
Sejam yang lalu Kiai Hasan sudah kembali ke rumah sakit, beliau terlihat bahagia entah apa yang ada dalam pikirannya. Tidak biasanya beliau bersikap seperti itu.
Setelah memberi Nyai Latifa makan aku pun duduk di sofa sembari merapikan pakaian Nyai Latifa, dua hari lagi beliau sudah bisa pulang. Itu artinya aku bisa menemani Fazila selama kontes berlangsung tanpa perlu mengkhawatirkan kondisi Nyai Latifa lagi.
"Bagaimana perasaan Ummi? Apa sudah lebih baik?" Kiai Hasan bertanya pada istri separuh bayanya sambil duduk di bangku yang ada di sisi kanan Nyai Latifa.
"Alhamdulillah, sekarang Ummi merasa jauh lebih baik. Hanya saja, kaki Ummi yang sebelah kiri sedik sakit kalo di gerakkan. Sama kepala Ummi masih terasa pusing." Balas Nyai Latifa pelan, wajahnya mengukir senyuman. Dan itu sudah cukup membuat Kiai Hasan merasa tenang.
"Ndok... Kau dan Fazila akan tinggal di asrama. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami. Insya Allah kami akan pulang ke-Malang setelah menyaksikan penampilan pertama Fazila." Sambung Kiai Hasan tanpa melepas pandangan dari Nyai Latifa. Sesekali ia melirik kearahku yang duduk di sofa dekat pintu.
"Kenapa Harus pulang secepat itu Bi? Ummi masih kangen sama Fazila!" Balas Nyai Latifa dengan suara beratnya.
"Kalau Ummi masih betah tinggal disini tidak apa-apa, nanti Ummi bisa tinggal di rumah Ustadz Muis. Kasian pesantren Mi, perasaan Abi enggak enak terlalu lama jauh dari Pesantren." Balas Kiai Hasan tanpa mengurangi rasa hormatnya pada istri yang sudah menemani setengah dari hidupnya.
"Ya sudahlah.... Ummi ngikut Abi saja." sambung Nyai Latifa pasrah.
"Fatimah, sayang. Besok, hari pertama putrimu tampil di TV, kau harus bersamanya. Nyai tidak apa-apa walau di tinggal sendiri. Masih ada perawat yang menemani!" Ujar Nyai Latifa sambil menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang.
"O iya nak, Fatimah. Bapak lupa ngasih tahu, Apartement yang kau tempati itu kan milik sahabat nak Araf. Tadi bapak bertemu dengannya di Stasiun TV, dia pria yang baik." Kiai Hasan terlihat bahagia membicarakan pria itu, padahal ia baru mengenalnya.
"Apa dia sungguh sebaik itu? Kiai tampak bahagia hanya dengan mengingatnya." Tanyaku setelah menyiapkan segala kebutuhan Kiai Hasan dan Nyai Latifa.
"Beberapa waktu lalu dia berkunjung ke Pesantren, dia memang terlihat dingin, tapi dia sungguh pria yang baik hati. Dia bahkah menyumbangkan dana Ratusan Juta rupiah untuk keperluan pesantren." Balas Kiai Hasan mencoba menjelaskan.
"Dia juga bicara dengan FaziIa, sepertinya Fazila menyukainya!" Ujar Kiai Hasan lagi.
"Jika orang itu sungguh baik, maka tidak akan sulit bagi Fazila untuk akrab dengannya! Kiai lihat sendirikan bagaimana anak itu dengan mudahnya akrab dengan dokter Araf." Balasku, kali ini aku memasukkan pakaian Nyai Latifa kedalam tas kecil dan meletakkannya di atas meja samping Kiai Hasan.
"Besok, gadis muda itu akan menjemputmu, dan selama sebulan kedepan kau pun akan aktip bersama para wali lainnya, kau akan melupakan segala resah dan gelisahmu. Nikmati waktumu, dan jangan pikirkan kami. Sudah waktunya kau merasakan bahagia." Ucap Kiai Hasan dengan suara lemah lembutnya.
Jujur, aku merasa heran mendengar ucapan menenangkannya. Aku ingin bertanya pada Kiai Hasan, bagaimana beliau mengetahui resahku? Aku bahkan tidak mengabarkan resah dan gelisahku pada bantal yang selalu menjadi sandaran tubuh lemahku.
Aku ingin bertanya, namun semua ucapan ku terkatup di bibir. Meskipun begitu, aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan tulusnya, dalam hati aku berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, Olivia dan keluarganya baru saja tiba di kediaman mewah mereka. Kedua orang tua Olivia nampak bahagia, wajah separuh baya mereka tidak melepas senyuman sejak berada di kediaman Wijaya. Seandainya mereka berdua tahu apa yang di dengar oleh putri kesayangan mereka Olivia tentang penolakan yang di alaminya, mereka pasti berpikir alam sedang tidak bersahabat dengan kehidupan sempurnanya.
"Pa, Mama sangat menyukai nak Alan. Dia pria tampan yang sempurna untuk putri kesayangan kita. Mama benar-benar tidak sabar menjadikan Nyonya Nani sebagai besan kita." Mama Olivia menunjukan kebahagiaannya dengan cara berbeda. Setiap kali bahagia ia akan memakan coklat dan beberapa camilan lainnya, dan kali ini pun ia melakukan itu.
Sementara Olivia, ia hanya bisa menghela nafas saja. Mendengar penolakan langsung dari pria yang ia simpan di dalam lubuk hatinya terasa sangat menyakitkan, hanya senyuman paksaan yang bisa ia tunjukan di hadapan Mama dan Papanya, berharap hatinya akan merasakan ketenangan lagi sama seperti sebelumnya.
Malam yang panjang dan menyedihkan akhirnya berlalu juga, pagi ini Olivia sudah berada di dalam mobilnya, dan tidak membutuhkan waktu lama untuknya sampai di stasiunTv, stasiun yang akan menyiarkan acara yang ia juga terlibat di dalamnya, acara Hafidz Qur'an.
"Hai... Seren! Kau juga ada disini?" Sapa Olivia tak kalah semangat dari Seren.
"Iya... Aku ada disini! Di tempat yang sama dimana aku berdiri sebelumnya." Seren terlihat menghela nafas kasar.
"Aku akan melakukan pemotretan hingga jam sembilan, jadwal ini sangat membosankan. Namun hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menghilangkan gundahku!" Ucap Seren lagi menjelaskan.
"Gundah? Apa maksudmu?" Olivia terlihat penasaran.
"Kita menjadi teman sejak aku menjadi model dalam setiap project yang kau lakukan. Kau masih ingat, kan? Dulu, aku pernah cerita tunanganku adalah pria sempurna. Beberapa waktu lalu ada masalah dalam hubungan kami, dia marah padaku. Dan saat ini aku sedang berusaha membujuknya agar dia bisa kembali padaku." Ucap Seren yang saat ini di penuhi semangat, semangat untuk mendapatkan cintanya kembali.
"Lalu kau? Apa yang kau lakukan di sini?"
"Hari ini acara yang aku sponsori akan melakukan proses suting hari pertamanya." Balas Olivia.
"Acara apa?"
"Acara Hafidz Qur'an."
"Iiiiihhhhh.... Apa kau tidak waras? Kenapa kau terlibat dalam acara seperti itu?" Seren menunjukan sikap tidak sukanya.
"Calon Mama mertuaku ikut andil dalam acara ini. Pria yang sangat kusukai itu pun ikut andil dalam acara ini, dia sponsor terbesar dari acara hafidz." Jawab Olivia tanpa melepas pandangannya dari wajah Cantik Seren.
"Hahaha... Jadi kau ikut acara ini hanya untuk memberikan kesan baik pada pria itu? Kau benar-benar memiliki rencana besar." Seren terkekeh mendengar penuturan Olivia. Pantas saja Seren mudah sekali akrab dengan Olivia, ternyata mereka memiliki sedikit kesamaan, tidak mudah menyerah pada sesuatu yang mereka anggap sebagai miliknya. Seandainya saja ia mengetahui kalau mereka mengagumi pria yang sama, sanggupkah ia melihat wajah rivalnya? Entahlah.
Sementara itu di tempat berbeda, Fazila baru saja selesai bersiap, ia menggunakan gamis bermotif bunga-bunga. Ia terlihat gugup. Bahkan tangannya mulai berkeringat.
"Mmmm..."
"Ummi..." Panggil putri manisku. Sepertinya suara dehamanku sedikit mengejutkannya. Bukan hanya tangannya yang berkeringat, keningnya pun berkeringat. Itu artinya dia sedikit panik.
"Ada apa dengan putri pemberani Ummi? Belum bertempur dia sudah terlihat akan menyerah." Aku memangku Fazila sembari memeluknya dengan pelukan bahagia.
"Ummi... Fazila takut!"
"Takut? Pada siapa? Apa Ummi pernah memarahimu? Jika itu benar, semoga Allah mengganti hati Ummi dengan hati yang baru, hati yang di penuhi kasih sayang." Ucapku sambil berbisik di telinga putri manisku.
"Bukan pada Ummi, tapi pada semua orang yang akan menatap Fazila dengan tatapan heran!" Balas Fazila sambil menatap wajahku. Wajah yang di penuhi dengan senyuman. Sebenarnya aku pun sama, aku merasa gugup, aku takut putriku akan terluka karena mengikuti acara ini. Seperti keyakinanku sebelumnya, aku percaya semuanya akan baik-baik saja.
Gusti Allah... Lindungi aku dan putriku. Jauhkan kami dari kesedihan. Lirihku dalam hati. Aku bisa merasakan putri manisku mulai tenang, karena hanya itu yang ku inginkan, Fazila merasa tenang, aman dan nyaman dalam setiap keadaan.
...***...