Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Mencari Kebenaran


Aku benar-benar merasakan kesedihan mendalam, wajah wanita yang tidak ku tahu namanya itu masih menari-nari di memori otakku. Nafas ku terasa sesak. Sejak melihat wajah wanita itu aku menjadi tidak waras. Kesedihanku pun mulai tak terkontrol.


Apa yang harus ku lakukan? Sanggupkah aku berdiri di hadapannya? Bagaimana caraku meminta maaf? Dosa ini benar-benar menghancurkan ketenangan jiwaku! Aku mulai bergumam sendiri, semakin lama berada di kamar membuatku semakin sesak. Aku sangat kesal pada diriku sendiri sampai aku tidak sanggup menatap wajahku di cermin.


Tuhan... Jangan bebani aku melebihi batas kesanggupanku! Lirihku lagi dalam keputus asaan. Pelan, aku berjalan keluar meninggalkan kamar yang terasa sangat menyesakkan, menuruni anak tangga sambil berpegangan di setiap sisinya.


Di rumah, aku mulai mempekerjakan enam orang, tiga wanita, dua pria yang bertugas menjaga di post depan, dan satunya lagi bertugas mengurus taman. Setidaknya dengan mempekerjakan mereka aku bisa melihat dan mendengar ada kehidupan lain di rumah sunyi yang ku tempati selama lima tahun ini dalam kesendirian.


"Mbok... Seharusnya mbok nonton Tv saja, untuk sekedar menghilangkan kepenatan! Ada acara bagus di Tv, maksud saya acara baru yang menampilkan anak-anak kecil yang menghafal Qur'an. Saya berharap keluarga saya bisa ikut dalam acara itu! Fazila, nama yang bagus." Ucap seorang Art muda, kira-kira usianya sekitar dua puluh lima tahun.


"Sudahlah, Ras. Mbok tidak suka nonton Tv. Palingan juga mbok ngorok kalau kita ajak nonton." Sambung Art lain yang usianya sama dengan wanita yang di panggil Ras, atau Laras.



Aku menatap ketiga wanita yang berdiri tak jauh dari ku itu dengan kesedihan luar biasa. Aku sedih karena mereka membicarakan bocah


manis itu, mendengar namanya membuatku semakin teringat pada ibunya. Hampir saja air mataku kembali tumpah. Aku sangat mengerti arah pembicaraan mereka. Ujung-ujungnya, mereka pasti akan membicarakan keanggunan ibunya.


"Aku menyukai Fazila, anak itu sangat manis dan dia tampil dengan sempurna. Seandainya aku wanita beruntung yang menjadi ibunya." Sambung Laras dengan wajah memamerkan senyuman, tiga wanita itu masih tidak menyadari keberadaanku. Begitu aku berdiri di depannya, mereka mulai terlihat tegang.


"Tu-tuan? Ap-pa anda butuh sesuatu?" Mbok Lasi bertanya sambil merunduk, aku tidak tahu apa yang di pikirkan wanita separuh baya yang berdiri di depanku. Wajahnya terlihat tegang, dan dua gadis lainnya pun tidak jauh berbeda darinya. Selama ini aku jarang berada di rumah untuk bertemu dan bicara dengan mereka, lalu darimana sikap tegang dan takut menyerang mereka secara bersamaan?


"Aku mau air. Air dingin!" Balasku pelan sambil berjalan menuju ruang tengah.


"Malam ini kalian harus memasak untukku! Aku akan makan malam di rumah, jangan pernah membuat kesalahan sekecil apa pun dalam makanan yang kalian sajikan. Aku benci kesalahan yang di buat oleh pekerjaku, entah itu di rumah atau di kantor!" Ucapku lagi sambil menghentikan langkah kakiku. Tidak ada jawaban dari ketiga wanita yang berdiri di depanku, mereka mengangguk pelan tanpa ada bantahan.


"Ini airnya tuan." Ucap Mbok Lasi sembari meletakkan air dingin yang kuminta di atas meja.


"Kalian berdua, kemari!" Pinta ku sambil menjentikkan jari telunjuk tampa melihat wajah dua Art muda itu. Tadinya Mbok Lasi akan beranjak menuju dapur, ia mengurungkan niatnya karena dua Art muda yang merupakan keponakannya itu terlihat ketakutan.


"Ia... Tu-an?" Ucap dua wanita itu bersamaan.


"Apa yang kalian bicarakan, tadi?"


"Ta-tadi... Kami se-dang membicarakan acara Tv." Ucap Laras gugup.


"Dengar, aku tidak suka mendengar kalian bergosip selama aku berada dirumah. Apa pun itu, jangan pernah lakukan. Aku benci melihat orang bergosip." Ucapku dengan tatapan setajam belati, tiga wanita yang berdiri di depanku terlihat semakin ketakutan.


Ada apa denganku? Aku tahu dua wanita itu tidak bergosip, entah dari mana rasa takut ku datang. Aku takut wanita itu akan terluka, luka yang disebapkan lisan Manusia jauh lebih menyakitkan dari pada tusukan pedang sekalipun.


Entah darimana kisah ini akan ku mulai? Haruskah aku menemuinya di asrama dan bersimpuh di hadapannya untuk mendapatkan maaf darinya? Apa wanita Saliha itu mengingat wajah pria kurang ajar yang menodai kesuciannya? Apa dia juga melupakan wajahku sama seperti aku melupakan wajah indahnya? Sejuta tanya masih memenuhi hati dan pikiranku. Aku tidak bisa menceritakan kisah pilu ku pada sahabatku, Araf.


Seandainya Araf mengetahui segalanya, aku pasti tidak akan selamat dari tinjunya.


Aku kembali menatap dua wanita muda yang berdiri di depanku.


"Kalian bisa pergi. Jangan pernah membicarakan omong-kosong di depanku, karena aku pasti akan marah pada kalian. Kalian mengerti?" Tanyaku dengan nada suara datar. Dua wanita muda itu tidak berani mengangkat kepalanya, mereka mengangkuk dalam diam, aku merasa emosi yang ku bawa dari kantor belum bisa mereda.


Aku kembali menghela nafas kasar. Tanpa memperdulikan ketiga wanita yang berdiri di depanku, aku langsung meninggalkan ruang tengah tanpa meneguk air yang dibawa wanita separuh baya yang biasa ku panggil Mbok itu. Aku tidak ingat nama semua pekerja yang ada di rumahku, aku terlalu larut dalam duniaku sendiri. Kini aku mulai menyadari, ternyata hidup yang ku jalani selama ini hanya kesia-siaan saja.


Gdebukkk!


Begitu sampai di kamar, aku langsung menghempaskan tubuh lelahku di tempat tidur. Untuk sesaat, aku mencoba memejamkan mata kemudian membayangkan sosok teduh yang menjadi incaran Araf.


Dadaku berdebar sangat kencang, seolah jantungku akan melompat keluar. Masih teringat dengan jelas dimemori otakku ucapan mama yang menjelaskan kemiripanku dengan bocah manis itu, kemiripan yang bahkan tidak ku sadari sedikitpun.


Jika itu benar? maka aku benar-benar tidak bisa termaafkan. Aku bergumam sendiri dengan dada yang masih terasa sesak, nafasku terasa berat. Air mata ku mulai menetes, entah darimana kesedihan ini tiba-tiba muncul dan meluluh lantakkan segala kepercayaan diri yang ku punya. Rasanya aku ingin berteriak, bahkah berteriak pun tidak akan ada gunanya.


"Tuhan... Apa yang harus ku lakukan jika apa yang ku pikirkan itu benar?" Ucapku dengan suara lirih.


"Wanita itu pasti membenciku? Dia pasti mengutukku?


Tuhan... Aku mohon, jangan menguji ku melebihi batas kesanggupanku! Rasanya aku tidak sanggup lagi untuk berdiri dengan kedua kakiku." Ucapku lagi dengan derai air mata kepedihan..


Fa-ti-mah? Fa-ti-mah! Fatimah! FATIMAH! Berkali-kali mengucapkan nama itu membuat ku merasakan sedikit ketenangan. Otak ku mulai merancang setiap langkah kecil yang harus ku tempuh untuk mendapatkan maaf darinya. Aku tidak perduli jika harus mendapatkan tamparan seperti yang ada dalam drama. Ratusan kali tamparan atau cambukan tidak akan cukup untuk ku sebagai hukuman darinya, bahkan jika wanita itu memintaku untuk tiada maka aku tidak berhak untuk menolaknya.


Aku bukan pecundang yang akan lari dari kesalahan dan tanggung jawab, sebelum menemuinya hal pertama yang harus ku lakukan yakni mencari kebenaran.


Aku membersihkan sudut mataku yang masih berair dengan punggung tanganku, kemudian meraih ponsel yang ku letakkan di atas nakas. Mencoba menghubungi sosok kepercayaanku, sosok yang akan menemukan kebenaran yang tersembunyi walau sekecil apa pun.


"Aku punya pekerjaan untuk mu! Lakukan secara diam-diam. Aku tidak mau kesalahan sekecil apa pun. Jika Rahasia ini sampai bocor maka kepala kalian yang akan jadi tebusannya!" Ucap ku dengan suara lantang begitu nomor yang ku hubungi tersambung.


"Baik tuan!" Sahut pemilik suara di sebrang sana. Aku bisa mendengar nada hormat dari ucapan singkatnya.


Klikk.


Aku mematikan ponsel tanpa salam. Berharap proses mencari kebenaran ini tidak akan menuai badai lagi dalam kehidupan keras ku.


Aku akan menemuimu setelah kebenaran ini terungkap. Apa pun keputusanmu, aku akan tetap menuju kearahmu. Aku berjanji akan menemuimu dua hari lagi, terhitung dari sekarang. Dua hari saja!


Aku sudah siap menerima semua amarah dan kebencianmu, aku pun sudah siap jika kau harus membunuhku!


Alan Wijaya... Mulai saat ini kau berada dalam takdir yang tidak akan bisa kau hindari. Hidup dan matimu ada di tangan wanita itu. Dia bukan sekedar wanita asing, namanya Fatimah Azzahra. Ucapku lirih sambil menarik nafas panjang kemudian kasar menghembuskannya dari bibir.


...***...