Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Terluka


Matahari baru saja keluar dari peraduannya, suara kicauan burung-burung sangat merdu ditelinganya, namun entah kenapa ia lebih memilih bergemul di bawah selimut setelah menunaikan shalat subuh.


"Biarkan aku tidur sebentar lagi. Aku masih mengantuk." Ucap lelaki tampan itu dengan suara khas bangun tidur.


"Tuan anda harus bangun, nona kecil sedang menunggu di depan rumah." Ucap pengawal pribadi yang sejak tadi berusaha membangunkan tuannya namun tetap gagal.


"Apa? Kenapa kau tidak mengatakannya dari awal?" Araf bangun sembari menyeret selimutnya kelantai.


Ia berlari kekamar mandi sambil mengucek matanya yang masih terasa perih. Maklum saja, ia tertidur pukul empat pagi mendekati waktu subuh.


Aistttt! Insomnia sialan ini membawaku dalam masalah. Gumam Araf dalam hatinya sambil mengosok gigi. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin setelah membersihkannya dengan sabun.


"Sempurna." Ucap Araf memuji ketampanannya, kemudian berjalan mendekati pintu, didapatinya empat anak manis lengkap dengan pakaian olah raga sedang duduk di teras rumah, wajah mereka menjelaskan isi hati mereka.


Mereka terlihat kesal, bisa di pastikan anak-anak manis itu tidak menunggu dalam hitungan detik saja, apa lagi menit.


"Apa kalian bosan?" Araf membuka suara di antara senyapnya udara.


"T-I-D-A-K." Ucap bocah gembul itu dengan wajah masam.


"Paman dokter minta maaf! Paman dokter lupa!" Ucap Araf lagi sambil menjewer telinga tanda menyesal.


"Sudahlah paman dokter. Mohon di maklumi, Amir sedikit sensitif, dia seperti anak perempuan pemarah." Ucap Fazila sambil berbisik di telinga Araf.


Seandainya Araf tidak muncul dalam dua menit susah di pastikan anak-anak manis itu akan meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


"Paman dokter curang! Kami menunggu di sini hampir dua jam! Bukankah kita sudah berjanji akan bertemu pukul enam? Lihatlah, sekarang hampir jam delapan." Lisa pura-pura mendengus kesal.


"Ia benar. Paman dokter curang." Sambung Amir dan Dena bersamaan.


"Baiklah anak-anak, paman dokter ngaku salah. Paman dokter janji, hal seperti ini tidak akan terulang lagi. Sebagai hukumannya, kalian boleh minta apapun akan paman dokter berikan." Ucap Araf mencoba menenangkan anak-anak yang terus cemberut padanya.


"Apa saja?" Amir bsi bocah gembul itu bertanya lagi takutnya ia salah dengar.


"Apa saja! Deal." Balas Araf menyakinkan.


"Assahh! Aku mengerti." Balas Amir cepat, kemudian lompat-lompat untuk mengekspresikan perasaan bahagianya.


...***...


Sementara itu di rumah, seseorang mengetuk pintu rumah ku kasar. Sejak semalam aku mengalami demam. Aku sengaja meminta Fazila keluar rumah pagi ini, aku tidak ingin anak aktif itu khawatir kalau umminya sedang tidak baik-baik saja.


Sejak Nyai Latifa mendesak ku untuk menikah, rasanya ada batu besar yang mengganjal di hatiku, menolak permintaannya serasa bagaikan dunia ku hancur setengahnya. Aku menangis dalam sunyinya malam, dan paginya aku akan pura-pura tersenyum bahagia.


Kepalaku masih terasa berat ketika aku berjalan menuju pintu, pelan aku meraih gagang pintu dengan tangan kananku. Entah kenapa perutku serasa bak di koncok kasar, semua makanan yang ku makan pagi tadi berontak ingin keluar. Belum sempat aku membuka pintu, aku langsung berlari kebelakang mencari kamar mandi. Aku rasa, rasa sakit ini mulai menjalar kesetiap inci tubuhku sampai aku tidak bisa berjalan lurus. Sekujur tubuhku terasa nyeri.


Sedetik kemudian.


Brukkkk!


Aku tersungkur di lantai yang dingin dengan keringat yang mulai mengucur membasahi dahi. Sepersekian detik kemudian aku benar-benar hilang kesadaran tanpa mengetahui orang kasar yang berani mengetuk pintu rumah ku dengan ketukan keras yang memekakkan telinga bagi siapa pun yang mendengarnya.


...***...


"Aku harus pulang, ummi sendirian di rumah. Aku merindukannya. Bagaimana cara ku pulang? Paman dokter, Amir, Lisa dan Dena tidak bersamaku, kalau aku pulang tampa pemberitahuan mereka pasti akan marah." Gumam Fazila sembari memandangi seorang anak yang sedang bermain sepeda bersama ayahnya.


Allah, kapan Fazila bisa seperti anak itu? Hmm, aku cemburu. Ucap Fazila pelan sambil menjentikkan jarinya, ia mulai bosan namun tidak ada yang bisa ia lakukan.


"Paman dokter akan membeli minuman untuk kalian, apa ada lagi yang kalian inginkan?" Fazila menggelengkan kepala karena tidak ada yang dia inginkan, sementara ketiga sahabatnya menyebutkan banyak hal sampai Araf tidak bisa mengingat keinginan mereka.


"Aku tidak bisa membawa pesanan kalian, kalian boleh ikut bersamaku, apa kalian mau ikut?" Araf bertanya sembari memamerkan senyum sumringahnya.


Amir, Dena dan Lisa memilih untuk ikut. Sementara Fazila lebih memilih untuk menunggu di bawah pohon rindang.


"Sepuluh menit berlalu, kenapa mereka belum kembali? Apa mereka membeli semua isi toko?" Gerutu Fazila yang semakin merasakan bosan tanpa ada yang bisa ia ajak bicara.


"Kamu cemburu? Kasihan sekali!" Ucap seseorang di balik punggung Fazila. Fazila tidak menyadari seseorang sedang memandanginya dengan tatapan sinis.


"Bude Yati sedang apa disini?" Fazila bertanya sembari memamerkan senyum manisnya. Orang yang ia sapa malah mengabaikan ucapannya.


"Ibumu itu perempuan tidak benar! Jika dia wanita yang baik maka dia pasti mempertemukan mu dengan ayah mu!" Ucap Bu Yati lagi dengan nada tinggi. Fazila yang tidak paham maksut dari ucapannya hanya bisa diam tanpa menghiraukan wanita separuh baya di depannya itu.


"Aku yakin ayahmu pria buruk rupa kejam yang di asingkan di tempat terpencil karena itu ia tidak pernah muncul mencarimu dan mencari ibu mu." Ucap bu Yati lagi tanpa menghiraukan bocah manis di depannya yang hampir menangis.


Fazila mengusap-usap dadanya, seolah ada yang terasa nyeri di dalam sana. Mata Fazila berlinang butiran bening, perlahan butiran bening itu menetes membasahi wajah manisnya.


"Bude Yati sangat kasar. Ummi Fazila adalah wanita terbaik, jangan pernah menghinanya." Bela Fazila sambil mengusap mata dengan punggung tangannya.


"Sebagai seorang wanita seharusnya bude Yati mengerti penderitaan wanita lain. Ketika bude Yati menghina ibu dari seorang anak, maka anak itu akan berdiri di depan ibunya dan akan membelanya. Dan saat ini aku sedang membela ummiku!" Ucap Fazila dengan suara bergetar.


"Anak kurang ajar. Beraninya kamu membantahku! Ibu dan anak sama saja, kalian tidak tahu diri. Pergi!" Bentak Bu Yati dengan suara kasar.


"Bude Yati jahat. Bude Yati jahat."Ucap Fazila sambil menarik lengan bu Yati.


Bu Yati yang kesal menarik lengan Fazila keras, wanita separuh baya itu benar-benar marah. Ia tidak bisa membedakan antara anak kecil dan orang dewasa. Dengan kekesalan yang membuncah bu Yati mendorong Fazila ke sisi kiri dan....


Brukkkk....!


Seorang pesepeda tanpa sengaja menyenggol tubuh Fazila yang terlempar kedepan sepedanya, melihat Fazila meringis kesakitan bu Yati hanya bisa berdiri mematung. Ia tidak meyangka dorongan kerasnya membuat Fazila terluka.


"Fazila." Araf, Amir, Lisa dan Dena memanggil secara bersamaan.


"Apa yang kau lakukan pada putri ku?" Araf berteriak keras pada bu Yati yang mulai gemetar melihat darah segar keluar dari kening Fazila, bocah manis itu bahkan tidak menangis.


Fazila mencoba berdiri, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu karena kakinya terasa sakit luar biasa. Sepersekian detik kemudian bocah manis itu hilang kesadaran.


"Jika hal buruk terjadi pada putriku, aku bersumpah aku dokter pertama yang akan membunuh perempuan kasar seperti anda." Bentak Araf pada bu Yati.


Melihat Fazila terluka dan tak sadarkan diri membuat Araf berlari ke-klinik dengan perasaan kacau, di ikuti teman-teman Fazila yang mulai menangis melihat sahabatnya tak sadarkan diri.


...***...