
Dengan segera Arif menghampiri wanita yang datang menggunakan mobil yang tidak terlalu bagus dibandingkan mobilnya Cinta, walaupun begitu wanita ini begitu terlihat sekali gaya angkuhnya yang selalu keliling kampung menggunakan mobil itu. Saat wanita ini masuk ke pekarangan tambak miliknya Rio, wajahnya kelihatan sekali bahwa sedang ditekuk karena merasa adanya orang yang berani menyaingi mobilnya itu.
" Heh! mobil siapa itu, kenapa mobilnya ada disini,," Ucap wanita itu yang terlihat tidak menyukai adanya mobil lain di kampung ini yang terlihat lebih mahal dibandingkan mobilnya itu.
" Oohhh mungkin mobil dari kampung lain yang sengaja mau beli ikan disini,," Gumam wanita itu lagi.
" Daripada aku sibuk memikirkan pemilik tuh mobil, mending langsung tanya aja sama Arif, pembantu tambak ini,," Ucap wanita itu lagi dengan gaya sombongnya.
Dengan gaya angkuhnya wanita muda yang merupakan anak perempuan dari kepala desa kampung ini keluar dari mobilnya dan langsung melangkah mendekati Arif yang sedang melangkah mendekatinya.
Nama wanita yang sedang mendekati Arif itu adalah Rossa dan seperti biasa, karena, dia merupakan anak dari pejabat kampung ini. Otomatis tidak akan mengambil pendidikan yang ada di dalam kampungnya ini, selama ini Rossa sedang menjalankan pendidikannya di sebuah kota besar, oleh sebab itu, sebagai salah satu wanita yang beruntung di kampung ini dan merupakan anak dari seorang kepala desa jadi, Rossa begitu memilih siapa yang bisa menjadi temannya.
Karena, ia tidak mau berteman dengan sembarang orang di kampung ini dan dari kecilnya Rossa memang anak yang begitu sombong jadi wajar kalau dewasanya ini ia tetap berlagak sombong seperti usianya kecil dulu.
" Wah Mbak Rossa udah lama gak ke tambak Mbak ?" Tanya Arif dengan gaya ramahnya.
" Nggak usah sok ramah, kamu itu hanya sekedar kacung disini, jadi, gak usah sok akrab denganku,," Ketus Rossa kepada Arif yang hanya bisa tercengang dan tersenyum tipis mendengar ucapan dari Rossa.
" Ya bukannya Arif mau sok akrab, tapi, Arif memang seperti ini Mbak, selalu memberikan pelayanan yang baik terhadap pembeli,," Jawab Arif yang terdengar begitu manis dan mengena sekali.
Walaupun Arif menjawab ucapan dari Rossa seadanya, namun begitu mengena dan tepat sekali untuk diutarakan kepada Rossa yang begitu sombong ini.
" Iya aku tahu, tapi, aku nggak suka dengan gayamu yang begitu sok akrab padaku,," Bentak Rossa langsung kepada Arif.
" Ya sudah kalau ndak mau di sapa,," Celetuk Arif singkat.
" Mbak kesini mau apa ?" Tanya Arif balik pada Rossa yang terdengar sedikit ketus.
" Eeehhh, aku kesini mau beli ikan, jangan ketus gitu nanyanya,," Bilang Rossa yang begitu kesal akan ucapan ketus dari Arif.
" Lah, Mbak sendiri ndak sadar apa, bukannya Mbak sendiri yang bilang, kalo Arif nggak usah sok akrab, ya udah Arif ndak mau juga sok akrab," Bilang Arif yang membenarkan dirinya.
" Dan, Arif nanya kayak gitu, Mbak bilang Arif ketus, gimana sih Mbak,," Ucap Arif yang merasa bingung atas sikap dari Rossa padanya itu.
" Ya udah, ya udah gak usah diperpanjang, aku kesini mau beli ikan cepat bungkus lima kilo ikan lelenya,," Bilang Rossa yang sengaja memberi perintah kepada Arif.
" Oke siap Mbak, tunggu sebentar,," Ucap Arif dengan segera mengambil ikan lele yang sudah disediakan di dalam kolam penjualan.
Setelah selesai mengambil ikan di dalam kolam penjualan, dengan segera Arif membungkuskan semua ikan itu ke dalam kantong plastik. Setelah itu barulah Arif menimbangnya dan langsung memberikan bungkusan ikan itu kepada Rossa. Namun, Rossa sama sekali tidak mau menerima bungkusan ikan dari tangannya Arif, karena merasa jijik dan Rossa sengaja menyuruh Arif untuk meletakkan ikannya ke dalam mobil.
" Ini Mbak, udah selesai ditimbang," Bilang Arif sambil memberikan bungkusan ikan kepada Rossa.
" Iiihhhh, masa kamu langsung kasih sama aku ikannya, taroh di dalam mobil. Aku jijik menyentuh bungkusan itu hiihh,," Jawab Rossa dengan gaya angkuhnya.
Saat Rossa tidak mau menerima bungkusan ikan dari tangannya Arif dan menyuruh Arif membawa ikan itu ke dalam mobilnya. Dengan gayanya sendiri Arif sengaja mengikuti ucapan yang dikatakan Rossa sama gaya angkuhnya Rossa ketika jijik menerima bungkusan ikan dari tangannya.
Sebenarnya Arif juga merasa eneg dengan gaya Rossa yang begitu sombong, oleh karena dia adalah anaknya kepala desa, jadi dia merasa di dalam kampungnya ini tidak ada yang bisa menyaingi popularitasnya.
" Alaaah Mbak jijik banget sih nerima bungkusan dari Arif, hanya karena anaknya pak kepala desa jadi nganggep orang lain itu dibawahnya dia, hiih,," Gumam Arif yang begitu terlihat tidak menyukai gaya angkuh dari Rossa.
Karena, Arif tidak tahu mau diletakkan dimana bungkusan ikan ke dalam mobilnya Rossa. Jadi, Arif meletakkan bungkusan ikan itu tepat di sebelah tempat duduknya pengemudi mobil.
" Taroh dimana ya, aahh taroh sini ajalah,," Gumam Arif yang bingung atas bungkusan ikan di tangannya mau diletakkan di mana.
Setelah selesai meletakkan bungkusan ikan itu ke dalam mobilnya Rossa. Arif kembali mendekati Rossa untuk meminta uang penjualan ikannya kepada Rossa.
" Udah Mbak, udah diletakkan,," Bilang Arif yang mengadukan kegiatannya.
" Oh ya ini uangnya,," Ucap Rossa sambil memberikan uang seratus ribu dua lembar.
" Sebentar Mbak, Arif ambilkan kembaliannya dulu,," Ucap Arif sambil berlari kecil menuju ke dalam rumahnya.
Sambil menunggu Arif mengambil uang kembaliannya, Rossa mengelilingi pandangannya ke sekeliling area tambak kolam dan kembali merasa penasaran dengan mobil yang diparkirkan di dalam area tambak itu.
" Mobil siapa itu sih,," Gumam Rossa yang membuatnya merasa penasaran dengan mobil yang nangkring di area tambak kolam.
Saat Arif mendekati Rossa dengan membawakan uang kembalian miliknya Rossa, dengan segera Rossa bertanya kepada Arif tentang mobil yang sedang terparkir di dalam area tambak kolam itu.
" Ini Mbak kembaliannya,," Bilang Arif sambil memberikan uang kembalian kepada Rossa.
" Heemm,," Jawab Rossa yang hanya berdehem.
" Oh ya, itu mobilnya siapa, Rif ?" Tanya Rossa penasaran.
" Oh itu, Itu mobilnya Mas Rio, Mbak,," Jawab Arif secara langsung.
" Apa, Mas Rio !?" Gumam Rossa yang terbelalak mendengar jawaban dari Arif.
" Iya Mbak, memangnya kenapa ?" Tanya Arif balik dan tiba-tiba Arif langsung berekspresi angkuh di depannya Rossa.
Sebenarnya Arif tidak pernah bergaya angkuh seperti itu kepada siapapun. Tapi, kepada Rossa harus dilakukan, karena, Rossa sendiri gayanya terlalu angkuh dan juga patut untuk diberikan sebuah persaingan. Supaya Rossa tahu bukan hanya dirinya yang memiliki mobil di kampung ini, melainkan Rio pemilik tambak ini mobilnya lebih bagus dibandingkan miliknya Rossa anak dari kepala desa kampung ini.
" Beneran itu mobilnya Mas Rio ?" Tanya Rossa lagi kepada Arif.
" Iya, Mbak masa mobil bupati sih nangkring di sini,," Jawab Arif begitu meyakinkan Rossa.
" Ooohhh bagus banget mobilnya, pasti Mas Rio sekarang udah sukses ya, sampai punya mobil kayak gitu,," Gumam Rossa yang merasa kagum dengan keberhasilan Rio membawa mobil indah dan mahal ke kampungnya ini.
" Iya donk Mbak memang Mas Rio sekarang udah sukses,," Celetuk Arif di tengah lamunan Rossa yang sedang menghayalkan Rio.
" Pantas kalau dia sukses lebih bagus bagiku,," Ucap Rossa yang tersenyum sendiri melihat mobilnya Rio.
Rossa berpikir bahwa itu mobilnya Rio dan Rio juga merupakan orang yang sudah sukses saat ini, sebenarnya Arif ingin memberitahukan bahwa Rio yang sedang dikhayalkannya itu sudah memiliki istri. Dan, bahkan Arif berpikir lebih baik sifatnya Cinta dibandingkan Rossa yang selalu mengharapkan Rio untuk menjadi miliknya.
" Jika Mas Rio udah sukses kayak gini, pastinya Papi akan menyetujui Rio jika Rio nanti menjadi milikku,," Gumam Rossa dalam hati yang berharap besar pada Rio.
Karena, melihat Rossa sedang melamunkan sesuatu. Arif dengan gaya jahilnya sengaja melambai-lambaikan tangannya tepat di hadapannya Rossa, sehingga membuat Rossa kesal dan menepis tangannya Arif itu.
" Mbak lagi ngelamunin apa ?" Tanya Arif langsung pada Rossa sambil melambaikan tangannya ke hadapan Rossa.
" Iiihhhh kamu apa-apaan sih Rif,," Ketus Rossa kesal dengan kelakuan Arif padanya itu.
" Lah Mbak lagi bengong, ngelamunin siapa memangnya ?" Tanya Arif langsung pada Rossa.
" Mau tahu aja urusan orang,," Jawab Rossa dengan ketus.
" Oh ya, kalo itu bener mobilnya Mas Rio, terus Mas Rionya kemana ?" Tanya Rossa lagi pada Arif.
" Iya Nggak tahu Mbak kemana,," Jawab Arif singkat.
" Tadi kebetulan Arif ingin mencari keberadaan Mas Rio, tapi berhubung Mbak datang, makanya Arif melayani Mbak Rossa dulu,," Jawab Arif yang membuat Rossa sedikit bertanya.
" Ooohh memangnya Mas Rio pulang kampung sendiri, kenapa tidak ngelapor langsung pada Papi kalo Mas Rio lagi pulang kampung ?" Tanya Rossa lagi pada Arif.
" Kurang tahu juga Mbak, kenapa Mas Rio belum ngelapor, tapi, Mas Rio juga baru sampai ke kampung ini kemarin, jadi kemungkinan besok Mas Rio akan melapor pada Pak Kepala Desa bahwa dia sedang ada di kampung ini,," Jawab Arif dengan yakin dan juga mengira-ngira pemikiran Rio.
" Oh begitu, ya sudah aku pulang, jika Mas Rio ada kasih tau padanya bahwa aku mencarinya,," Ucap Rossa dengan gaya pedenya pada Arif.
" Iiihhh tapi, Mas Rio." Ucap Arif yang terputus karena, Rossa sengaja memutuskan perkataannya.
" Udah tidak usah pake tapi-tapian, harus disampaikan, awas kalo nggak disampaikan pesanku ini,"Ucap Rossa yang sengaja memberikan ancaman kepada Arif.
Setelah memberikan sebuah perintah kepada Arif dengan gaya angkuhnya dan gampangnya, Rossa langsung saja pergi dari tempat itu masuk ke dalam mobilnya.
" Iiihhhh mau nyuruh orang menyampaikan pesannya tapi ngotot banget, dasar sombong,," Celetuk Arif yang tidak menyukai adanya Rossa datang ke tambaknya itu.
" Uuuhhh, dasar sombong,," Ucap Arif lagi yang terlihat jengkel pada Rossa.
Namun, sikapnya Arif ini sama sekali tidak terdengar dan tidak terlihat oleh Rossa. Karena, saat ini Rossa sudah pergi dari tambaknya ini. Dan, Arif sampai kelupaan sesuatu hal yang ingin disampaikannya tadi pada Rossa bahwa Rio saat ini sudah memiliki istri.
" Aduuhhh, ya ampun kenapa aku sampai lupa ngomongin tentang Mas Rio bahwa Mas Rio sudah menikah dan memiliki istri,," Gumam Arif sambil menepuk keningnya sendiri.
Sebenarnya Arif sebelumnya mau mengatakan bahwa Rio pulang ke kampungnya ini dengan membawa seorang istri yang lebih baik dan juga lebih cantik dibandingkan Rossa yang terlalu sombong dan angkuh hanya karena ia anak seorang kepala desa.
Sedangkan saat ini, Rio dan Cinta sama sekali tidak mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung di depan tambaknya Arif, karena, saat ini Rio dan Cinta sedang fokus pada pancingnya yang sudah terpasang.
Ketika kail pancing itu bergerak, membuat Cinta tertawa senang saat melihatnya. Sehingga perkataan Cinta itu sedikit membuyarkan lamunannya Rio yang sedang memandangi wajah Cinta sedari tadi.
" Heemmm lama juga ya, Kak nungguin kailnya dimakan ikan,," Ucap Cinta sambil mengunyah makanan ringan yang sudah dibawa oleh Rio.
" Heemm, senyumannya begitu indah sekali, Dek sebenarnya Kak Rio ingin sekali menyentuh senyuman itu, tapi, Kak Rio takut jika Dedek marah akan tindakan Kakak yang terlalu memaksa ini." Gumam Rio dalam hati sambil menatap wajah Cinta yang begitu cantik di setiap harinya bagi Rio.
Ketika pancingnya bergerak dengan spontan Cinta menepuk paha Rio hingga Rio kaget dan membuyarkan lamunannya itu.
" Waahh kailnya dimakan ikan Kak,," Suara Cinta spontan yang terdengar ceria dan membuyarkan lamunannya Rio.
" Aaahh mana dek ?" Tanya Rio balik pada Cinta.
" Itu kak," Jawab Cinta sambil menunjukkan arah kail pancing yang bergerak dimakan oleh ikannya.
" Oke, biar Kakak ambil, tapi Dedek jangan bersuara supaya ikannya gak lepas,," Ucap Rio yang memberikan aba-aba pada Cinta.
" Oke kak," Jawab Cinta sambil memberikan jempolnya.
Dengan perlahan Rio menarik pancingnya dan akhirnya Rio berhasil mendapatkan ikan yang ukurannya cukup besar daripada biasanya.
" Waaaahhh akhirnya dapat," Teriak Cinta tersenyum senang.
Sambil tersenyum Rio segera meletakkan ikan hasil pancingannya itu ke dalam ember yang sudah disiapkannya tadi. Karena, sudah menunggu lama dan cuaca juga kelihatannya mendung dan bertanda akan hujan. Rio segera mengajak Cinta untuk kembali ke tempatnya Arif.
" Dek, kayaknya besok lagi ya kita sambung mancingnya, tuh lihat awannya udah gelap,," Bilang Rio pada Cinta sambil menunjukkan awan di langit yang memang terlihat sudah gelap.
" Oke Kak, jadi gimana pancing yang lainnya ?" Tanya Cinta lagi pada Rio sambil menunjukkan pancing yang sudah dipasang oleh Rio.
" Nggak apa-apa, besok tinggal ambil aja hasilnya,," Jawab Rio sambil menyambut tangannya Cinta.
" Oh gitu, ya udah kalo gitu ayo,," Bilang Cinta sambil meletakkan tangannya ke dalam tangan Rio.
Seperti di awal Rio membawa Cinta ke pondok ini, seperti itu juga Rio membawa Cinta kembali ke tempat Arif. Dengan perlahan Rio menuntun Cinta untuk kembali ke tempat mereka semula. Sambil tersenyum Cinta menuruti semua ucapan Rio yang sedang menuntunnya itu. Saat Cinta dan Rio sedang melangkah menuju arah ke tempatnya Arif. Barulah Arif bisa melihat kedua pasangan yang sedang menjadi pengantin baru ini.
****