Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 52 Melakukan sesuatu


Cinta yang melihat Rio keluar dari kamarnya saat ini. Merasa geli sendiri atas sikap Rio yang merasa malu pada tingkahnya itu, Rio terlihat malu karena, perlakuan Cinta pada dirinya yang selalu lembut dan berbeda dengan sikapnya selama ini sehingga baru kali ini terlihat dengan jelas kecanggungan yang terjadi pada wajah dan juga sikap Rio padanya.


" Hihihi,, Kak Rio, ternyata bisa salah tingkah juga ya,," Ucap Cinta tersenyum geli melihat kelakuan Rio yang malu pada dirinya.


Ya, Memang benar, Cinta akhir-akhir ini terlihat begitu manja, manis, dan agresif terhadap Rio. Apalagi sekarang mereka sudah menikah, tambah deh, kelakuan Cinta yang lucu terlihat di mata Rio saat itu.


Keadaan di kampung saat ini sudah mulai cerah, matahari dari ufuk timur telah menunjukkan cahayanya terhadap dunia saat ini. Pastinya Rio merasa sebentar lagi akan ada orang kampung yang melihat dirinya dan juga Cinta berada di kampung ini. Padahal tubuhnya masih penat sekali, ingin rasanya Rio langsung melemparkan tubuhnya di atas kasur dan tertidur pulas. Namun, karena masih ada beberapa hal yang harus dilakukannya, Rio segera melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu untuk mengambil semua barang keperluan yang dibawakan olehnya dari kota.


" Aduh sebenarnya aku capek, dan langsung pengen tidur," Gumam Rio sambil memegang tengkuk lehernya.


" Tapi, semua barang masih di dalam mobil," Ucap Rio lagi yang teringat akan semua barangnya itu.


Karena, segera ingin menyelesaikan semua pekerjaannya untuk mengambil semua barang-barang Cinta dan miliknya di dalam mobil. Dengan segera Rio melangkahkan kakinya ke arah pintu luar dan sesaat Rio merasa sedikit pusing di kepalanya, tapi, Rio masih saja menguatkan tubuhnya untuk mengunci mobil dan akhirnya Rio mengurungkan niatnya untuk mengambil semua barang-barang di dalam mobil.


" Aduuuhhh,, kenapa kepalaku seperti ini,, apa aku terlalu lelah dan masuk angin,," Ucap Rio yang masih berada di ruang tamu.


Namun untuk sesaat Rio merasa tubuhnya saat ini tidak bisa bersatu lagi dengan pikirannya dan saat itu juga Rio terhuyung lemah, tubuhnya terjatuh ke atas sofa yang berada di ruang tamu.


BUUGGG,,


Terdengar suara begitu jelas sebuah jatuhan tubuh Rio di atas sofa ruang tamu, membuat Cinta sedikit kaget mendengar suara tubuh Rio yang terjatuh itu.


" Suara apa itu,," Gumam Cinta dari dalam kamar, yang merasa kaget mendengar suara seperti orang yang terjatuh.


Dengan segera Cinta berlari ke arah luar kamar dan melihat ternyata Rio telah terkulai di atas sofa ruang tamu. Cinta kaget melihat Rio yang telah terkulai lemah di atas sofa itu, karena posisi tubuhnya separuh di atas sofa dan separuh lagi masih berada di atas lantai. Melihat posisi tubuh Rio seperti itu, otomatis Cinta terkejut dan membelalakkan matanya segera melangkah mendekati Rio.


" Akkkhhh,, Kak Rio,," Suara Cinta terkejut saat melihat keadaan Rio yang terkulai lemah.


" Kak Rio kenapa ?" Tanya Cinta saat mendekati tubuh Rio.


Dengan segera Cinta membantu tubuh Rio untuk tiduran di atas sofa. Bahasa tubuh Rio ikut membantu dan segera mengikuti arahan dari Cinta. Walau masih merasa lelah dan sangat pusing Rio segera menaikkan tubuhnya ke atas sofa, sementara itu Cinta meletakkan kepala Rio di atas bantal kecil sofa yang telah disiapkannya.


" Kak Rio, kenapa, pasti Kak Rio kecapekan ya,, satu hari satu malam gak tidur, bawain mobil terus,," Ucap Cinta yang merasa prihatin atas keadaan Rio yang terkulai lemah ini.


Karena, melihat Cinta yang terlihat panik itu, membuat Rio mengukir senyuman indah di bibirnya dan membuat Cinta selalu terpana akan sunggingan senyuman yang ditunjukkan oleh Rio padanya.


" Kak Rio gak apa-apa, dek,," Ucap Rio yang menguatkan tubuhnya dan tersenyum.


" Dedek gak usah khawatir,, paling sebentar lagi juga enakkan,," Bilang Rio yang meyakinkan Cinta terhadap tubuhnya itu.


Saat ini memang Cinta benar-benar merasa khawatir akan keadaan dari tubuh Rio, namun Rio sendiri mengatakan bahwa saat ini tubuhnya tidak apa-apa.


" Apanya yang gak apa-apa,, buktinya tubuh Kakak lemah seperti ini,," Ucap Cinta yang menampakkan wajah bawelnya itu tepat di hadapan Rio.


" Ya udah Kakak tidur aja dulu, nanti aja ambil barangnya,," Ucap Cinta lagi sedikit menegur Rio.


Seketika, Rio tersenyum lagi saat melihat Cinta yang memarahi dirinya. Memang terlihat dengan jelas bahwa saat ini Cinta bukan memarahi dirinya akan kesalahannya itu namun, Cinta merasa khawatir akan kondisi Rio saat ini.


" Iya, dek,," Ucap Rio mengangguk.


" Makasih ya dek, udah merhatiin Kakak,," Bilang Rio dengan suara lembutnya.


" Heemmm,," Jawab Cinta singkat dan sedikit malu.


Setelah menjawab ucapan dari Rio dengan singkat. Cinta teringat sesuatu akan tubuh Rio yang seperti terlihat begitu lemah ini, kemungkinan Rio masuk angin dan juga kecapekan.


" Heemm sepertinya Kak Rio pasti kecapean,," Gumam Cinta dalam hati sambil memandang keadaan tubuh Rio.


Karena, sudah jelas melihat keadaan tubuh Rio memang terlihat seperti orang yang sedang kelelahan. Cinta berinisiatif untuk melakukan suatu hal di dalam dapur. Namun, karena, Cinta selama ini tidak pernah masuk ke dapur dan membuat sesuatu pasti Cinta akan merasa bingung saat berada di dapur, sebenarnya apa yang harus dilakukannya itu untuk membantu Rio.


" Tunggu sebentar ya, Kak,," Ucap Cinta seketika berpikir sejenak untuk melakukan apa terhadap Rio saat ini.


Rio terlihat mengangguk dengan wajah yang masih sedikit pucat dan tubuh yang lemah. Dengan penuh semangat Cinta segera melangkahkan kakinya ke dalam kamar mengambil teh di dalam tasnya dan menuju ke ruang dapur.


Saat ke ruang dapur Cinta bingung mau melakukan apa, karena selama ini Cinta sama sekali belum pernah ke dapur untuk melakukan sesuatu seperti memasak.


" Aduh bagaimana ini,," Ucap Cinta yang bingung dengan keadaan dapur.


Padahal di dalam dapur Rio semua peralatan sudah ada, karena, selama ditinggal oleh Rio, kebetulan rumahnya ini selalu dibersihkan oleh seseorang yang tinggal di tambak ikan milik Neneknya Rio. Saat ini, Cinta bingung sendiri apa yang harus dilakukannya.


Apakah dia harus memasak makanan untuk Rio terlebih dahulu ?


Atau apakah dia harus terlebih dahulu memasak air panas untuk minum Rio ?


" Aduuhhh Gimana ini,, google ya,," Ucap Cinta seketika mengingat suatu ide dari dalam pikirannya untuk mencari cara dalam internet.


Untuk sejenak Cinta teringat bahwa Rio pernah berkata di kampungnya itu sama sekali tidak bisa menggunakan ponsel, karena, tidak ada saluran jaringan internet.


" Tapi percuma saja, Kak Rio pernah bilang kalo disini gak ada sinyal,," Ucap Cinta yang mengurungkan niatnya untuk menuju ke kamar mengambil ponselnya.


Sesaat Cinta teringat dalam buku merawat orang yang sedang sakit yang pernah ia baca di perpustakaan kota dulu.


" Ya,, sepertinya aku harus melakukan itu,," Ucap Cinta tersenyum senang karena mendapatkan sebuah ide dari buku yang pernah ia baca dulu.


" Aduuuhhh, Cinta makanya jadi anak perempuan, harus pernah ke dapur, jadi dalam keadaan genting kayak gini, kamu gak akan bingung lagi untuk melakukan apapun,," Ucap Cinta yang masih saja mondar-mandir di dapur saat ini.


Cinta merutuki kebodohannya sendiri yang selama ini tidak pernah memperdulikan suatu hal di dalam dapur. Padahal banyak yang harus diketahui oleh seorang wanita di dalam dapur. Namun, saat ini Cinta hanya bisa pasrah akan sikapnya itu, karena, selama ini dirinya merasa tidak pernah pergi ke dapur untuk melakukan sesuatu apapun seperti halnya memasak.


" Oh iya, karena, yang paling utama adalah memberikan kehangatan bagi tubuh Kak Rio, baik yang paling utama aku akan memasak air dan membuat teh untuk Kak Rio, lalu, air panasnya itu aku campur dengan air dingin untuk mengompres Kak Rio." Ucap Cinta yang merasa sibuk sendiri di dalam dapur.


" Heemmm dimana kompornya,," Ucap Cinta sambil mengelilingi pandangan matanya ke seluruh ruangan dapur.


Karena, segera ingin memasak, dengan segera Cinta mencari kompor gas, tapi sama sekali tidak ditemukan kompor seperti itu dan Cinta hanya menemukan satu kompor yang menggunakan minyak tanah untuk memasak. Cinta kaget saat melihat di ruang dapur hanya ada satu kompor yaitu kompor minyak tanah yang ada di sana.


" Oh My God, ternyata cuma ada kompor ini,," Gumam Cinta yang merasa tidak percaya dengan keadaan yang ada di dalam dapur.


Di dalam pikiran Cinta saat ini cuma satu ialah apakah dia bisa menghidupkan kompor minyak tanah itu ?


Cinta merasa bingung sendiri dengan kompor minyak tanah yang ada di hadapannya saat ini. Dengan wajah yang kebingungan Cinta sedikit meringis saat melihat kompor minyak tanah ini.


" Aduuhhh bagaimana ini,, aku nggak bisa pake kompor ini,," Ucap Cinta yang meringis bingung melihat kompor minyak di depannya.


" Ya tuhan, bagaimana ini, bantu Cinta,," Ucap Cinta yang meringis sendiri melihat kompor minyak.


Cinta teringat kepada Rio, saat dirinya dalam kebingungan Rio selalu bisa membantunya, tapi kali ini sungguh berbeda dengan bantuan Rio selama ini dalam kehidupannya. Dan, bahkan ini lebih sulit serta memalukan wajahnya saat ia harus meminta bantuan Rio.


Cinta melangkahkan kakinya secara perlahan menuju ke ruang tamu dan melihat Rio yang terbaring lemah di atas sofa. Cinta merasa tidak enak untuk membangunkan Rio yang sedang terbaring itu. Saat langkah kaki Cinta yang bingung ingin mendekati Rio, Rio merasa bahwa ada pergerakan seseorang yang ingin mendekati dirinya. Dengan segera Rio membuka matanya dan melihat ternyata saat ini Cinta membalikkan tubuhnya perlahan-lahan kembali ke dapur lagi.


Saat itu Rio segera memanggil Cinta, namun, karena Cinta merasa kaget atas panggilan Rio itu padanya, Cinta segera menoleh ke arah Rio dan menyunggingkan senyuman indahnya.


" Dek,," Panggil Rio terhadap Cinta.


" Aduuuhhh,, Kak Rio memanggilku lagi,," Gumam Cinta yang merasa canggung dan malu untuk berbalik arah menoleh ke hadapan Rio.


Karena, melihat Cinta berlari kecil ingin segera menjauhi dirinya dengan cepat Rio memanggil Cinta kembali.


" Eehhh Dek,, Dedek kenapa ?" Panggil Rio lagi sehingga membuat Cinta menghentikan langkahnya.


Lalu, Cinta segera menoleh sambil menyunggingkan senyuman tipisnya terhadap Rio.


" Hehehehe,, Cinta mau masak sebentar, ya Kak,," Ucap Cinta yang berkelit menutup rasa malunya itu.


Namun, Rio mengerti akan kebingungan Cinta saat ini dan Rio dengan penuh semangat menguatkan tubuhnya untuk bangun dan ingin mencari tahu apa yang telah mengganggu pikiran istrinya itu. Saat, Rio menguatkan tubuhnya untuk bangun, Cinta segera menghampiri Rio berlari kecil menuju ke tempat dimana Rio saat ini sedang berada dengan tujuan untuk mencegah Rio bangun dari baringnya.


" Eeehhh,, Kak Rio mau ngapain,," Bilang Cinta yang melihat Rio segera bangkit dari baringnya.


Sambil tersenyum Rio tetap mencoba bangun dari baringnya namun Cinta masih saja mencegah tindakannya itu.


" Kak Rio ingin tahu apa sih yang sedang mengganggu pikiran Dedek sekarang ?" Tanya Rio yang menunjukkan kening kepala Cinta.


Saat Rio mengatakan rasa penasarannya itu pada Cinta, Cinta merasa sedikit malu akan sikap Rio yang menunjukkan sebuah pikiran mengganggu keningnya itu.


" Hehehehe, tapi Kak Rio janji jangan pernah ngetawain Cinta," Bilang Cinta yang memberikan penegasan pada Rio.


" Memangnya kenapa harus ketawa ?" Tanya Rio lagi yang membuat Cinta merasa yakin untuk memberitahukan kebingungannya itu.


" Eeemmmm,, sebenarnya Cinta bingung pake kompor di dapur,," Bilang Cinta langsung dengan wajah yang sedikit memerah.


Setelah mendengarkan ungkapan Cinta seperti itu, sebenarnya Rio ingin sekali tertawa saat mendengar ungkapan Cinta secara spontan tidak bisa menghidupkan kompor minyak di dapurnya. Namun, Rio tidak mau menertawakan Cinta karena, ia sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu. Dengan segera Rio mengalihkan pembicaraannya pada Cinta tentang suatu pertanyaan yang begitu jelas sekali.


" Eemmm,, Dedek gak bisa nyalain api di kompornya atau gak bisa gunain kompornya ?" Tanya Rio lagi yang membuat Cinta bingung.


" Sebenarnya Cinta gak bisa nyalain kompornya dan juga gak bisa gunainnya,," Jawab Cinta secara spontan dan menunduk malu.


Saat itu, Rio melihat dengan jelas wajah Cinta yang menunduk malu dan sedikit memerah, namun dengan senyumannya membuat Rio bisa melakukan hal romantis terhadap Cinta yaitu dengan memberikan sebuah keyakinan pada Cinta dan menyentuh dagu gadis cantik ini menggunakan jari telunjuknya.


" Gak usah malu, banyak kok orang yang gak bisa pake kompor minyak,," Bilang Rio yang membuat Cinta langsung tersenyum.


Karena, mendengar ucapan Rio yang memberikan semangat untuk dirinya itu. Cinta tidak lagi merasa canggung dan malu akan keadaan dirinya yang tidak mampu menggunakan kompor minyak.


" Benarkah, Kak ?" Tanya Cinta yang matanya berbinar-binar menatap wajah Rio.


" Heeemmm,," Jawab Rio mengangguk.


" Ya udah yuk,, Kakak ajarin Cinta ya, supaya Cinta bisa gunain kompornya,," Bilang Rio yang membuat Cinta tersenyum.


" Heeemm,, tapi yakin Kakak kuat ?" Tanya Cinta melihat keadaan wajah Rio yang terlihat begitu pucat.


" Iya dek,, Kakak kuat kok,," Jawab Rio yang segera bangun dari baringnya.


Dengan segera Cinta membantu Rio untuk bangkit dari baringnya ini. Sehingga membuat Rio tersenyum melihat kelakuan Cinta yang begitu tulus membantu dirinya itu. Inilah yang menambah ketertarikan Rio pada sikap Cinta yaitu Cinta selalu tulus untuk membantu dirinya dalam keadaan yang lemah seperti ini.


****