
Sementara itu, di depan rumahnya Rio Arif yang sedang membuka pintu rumahnya Rio itu dan masuk ke dalam rumah untuk memeriksa keamanan rumah, tanpa disangka Rossa kembali datang ke rumah itu dengan sengaja ingin melabrak Cinta kembali.
" Hemm, aku harus bisa membuat sebuah sandiwara supaya Mas Rio bisa membantuku," Gumam Rossa dengan gaya liciknya itu.
" Saat Mas Rio membantuku, aku ingin lihat apakah wanita kampung itu bisa membuat Mas Rio kembali padanya,," Gumam Rossa lagi di dalam mobilnya.
Dengan segera Rossa melajukan mobilnya lagi ke rumah Rio dan berniat ingin melabrak Cinta dengan sebuah perbuatan yang akan dilihat oleh Cinta sendiri.
Namun, sialnya Cinta sudah tidak ada di rumah itu, karena, Cinta dan Rio sendiri sudah pergi dari kediamannya menuju luar kota. Sambil menuruni mobilnya dengan tergesa-gesa Rossa melangkahkan kakinya menuju ke arah rumahnya Rio.
" Mas Rio, Mas Rio,," Panggil Rossa yang berniat untuk mendapatkan Rio dan melabrak Cinta.
Disaat Rossa memanggil nama Rio dari luar rumahnya Rio itu, Arif yang kebetulan masih berada di dalam sedikit terkesima saat mendengar suara panggilan yang dilakukan oleh Rossa. Karena, kaget dengan segera Arif melangkahkan kakinya keluar dan melihat siapa yang telah berteriak memanggil nama Rio itu.
" Mas Rio, Mas Rio,," Panggil Rossa dengan suaranya yang terdengar begitu serius memanggil nama Rio.
" Siapa yang memanggil namanya Mas Rio ?" Tanya Arif yang sedang menutup pintu bagian ruangan sholat.
Ketika, Arif melangkahkan kakinya keluar betapa terkejutnya Arif melihat Rossa datang ke rumah Rio itu.
" Wanita ini lagi, wanita ini lagi, mau ngapain dia datang kemari," Gumam Arif saat keluar dan melihat Rossa sudah berdiri di depan pintu rumahnya Rio itu.
" Dimana Mas Rio ?" Tanya Rossa spontan kepada Arif.
" Kenapa mau cari Mas Rio, Mas Rionya nggak ada,," Jawab Arif yang masih melakukan tugasnya dalam menutupi semua pintu dan juga jendela rumah Rio.
" Eeehhh, kamu itu hanya pembantu tambak Rio, jangan angkuh jadi orang,," Umpat Rossa dengan nada kasarnya pada Arif.
" Siapa juga sih yang angkuh, gayamu tuh yang angkuh,," Celetuk Arif dengan wajah cemberutnya yang terlihat tidak menyukai adanya Rossa datang ke tempat Rio itu.
" Aku tanya sekali lagi dimana Mas Rio ?" Tanya Rossa lagi pada Arif.
" Mas Rio pergi bersama istrinya,," Jawab Arif jelas.
" Pergi, kemana ?" Tanya Rossa lagi dengan wajah begitu penasaran.
" Ya, nggak tahu Mbak, namanya juga pengantin baru, masa saya harus nanya kemana Mas Rio pergi, orang saya cuma pembantu,," Ucap Arif dengan jawaban yang ketus.
" Iiihhhh, dasar pembantu bodoh, ya, tanyain dong kalau Mas Rio perginya kemana,," Umpat Rossa sedang beradu mulut dengan Arif.
" Saya nggak ada hak untuk menanyakannya," Jawab Arif yang masih sibuk melakukan pekerjaannya itu.
" Dasar pembantu bodoh," Umpat Rossa kesal atas jawaban dari Arif.
" Tapi, percuma saja kalau aku ada disini, daripada aku berdebat dengan orang yang nggak jelas seperti dia, lebih baik aku cari Mas Rio,," Gumam Rossa dengan segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah.
Ketika mendengarkan ucapan Arif yang terakhir, terlihat sekali dari wajah Rossa begitu kesal sekali. Karena, awalnya mau mengambil simpati Rio dan niat melabrak perasaan Cinta jadi pupus sudah. Karena, Rio sendiri sudah pergi dan tidak tahu perginya kemana. Dengan hati yang kesal Rossa segera melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya Rio itu.
" Uuuhhh dasar, sok kecakepan,," Celetuk Arif sambil melemparkan selembar kain pada jejak Rossa.
Karena, bagi Rossa percuma saja jika dia masih berada disana, bukannya bertemu dengan Rio dan melakukan rencananya itu, malah berdebat mulut dengan Arif yang sedang sibuk melakukan pekerjaannya.
" Heemm, daripada aku berdebat dengan orang yang tidak berguna sepertimu, lebih baik aku cari tahu kemana Mas Rio pergi,," Gumam Rossa sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya Rio.
" Terserah, uweekkk,," Celetuk Arif lagi sambil seolah memuntahkan sesuatu dari mulutnya karena, merasa sebal akan sikap Rossa yang begitu memuakkan.
Sambil menaiki mobilnya, Rossa bertanya-tanya dalam hati kemana Rio dan Cinta pergi. Karena, malas berpikir akhirnya Rossa memilih untuk mengelilingi kampungnya itu, kemungkinan besar ia akan bertemu dengan Rio. Karena, terlihat Rio sepertinya sedang mengajak Cinta berkeliling di kampungnya itu.
" Heemm, kemana Mas Rio mengajak wanita kampung itu ?" Tanya Rossa dengan dirinya sendiri.
" Apa, Mas Rio mengajak wanita kampung itu mengelilingi kampung ini,," Gumam Rossa sambil berpikir sendiri.
" Aakhh, lebih baik aku cari saja, siapa tahu aku bertemu dengan mereka nanti,," Ucap Rossa sendiri sambil menyalakan mesin mobilnya.
Setelah mobilnya menyala barulah Rossa melajukan mobilnya itu untuk mencari keberadaan Rio. Sedangkan, Arif sendiri di dalam rumahnya Rio masih merasa kesal dengan kelakuan Rossa yang selalu menganggap semua orang tidak penting dan rendah.
" Iiihhhh, pantas saja tidak pernah ada orang yang mendekatinya, sifatnya aja sombong gitu, menganggap orang lain selalu di bawahnya, dasar wanita sombong,," Umpat Arif kesal dengan kelakuan Rossa yang begitu menyebalkan.
Setelah selesai melakukan pekerjaannya, barulah Arif keluar dari rumah itu dan menutup pintu rumahnya Rio. Sambil tersenyum senang, seketika Arif membayangkan kepergian Rio yang sudah jauh dari kampungnya ini.
" Apa mungkin, Mas Rio dan Mbak Cinta ke kota untuk mengurus sesuatu ?" Tanya Arif dengan dirinya sendiri.
" Mungkin juga sih, entahlah, semoga mereka berdua selamat,," Gumam Arif yang memberikan doa terbaik atas perjalanan Rio dan Cinta.
Sementara itu, Cinta yang sedang tertidur di atas pangkuannya Rio, sedikit terbangun karena merasakan tubuhnya agak sedikit sakit. Cinta sedikit membukakan matanya dan bertingkah seolah sedang memeluk erat pinggang Rio, seketika Rio terkejut dengan kelakuan Cinta yang spontan itu. Hingga membuat Rio langsung menghentikan mobilnya dan membuat Cinta juga kaget karena, merasa mobilnya terhenti dan kepalanya sedikit tersentak benda keras mobil.
" Eeemmmm,," Ucap Cinta yang menggeliatkan tubuhnya sambil memeluk erat pinggang Rio.
" Aaakkkhh, ya ampun dek,," Ujar Rio kaget dan langsung menghentikan mobilnya.
BRAAKK!! bunyi hentakan kepala Cinta mengenai benda keras mobil.
" Aduh,, Kak Rio kenapa sih berhentikan mobilnya secara tiba-tiba ?" Tanya Cinta sambil beranjak bangun dari tidurnya.
" Abis tangan Dedek buat Kak Rio kaget." Gumam Rio sambil mengelus lembut kepala Cinta.
" Mana yang sakit dek ?" Tanya Rio kepada Cinta.
" Yang ini,," Jawab Cinta sambil menunjuk keningnya.
" Eemm, Kak Rio lembut sekali sih, kayaknya kalo aku mengaku bagian lain lagi yang sakit, apa Kak Rio tetap melakukannya dengan lembut hihihihihihi,," Gumam Cinta sambil tersenyum menatap wajah Rio disaat Rio sedang meniupkan keningnya.
" Masih sakit dek ?" Tanya Rio setelah selesai meniupkan udara ke bagian kening Cinta.
" He'eh Kak, agak perih gitu," Jawab Cinta yang tetap memandangi wajah Rio.
" Maaf ya dek, karena, Kak Rio spontan menghentikan mobil, jadi kening Dedek terluka,," Gumam Rio sambil mengelus lembut kening itu dan meniupkannya lagi.
" Heemm, nggak apa-apa kok Kak, cuma tadi Cinta kaget aja," Jawab Cinta sambil merasakan kelembutan Rio padanya.
Setelah selesai meniupkan keningnya Cinta, Rio kembali bertanya kepada Cinta bagian mana yang sakitnya lagi. Dan, saat ini Cinta mulai beraksi untuk melakukan rencananya itu untuk menggoda Rio, Niatnya supaya Rio bisa terpesona dengan bibirnya dan secara spontan juga Rio menciumi bibirnya itu.
" Udah dek, mana lagi yang kebentur mobil ?" Tanya Rio lagi pada Cinta.
" Eeemmm, sebenarnya masih ada, dan terasa perih tapi, nggak apa-apa deh, nanti sembuh dengan sendirinya,," Ucap Cinta sambil menolehkan wajahnya ke arah depan jalanan.
" Heemmm, dek, katakan aja, nggak apa-apa, karena, Kak Rio yang salah jadi Kak Rio harus mengobatinya,," Ucap Rio sambil membalikkan wajah Cinta dan kembali lagi menolehkan wajah ke arah Rio.
" Iiihhhh, Kak Rio gemesin aja deh,," Ucap Cinta dalam hati sambil tersenyum menatap wajah Rio.
Ketika Cinta diperlakukan seperti itu oleh Rio membuat Cinta sendiri merasa gregetan dan ingin langsung mencium bibir lembut Rio. Namun, karena, mereka sedang berada di perjalanan dan memang saat ini tidak berada di area hutan lagi, Cinta harus bisa menjaga kelakuannya yang begitu besar dalam keinginannya itu.
" Bagian mana ?" Tanya Rio lagi pada Cinta dengan tatapan serius.
" Yang ini,," Jawab Cinta spontan menunjukkan bibirnya.
Disaat Cinta dengan spontan menjawab pertanyaan Rio sambil menunjukkan bibirnya itu membuat Rio sendiri merasa tercengang dan gugup. Karena, baru kali ini ada seorang perempuan yang begitu bisa untuk selalu membuatnya merasa terpana. Namun, Rio menyadari akan dirinya itu bahwa tidak mungkin Cinta ingin meminta dicium langsung oleh Rio dan Rio juga bisa melihat bahwa bibir Cinta sedikit memerah karena, memang terbentur benda keras mobil.
" Bener bibir Dedek kebentur ?" Tanya Rio spontan pada Cinta.
" He'eh, tapi kalau Kak Rio nggak percaya, nggak apa-apa kok,," Bilang Cinta sambil kembali lagi menolehkan wajahnya ke arah depan.
Dengan segera Rio membalikkan kembali wajah Cinta untuk menghadap wajahnya lagi. Dan, dengan lembut Rio mendekatkan bibirnya dengan bibir Cinta, Rio berniat melakukan hal baik bukan berarti Rio ingin menciumi bibir yang selalu bisa membuatnya tergoda itu.
" Eemmm, maaf dek bukan begitu," Ucap Rio spontan sambil menolehkan kembali wajah Cinta.
" Boleh Kak Rio tiup lagi ?" Tanya Rio lagi pada Cinta.
" Heemm, boleh Kak,," Jawab Cinta lembut sambil tersenyum.
Dengan penuh kelembutan Rio mendekatkan bibirnya itu kepada bibir Cinta. Rio memang sudah dua kali tiga kali menciumi bibir itu, tapi, saat ini Rio merasa canggung ketika harus mendekatkan bibirnya itu kepada bibirnya Cinta. Seperti baru pertama kalinya untuk melakukan sesuatu hal yang bersifat lembut kepada pasangannya itu, Cinta sendiri sama seperti Rio sedikit merasakan suatu hal yang berdebar di dalam hatinya saat melihat wajah Rio yang mendekati wajahnya itu.
" Aduuuhhh, kenapa aku merasa berdebar seperti ini,," Gumam Cinta di dalam hatinya saat melihat wajah Rio yang mendekati wajahnya itu.
" Ya, tuhan, padahal aku sudah pernah menciumi bibirnya ini, tapi, kenapa aku merasa gugup saat matanya Cinta menatap mataku," Gumam Rio sendiri sambil mendekatkan wajahnya pada Cinta.
Setelah mendekati bibirnya Cinta barulah Rio meniup lembut bibir yang berwarna kemerahan itu. Di dalam hatinya Rio merasa bahagia sekali ketika bisa melakukan suatu hal yang selalu diinginkannya ini dengan sepengetahuan dari Cinta sendiri.
" Heemmm dek, Kak Rio ingin agar Dedek juga bisa merasakan betapa Kak Rio mencintai Dedek, Kak Rio ingin agar Dedek bisa tahu apa yang selama ini Kak Rio rasakan." Gumam Rio dalam hatinya sambil meniup pelan bibirnya Cinta.
" Kak Rio sangat mencintai kamu sayang,," Ucap Rio dalam hatinya sambil mendekatkan lagi bibirnya itu supaya bisa menyentuh bibirnya Cinta secara spontan.
Dan, Cinta juga merasa bahagia ketika merasakan tiupan lembut dari bibirnya Rio yang mengalun merdu pada bagian bibirnya itu, Cinta sendiri ingin melakukan sesuatu agar bibirnya itu bisa tertempel sementara dengan bibirnya Rio dan hal itu supaya terlihat tidak direncanakan oleh dirinya.
" Ayo, Kak Rio sedikit lagi cium Cinta,," Gumam Cinta dalam hatinya sambil merasakan kelembutan tiupan udara yang dilakukan oleh Rio pada bibirnya itu.
Ketika, Cinta akan melakukan rencananya itu, seketika ada suatu hal yang mengejutkan tindakan mereka berdua yaitu suara klakson mobil terdengar keras di belakang mobil mereka. Sehingga membuat keinginan Cinta untuk menempelkan sementara bibirnya itu tertunda.
TIINN??
TIINN!?
Suara klakson mobil yang terdengar begitu mengganggu kegiatan yang sedang dilakukan oleh Cinta dan Rio ini. Sehingga membuat Rio sendiri menjauh dari bibirnya Cinta dan Cinta sendiri juga terlihat malu di hadapan Rio. Namun, Rio dengan pintarnya selalu bisa untuk mencairkan suasana hening yang terjadi di antara mereka berdua.
" Oh My God,," Gumam Cinta kaget mendengar suara klakson mobil lain.
" Eemmm, ada mobil lain dek, kita lanjutkan perjalanan dulu ya dek,," Ucap Rio sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.
" Heemm iya Kak,," Jawab Cinta mengangguk.
Dengan segera Rio menyalakan kembali mesin mobilnya dan melajukan mobilnya itu, saat di perjalanan Cinta menanyakan beberapa lama mereka akan bepergian di kota tempat mereka menikah itu.
" Oh ya Kak, memangnya berapa lama kita berada di kota ini ?" Tanya Cinta di sela keheningan yang sedang terjadi.
" Eeemmm, karena, hari ini setelah sampai kita akan membeli bibit dan besok juga kita baru mau mengambil buku nikah, maka lusanya lagi kita akan pulang dek,," Jawab Rio sambil menghitung lama harinya disaat mereka sedang berlibur keluar.
" Eemmm terlalu cepat untuk kembali pulang, gimana sekitar satu minggu kita tinggal di kota ini Kak ?" Tanya Cinta yang sengaja memberikan sebuah usulan.
" Kalau Dedek mau, bisa kita tinggal satu minggu di kota ini," Jawab Rio sambil tersenyum menoleh ke arah Cinta.
" Oke deh, Cinta mau, kita satu minggu tinggal di kota ini Kak,," Bilang Cinta sambil tersenyum senang ketika mendapatkan sebuah perhatian dari Rio.
Rio hanya bisa melakukan suatu tindakan yang bisa membuat Cinta merasa bahagia, entah kenapa Cinta ingin tinggal satu minggu di tempat ini, padahal Cinta sudah merasa bahagia saat berada di rumah.
****