Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Sambutan Staf Hotel (Alan)


Malang 01.29


Tengah malam.


Entah kenapa mata ini sulit sekali terpejam, bahkan rembulan malam ini bersinar sangat terang, seolah cahayanya mengetahui resah yang sedang kurasakan.


Aku menatap rembulan kali ini dengan tatapan penuh pengharapan. Berharap hidupku pun akan bercahaya walau hanya untuk sedetik saja.


Manusia itu memang tidak pernah memiliki rasa puas dalam dirinya. Selalu saja ada hal yang kan menjadi sumber keluhan.


Huhhhh!


Aku membuang nafas kasar, berharap beban di hatiku pun ikut terbuang walau hanya sedikit saja. Sayangnya itu hanya keinginan kosong yang tidak akan pernah terjadi dalam dunia nyata.


"Kau belum tidur?" Araf tiba-tiba datang dan mengejutkanku dari belakang, tangannya memegang cangkir yang berisikan kopi hangat.


Ya... Aku membutuhkan kopi. Sepertinya, inilah salah satu alasanku bisa sedekat ini dengan Araf. Ia bisa mengetahui jalan pikiranku bahkan sebelum aku mengungkapkannya.


"Apa ada hal yang mengganggumu? Katakan saja, aku janji tidak akan mengatakannya pada siapa pun!" Sambung Araf sembari meletakkan cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas di depanku.


"Tidak ada!" Balasku singkat.


"Tidak ada apanya? Coba lihat wajahmu di cermin, kau terlihat lima tahun lebih tua." Guyon Araf sambil terkekeh.


Araf memang berbeda dariku, anak yang dulunya manja berubah menjadi sosok periang hanya dalam hitungan bulan.


Sementara aku? Aku yang dulunya sosok periang berubah menjadi makhluk aneh yang tidak bisa tersenyum lagi. Setiap hal punya alasannya untuk berubah, entah itu alasan yang baik atau buruk.


"Bagaimana pendapatmu tentang tempat ini?"


"Tempat ini sangat nyaman." Balasku tanpa melihat wajah Araf.


"Ya, kau benar. Tempat ini sangat nyaman. Di Jakarta, kita bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan tanpa perlu bersusah payah, namun ketenangan itu terasa sangat jauh. Jika aku bisa, aku ingin memintamu tinggal disini saja. Sayangnya itu tidak mungkin, ribuan karyawan membutuhkanmu di bandingkan dengan aku sahabatmu sendiri."


Aku meraih cangkir kopi yang Araf letakkan di depanku. Pelan aku mulai meneguknya, rasa manis dan pahit yang bercampur menjadi satu membelai lembut lidah ku.


"Aku tidak tahu duka apa yang membuatmu berubah!" Sambung Araf dengan suara pelan.


Uhuk.Uhuk.Uhuk.


Aku terkejut, aku tersedak kopi yang hampir masuk kesaluran pernafasanku. Selama ini aku tidak pernah menceritakan masalahku pada siapa pun, lalu dari mana Araf tahu ada duka yang masih menyelimuti hatiku?


Araf terlihat khawatir melihatku batuk-batuk. Untungnya ia tidak mengatakan apa pun.


"Duka apa maksutmu? Kau kan tahu, aku paling malas membicarakan tentang diriku! Tidak ada hal menarik yang bisa kubagi denganmu, dan kau pun sudah tahu semua hal tentangku."


"Iya, kau benar juga." Balas Araf pelan, setelah itu ia kembali meneguk kopinya.


Aku sangat bersyukur karena Araf tidak menanyakan bayak hal. Kata orang, menceritakan masalahmu akan mengurangi beban di hatimu. Aku memiliki kasus yang berbeda, menceritakan beban hatiku sama saja dengan membuka luka lama.


Aku berjanji pada diriku sendiri, jika aku menemukan nona yang tidak ku tahu nama dan rupanya itu, aku pasti akan menceritakan segalanya. Tidak hanya pada Araf, namun pada semua anggota keluargaku juga.


"Apa tidak ada keinginan di hatimu untuk mencari gadis yang lebih baik dari Seren? Aku yakin wanita itu sudah memiliki tambatan hati lain selain dirimu!"


"Aku tidak menginginkannya. Membayangkan penghianatan Seren membuatku merinding."


"Ayolah Alan... Lupakan penghianatan Seren." Ucap Araf lagi, kali ini ia bangun dari posisi duduknya sembari menatap keindahan cahaya purnama.


"Atau jangan-jangan ada gadis lain yang menghuni hatimu?" Araf menebak asal, wajahnya terlihat penasaran.


Aku tidak tahu harus menjawab apa padanya!Sikap penasarannya selalu saja membuatnya merinding.


"Ia. Kau benar. Jauh di lubuk hatiku, ada seorang gadis yang menghancurkan ketenangan siang dan malamku."


"Whatttt? Siapa dia?" Tanya Araf sambil berjalan kearahku.


"Aku tidak tahu siapa gadis itu. Wajah samarnya selalu menghiasi mimpiku."


Araf menatapku dengan tatapan kasihan, dan tatapan seperti itu sangat menggangguku.


Pletakkk!


Untuk pertama kalinya aku tersenyum tanpa paksaan, melihat wajah ling-ling Araf serasa bagai menonton drama komedi.


"Aku mau tidur! Kau juga harus tidur." Ucapku pada Araf sambil bangun dari posisi duduk ku. Ini kunjungan pertamaku kekota Malang, dan ini juga kunjungan pertamaku kepesantren Kiai Hasan. Semuanya terasa berkesan, seolah tempat ini memiliki ikatan lama dengan ku. Entahlah, aku sendiri tidak tahu.


...***...


"Kau yakin tidak mau menginap lagi? Padahal aku sangat senang bisa bertemu denganmu!" Araf terlihat murung, ini pertemuan pertama kami setelah empat bulan berlalu. Biasanya kami mengobrol melalui Vidio Call, namun itu tidak cukup untuk melepas rasa rindu kami sebagai sahabat akrab yang biasanya terikat kemanapun kami pergi.


"Kau itu sudah dewasa, seharusnya bersikap sesuai usiamu." Ucapku sambil terkekeh.


Sungguh, wajah Araf terlihat lucu.


Ketika kami bersama, kami benar-benar tidak perduli dengan angka usia kami yang semakin dewasa, terkadang kami menangis, tersenyum, meratap, atau sekedar meluapkan amarah yang terpendam. Semuanya terasa indah ketika kita bisa membagikan kisah sedih dan senang bersama orang kepercayaan.


Bukannya aku tidak percaya pada Araf untuk membagi kisah sedihku, hanya saja aku masih tidak percaya diri untuk berbagi kisah sedih.


Jika kisah itu bahagia maka aku orang pertama yang akan membaginya.


"Apa kau bersungguh-sungguh dengan ceritamu tadi malam?" Araf bertanya sembari menatap lekat wajah tampanku.


"Mmmm." Balasku pelan sambil mengangguk kecil.


"Ternyata kau lebih menyedihkan dibandingkan denganku!" Ujar Araf sambil menepuk bahuku.


"Aku mencintai wanita yang jelas-jelas ada di depan mataku! Tapi kau? Dia hanya muncul dalam mimpimu. Terdengar seperti drama, walau bagaimanapun, aku berharap kisahmu berakhir bahagia." Ucap Araf mencoba menguatkan diriku.


Aku hanya mengangguk pelan, aku juga berharap apa yang di ucapkan Araf benar-benar terjadi dalam dunia nyataku.


"Tuan. Semuanya sudah siap, tuan Dimas juga meminta anda untuk segera kehotel." Celetuk Bobby mencoba mengingatkan.


"Tolong berikan ini untuk Kiai Hasan, sampaikan salamku padanya, aku tidak bisa berpamitan dengannya karena aku sedang terburu-buru." Ucapku sambil menyodorkan amplop putih pada Araf.


Aku memeluk Araf untuk sesaat, setelah itu masuk kedalam mobil, Bobby sendiri sudah duduk manis di kursi kemudi.


Araf melambaikan tangannya sambil tersenyum tipis, entah kapan kami akan berjumpa lagi setelah perpisahan ini. Walau bagaimanapun, aku sangat bersyukur, setidaknya aku bisa menginap dirumah dinas Araf, sungguh ini kejadian yang sangat langka.


...***...


Jakarta, pagi ini nampak padat oleh kendaraan roda dua dan roda empat yang mengular di sepanjang jalan. Iklima yang duduk di kursi kemudi pun terlihat kesal. Bukan hanya sepuluh atau dua puluh menit. Ini sudah lebih dari satu setengah jam, anehnya mobil yang di kendarai Iklima bisa dibilang tidak bergerak sedikitpun.


"Apa nona kecil merasa lapar? Jika nona kecil lapar, nona kecil bisa memakan makanan yang kusiapkan di dekat Ummi Fatimah." Ucap Iklima sambil tersenyum menghadap Fazila yang saat ini masih sibuk dengan Al-Qur'an-nya.


"Terima kasih kakak cantik. Tadi, Fazila sudah makan masakan Ummi di rumah bagus itu." Ucap Fazila tanpa di buat-buat.


"Rumah bagus? Ahhh... Maksutnya Apartemen tuan Alan!" Ucap Iklima sambil tersenyum menghadapku yang duduk di sebelah kanan Fazila.


"Nona Iklima, saya benar-benar tidak mengerti kenapa bos anda memberikan kami tumpangan dirumah, ahhh... Maaf, maksut saya di Apartemen mewahnya?" Tanya ku penasaran.


"Bos kami dan dokter Araf adalah sahabat baik. Dokter Araf meminta bantuan bos kami untuk memberikan pelayanan terbaik pada anda dihari pertama anda di Jakarta." Ucap Iklima tanpa beban.


"Saat ini bos kami berada di Surabaya! Jika memungkinkan, beliau pasti menemui anda setelah beliau kembali ke-Jakarta." Ucap Iklima lagi. Kali ini mobil yang kami tumpangi mulai bergerak pelan membelah jalanan.


Sementara itu di tempat berbeda, puluhan karyawan dan staf Hotel berkumpul di Loby Hotel menunggu bintang acara sore ini.


"Selamat datang pak Alan."


"Selamat datang pak Alan."


Puluhan orang merunduk hormat padaku sembari mengucapkan ucapan yang sama.


Uang benar-benar luar biasa, bahkan orang tua yang seusia dengan opa Ade pun turut merunduk memberi hormat padaku.


Sebayak apa pun harta yang kau miliki jangan jadikan harta itu sebagai alat untuk menghina dan merendahkan orang lain.


Kata Araf, aku sedingin es di Kutub Utara. Sedingin-dinginnya aku, aku tidak akan pernah menghina orang lain hanya karena banyaknya harta benda. Uang memang menunjukan kuasanya, siapa pun bisa bertekuk lutut karenanya, namun jiwa yang murni dan tulus dalam berbagi tidak akan pernah menunjukan kuasa uangnya untuk menghinakan orang lain yang statusnya jauh di bawah dirinya yang mengaku orang kaya.


Sejatinya kekuasaan ada untuk menebar kebaikan, bukan menebar keburukan seperti Fir'aun yang dihinakan.


...***...