Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Berharap Bertemu


"Fatimah, bangun nak! Bangun!"


Nyai Latifa menggoyang-goyangkan tubuhku, berkali-kali ia mencoba mengangkat ku namun berkali-kali pula ia tersungkur, tubuh separuh bayanya tidak bisa menahan tubuh lemasku, sampai akhirnya ia lebih memilih menyandarkan ku di sofa dekat Televisi.


"Fatimah, bangun nak. Ayo bangun, kenapa kau bisa berakhir seperti ini." Ucap Nyai Latifa dengan derai air mata yang tak dapat ia tahan.


Hmm... Aku merespon ucapannya hanya dengan helaan nafas saja, aku mulai menyadari kehadiran Nyai Latifa. Mataku menerawang kesegala inci rumah sederhana yang ku huni sejak delapan tahun silam, netra ku mencoba mencari putri kecil ku yang sangat ku rindukan, sayangnya aku tidak bisa menemukan keberadaannya.


Ahh... Iya, pagi ini aku memintanya jalan-jalan bersama teman-temannya. Ini sudah siang, kenapa dia belum pulang? Jika dia melihatku dalam keadaan seperti ini ia pasti akan menangis, aku harus kuat, aku harus sembuh! Gumam ku dalam hati sambil menerima pemberian air dari tangan Nyai Latifa.


"Nyai pikir kau sedang marah, karena itu kau tidak pernah mengunjungiku! Maafkan Nyai yang tidak bisa mengerti perasaanmu." Ucap Nyai Latifa lagi, air mata masih menetes di mata sayunya.


Nyai... Aku tidak apa-apa! Aku baik-baik saja, Nyai tidak perlu khawatir. Nyai tidak perlu menangis. Ingin rasanya aku mengatakan itu pada wanita separuh baya yang ku anggap sebagai ibu itu, sayangnya ucapanku tertahan di tenggorokanku. Sisa-sisa tenaga yang ku miliki tidak bisa membuatku menenangkan Nyai Latifa, aku tahu ia sangat khawatir. Aku merasa putus asa, aku mencoba meyakinkan diri apa yang di gariskan Tuhan untuk Hambanya maka itu yang terbaik untuknya. Begitulah caraku meyakinkah diriku untuk bertahan dalam Dunia hitam putihku yang di penuhi dengan derita.


"Apa putri mu belum kembali?"


Aku mengedipkan mata memberi isyarat pada Nyai Latifa kalau Fazila belum pulang.


"Baiklah, tidak apa-apa. Putrimu ada di rumah Nyai, disana dia sedang bersama kiai untuk mengulang hafalannya. Seseorang dari stasiun Tv memberitahukan, Fazila kita lolos Audisi dan mereka akan melakukan Shoting untuk mengenal Fazila lebih dekat. Sepertinya minggu depan kalian akan berangkat ke Jakarta. Nyai akan mengutus salah satu Asisten rumah tangga menemanimu selama berada disana." Ucap Nyai Latifa sambil mengusap lembut wajah pucat pasi ku.


Nyai Latifa kembali membantu ku untuk berdiri, maklum saja lantai yang kududuki sangat dingin tidak baik untuk orang sakit seperti ku.


"Bismillah hirrahmaniir rahim..." Ucapku dan Nyai Latifa bersamaan, kali ini aku bisa bangun. Rasanya kekuatan ku kembali pulih walau sedikit, Nyai Latifa membantuku berbaring di Ranjang, beliau menarik selimut dan menutupi setengah tubuh lemahku.


"Nyai akan pulang. Kau tidak perlu mengkhawatirkan Fazila. Nyai akan mengirim salah satu Asisten rumah tangga yang ada di rumah untuk menjagamu." Ucap Nyai Latifa lagi sambil bangun dari posisi duduknya.


Maafkan aku gusti Allah, aku berbohong pada anak itu! Bagaimana kalau dia tahu putrinya tidak dirumah kami tapi di klinik? Aku benar-benar tidak bisa memberitahukannya, kondisinya sendiri sangat buruk. Gumam Nyai Latifa sambil menutup daun pintu kamar.


...***...


"Bagaimana perasaanmu? Apa masih sakit?" Araf bertanya sambil membelai puncak kepala Fazila.


"Aku baik-baik saja. Ummi yang tidak akan baik-baik saja. Jika beliau melihat kondisiku saat ini, beliau pasti akan histeris." Ucap Fazila pelan sambil merunduk, menyesal.


"Bukankah kau bilang Ummi mu orang yang sangat baik? Aku yakin dia akan baik-baik saja." Ucap Araf pelan mencoba menjelaskan, segala usaha ia lakukan untuk melihat senyuman bocah manis itu lagi, termasuk menceritakan lelucon yang sebenarnya tidak lucu. Mencoba menenangkan bocah manis yang duduk di depannya jauh lebih sulit ketimbang menaklukan gadis manapun. Melihat bocah itu hampir menangis membuat Araf ketar-ketir tak karuan.


"Paman dokter, jika bibi Fatimah melihat perban di lengan Fazila, ia pasti akan menangis pilu. Apa lagi kakinya yang tidak bisa berjalan lurus, aku yakin bibi pasti semakin menangis." Ucap Dena sambil berjalan kearah Araf.


"Kalian bertiga pulanglah. Paman tampan itu akan mengantar kalian." Tunjuk araf pada Bodyguard nya yang masih berdiri di dekat anak-anak.


Tiga bocah manis itu hanya bisa mangut mengikuti instruksi, mereka melambaikan tangan pada Fazila yang masih terkulai lemah sembari berjalan meninggalkan klinik.


"Apa kau takut bertemu dengan Ummi mu dalam keadaan ini?" Araf bertanya karena melihat Fazila yang nampak khawatir. Tidak ada lagi senyuman manis di wajah cantik anak berusia tujuh tahun itu.


"Tidak perlu khawatir. Paman dokter yang akan bicara pada Ummi mu!" Sambung Araf lagi sambil tersenyum tipis.


"Istirahatlah, paman dokter akan mengantar mu pulang sore nanti. Paman dokter sudah bicara pada nenek Nyai mu, dan nenek Nyai mu sudah bicara dengan Ummi mu. Tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan, gunakan otak kecilmu ini hanya untuk belajar, bermain, dan bersenang-senang. Kau mengerti, maksut paman dokter?"


Fazila mengangguk kecil. Ia benar-benar lega mendengar ucapan Araf, rasanya seolah balon besar yang mengganjal di hatinya sudah mulai mengempis.


...***...


"Bos... Anda harus melakukan pertemuan bisnis di Surabaya. Selama beberapa hari kedepan anda akan tinggal di hotel." Ucap Bobby memecah konsentrasi ku.


Surabaya?


Mendengar nama kota pahlawan itu membuat nafas ku terasa sesak, aku takut. Aku merinding. Masa lalu yang selalu coba ku lupakan kembali menari-nari di benak ku.


"Tinggalkan aku sendiri!" Bentak ku keras pada Bobby, lelaki malang itu bahkah sangat terkejut melihat kemarahan ku yang secara tiba-tiba.


Sejak tragedi itu aku selalu saja mengalami mimpi buruk, bahkan aku bisa merasakan mimpi itu walau aku sedang terjaga sekalipun.


Menurut imformasi yang ku dapatkan, gadis malang korban kekejamanku berasal dari kota Pahlawan, selama delapan tahun trakhir aku selalu mencari keberadaannya, namun ia bagai asap yang di terbangkan angin, ia tidak meninggalkan jejak apa pun. Setiap kali mengingat gadis yang ku tindih tanpa tahu ia siapa selalu membuat dada ku terasa sesak, aku selalu berdoa agar bisa bertemu dengannya sehingga ia bisa mengutuk ku dengan sepenuh hatinya.


"Apa yang harus ku lakukan? Kenapa hidupku lebih rumit dari drama manapun!" Ucapku lirih sambil memijit kepala yang terasa mumet.


"Baiklah. Aku akan berangkat. Aku tidak tahu takdir apa yang sudah menungguku, meskipun begitu aku berharap semuanya akan baik-baik saja." Gumamku sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi yang ku duduki.


Alan, apa yang sudah kau lakukan? Kenapa hidupmu jadi serumit ini. Berdo'alah, semoga Tuhan mempertemukanmu dengan gadis malang itu. Jika tidak kau pasti akan tiada dalam penyesalan panjang. Aku berharap bisa menemukan mu. Lirih ku pelan sambil memijit kepala ku yang terasa semakin sakit. Aku bahkah lupa wajah gadis itu, bagaimana caraku menemukannya di antara miliyaran gadis yang ada, entahlah. Aku sendiri tidak tahu!


...***...