio satu.
"Nak Alan lihat yang baju hijau, itu cucu saya." Balas Kiai Hasan sambil memamerkan senyum bahagianya.
Baju Hijau! Diantara semua anak, hanya ada satu anak perempuan yang menggunakan baju terusan berwarna hijau dengan kain penutup kepala yang memiliki warna senada. Anak itu terlihat sedang menjabat tangan anak gadis di sebelahnya, ku taksir dia sedang memperkenalkan dirinya untuk menambah teman. Karena aku pun sering melakukan hal yang sama, tidak perlu menunggu orang lain yang memperkenalkan diri, lebih baik aku sendiri yang memulai perkenalan itu.
Glekkkkk!
Aku menelan salivaku begitu melihat wajah bocah manis itu secara sempurna. Dia anak yang sama, anak yang hampir menangis karena ucapan ketus ku padanya. Dia juga anak yang sama, anak yang berjalan beriringan dengan Iklima. Dia juga anak yang sama, anak dari wanita yang di taksir Araf yang aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk wajahnya.
Oh my god! Dia orangnya! Dunia ini benar-benar sempit! Gumamku tanpa mengalihkan pandangan dari bocah manis itu.
"Di-dia sungguhhh cu-cu Kiai Hasan?" Tanyaku gugup. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Kiai Hasan selain anggukan yang di barengi dengan senyuman yang menghiasi wajah separuh bayanya.
Hhmmmm! Terdengar suara helaan nafas panjang dari pria separuh baya yang berdiri di depanku. Wajah yang tadinya di penuhi senyuman berubah hanya dalam hitungan detik saja. Aku berharap bukan masalah besar sampai membuatnya terlihat sangat khawatir.
"Bapak hanya bisa berharap semoga anak dan cucu bapak di berikan kebahagiaan oleh yang kuasa. Sudah cukup mereka merasakan derita."
Aku mengerutkan dahi, aku berpikir sangat aneh Kiai Hasan menjawab pertanyaanku dengan jawaban berbeda. Aku ikut sedih jika ibu dan anak itu menderita, namun bukan itu jawaban yang ingin ku dengar.
"Hidup tidak selalu mulus, terkadang kita menangis tanpa siapa pun yang tahu. Dan bapak tahu ibu dari cucuku itu menghabiskan setengah hidupnya dengan kerja keras dan air mata.
Baru-baru ini, anak manis itu mengalami musibah. Orang yang selalu mencari gara-gara dengan Ummi-nya dengan sengaja mendorongnya sampai mengalami patah tulang. Untungnya dokter Araf melakukan tugasnya dengan baik sehingga anak manis itu tidak mengalami luka parah." Ucap kiai Hasan menjelaskan, tatapan matanya tak lepas dari bocah manis itu.
Sementara yang di tatapnya terlihat penuh semangat, senyumnya seindah Purnama, hanya dengan memandangnya bisa mendatangkan kedamaian. Kini aku mengerti perasaan mama sampai memaksaku untuk menikah. Sepertinya mama memiliki alasan yang sama denganku, bocah manis itu terlalu menenangkan.
Entah dari mana rasa sedih menelusuf masuk kedalam rongga dadaku, melihat anak manis itu berjalan sambil menyeret kakinya terasa sangat memilukan, rasanya sangat sakit sampai aku ingin menangis di depan Kiai Hasan.
Aaaaaaaaaaa! Aku berteriak tanpa suara.
Alan, kau pria payah! Kenapa kau ingin menangis melihat anak orang lain terluka? Entah kakinya yang patah, atau tangannya yang patah, apa perdulimu? Aku bergumam sendiri, aku juga mulai menyalahkan diri sendiri. Tidak biasanya aku memperdulikan orang lain.
"Fazila, sini sayang..." Panggil Kiai Hasan sambil melambaikan tangannya.
"Ada apa kakek Kiai?" Tanya anak manis itu sambil tersenyum.
"Kenalkan, dia paman Alan!" Ucap Kiai Hasan memperkenalkan diriku. Entah apa yang dipikirkan bocah manis itu, baru saja melihat wajahku, ia bersembunyi di balik tubuh jangkung Kiai Hasan. Sepertinya pertemuan pertama kami malam itu memberikan kesan buruk di dalam hati dan pikirannya.
"Ada apa sayang? Paman Alan orang yang baik! kau tidak perlu takut padanya!" Ucap Kiai Hasan lagi, mendengar pembelaan Kiai Hasan membuatku merasakan lega luar biasa, entah kenapa aku merasa takut anak manis itu akan membenciku, padahal sebelumnya aku sangat membenci anak-anak.
"Fazila pernah bertemu dengannya! Dia paman yang ketus, Fazila tidak suka padanya!" Balas anak manis itu dari balik punggung Kiai Hasan.
Ada rasa kecewa dalam hatiku mendengar ucapannya. Yaaa... Aku memang selalu ketus, aku tidak pernah menyangka ketika seseorang mengatakan aku ketus, rasanya sangat menyedihkan, lebih-lebih bocah manis di depanku ini yang mengatakannya.
"Paman tidak seburuk itu! Malam itu paman hanya kesal saja, bukan padamu. Tapi pada orang lain!" Ucapku menjelaskan.
Oh My God! Apa yang sedang kulakukan! Kenapa aku bertingkah sangat konyol! Gumamku dalam hati, aku bahkan sampai mensejajarkan tinggiku dengan anak manis itu.
"Apa kau mau menjadi temanku?" Tanyaku padanya sambil mengulurkan tangan.
Satu menit berlalu namun tangannya masih ia sembunyikan di balik kain penutup kepalanya. Aku merasa bukan bocah manis ini yang masuk Asrama, tapi akulah yang masuk Asrama, tingkah konyolku mulai kumat lagi.
Aku merasa aneh sendiri, untuk apa aku berteman dengan anak kecil.
...***...