Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Menenangkan


Tidak ada sepatah katapun yang terucap dari lisan anak manis yang berdiri di balik tubuh kekar Kiai Hasan. Ia tak bergeming walau melihatku masih mengulurkan tangan, berharap ia menjabat tanganku dengan senyuman. Aku merunduk sambil menarik tanganku, sepertinya tidak akan mudah baginya menerimaku sebagai teman.


"Tidak mudah menjadi temanku! Paman tampan harus dihukum karena membuatku sedih." Ucapnya polos. Senyum seindah Purnama milik bocah manis itu mengembang sempurna di wajah cantiknya.


Aku balas tersenyum padanya. Untunglah tidak susah untuk membujuknya, ia tidak seperti anak lain yang akan mengumpat lawan bicaranya. Sepertinya ibunya mendidiknya dengan baik.


Aku masih mengingat dengan jelas Araf pernah cerita, ayah bocah manis ini entah ada dimana. Ku akui pria itu pria bodoh, alasan buruk apa yang ia punya sampai meninggalkan anak semanis Fazila.


Fazila... Menyebut namanya pun terasa sangat menenangkan. Maha suci yang kuasa telah menciptakan anak semanis dirinya. Kami berdua saling membalas senyuman, bocah yang tadinya cuek masih menjabat tanganku tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.


"Ummi selalu bilang, tidak baik membuat orang kecewa. Fazila masih marah pada paman tampan, jadi kita belum bisa berteman. Fazila akan bertanya pada Ummi. Jika Ummi mengizinkan, maka kita akan menjadi teman rahasia." Sambungnya lagi, kali ini dengan raut wajah serius.


Teman Rahasia! Rasanya aku ingin tertawa melihat wajah cantiknya mengatakan itu, sudah lama sekali aku tidak pernah mendengar kata Rahasia.


Untuk sesaat aku larut dalam bayangan masa lalu. Rahasia? Rahasiaku teramat besar sampai akupun terasa sesak untuk bernafas. Pelan aku mengambil nafas dalam kemudian membuangnya kasar dari bibir.


Kiai Hasan yang berdiri di dekat tubuhku yang masih terduduk di depan Fazila merasa khawatir. Tanpa ku minta, Fazila, bocah manis itu memeluk tubuh kekarku sambil menepuk pelan bahuku.


"Semuanya akan baik-baik saja." Ucapnya menenangkan. Selama ini aku merasa baik-baik saja tanpa kehadiran siapa pun disisiku, namun kali ini entah darimana ketenangan itu datang menelusuf masuk kedalam rongga dadaku.


"Terima kasih." Ucap ku pelan sembari melepas pelukan erat Fazila.


"Pelukanku tidak gratis, paman tampan harus membayar untuk itu." Ujar Fazila sambil menyebikkan bibir tipisnya


"Paman sangat kaya, paman sanggup membeli apapun untukmu." Balasku dengan wajah tak kalah serius.


"Kau ingin apa sebagai imbalan dari pelukan menenangkanmu?" Tanyaku lagi.


"Paman tampan harus membayarku tiga kali dalam sehari. Bayaran pagi, jangan lupa untuk sarapan dan berdoa. Bayaran kedua, paman tampan harus tersenyum tanpa beban. Kemudian, bayaran terakhir. Paman tampan harus membelikanku es krim rasa coklat, yang banyak..." Jawab Fazila tanpa beban. Mendengar ucapan cucunya Kiai Hasan tersenyum lebar.


"Semua wali dan anaknya, silahkan berkumpul." Panitia penyelenggara mulai memanggil, itu artinya pertemuan kami hari ini berakhir sampai disini.


Kiai Hasan menjabat tanganku dan di akhiri dengan salam saling mendoakan, berbeda dengan bocah manis itu. Ia berjalan pelan sambil melambaikan tangan. Aku berharap ini bukan pertemuan terakhir kami karena aku harus membayar hutangku padanya. Maksudku, memberinya es krim rasa coklat seperti yang ia minta.


...***...


"Bagaimana pendapatmu tentang nak Alan?" Pria separuh baya itu duduk di dekat putrinya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Pa, Oliv suka Mas Alan. Diantara semua pria yang pernah Oliv temui hanya Mas Alan yang bisa membuat hati Oliv berdebar tak menentu." Balas Olivia sambil menatap wajah papanya dengan penuh penghormatan.


"Bagaimana menurut Mama? Apa Mama juga suka dengan Nak Alan?"


"Mama ikut Oliv aja. Jika putri kita bahagia, Mama akan mendukungnya. Mereka berasal dari keluarga kelas atas. Mama pernah bertemu dengan Bu Nani, dia orang baik dan juga sopan." Balas bu Ana, mamanya Oliv.


"Papa juga berpikiran sama, mereka keluarga yang sempurna untuk putri kebanggaan kita. Secepatnya kita harus menemui keluarga Wijaya untuk segera menentukan pertunangan Oliv dan Alan." Ucap pak Dandi lagi.


Bahkan hingga saat ini Olivia sangat membenci kata seandainya, baginya kata seandainya itu bagaikan musuh yang paling nyata dan sangat menyebalkan.


Seandainya dulu aku menerima mas Alan dan memutuskan untuk menyerah terhadap mimpi dan karirku? Mungkin sekarang aku sudah bahagia bersamanya. Sekarang aku sudah menjadi desainer terkenal, sayangnya aku masih belum bisa bahagia tanpa kehadiran mas Alan disisiku.


Ucapan itu selalu bergema di otak Olivia, ia berpikir tidak akan pernah bisa bahagia tanpa kehadiran sosok Alan Wijaya yang akan membersamai langkah kakinya dalam setiap episode kehidupannya.


Olivia masih tersenyum bahagia sembari memikirkan sosok Alan Wijaya yang akan menjadi pendamping hidupnya, ia bahkan tidak menghiraukan papanya ketika pria separuh baya itu menyerahkan dokumen pembukaan butik barunya di kota Bandung pekan depan.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda Bobby sedang sibuk mengerjakan tugas baru yang ku berikan padanya. Sore ini aku memintanya untuk memasang TV di kantor pribadiku. Sejak pertemuan dengan bocah manis itu, rasanya aku ingin terus melihatnya berada di depanku.


Bobby memilih TV LED 50 Inch untuk di letakkan di kantorku. Cukup besar untukku yang hanya menonton sendirian.


"Tuan, sekarang anda sudah bisa menonton TV. Apa anda membutuhkan hal lain?" Bobby bertanya sambil menatap ku yang saat ini sibuk bekerja dengan Laptop.


"Benarkah? Terima kasih untukmu!" Balasku sambil tersenyum.


Walau Bobby tidak mengatakan apa pun, aku tahu ia menatapku dengan tatapan heran. Sedetik kemudian pria kekar itu merunduk.


"Kau boleh pergi." Ucapku sinis.


Tanpa bantahan Bobby langsung meninggalkanku.


Berada di kantor dengan tumpukan pekerjaan terkadang membuatku pengap, tidak ada yang bisa ku lakukan selain memaksakan diri untuk terus bekerja, tidak ada tempat yang bisa ku tuju selain kantor pribadi yang sejak setahun lalu di sulap menjadi rumah atas perintahku.


Paman tampan harus tersenyum tanpa beban. Ucapan bocah manis itu terus bergema di benakku. Tanpa sengaja aku pun mulai tersenyum sendiri. Si payah Bobby bahkan menatapku dengan tatapan heran, aku benci saat seseorang berani menatapku seperti itu, tidak ada alasan baginya untuk bertahan disisiku karena aku pasti akan mengusirnya.


Aku tidak sabar bertemu dengan bocah manis itu. Aku tersenyum saat membayangkan wajah manisnya, aku tersenyum saat mengingat ucapannya, aku juga tersenyum saat mengingat bagaimana ia melambaikan tangannya padaku. Sungguh, semua yang ada dalam dirinya terasa sangat mengikatku.


Dret.Dret.Dret.


Malam ini kau harus pulang, ada hal serius yang ingin Mama bicarakan denganmu! Jangan menolak, karena Mama pasti akan marah padamu!


Satu pesan singkat yang Mama kirimkan berhasil membuat suasana hatiku berubah total, wajah yang tadinya mengukir senyuman kini sudah tidak ada lagi, aku yakin mama pasti meminta keluarga Bani berkunjung kerumah Besar.


Entah apa yang direncanakan Mama dengan keluarga Bani. Aku tidak akan diam jika Mama sampai mengatur pernikahan tanpa seizin dariku.


Saat kesal karena perjodohan yang coba mama atau Opa atur untukku, biasanya aku selalu meluapkan amarahku di dalam Ring, bertarung dengan pelatih Tinju sampai melupakan segala hal yang memberatkan hati dan pikiranku.


Aku ingin pelukan bocah manis itu, pelukan dan ucapannya terasa sangat menenangkan.


...***...