Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Di Penuhi Cinta (Alan&Fatimah)


"Abi kenapa? Apa yang membuat Abi menangis sepilu ini?" Aku bertanya sambil menghapus tetesan demi tetesan yang terus saja mengalir dari netra teduh Abi Fazila.


Ia masih belum bisa menjawab pertanyaan singkat ku sekuat apa pun aku berusaha bertanya padanya. Tubuhnya masih bergetar, dan ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Um-ummi..."


Suara serak Abi Fazila kembali memenuhi indra pendengaran ku. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa menebak ada apa dengan dirinya sampai ia merasakan kesedihan yang tidak hanya menyesakkan dadanya, tapi ini juga menyesakkan dada ku.


"Katakan Bi, ada apa?" Aku kembali menanyakan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang tidak ku ingat sudah berapa kali aku menanyakannya.


"Uum-ummi... Wanita itu." Ucapan Abi Fazila tertahan di tenggorokannya. Bahkan lendir yang keluar dari hidungnya mulai mengenai tanganku, sesedih apa dirinya sampai ia tidak bisa bicara? Aku meninggalkannya dan berjalan menuju meja kerjanya. Tidak ada tissu disana, yang ada hanya tumpukan berkas-berkas kantor yang memenuhi setengah meja kerja Abi Fazila.


Karena aku tidak menemukan apa yang ku cari, aku segera kembali pada Abi Fazila dan duduk di depannya.


"Katakan pada Ummi, siapa yang berani mengganggu Abi? Abi tidak perlu menangis seperti ini. Melihat Abi sedih membuat Ummi berada di titik Ummi pikir Ummi akan tiada."


Bukannya menjawab ucapan ku, Abi Fazila malah memeluk ku, dan ini untuk kesekian kalinya. Seandainya Fazila ada disini, akan mudah bagi anak manis itu menghibur Abinya. Sayang sekali, sejak acara pernikahan anak manis itu memilih tinggal di rumah Omanya dengan harapan Ummi dan Abinya akan semakin dekat. Dan lihatlah hasil dari usahanya, kami tidak hanya dekat, kami bahkan berbagi suka dan duka. Aku tidak pernah salah saat mengatakan putri saliha ku Meyda Noviana Fazila adalah titipan dari Surga.


Huhhhhhh!


Setengah jam berlalu, dan sekarang aku bisa menghembuskan nafas lega. Abi Fazila tidak menangis lagi, dan saat ini ia meletakkan kepalanya di pangkuan ku. Aku mulai membelai kepalanya, sesekali menepuk dadanya pelan. Membersihkan lendir yang keluar dari hidungnya dengan tanganku tanpa merasa jijik sedikit pun.


Cukup lama kami terdiam, dan aku pun tidak ingin mengulangi pertanyaan yang sama. Aku yakin jika Abi Fazila sudah tenang dia sendiri yang akan mengatakan segala resahnya.


Kami saling menatap, saling mengunci dalam tatapan masing-masing. Yang bisa ku lakukan hanya tersenyum. Jangan tanyakan tentang perasaan ku, karena saat ini hati ku masih merasakan kesedihan mendalam. Bahkan mata ku terasa perih karena sejak tadi aku ikut larut dalam tangis, mungkin sekarang mataku mulai bengkak. Apa cinta sungguh seperti ini? Saat orang yang kita cintai menangis kita pun ikut menangis bersamanya? Entahlah, aku sendiri tidak yakin jawabannya, karena ini pertama kalinya bagi Fatimah Azzahra merasakannya.


Tanpa berucap sepatah kata Abi Fazila membelai lembut pipi ku dengan jemari lembutnya. Tatapan matanya masih di penuhi kesedihan.


"Abi tidak perlu mengkhawatirkan Ummi, Ummi janji tidak akan menayakan apa pun." Ucap ku pelan berusaha memaksakan senyuman.


"Terima kasih karena Ummi memilih untuk tetap bertahan hidup."


"Kenapa Abi bicara seperti itu?"


"Tidak ada. Abi hanya merasakan bahagia." Sambung Abi Fazila lagi.


"Bahagia? Karena apa?"


"Abi bahagia karena Ummi bertahan hidup, Abi juga merasa bahagia karena Ummi ada disisi Abi saat ini. Abi mohon, jangan pernah tinggalkan Abi walau hanya dalam mimpi sekali pun."


"Kemana Ummi bisa pergi? Ummi tidak akan meninggalkan Abi sendiri, Ummi akan menempel seperti permen karet. Awas saja Abi sampai mengeluh. Jika Abi mengeluh, Ummi janji Ummi tidak akan bicara dengan Abi, tidak sehari atau dua hari. Tapi ini untuk satu bulan." Ucapku sambil pura-pura cemberut.


Aahhhh... Lelucon macam apa ini? Aku bahkan tidak yakin kata-kata ku bisa menghiburnya atau tidak. Di luar dugaan, Abi Fazila malah tertawa sambil mencubit hidung bangir ku.


"Terima kasih!"


"Ucapan terima kasih lagi, untuk apa?" Aku kembali bertanya, mata ku membulat.


"Hahaha... Ummi tidak perlu menatap Abi seperti itu, Ummi terlihat seperti kelinci manis."


"Apa Abi berusaha menggoda Ummi? Aku wanita dengan satu anak, tidak akan mudah untuk menggoda ku!" Balas ku sambil mencubit perut Abi Fazila pelan, sekarang bibir kami mulai mengukir senyuman.


Sayangnya itu tidak lama, karena pada menit selanjutnya Abi Fazila terlihat menghela nafas panjang. Aku sering melakukan itu saat pundak ku terasa berat oleh beban masalah yang berhasil melumpuhkan hati dan pikiran ku.


Setiap detik yang berlalu terasa sangat mencekik, Abi ingin segera pulang. Mengunci Ummi dalam pelukan, kemudian memandang wajah Ummi sampai Abi kelelahan.


Begitu Abi sampai rumah, Abi ingin menemui Ummi. Saat Abi masuk rumah, Abi mendengar tiga wanita itu bergosip dengan kesedihan mendalam. Mendengar apa yang mereka bicarakan membuat sekujur tubuh Abi mati rasa. Dada Abi sesak, Abi membayangkan apa yang di alami wanita itu tidak jauh berbeda dengan apa yang Ummi lalui dan hal itu membuat Abi marah.


Abi tidak marah pada wanita itu, Abi marah pada diri Abi sendiri. Abi merasa kijik pada diri Abi sendiri. Abi tidak bisa menahan duka Abi sampai Abi pikir tiada adalah jalan terbaik untuk penebusan dosa." Ucap Abi Fazila panjang kali lebar, mata yang tadinya bersinar kini kembali memamerkan duka mendalam, bahkan tetesan demi tetesan kembali mengalir dari netra teduhnya. Ia bangun dari pangkuan ku dan merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan berharganya.


"Katakan pada Ummi apa yang di ucakan Mbok Liza dan kedua keponakannya? Apa Ummi perlu memarahi mereka untuk Abi?" Aku berucap sambil menangkup wajah tampannya. Netra indahnya tidak bisa menatap ku dan hal itu sangat menyakitkan bagi ku.


"Seorang pria kurang ajar yang tidak jauh berbeda dari ku telah menodai harga diri seorang gadis muda bernama Lara." Ucapan Abi Fazila tertahan di tenggorokannya. Ia menatap ku dengan tatapan yang berhasil mengoyak ketenangan jiwa ku.


"Pria kurang ajar itu meninggalkan gadis malang itu setelah mengetahui kehamilannya. Ummi tahu apa yang lebih mengoyak jiwa ku? Tidak ada yang menyadari duka wanita itu. Semua orang menghinanya.


Karena tidak sanggup mendengar hinaan yang di tujukan padanya, gadis malang itu meng-ak-hi-ri hi-dup-nya sen-di-ri." Lagi-lagi Abi Fazila berucap dengan suara serak, ucapannya terdengar menyayat jiwa.


Sekarang aku mengerti kenapa Abi Fazila menangis sepilu itu. Dia tidak membayangkan duka gadis itu. Dia hanya membayangkan duka ku, duka yang di sebabkan olehnya.


Yahhhh... Hal ini pun mengoyak jiwa dan raga ku. Siapa lagi yang bisa mengetahui besarnya duka wanita itu selain diriku. Terkadang orang lain hanya bisa menghibur dengan ucapan sederhana yakni 'Semuanya akan baik-baik saja' nyatanya tidak semudan itu menjalani hidup baik-baik saja setelah duka sebesar itu melanda.


"Apa yang harus Abi lakukan, Mi? Apa? Wanita itu bilang perwalian tidak akan jatuh pada Abi, bahkan saat putri kita menikah, Abi tidak bisa menjadi walinya, walau setelah di paksakan pernikahan itu tetap saja tidak sah. Apa gunanya Abi, Mi? Putri ku yang malang. Fazila ku yang berharga! Hiks.Hiks.Hiks."


Sungguh, tidak ada lagi huruf yang bisa ku rangkai menjadi kata-kata berharga yang bisa menenangkannya. Masalah ini terlalu berat, aku bahkan tidak sanggup menatap wajah Abi Fazila karena aku tahu aku tidak akan bisa menghiburnya. Sebisa ku, aku berusaha membuatnya tenang. Karena tidak ada yang lebih berharga dalam pernikahan selain membuat pasangan kita merasakan ketenangan.


"Bi... Tatap Ummi! Ummi bilang tatap Ummi." Ucap ku dengan tegas sambil mengangkat dagu Abi Fazila, wajah takutnya benar-benar membuat ku prihatin.


"Semuanya hanya masa lalu. Ummi sudah memaafkan Abi, dan Fazila pun sangat menyayangi Abi. Jangan ikat hati dan pikiran Abi dengan masa buruk itu.


Ummi ada disini, dan mulai detik ini kita akan menulis hari-hari kita dengan cinta dan kasih sayang sehingga masa lalu itu akan malu di depan kebahagiaan kita." Aku berucap dengan tubuh bergetar, air mata ku pun tak bisa berhenti menetes.


"Muslim sejati itu, tidak putus asa dan putus harapan. Dia tahu bahwa bersama hari ini masih ada hari esok. Bersama kesulitan ada kemudahan, setelah malam ada pajar, dan banyak kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin." Aku kembali membuka suara di antara sahutan isakan tangis kami berdua.


Sungguh, Abi Fazila benar-benar tidak bisa menghentikan tangisnya, kejadian buruk delapan tahun silam masih memenuhi hati dan pikirannya. Aku sudah memaafkannya, tapi tetap saja ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Sekarang aku baru menyadari, peristiwa kelam itu tidak hanya menyakiti jiwa dan raga ku, tapi kejadian buruk itu juga meninggalkan luka mendalam bagi pria rupawan yang saat ini resmi menjadi suami ku, Alan Wijaya.


Aku kehabisan akal, aku tidak tahu lagi cara menghentikan tangisnya. Tanpa berpikir panjang aku kembali mengangkat dagu Abi Fazila dan menyumpal bibir lembutnya dengan bibirku.


Yayaaaa... Kali ini aku melakukannya, mungkin malam ini akan menjadi malam yang indah untuk kami, atau sebaliknya malam ini akan menjadi malam penuh tangisan. Aku sendiri tidak tahu itu, yang jelas aku hanya ingin kami berdua meninggalkan masa lalu.


Abi Fazila benar-benar menghentikan tangisnya, pelan aku mulai menghentikan ciuman ku di bibir lembutnya.


Untuk sesaat kami saling menatap, sedetik kemudian Abi Fazila meraih tengkuk ku dan gilirannya yang melayangkan ciuman lembutnya di bibir tipis ku, di ruangan baca hanya ada kami berdua dengan cahaya lampu temaram, bukankah ini sangat romantis?


Saat ciuman kami semakin dalam, dan aku pun tidak kuasa menahan hasrat di dada, yang bisa ku lakukan hanya menyerah di hadapan gelora cinta kami berdua.


"Hentikan, Bi. Kita harus shalat terlebih dahulu, apa pun yang kita lakukan mari kita lakukan dengan niat ibadah." Ucap ku sambil berbisik di telinga Abi Fazila.


Tidak ada lagi tangisan, yang ada hanya tatapan penuh cinta. Aku bisa melihat dengan jelas ketenangan mulai terlihat dari netra teduh Abi Fazila. Tanpa berucap sepatah kata ia meraih lengan ku, menggendong ku, kemudian berjalan menuju kamar kami berdua.


...***...


...❤Happy New Year 2022 from Fatimah, Alan and Fazila❤...