Fazila Titipan Dari Surga

Fazila Titipan Dari Surga
Keputusan Alan


Pagi ini kelas riuh oleh suara anak-anak yang sedang bercanda sebelum guru kelas masuk ke-dalam kelas. Bahkan ada yang saling lempar dengan kertas, sesekali suara tertawa mereka menggema memenuhi ruang kelas yang di huni tiga puluh siswa itu.


"Fazila, kapan hari ulang tahunmu?"


"Ulang tahun ku?" Tunjuk Fazila pada dirinya sendiri.


"Ia. Ulang tahun mu, masa ulang tahun Dena."


"Aku tidak pernah merayakannya." Ucap Fazila sedih.


"Kenapa kau sedih? Bukankah kami ada disini, katakan saja kapan hari ulang tahunmu!" Ucap Amir si bocah gembul itu sambil tersenyum memamerkan gigi ompongnya.


"Aku tidak sedih karna ulang tahun ku tidak di rayakan. Aku hanya sedih, setiap kali ulang tahun ku tiba, Ummi pasti menangis tanpa sepengetahuan ku di malam hari. Karna itu aku berharap hari ulang tahun ku tidak pernah ada." Ucap fazila sambil menekuk wajahnya.


"Mungkin Ummi mu punya masalah, atau kau melakukan kesalahan." Ucap Amir sepontan,


dan hal itu membuat Fazila kesal.


"Bukan itu Amirrrr."


"Lalu apa masalahnya?" Tanya Amir, Dena, dan Lisa bersamaan. Fazila yang mendengar tiga sahabatnya kompak mangajukan pertanyaan yang sama hanya bisa memicingkan mata sambil menggelengkan kepala tidak tahu jawaban dari pertanyaan sahabatnya.


...***...


"Bos, tadi nyonya telpon. Beliau bertanya kenapa bos belum ke-Restaurant."


Mendengar pertanyaan Bobby, aku memilih untuk mengabaikannya.


"Ada apa dengan model iklan yang kau pilih, apa kemampuannya hanya sebatas ini saja?" Aku kesal dan melempar semua laporan perusahaan bulan ini.


"Ada apa dengan semua karyawan? Aku sudah membayar untuk kerja keras mereka, tapi apa ini?" Aku berteriak pada Bobby yang tidak tahu apa-apa. Sementara yang ku teriaki hanya merunduk tanpa berucap sepatah kata.


Ada apa dengan ku? Kenapa aku melampiaskan amarah pada orang yang tidak bersalah. Lirihku pelan sambil memandangi wajah merunduk Bobby.


Ahhhhhh!


Aku berteriak sambil mengacak-acak rambutku


"Bos ini..." Ucapan Iklima tertahan di tenggorokannya karna mendengar suara teriakanku. Aku rasa saat ini gadis itu ketakutan.


Aku pikir Iklima ketakutan, nyatanya gadis itu malah berjalan kearah meja kerjaku sambil memamerkan senyum manisnya.


"Bos. Ini laporan bulan ini. Dan yang bos lihat itu adalah laporan bulan lalu." Ucap Iklima sambil menyodorkan berkas yang ada di tangannya.


Bobby memainkan jari telunjuknya, mengajak Iklima keluar. Aku rasa, itu yang membuat ku menyukai Bobby, anak itu selalu mengetahui jalan pikiran ku sebelum aku mengungkapkannya.


Saat ini aku berdiri di antara bom waktu, tidak tahu mana yang akan lebih dulu meledak.


Keluarga dan Seren?


Keduanya benar-benar membuatku prustasi.


Oppa dengan sikap pemaksa dan keras kepalanya selalu memberikan perintah agar aku segera menikahi Seren.


Kalian bertunangan selama sepuluh tahun? Apa pendapat orang lain tentang keluarga kita? Ucapan konyol itu selalu di ulang-ulang Oppa jika kebetulan aku berkunjung ke rumah besar. Persetan dengan pendapat orang lain, jika orang lain tidak mengerti perasaanku untuk apa aku memperdulikan pendapat mereka.


Aku selalu bersikap dingin, mungkin karna itu semua orang selalu menjauh dariku kecuali Bobby yang selalu ada di dekatku.


Sayang... kapan kau akan datang? Aku menantikan kedatanganmu❤


Aku tersenyum sinis sambil membaca pesan singkat yang Seren kirimkan.


"Baiklah! Aku akan mengakhiri drama konyol ini." Ucapku sambil menarik jas yang ku sampirkan di sandaran kursi.


"Aku sudah muak dengan drama yang Seren mainkan, kau yang memulainya dan hari ini aku akan mengakhirinya." Lirih ku dalam hati.


Sepertinya aku harus siap-siap, jika Oppa marah ia selalu ringan tangan. Dan jika aku yang marah aku akan hilang kendali. Aku melangkahkan kaki meninggalkan perusahaan, Bobby bersiap untuk mengikuti namun aku melarangnya. Hari ini adalah hari dimana aku akan memutuskan hubungan bodoh tanpa nama ini.


...***...


Seluruh keluarga dari kedua belah pihak sudah berkumpul untuk memutuskan tanggal pernikahan.


Tok.Tok.Tok.


"Masuk, sayang." Ucap Seren sambil menarik lengan ku.


Semua mata tertuju padaku sembari tersenyum bahagia, aku tidak tahu apa yang membuat mereka sebahagia itu. Bahkan aku tidak memenangkan lotre, dan aku pun tidak butuh lotre.


Ada sejuta tanya yang terbersit dalam diamku, meski begitu aku tetap diam dan duduk di bangku yang mama tunjukan, tepatnya di samping Oppa yang sedari tadi tidak berhenti tersenyum.


"Nak Alan, bagaimana kabarmu nak?" Papinya Seren bertanya seolah ini baru pertama kalinya kami bertemu, ia terlihat canggung.


"Kurang baik." Jawab ku singkat.


"Alan sayang... Apa kau tahu tujuan pertemuan kita?"


"Tidak." Jawabku lagi.


"Kalian sudah lama bertunangan, mami tidak tahu apa yang membuat kalian menunda pernikahan. Tapi sekarang tidak lagi, kami yang akan mengatur segalanya." Maminya Seren berusaha menyakinkan mama dengan ucapan manisnya.


Pertemuan ini mulai membosankan, jika saja aku tahu lebih awal aku tidak akan datang. Apalagi untuk menghabiskan waktu berharga ku mendengarkan pembicaraan tidak berguna ini.


"Tunggu. Tunggu... Jadi maksut kalian, aku akan menikahi Seren?" Tanyaku dengan raut wajah sedikit terkejut, aku berusaha tidak menunjukannya.


"Tentu saja nak!" Mama ku dan maminya Seren menjawab bersamaan.


"Aku tidak ingin menikahi Seren! Maaf karna terlambat mengungkapkannya, aku memutuskan hubungan ini." Ucapku tegas, semua mata tertuju padaku, tatapan mengerikan kedua keluarga bagai bom waktu yang tidak ku ketahui yang mana yang akan meledak lebih dulu.


Tatapan tajam Oppa membuat ku merinding. Bahkan Seren, wanita itu mulai menangis.


Aku benci melihat air mata, entah kenapa melihat Seren menangis membuatku ingin tertawa. Sebisanya ku tahan agar kedua keluarga tidak semakin murka.


"Aku sudah tidak mencintai Seren. Cinta yang dulu ku puja telah menguap keangkasa." Ucap ku lagi, mendengar ucapan lancangku mama hampir saja terjatuh, untungnya papa segera meraih tubuh lemahnya.


"Anak kurang ajar, apa yang kamu bicarakan. Apa begini cara kami mendidik mu, hah...?" Oppa naik pitam, hampir saja ia menampar ku, untungnya omma segera meraih lenganya.


Seren masih menangis, sementara keluarganya hanya duduk diam tak bertenanga. Sejujurnya aku sangat kasihan pada maminya Seren, dia wanita lembut dan baik hati. Meskipun begitu aku tetap tidak bisa memperistri Seren.


Aku pikir aku bisa menerimanya setelah sekian lama, nyatanya aku salah. Vidio sialan itu masih saja membebani pikiranku, aku rasa ini akhir dari kisah ku dan wanita yang pernah ku cintai itu. Aku tidak ingin menghinanya dengan menyebutkan aib nya.


"Ayo kita pergi, sudah cukup kita di permalukan. Dan kamu...." Papinya Seren menunjuk kearahku dengan tatapan membunuh, aku bisa mengerti itu.


"Dan kamu, camkan kata-kata ku dengan baik. Suatu hari nanti kamu pasti akan menderita, sama seperti kamu membuat keluarga ku menangis hari ini. Suatu hari nanti kamu akan menangis pilu, saat itu kamu akan tahu hati seorang ayah sangat rapuh ketika melihat putrinya menangis." Laki-laki separuh baya itu menarik lengan Seren sambil menangis.


Ku lihat keluargaku pun sama sedihnya, tak ingin terlibat dengan kesedihan mereka aku lebih memilih pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Keputusan melepaskan Seren sudah benar, semoga dia mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dariku. Lirihku dalam hati sembari terus melangkah meninggalkan keluarga yang masih bergelut dengan kesedihannya.


...***...


"Fazila, kiai bilang kau akan ikut lomba menghafal Qur'an, apa itu benar?"


"Aku tidak tahu, Dena. Ummi tidak mengatakan apa pun soal itu." Ucap Fazila polos.


"Ngomong-ngomong, apa kau sudah memberi tahu Amir dan lisa kalo kita akan ke-rumah Kiai Hasan untuk belajar Tajwit?" Fazila bertanya sembari menyodorkan Al-Quran milik Dena yang tidak sengaja terbawa dalam tasnya.


"Sudah, emang dasar mereka saja yang malas." Dena kesal pada dua sahabat nya itu. Biasanya Fazila, Dena, Lisa dan Amir selalu berangkat bersama menuju rumah Kiai Hasan.


"Ayo kita berangkat, kita sudah telat." Fazila menarik lengan Dena, tanpa mereka sadari dua sahabat yang dari tadi mereka tunggu memanggil nama mereka namun mereka tidak mendengarnya karna saat itu Fazila sedang mengulangi hafalan Surah Al-Baqarah nya.


...***...