
Kali ini Putri salihaku akan di berikan dua tantangan berbeda. Ia akan di berikan waktu seratus detik untuk tantangan pertama dan seratus lima puluh detik untuk tantangan kedua.
Air mata ku tak berhenti menetes, aku menyadari aku ayah yang tidak beruntung. Aku tidak beruntung karena tidak bisa melihat betapa berat usaha putriku sampai ia bisa menghapal tiga puluh Zuj Al-Qur'an di usianya yang masih belia.
Aku tidak beruntung karena hanya aku ayah yang tidak bisa membantu putrinya mengulang hafalannya karena bacaanku yang masih berantakan. Dan inilah aku ayah yang paling tidak beruntung karena tidak pernah berada disisi putrinya saat ia paling membutuhkanku. Seandainya aku bisa memutar waktu aku tidak ingin menghancurkan hidup siapa pun.
Pada siapa aku harus menumpahkan semua amarah dan keluh kesahku? Betapa sakitnya hatiku saat membayangkan kesulitan yang dihadapi putri salihaku. Hanya aku yang bisa merasakan betapa buruknya hidup yang kujalani. Walau sudah mengalami masalah yang berliku, aku tetap tidak bisa marah dan memaki karena sesungguhnya ribuan tahun sebelum manusia di ciptakan takdirnya telah di tentukan oleh yang Kuasa.
Sudah menjadi takdirku memiliki putri manis, cantik, baik hati dan cerdas seperti Meyda Noviana Fazila, tidak ada takdir yang lebih baik dari ini. Perlahan aku menghapus sudut mata dengan punggung tanganku. Aku tersenyum kearah Ummi Fazila yang saat ini masih terlihat tegang. Seandainya kami tidak berada dalam suasana canggung maka aku akan datang padanya sambil memeluknya dan berbisik di telinganya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku pria beruntung yang mendapatkan permata seindah dirinya. Sayang sekali ucapan itu hanya akan terkatup dibibirku tanpa bisa di ungkapkan padanya, pada wanita saliha penyejuk jiwa, Fatimah Azzahra.
A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim.
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Syaik itu mulai membuka suara di antara senyapnya udara. Dadaku semakin berdebar berharap putri salihaku bisa menjawab pertanyaannya dengan benar, pertanyaan yang jika di ajukan padaku belum tentu aku bisa menjawabnya.
Wa izas-suhufu nusyirat. (Syekh)
Shaik itu diam setelah membaca sepenggal ayat yang kemudian di sambung oleh Fazila.
A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Wa izas-sama 'u kusyitat. (Fazila)
Fazila menyambung ayat dengan cepat, samar-samar aku mendengar suara orang yang duduk di sebelahku kalau ayat yang Shaik itu baca dan di sambung oleh Fazila adalah Surat Attakwir ayat kesepuluh dan kesebelas.
Min ayyi syai'in khalaqah. (Syekh)
Min nutfatin, khalaqahu fa qaddarah (Fazila)
Angkana za maliw wa banin. (Syekh)
Iza tutla 'alaihi ayatuna qala assatirul-awwalin. (Fazila)
Kalla la wazar. (Syekh)
Ila Rabbika yauma izinil mustaqaar. (Fazila)
Marajal-bahraini yaltaqiyan. (Syekh)
Bainahuma barzakhul la yabgiyan. (Fazila)
Wa hurun 'in. (Syekh)
Ka'amsalil lu' lu' il-maknum. (Fazila)
Inna ibrahima lahalimun awwahum munib. (Syekh)
Ya ibrahimu a'rid 'an haza, innahu qad ja 'a amru rabbik, wa innahum atihim azabun gaitu mardud. (Fazila)
"Cukup." Ucap Syekh' berwajah oriental itu sambil memamerkan senyuman. Kemudian di sambung oleh juri wanita yang duduk jarak satu dari kursinya.
Perlahan juri wanita itu mulai membaca ayat Al-Qur'an yang aku sendiri tidak tahu nama suratnya. Namun samar-samar aku kembali mendengar seseorang yang duduk di samping kananku, surah Hud Ayat ketiga belas ucapnya pelan.
A'udzu billahi minasy syaithonir rojiim...
Bismillahirrahma nirrahim...
Am yaqulu naftarah, qul fa' tu bi asyri suwarim mislihi muftarayatiw wad'u manistata'tum min dunillahi ing kuntum sadiqin.
"Terdapat pada surah apakah ayat yang dibacakan tadi?" Juri wanita itu bertanya setelah selesai membaca ayatnya, ia menatap wajah Fazila.
"Surah Hud." Balas putriku singkat.
Sungguh, dadaku berdebar sangat cepat. Bangga, terharu, bahagia, dan sedih. Perasaan itu memenuhi rongga dadaku. Aku merinding menatap wajah putri cantikku, ia menghafal Al-Qur'an dan menjawab pertanyaan dengan sangat mudah.
"Ada berapa ayat dalam surah tersebut?" Juri wanita itu kembali bertanya.
"Seratus dua puluh tiga." Balas Fazila lagi.
"Kesebelas."
"Apakah arti dari surah tersebut?"
"Nabi Hud."
"Apakah nama kaum yang terkait dengan surah ini?"
"Kaum Aad."
"Berapa kali kata Hud disebutkan dalam surah tersebut?"
"Lima kali."
"Sebutkan salah satu ayatnya?"
"Ayat kelima puluh."
"Silahkan bacakan?"
Alan... Putri berhargamu menjawab tanpa rasa takut. Dia bahkan menjawab dengan cepat seolah ia tidak berpikir terlebih dahulu. Aku bergumam sendiri sambil mengusap dada.
Wa ila adin akhahum huda, qala ya qaumi' budullahama lakum min ilahin gairuh, in antum illa muftarun.
Fazila membaca satu ayat kemudian diam sembari menatap kearah depan.
"Jelaskan dua hukum tajwid dari ayat yang kamu baca?" Juri wanita itu kembali bertanya. Tidak ada sikap main-main dalam setiap ucapan dan tindakannya, karena Al-Qur'an bukan untuk di jadikan permainan.
"Yang pertama. Adin akhahum. Hukum bacaannya Izhar Halqi karena kasratamin bertemu dengan huruf Hamzah. Yang kedua. Antum. Hukum bacaannya Ikhfa Haqiqi karena nun sukun bertemu dengan huruf tak."
"Apakah nama surat sebelumnya?"
"Surah Yunus."
"Apakah nama surat setelahnya?"
"Surah Yusuf."
"Bacakan ayat ke empat?"
"Ilallahi marji'ukum, wa huwa 'ala kulli syai'ing qadir."
"Bacakan satu ayat sebelum ayat terakhir?"
"Wantaziru inna muntazirun."
"Masya allah Luar biasa sempurna." Ucap Juri wanita itu mengakhiri pertanyaannya.
"Allahummarhamna bil Qur'an." Sambung host pria itu sambil berjalan kearah Fazila. Ku tatap wajah teduh Umminya masih meneteskan air mata. Dia benar-benar berhasil dalam mendidik putri kami, dan itu yang membuatku semakin menghormatinya lebih dari siapa pun.
"Syekh bagaimana jawaban Fazila tadi?"
"Alhamdulillah semua jawaban Fazila benar." Jawab Syekh berwajah oriental itu.
"Mari kita tayakan pada juri selanjutnya. Fazila menjawab tiga belas pertanyaan dalam waktu yang singkat, yakni seratus lima puluh detik. Bagaimana pendapat kakak dengan jawaban Fazila?" Host itu lanjut bertanya pada juri wanita sambil menatap wajah sayunya.
"Subhanallah. Fazila menjawab dengan cepat dan tepat." Balas juri wanita itu dengan lugas .
"Cepat dan tepat, itulah dua kata yang di gambarkan oleh juri kita. Sekarang kita akan mendengarkan pendapat juri yang lain."
"Subhanallah, sejak pertama tampil sampai di wisuda akbar kali ini Fazila selalu membuat saya takjub. Dia konsisten dan tidak meniru suara siapa pun, mantap." Sambung juri sepuh yang duduk di samping juri wanita itu.
Terdapat berjuta-juta kedamaian saat menatap wajah putri luar biasaku Meyda Noviana Fazila, pancaran wajahnya dan senyuman seindah purnama miliknya membelai lembut lubuk hati terdalamku. Sekarang aku baru menyadari, fitrah manusia jangan sampai terputus dari Tuhannya. Itulah keindahan yang haqiqi, keindahan yang tidak bisa kita bandingkan dengan keindahan apapun. Demi Allah tidak akan pernah ada kebahagiaan melebihi keindahan bersama Allah SWT.
...***...
Di Part ini banyak terkandung ayat-ayat al-qur'an karena Fazila sedang wisuda akbar lomba Hafizd Qur'an.
Apakah Fazila juara satu, dua dan tiga? Temukan jawabannya di part selanjutnya.❤