
Mulai besok, Fazila akan tinggal di Asrama Hafiz Qur'an. Sejak pulang dari Stasiun Tv anak itu benar-benar tidak bisa diam, ia terlalu bahagia sampai-sampai aku sendiri tidak bisa duduk dengan tenang.
"Yeye... Besok Fazila ke-asrama! Yeye... Besok Fazila punya teman baru...!"
Bocah manis itu terus saja berjalan pelan tanpa bisa duduk diam, sesekali ia mengelilingi sofa, kemudian berlanjut menuju kamar luas yang pintunya di buka Iklima pagi ini dengan alasan untuk membersihkan.
"Fazila, sayang. Kau tidak boleh masuk kedalam sana, kita hanya tamu disini, kita harus bertingkah layaknya tamu yang tidak boleh mengganggu kenyaman pemilik rumah." Ucap ku dengan nada pelan namun bisa di dengar oleh putri manisku.
"Sebentar saja Ummi!" Sahut Fazila dari dalam kamar, semenit kemudian ia keluar dengan senyum mengembang di bibir tipisnya.
"Ummi, tahu? Kamar itu sangat besar, lebih besar dari rumah kita." Ucap Fazila sambil menyebikkan bibir tipisnya.
"Benarkah?" Tanyaku dengan raut wajah pura-pura terkejut.
"Hhmm!" Balas Fazila sambil memijit kakinya dengan kedua tangannya. Kakinya belum sembuh total, namun ia terus saja berjalan pelan dengan cara menyeret kakinya.
"Ummi, Fazila lapar...!" Ucap Putri manisku dengan wajah memelas.
"Putri manis Ummi, lapar?" Aku bertanya sambil meletakkan jarum dan benang yang ada di tanganku.
Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir tipis Fazila, ia pura-pura marah sambil merunduk kemudian mengusap perut ratanya.
Oohhh... Tidak! Putri manisku mulai lagi! Dia senang sekali berpura-pura hanya untuk mencari perhatian, lihatlah wajah cantiknya? Wajah itu bersemu memerah menahan tawa. Dia benar-benar sedang menggodaku. Sungguh, sikap manis Fazila seperti inilah yang selalu memberikan kekuatan, senyum indahnya bagaikan musim kemarau yang menantikan hujan, setelah hujan terasa sangat menyejukkan. Dan hatiku selalu sejuk kala melihat senyum indah itu, entah apa jadinya hidupku tanpa kehadirannya.
"Baiklah. Akan Ummi buatkan sesuatu yang enak untukmu! Ummi berharap, ada yang bisa di masak di dapur!" Ucap ku pelan sambil berdiri.
Baru saja aku menyalakan kompor, Iklima menghampiriku sambil memegang ponsel di tangan kanannya. Aku rasa dia menerima panggilan penting, ia bicara melalui ponselnya lebih dari tiga puluh menit lamanya.
"Nona Fatimah sedang apa?" Iklima bertanya padaku sambil meletakkan ponselnya di samping gelas air, pertanyaan cukup aneh menurutku karena ia melihatku sedang mengiris sayuran.
"Fazila lapar. Aku akan memasak telur dadar dan nasi goreng untuknya. Apa nona Iklima juga mau?" Tanyaku sembari meletakkan pisau di atas talenan.
"Itulah yang ingin ku katakan, nona Fatimah tidak perlu memasak apa pun. Kita akan makan malam direstoran Hotel tempatku bekerja." Ucap Iklima sambil memamerkan senyum indahnya.
"Yeye... Kita makan di luar!" Fazila menari untuk mengekspresikan bahagianya, sedetik kemudian ia masuk kekamar untuk bersiap. Aku dan Iklima hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah polosnya.
...***...
"Tuan, nona Oliv itu..."
"Diam. Fokus saja menyetir. Aku tidak ingin mendengar apa pun darimu! Semua ini tejadi karenamu! Jika kau tidak membawaku kerumah mama, maka hal seperti ini tidak akan terjadi. Kadang-kadang aku bingung, kau bekerja untukku atau untuk mama?" Aku mencecar Bobby dengan segala tanya dan protes yang mengganjal dalam hatiku.
"Maaf tuan." Ucap Bobby pelan. Nada suaranya terdengar berat, aku sendiri tidak paham, apa dia bersungguh-sungguh menyesal atau dia hanya berakting.
Dua jam kemudian aku tiba di depan Hotel. Pelan aku melangkahkan kakiku menuju Restoran yang terletak di lantai dasar, di ikuti oleh Bobby di belakangku.
Gdebukkk!
"Lihat, kau menggunakan kacamata hitam. Karena itulah kau tidak bisa melihat bocah sekecil diriku." Protes bocah itu dengan suara lantang.
Aku balas menatap bocah itu dengan tatapan tajam. Ia menggigit bibir bawahnya, aku rasa dia geram, aku pun sering melakukan hal yang sama. Menggigit bibir bawah karena mencoba menahan amarah.
Huh! Aku membuang nafas kasar. Aku pikir bocah yang berdiri di depanku akan meminta maaf. Nyatanya aku salah, ia justru menyalahkanku karena aku menggunakan kacamata hitam. Aku tidak suka ini, rasanya aku ingin mencubit pipinya.
"Nona kecil kau dari mana saja? Kakak cantik mencarimu dari tadi!" Langkah kakiku terhenti mendengar ucapan gadis yang berdiri di depan bocah itu, wajahnya memang menampakkan kekhawatiran.
Kakak cantik!
Rasanya aku ingin tertawa lepas mendengar ucapan itu. Ya, Iklima memang cantik, sayangnya aku tidak pernah menyadari itu.
"Dimana Ummi mu? Kakak cantik menerima telpon sebentar saja dan kau sudah menghilang dari meja makan." Ucap Iklima lagi sambil mengusap wajah bocah manis yang terbungkus kain penutup kepala itu.
"Itulah yang ingin ku tanyakan. Kenapa bocah ini berkeliaran tanpa orang tua? Jika terjadi hal buruk padanya kau yang harus bertanggung jawab." Ucapku ketus pada Iklima. Bobby yang masih berdiri di belakangku hanya bisa menghela nafas kasar, dia pun tidak menyangka kami akan bertemu di hotel.
"Bb-bos!" Iklima terkejut, apa dia terlalu fokus pada bocah di depannya sampai tidak menyadari keberadaanku.
"Maaffff. Saya tidak melihat anda." Ucap Iklima penuh penyesalan.
"Dimana ibumu? Kau tidak boleh sendirian, jika kau bertemu dengan orang yang salah, kau tidak akan pernah bisa melihat ibumu lagi." Ucapku sedikit ketus, anak manis itu merunduk. Dan ia mulai menangis, namun tangannya menunjuk kearah toilet.
Aku rasa aku tidak mengatakan hal yang salah, entah kenapa anak manis itu malah menangis . Untuk pertama kalinya aku merasa bersalah, pelan aku mendekat padanya, mensejajarkan tinggi badan dengannya kemudian menepuk pundak pemilik wajah yang masih merunduk itu. Bukannya mencubit pipinya, aku malah menepuk pundaknya mencoba menenangkan.
"Mas Alan, apa yang kau lakukan?"
"Pergilah dengan Iklima, aku akan meminta seseorang membawa ibumu. Ingat, kau tidak boleh berkeliaran sendiri." Ucapku lagi pada gadis kecil itu. Ia mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti langkah Iklima.
"Siapa namamu?" Aku lupa bertanya, untungnya Iklima belum terlalu jauh.
"Fazila. Namaku Fazila." Ucap anak manis itu sebelum ia menghilang di balik kokohnya dinding Hotel.
Fazila! Fazila! Nama yang indah! Gumamku sambil tersenyum. Kemudian menatap gadis yang berdiri di samping Bobby.
"Ayo." Aku menunjuk kearah Restoran sambil pura-pura tersenyum. Aku berjalan di depan, kemudian di ikuti oleh Bobby dan gadis yang tidak ingin ku lihat itu.
Semenit kemudian, aku dan gadis itu duduk manis di meja makan, dari jarak yang tidak terlalu jauh aku melihat seorang wanita dengan busana tertutup berjalan kearah meja yang Iklima dan gadis kecil itu duduki. Ia menggunakan gamis merah muda dengan kain penutup kepala yang memiliki warna senada. Entah percakapan serius apa yang mereka bicarakan, wanita itu memeluk gadis kecil itu kemudian berjalan meninggalkan Restoran bersama Iklima.
Iklima membungkukkan badan memberi hormat padaku, sementara wanita itu? Aku tidak sempat melihat wajahnya, aku yakin dia wanita yang selalu Araf ceritakan, wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Entah seperti apa wajahnya, karena aku hanya bisa menatap punggungnya dari kejauhan.
...***...