
"Baiklah. Ayo kita makan! Maksudku, di satu piring, piring milik Abi Fazila." Ucap ku memecah keheningan. Bibir tipis ku mulai mengukir senyuman.
Dada ku berdebar sangat kencang. Hati ku tidak mau mendengarku, untung-untung jantungku tidak loncat keluar.
Wajah rupawan Abi Fazila pun mamamerkan senyuman. Perlahan ia mulai melepas genggaman eratnya dari jemari ku. Dan tanpa di minta ia langsung menggeser piring yang ada di depannya hingga berada di tengah-tengah kami berdua. Perlahan suapan demi suapan mulai mendarat di bibir kami.
Sungguh, bukan makanannya yang lezat. Namun moment ini lah yang luar biasa. Bahkan jika itu hanya sepotong roti kering, aku yakin rasanya pasti tetap lezat karena kami memakannya berdua. Perlahan namun pasti sejengkal demi sejengkal jarak ini mulai berkurang. Setiap detik yang kami habiskan bernilai luar biasa. Aku pun mulai menikmati waktu ku bersamanya, bersama dengan Abi Fazila.
"Makanan ini sangat lezat. Ummi tidak boleh memasak seperti ini lagi...!"
Netra teduh ku langsung menyipit, aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapan Abi Fazila. Apa dia menyukai makanannya? Atau dia tidak menyukai makanannya? Ini benar-benar membingungkan.
"Jika Ummi terus memasak seenak ini, Abi yakin Abi akan berubah jadi sapi. Sapi yang gemuk."
"Aa...apa sa-pi?" Aku bertanya sambil menahan nafas, mata ku membulat.
Apa dia berpikir masakan ku tidak enak? Sapi? Wahhhh... Ini benar-benar keterlaluan. Celoteh ku dalam hati.
"Hahaha... Maafffff. Maksud ku bukan seperti itu. Ummi tahu, makan yang Ummi masak benar-benar lezat. Aku bahkan tidak bisa berhenti untuk tidak menyantapnya. Jika hal ini terus berlangsung, semua pakaian yang ada di lemari tidak akan muat di tubuh ku.
Jika semua pakaian itu tidak muat lagi, siapa yang akan ku salahkan? Tentu saja jawabannya Ummi. Iya, kan? Hahaha."
Tidak ada balasan dari ku selain anggukan kecil, kami masih larut dalam canda dan tawa tanpa menyadari makanan di piring kami telah habis. Dan tanpa di sengaja tangan kami saling membentur, sontak hal itu membuat tawa Abi Fazila tertahan. Tatapan kami kembali beradu.
Cessss!
Rasanya beribu-ribu kedamaian mulai membelai lembut lubuk hati terdalam ku. Telah ku temukan kedamaian dalam mata indahnya.
"Apa Abi Fazila mau lagi? Maksudku, makanannya. Apa aku perlu menambahkannya?" Aku bertanya hanya untuk menyembunyikan bahagia ku.
"Tidak. Aku sangat kenyang." Balas Abi Fazila sambil mencelupkan tangannya di mangkuk kecil berisi air yang sudah ku siapkan.
"Terima kasih." Sambung Abi Fazila, lagi.
"Sama-sama." Balas ku, singkat.
"Apa aku boleh memanggil Ummi Fazila dengan panggilan Ummi saja?"
Aku masih terdiam sambil menatap wajah pria rupawan yang sudah menjadi suami ku itu.
"Jika Ummi Fazila tidak suka, aku tidak akan melakukannya. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal yang tidak Ummi Fazila sukai."
Abi Fazila merunduk sambil menghela nafas. Dia bahkan tidak berani menatap wajahku. Seandainya dia berani menatap ku saat ini, dia pasti akan mendapati wajah ku di penuhi dengan senyuman.
"Lakukan. Lakukan apa pun yang Abi Fazila inginkan. Insya Allah, Abi Fazila akan mendapati ku menjadi istri yang penurut. Ridho terhadap ketentuan Allah dan berbakti pada suami." Sahut ku tanpa rasa ragu-ragu.
Entah kenapa aku merasa Abi Fazila sedang menyembunyikan kesedihan mendalam. Apa aku mengatakan kata-kata yang kasar? Aku yakin aku tidak melakukan itu. Lalu apa yang membuatnya sesedih itu?
Glekkkkkk!!!
Aku hanya bisa menelan saliva, menatap wajah tampan Abi Fazila yang masih merunduk menahan kesedihan.
Apa dia menyesal menikah dengan ku? Apa dia masih mencintai wanita itu? Jika demikian betapa buruknya diriku yang masuk kedalam kehidupan penuh warna miliknya! Haruskah aku mengalah? Tapi rasanya, tidak mungkin dia meneteskan air mata hanya karena mengingat wanita kasar itu.
Ohhh Tuhan... Aku berada dalam dilema. Aku tidak bisa membaca jalan pikirannya. Jika dia tidak mau mengatakan apa pun maka aku pun tidak berhak bertanya padanya. Fatimah, jaga pikiranmu. Jangan sampai kau bersikap seperti istri durhaka hanya karena curiga. Aku merancau panjang kali lebar. Aku hanya bisa bertanya dari dalam hati ku, aku tahu ini tidak berguna, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak seakrab itu dengan Abi Fazila sehingga aku bisa membagi setitik resah ku tanpa rasa ragu. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Hanya saja, aku yang masih belum sepenuhnya terikat pada hubungan ini, hubungan yang terjalin karena masa lalu yang masih menyisakan setitik luka.
"Terima kasih, untuk apa?"
"Untuk segalanya."
"Segalanya? Segalanya apa? Aku pikir aku tidak melakukan hal yang besar. Aku akan menjalani rumah tangga ini tanpa perlu menyembunyikan apa pun. Aku juga berjanji, aku akan lebih terbuka lagi dengan hati dan perasaan ku." Ucap ku menyakinkan.
"Aku tidak pernah menyesal karena sudah menikahi Ummi. Aku justru berpikir menikahi Ummi adalah satu-satunya kebaikan besar yang ku lakukan.
Tidak ada lagi yang tersisa antara diriku dan masa lalu ku. Di hati ku, Ummi Fazila akan menjadi satu untuk selamanya. Bahkan jika aku harus tiada, aku akan tiada dalam cintamu."
Tiada?
Itu sedikit berlebihan. Entah dari mana datangnya keberanian ku, dan tanpa berpikir panjang aku langsung menutup bibir Abi Fazila dengan jemari lentik ku.
Aku akan mempertahankan Rumah tangga ku selama aku masih bernafas, dan selama aku masih bernafas aku akan selalu mendoakan umur panjang dan juga bahagianya.
"Aku percaya dengan semua yang Abi Fazila katakan. Jangan pernah mengatakan kata 'Tiada' lagi. Tetap sehat dan bahagia. Karena itu jauh lebih baik untuk kita semua." Celoteh ku sambil pelan menarik tangan ku dari bibir lembutnya.
Tanpa ku sangka dan tanpa kuduga, Abi Fazila bereaksi luar biasa dan hal itu membuat ku benar-benar terkejut, sekujur tubuh ku terasa bergetar seperti terkena sengatan listrik bertegangan tinggi. Aku berdiri dengan tubuh menegang. Hati ku? Jangan tanyakan lagi, aku pikir jantung ku akan loncat keluar.
Dag.Dig.Dug.
Aku masih terdiam sambil mencerna keadaan yang ada, moment ini benar-benar menegangkan.
Abi Fazila memeluk ku! Aku tidak pernah membayangkan ini dengan mata terbuka. Ya Allah... Aku sangat tegang, antara bahagia dan malu. Dua perasaan itu benar-benar memenuhi seluruh pori-pori di tubuhku. Celoteh ku dalam hati saat Abi Fazila semakin mengeratkan pelukannya.
Apa kata-kata ku tadi membuatnya bereksi seperti ini? Aku rasa aku tidak mengatakan hal yang salah. Nafas ku terasa sesak, dan buruknya lidah ku terasa kelu sampai aku tidak bisa memintanya untuk melepaskan pelukannya dariku. Apa aku menikmati moment ini? Jawabannya tentu saja aku tidak begitu yakin soal itu.
Bukan hanya merasakan getaran luar biasa, tubuh ku juga merasakan panas dingin. Jika semua orang tidak bisa mengerti dengan apa yang kurasakan saat ini, aku benar-benar tidak perduli.
"Yang Kuasa menjadi saksi cintaku. Aku akan hidup hanya untuk Ummi dan Fazila. Kalian adalah duniaku." Ucap Abi Fazila sambil berbisik di telingaku.
Suara isakannya terdengar sangat jelas. Apakah ini yang di katakan tangis bahagia? Entahlah, hal itu bisa saja benar dan bisa saja salah.
"Iya, baiklah. Aku tahu Abi Fazila sangat mencintai ku. Sekarang tolong lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas. Uhuk.Uhuk" Ucap ku sambil pura-pura batuk. Padahal sebenarnya aku ingin tersenyum lebar.
"Mam-maafffff. Aku tidak sengaja." Balas Abi Fazila sambil menjewer kedua telinga dengan jemarinya.
Kami saling membalas senyuman, sesaat kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa tak tertahankan. Anehnya, kali ini giliran ku yang memeluk Abi Fazila, menyandarkan kepala di dada bidangnya. Aku benar-benar bahagia. Sungguh, untuk pertama kalinya aku merasakan bahagia luar biasa, jika waktu terhenti, aku berharap akan berhenti saat ini juga, saat dimana aku dengan seutuhnya menerima Abi Fazila sebagai rekan dalam suka dan duka.
Fatimah... Tetap bahagia seperti apa yang kau rasa saat ini juga. Lihatlah...? Betapa baik Tuhan mu padamu. Allah mengganti derita yang kau tanggung dengan bahagia yang tidak bisa kau ukur hanya dengan kata-kata. Aku bergumam di dalam hati sambil mengeratkan pelukan ku di tubuh kekar Abi Fazila.
Abi Fazila pun semakin mengeratkan pelukannya, aku yakin sekarang semuanya akan baik-baik saja. Tanpa bisa ku tahan air mata bahagia terus saja menetes dari netra teduh ku, aku bahkan tidak menyadari pakaian Abi Fazila sedikit basah karena air mata yang tidak bisa Kutahan.
Fa bi' ayyi ala'i Rabbikuma tukazziban.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustaka? ( Qs. Arrahman-13)
Betapa besar karunia yang Kuasa dalam kehidupan ku, lalu bagaimana mungkin aku sanggup mendustakan Nikmat itu? Dari pada melakukan kesalahan besar tak termaafkan, lebih baik nafas ku terhenti sebagai pemutus segala keburukan.
Dan sepertinya aku pun mulai jatuh cinta. Jatuh cinta untuk pertama kalinya, pada suami sempurna ku, Alan Wijaya.
...***...