
"Ada apa Nani?"
"Ini tentang Araf, yah."
"Araf? Ada apa dengan anak itu?"
Aku meletakkan sendok dan garpu ku di piring, setelah mendengar nama Araf aku tahu kemana arah pembicaraan ini akan berjalan. Dia memang sahabat ku, jika semuanya menyangkut Sabina rasanya berat saja menyerahkan adik perempuan ku pada sahabat playboy ku itu. Aku tidak akan sanggup melihat adik perempuan ku menangis.
Hhhhmmmm.
Aku menghela nafas kasar sambil meraih sendok lagi, berusaha memasukkan nasi dan lauk kedalam mulut seolah aku sedang tidak mengkhawatirkan apa pun.
"Ada apa Alan? Apa ada yang kau sembunyikan?"
"Ti-tidak Oma."
Untuk sesaat aku menatap Ummi Fazila, walau aku tidak mengatakan apa pun sepertinya dia bisa menebak jalan pikiran ku, buktinya dia hanya bisa menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan. Antara prihatin dan juga sedih.
"Jeng Riska, Yah..."
Mama kembali melanjutkan ucapannya setelah makanan di piringnya tak lagi meninggalkan sisa. Papa yang duduk di sampingnya tak mengatakan apa pun, namun aku tahu Papa sangat penasaran.
"Ada apa dengan Mamanya Araf? Kenapa kau terus saja bicara sepotong-sepotong, tak bisakan kau melanjutkan ucapan mu tanpa berhenti di tengah-tengah?" Opa Ade menopang wajah sepuhnya dengan tangan kanannya.
Hanya putri manis ku yang terlihat tidak terpengaruh pada ucapan Mama. Maklum saja, dia belum memahami jalan pikiran orang dewasa.
"Jeng Riska ingin meminang Sabina untuk putranya, Araf. Sejujurnya..."
"Itu bagus, Nani. Ayah suka Araf, dia pria yang baik. Dia tipe yang cocok untuk putri mu. Pertanyaannya, apa yang membuat wajah mu lesu? Apa kau tidak suka Nak Araf?"
"Tidak, Yah. Bukan itu. Nani juga suka Araf, yang jadi masalahnya Sabina. Apa anak itu mau di jodohkan dengan nak Araf? Nani khawatir dia akan menolak, sementara kita sangat antusias."
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu Nani. Percayakan semuanya pada putrimu, Ibu yakin Sabina tidak akan menolak."
"Oma tidak perlu berharap banyak dari Sabina. Menurut Alan mereka sama sekali tidak cocok. Kalian liat sendiri, kan?
Araf pria yang selalu terlibat dengan banyak wanita. Dia tidak akan bertahan dengan Sabina. Dari pada Tante Riska bertanya pada kita lebih baik dia bertanya langsung pada Araf. Menurut Alan, itu yang terbaik."
"Papa juga berpikir sama seperti Alan, Ma. Kita tidak perlu mengatakan apa pun pada Sabina. Biarkan jeng Riska yang bicara pada Araf terlebih dahulu.
Tidak akan sulit untuk membujuk Sabina karena Sabina putri yang penurut. Papa tidak mau putri kesayangan Papa jadi korban laki-laki playboy."
"Jadi maksud Papa, Papa menolak hubungan ini? Mama pikir selama ini papa sangat menyukai Araf."
"Papa menyukai dokter Araf, tapi jika hal itu menyangkut putri Papa, Papa tidak akan tinggal diam."
"Bagaimana pendapatmu, nak?" Papa bertanya pada Ummi Fazila. Kening beliau berkerut, rasanya aku ingin bercakapan ini cepat berakhir.
Papa menatap Ummi Fazila yang saat ini masih sibuk menyuapi putri manis ku. Semua orang menggunakan sendok dan garpu, hanya dia yang menggunakan tangan. Apa pun itu, aku tidak masalah selama dia bahagia.
"Menurut Fatimah... Dokter Araf pria yang baik. Dia cukup sopan dan ramah." Jawab Ummi Fazila singkat. Sedetik kemudian dia kembali menyuapi Fazila.
"Baiklah. Karena semua orang sudah memberikan keputusannya, maka Ayah juga sudah memutuskan, Ayah menerima pinangan bu Riska."
Semua orang tersenyum bahagia tentang hubungan baru yang akan terjalin, bagaimana aku akan mengatakan pada semua orang kalau Araf memiliki wanita baru di dalam hatinya.
Alan... Alan... Kau dalam masalah besar. Aku bergumam di dalam hati sembari menatap satu per satu wajah bahagia semua orang.
...***...
Siang ini terasa sangat berbeda di bandingkan dengan hari-hari biasanya, cuacanya benar-benar sangat panas. Entah kemana Mama Nani akan membawa ku dan Fazila jalan-jalan.
"Ummi... Fazila tidak mau kemana-mana. Fazila mau disini bersama Ummi. Tolong bicara pada Oma agar kita tidak perlu pergi."
Fazila memelukku sangat erat, sejak aku datang di kediaman Wijaya hingga saat ini bocah manis itu tidak bisa jauh dariku. Ia bahkan tidak mengizinkan Omanya membawa ku kekamar atas karena ia tidak ingin aku jauh dari pandangannya.
"Sayang... Apa kau tidak merasa bosan? Oma Nani ingin kau bermain seperti anak-anak yang lain. Atau kau merindukan sahabat-sahabat mu? Ummi janji, kalau kau libur sekolah kita akan liburan ke-Malang, apa kau suka?"
"Horeeeee... Fazila suka, Mi. Fazila rindu teman-teman di Malang. Sejujurnya, Fazila lebih suka tinggal disana. Disana ada Dena, Lisa dan juga Amir." Putri manis ku berlari sepuluh langkah kedepan. Senyumnya menjelaskan segalanya.
Kali ini putri manis ku berputar sambil memejamkan kedua matanya. Kain penutup kepalanya tak bisa diam karena di terbangkan angin.
"Ummi..." Fazila kembali berlari kearah ku, memeluk ku dengan erat sambil berbisik mesra. "Fazila sayang Ummi. Sampai kapan pun Ummi dan Abi akan selalu berada di dalam hati Fazila. Walau Fazila jauh dari Ummi, Ummi pasti tahu Fazila tidak akan pernah melupakan Ummi dan Abi."
Aku menatap Fazila dengan tatapan kasih sayang, walau putri manis ku tidak mengatakan apa pun, aku sangat mengetahui kami saling menyayangi. Dan itu sudah semestinya.
Di sudut yang tak terlihat, berdiri seorang pria sambil membawa senjata api di tangannya. Entah sejak kapan ia bersembunyi seperti tikus, begitu ada yang melihatnya, ia berpura-pura seolah tidak akan melakukan apa pun.
"Aku harus menyelesaikan misi ini. Jika aku tidak menyelesaikannya maka aku yang akan selesai oleh wanita kasar itu." Gerutu pria aneh yang masih berdiri di depan gerbang.
"Tidak akan sulit bagi ku menghilangkan nyawa wanita itu. Cukup memberinya satu peluru maka dia akan pergi dengan damai. Tunggu sebentar... Siapa anak kecil itu? Kenapa dia terus saja berdiri di samping wanita itu? Jika ini terus berulang, misi ku bisa saja gagal.
Aku adalah tamu tak di undang, dan aku pun tidak memerlukan undangan karena aku seorang penembak jitu, selama ini misiku tidak pernah gagal dan itu tidak akan pernah terjadi." Pria bengis itu mengawasi rumah mengah kediaman Wijaya sejak sepekan terakhir, kali ini ia masuk dengan cara melompati pagar setinggi 2,5 meter dan bersembunyi di balik pohon berukuran lumanyan besar.
"Maafkan aku nona, nyawamu tidak lagi berharga. Kita akan bertemu di depan pintu surga, saat itu terjadi adukan aku pada Tuhan mu sehingga dia bisa melemparku ke Neraka. Selamat tinggal."
Ummiiiii.....
Dorrrrrr....
Suara keras tembakan yang berasal dari tempat yang tidak ku ketahui berhasil membuat ku tersungkur kelantai. Dadaku berdebar sangat kencang, sekujur tubuh ku bergetar hebat. Semua orang yang ada di dalam rumah Wijaya berlari keluar rumah setelah mendengar suara keras yang bersumber dari taman depan.
Aaaaaaa.....
Aku berteriak sekuat tenaga melihat putri manisku hampir terjatuh, aku meraih tubuh lemah itu dan memangkunya.
"Da-darah!"
"Cepat cari bajingan itu...." Aiman yang berdiri tak jauh dariku, berteriak sambil mengerahkan ketujuh teman Bodyguardnya, berlari kesetiap sudut berusaha mencari penyusup yang datang tanpa di undang.
...***...