
"Ini untukmu."
Araf melempar kado yang ada di tangan kanannya. Senyum tipis masih memenuhi wajah tampannya.
"Aku bukan sahabat yang kejam. sekesal-kesalnya diriku, aku tetap tidak akan bisa menahan hati dan pikiran ku untuk tidak berlari kearahmu." Sambung Araf lagi.
"Apa kau tidak marah lagi?" Aku bertanya dengan wajah heran. Lagi-lagi Araf hanya bisa tersenyum tipis, sepertinya pertanyaaan singkat ku terdengar menggelikan di indra pendengarannya.
"Jangan perlihatkan tampang seperti itu di depan nona Fatimah. Kau terlihat seperti play boy berpengalaman." Kali ini Araf terkekeh sambil memegang perutnya.
Suasana yang tadinya tegang mulai mencair, Araf yang ku pikir akan menonjok wajahku malah terkekeh seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara kami berdua. Persahabatan kami memang selalu seperti ini, kami tidak akan bisa bertahan untuk tidak saling bicara.
"Aku mau minta maaf padamu, seharusnya aku tidak perlu memulai perdebatan itu. Tapi, yaaa sudahlah. Toh semuanya sudah berlalu, aku tidak ingin ada masalah baru lagi di antara kita berdua." Ucap Araf sambil menyilang kaki. Dia mulai terlihat santai.
Apa dia Araf yang sama? Araf yang baru saja mengatakan kalau dia membenciku? Apa pun itu aku merasa sangat bahagia, aku senang sekarang kami bisa akur lagi. Celotehku dalam hati sambil tersenyum simpul.
"Kau tidak perlu sebahagia itu. Aku belum sepenuhnya memaafkan mu." Kali ini Araf terlihat serius, aku mulai merinding menatap wajah kaku itu. Sedetik kemudian...
"Aku akan memaafkan mu kalau kau menjodohkan ku dengan Sabina. Jika aku tidak bisa mendapatkan nona Fatimah maka setidaknya aku akan menjadikan adikmu sebagai sandra."
Kali ini aku menatap Araf dengan tatapan setajam belati, kening ku berkerut. Walau dia sahabat baik ku berani sekali dia mengatakan adik kesayangan ku akan menjadi sandranya. Aku bahkan tidak pernah bermimpi sahabat ku akan menjadi iparku.
Pletakkkkk!
Aku melempar wajah terkekeh Araf dengan bantal kecil yang ada di atas pahaku. Untuk sesaat suara tawa renyah Araf terhenti.
"Kenapa kau melemparku?"
"Bukan hanya melemparmu, sekarang aku ingin melayangkan pukulan keras di wajah tampanmu." Balasku sambil meletakkan kado di atas meja, kado yang Araf lempar padaku beberapa saat yang lalu.
"Jangan pernah berpikir seperti itu. Aku tahu kau sahabatku, tapi Sabina? Dia anak yang polos walau terkadang sering bersikap bar-bar.
Kau tidak akan bertahan lama dengan gadis seperti Sabina, tidak akan. Dan aku? Aku adalah pelindung anak manja itu." Ucap ku dengan suara tegas.
Aku tahu Araf sedang bercanda, tapi aku tidak suka jika adik kesayanganku masuk dalam daftar pria play boy sekelas dirinya. Rasanya berbeda saja, rasanya seperti akan ada jarak lagi di antara kami jika Araf sampai menyakiti Sabina.
"Iya, baik lah. Kau tidak perlu memperingatkan ku seperti itu. Itu tidak cocok untukmu." Ujar Araf dengan suara santai.
"Aku hanya bercanda. Lagi pula tidak mungkin pria setampan diriku tertarik pada Sabina. Bagiku dia hanya anak kecil." Lagi-lagi Araf berucap sambil terkekeh.
"Jaga ucapanmu, tidak ada yang kurang dari Sabina ku. Jika kau sampai mengibaskan ekormu dan mencoba merayunya aku akan memukulmu." Balasku sambil mengepalkan tangan.
Melihat gaya bicara Araf, aku yakin aku bisa memegang ucapannya. Dan tanpa di duga, sosok yang menjadi pusat pembicaraan kami muncul dengan tampilan elegan. Sorot matanya menjelaskan kalau dia mendengar semua yang kami ucapkan namun dia memilih untuk tidak mengatakan apa pun.
"Kak Alan, apa aku boleh meminjam mobil kakak? Mobil ku sedang di bawa kebengkel. Fazila bilang dia lapar dan ingin makan bubur ayam khas kota Malang.
Kakak ipar sudah memasak untuknya, tapi sayangnya anak manis itu tidak mau makan jika tidak bubur ayam." Ucap Sabina pelan begitu kepalanya meyembul dari balik daun pintu.
"Aku yang akan pergi!" Sahutku cepat sambil bangun dari Sofa.
"Tidak. Tidak. Kakak tidak perlu pergi, aku yang akan pergi bersama anak-anak."
"Kau akan kewalahan Sabina, lagi pula kau tidak membawa satu anak, tapi empat anak." Balas ku dengan tatapan tajam.
"Kakak tidak perlu khawatir, mbok Aini akan ikut bersamaku." Mendengar ucapan Sabina, aku mulai merasa tenang. Setidaknya asisten rumah tangga tersepuh di kediaman Wijaya ini ikut bersamanya. Aku melempar kunci mobil yang ku ambil dari saku baju kearah Sabina. Dan tentu saja Sabina menangkapnya sebelum kunci itu mendarat di lantai.
Ruang baca kembali hening setelah Sabina tak nampak di netraku. Bahkan Araf terlihat sedikit gusar. Apa yang dia pikirkan? Baru saja aku melihatnya menatap Sabina, tapi sekarang? Dia malah terlihat santai sambil merogoh ponsel yang ada di saku bajunya. Melihat pesan masuk dan ada beberapa panggilan tak terjawab.
"Kau tahu? Selama ini aku selalu bahagia untuk setiap pencapaianmu. Aku tidak pernah merasa sedih untuk setiap bahagia mu. Dan aku tidak akan pernah berani untuk mengutukmu dalam setiap deritaku.
Aku menghormati mu lebih dari diriku sendiri. Dan, iya.... Aku tahu kalau aku seorang play boy kelas kakap, tapi kau juga tahu aku tidak seburuk itu." Araf kembali bersuara setelah meletakkan ponselnya di atas meja. Dia menatapku intens.
Ku akui ucapan Araf ada benarnya. Entah kenapa perasaan ku sedikit tidak nyaman setelah mendengar nama Sabina keluar dari mulutnya.
"Kau pikir aku bodoh? Tidak mungkin aku menyukai Iklima. Waktu itu aku hanya bercanda. Kau tahu kan aku seorang play boy berpengalaman, melihat dari matanya saja aku bisa pastikan kalau dia menyukai asisten mu!" Tebak Araf sok percaya diri.
"Apa kau bercanda? Tidak mungkin Iklima menyukai Bobby. Lagi pula mereka berdua sepupuan." Balasku tak percaya. Aku menatap Araf dengan wajah heran, berani sekali dia menebak asal untuk urusan serumit ini.
"Hayyy Bosss... Dalam dunia percintaan aku lebih senior dari mu. Jadi kau tidak perlu menceramahi ku. Lagi pula tidak ada yang salah dengan menikahi sepupu sendiri.
Kau tidak akan berani bertanya pada sekertaris dan juga asistenmu itu, yang bisa kau lakukan hanya menatap mereka sambil menelan pertanyaan mu dalam diam. Apa aku salah? Apa aku benar?" Araf berbaring di sofa sambil menatap langit-langit ruang baca.
Dia lebih senior dariku dalam urusan percintaan. Ciiiihhh... Omong-kosong. Aku bergumam dalam hati sambil menatap wajah santai Araf.
Tok.Tok.Tok.
Netraku tertuju pada pintu yang masih tertutup. Belum ada sahutan dari ku sampai sosok yang masih terhalang daun pintu itu kembali mengetuknya.
"Masuk saja. Pintunya tidak di kunci." Sahutku tanpa menghiraukan Araf yang berusaha mejamkan mata.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Balas ku sambil tersenyum tipis. Di tangan Ummi Fazila ada nampan berisi dua cangkir kopi panas yang masih mengeluarkan uap panas. Aromanya membelai lembut hidungku, aku bisa merasakan kenikmatannya hanya dengan mencium aromanya.
Mengetahui Ummi Fazila yang datang Araf langsung bangun dari posisi terlentangnya. Dia terlihat salah tingkah, dan hal itu berhasil membuat Fatimah ku mengukir senyuman tipis.
Aku tahu saat ini aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak merasakan bahagia, melihat senyuman indahnya membuat ku berpikir kalau dunia hanya tercipta untuk kami berdua. Aku tersenyum sambil merunduk.
"Semua orang sedang minum kopi di ruang tengah. Jadi aku bawakan untuk Abi Fazila dan dokter Araf. Apa aku mengganggu pembicaraan kalian?"
"Ti-tidak." Balasku singkat, jujur aku sangat gugup. Ini kopi perdana yang di buat Ummi Fazila untuk ku. Tentu saja hal ini membuat dadaku berdebar lebih cepat.
"No-nona Fatimah. Aku pikir..." Belum sempat Araf melanjutkan ucapannya buru-buru aku mengambil nampan yang ada di tangan Ummi Fazila dan meletakkannya di atas meja. Aku sengaja melakukan itu agar Araf tidak terlihat gugup di depan Ummi Fazila.
"Aku akan meninggalkan kalian untuk bicara, aku akan kembali nanti untuk mengambil gelasnya." Ucap Ummi fazila, ia mengucapkan salam kemudian berlalu begitu saja.
Hhhuuhhhhh!
Araf membuang nafas kasar setelah Ummi Fazila tak nampak di netranya. Wajah tegangnya berubah memerah.
"Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja. Jika nona Fatimah tidak keluar dari ruangan ini dalam tempo lima menit, sudah di pastikan aku pasti akan pingsan. Mengingat pembicaraan kami dua hari yang lalu membuat ku merasa seperti orang konyol." Celoteh Araf sambil mengelus dada.
"Dua hari yang lalu? Kalian bertemu? Ada apa?" Aku bertanya tanpa melepas pandangan dari wajah Araf yang terlihat sedikit tegang.
"Ahhh iya, maafffff! Nona Fatimah memintaku untuk merahasiakannya darimu. Karena kita membahasnya maka aku akan mengatakannya.
Nona Fatimah bilang, dia tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran di antara dua sahabat yang saling menyayangi karena Allah. Dia juga bilang, kalau karena dirinya hubungan kita jadi hancur maka dia berharap tidak pernah ada di dunia ini."
Untuk sesaat aku dan Araf sama-sama terdiam, hatiku terasa hancur mendengar ucapannya.
"Semalaman aku terus saja berpikir tentang betapa jahatnya diriku. Aku rasa hidup ku akan lebih menyedihkan tanpa kehadiran sahabat sebaik dirimu.
Wanita sebaik nona Fatimah? Aku rasa aku akan segera menemukannya! Tapi... Sahabat sebaik dirimu? Aku rasa itu akan lahir sekali dalam seribu tahun lagi." Ucap Araf dengan wajah merunduk.
Pelan aku bangun dan berjalan mendekati Araf, aku tersenyum sambil berdiri. Sedetik kemudian Araf berdiri di depan ku dengan wajah heran. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirku.
Hati ku? Jangan tanyakan lagi, karena saat ini tidak ada orang yang lebih bahagia di banding diriku. Aku memeluk Araf dalam diam. Hati ku mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Perbedaan dengan Araf telah di selesaikan oleh Ummi Fazila. Dan hari ini aku menco menghapus segala kesalah pahaman yang ada hanya dengan pelukan singkat saja.
"Apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu memeluk ku seperti itu. Jika ada yang melihat kita, mereka bisa salah paham." Celetuk Araf sambil mendorong tubuhku.
Tidak ada balasan dariku selain senyuman tipis yang masih mengembang di wajah tampanku, kali ini Araf merangkul tubuhku dan kami tertawa bersama.
...***...