
Disaat Cinta menjawab pertanyaan Rio yang terdengar seperti berlebihan itu, hal itu juga membuat Rio merasa bahagia walaupun pertanyaan seperti kekanak-kanakan. Namun, bisa membuat hubungan pernikahan di antara mereka semakin lama semakin dekat dan erat.
" Terima kasih ya sayang, jika benar apa yang diucapkan oleh bibir ini, maka sampai kapanpun Kakak tidak akan pernah pergi meninggalkan Dedek,," Gumam Rio dalam hati sambil tersenyum melihat Cinta yang sedang menjawab pertanyaannya itu.
Itulah yang selama ini diharapkan oleh Rio kepada Cinta, memang Rio sama sekali belum mengetahui bahwa sebenarnya Cinta juga mencintainya. Namun, saat ini Rio hanya tahu bahwa Cinta memang memiliki perasaan padanya namun, perasaan itu masih dipendam olehnya.
" Heemm benarkah seperti itu ?" Tanya Rio lagi seolah meminta keyakinan Cinta begitu dalam.
" Benar Kak,," Jawab Cinta sambil mengangguk.
" Jika benar, terima kasih banyak ya dek,," Gumam Rio sambil membawa tubuh Cinta masuk ke dalam pelukannya.
" Heemm iya Kak,," Jawab Cinta tersenyum sempurna dan juga menerima pelukan Rio terhadap tubuhnya itu.
Sambil memeluk tubuh Cinta di dalam baringnya itu, dengan lembut Rio mengelus rambutnya Cinta. Dan Rio tersenyum sendiri ketika ia kembali teringat akan kelakuannya yang secara tidak sengaja melihat Cinta saat Cinta buang air kecil.
" Oh ya dek, Kak Rio boleh mengatakan sesuatu ?" Tanya Rio yang sengaja meminta izin Cinta dalam pertanyaan yang akan ditanyakan olehnya itu.
" Heemm ya boleh ada apa Kak, katakan saja,," Bilang Cinta sambil menyentuh tangannya Rio yang ada di atas perutnya.
" Hehehehe jangan marah ya dek,," Bilang Rio lagi seketika tertawa kecil sebelum mengatakan ungkapannya itu.
" Yahh, Kak Rio, Cinta aja nggak tahu apa yang akan dikatakan oleh Kak Rio, bagaimana Cinta mau marah,," Gumam Cinta seolah sedikit memukul lembut tangannya Rio.
" Hehehehe soalnya Kak Rio takut nanti Dedek tersinggung terus ngambek lagi,," Gumam Rio lagi pada Cinta.
Ketika ucapan Rio yang terdengar oleh Cinta seolah membuat Cinta merasa geli saat mendengarkannya karena, di waktu mereka pergi dari rumah dulu memang Cinta begitu mudah ngambek dan juga marah pada Rio, pokoknya saat itu sifat Cinta begitu sensitif sehingga membuat Rio begitu takut untuk mengatakan suatu hal apapun pada Cinta.
" Hahahaha, jadi Kak Rio masih ingat jika dulu Cinta sering ngambek dan juga marah pada Kakak ya,," Gumam Cinta sambil tertawa kecil dan langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Rio.
" Iya dek, bukan hanya dulu tapi, sampai sekarang Kak Rio masih saja takut untuk mengatakan apapun pada Dedek, takutnya nanti Dedek merasa tersinggung dan,," Jawab Rio sambil memberikan tatapan lembut pada mata Cinta yang sedang menatapnya itu.
" Jangan takut lagi Kak, sekarang Cinta nggak mungkin lagi seperti itu, ya, mungkin waktu itu sikap buruk Cinta belum terlepas dari Cinta sendiri,," Gumam Cinta sambil memberanikan diri untuk mengelus pipi Rio.
" Dan sekarang nggak akan mudah marah lagi hanya mudah kecewa serta kesal jika nantinya Kak Rio berani pergi meninggalkan Cinta,," Ucap Cinta dengan sorot mata yang terlihat serius.
" Hehehehe dari dulu sampai sekarang Kakak sudah berjanji tidak akan pernah bisa meninggalkan Dedek, jadi jangan takut ya dek, Kakak selalu ada untuk Dedek, asal nyawa ini masih dipercaya oleh yang maha kuasa,," Ucap Rio pada Cinta dengan tatapan lembutnya.
" Hemm iya Kak,," Jawab Cinta sambil tersenyum mengangguk.
" Oh iya, Kak Rio sebenarnya mau mengatakan apa ?" Tanya Cinta kembali serius pada Rio.
" Oh iya, sebenarnya Kak Rio mau mengatakan bahwa Kak Rio ingin minta maaf pada Dedek,," Jawab Rio dengan perkataan yang disampaikan secara hati-hati.
" Minta maaf, soal apa ?" Tanya Cinta lagi pada Rio dengan tatapan lembutnya.
" Soal tadi dek, maaf ya dek, jika Kak Rio main selonong aja masuk ke dalam kamar mandi saat Dedek lagi di kamar mandi,," Jawab Rio sambil tetap mengelus lembut tangan Cinta.
" Oohh, soal itu, iya nggak apa-apa Kak,," Gumam Cinta sambil mengangguk mengerti.
" Lagian Kak Rio masuk hanya sekilas dan kayaknya gak terlalu melihat tubuh Cinta bukan,," Sambung Cinta lagi yang merasa yakin bahwa sepertinya Rio tidak melihat tubuhnya saat ia sedang buang air kecil tadi.
" Hehehehe, iya dek,, " Jawab Rio mengangguk.
" Kak Rio memang nggak melihatnya, karena, Kak Rio juga ikutan kaget," Bilang Rio meyakinkan penglihatannya pada Cinta.
" Tapi, jika sekarang Kak Rio mau lihat apakah boleh ?" Tanya Rio lagi pada Cinta dengan wajah polosnya.
Pertanyaan Rio kali ini membuat Cinta begitu tercengang hingga secara spontan Cinta sedikit memukul lembut dada Rio dan menjawab pertanyaan Rio itu dengan wajahnya yang tersipu merah.
" Aakkhh, Kak Rio apa-apaan,," Seru Cinta yang terlihat seperti malu sambil memukul lembut dada Rio.
" Iya, tapi bolehkan Dek ?" Tanya Rio lagi.
Dan Cinta saat ini sudah melepaskan pelukannya pada Rio serta dengan cepat juga membalikkan tubuhnya menghadap arah ke dinding sehingga membuat Rio semakin mudah untuk memeluk tubuhnya dari belakang.
" Iiihhhh untuk sekarang belum boleh, udah Cinta mau bobo,," Seru Cinta sambil membalikkan tubuhnya menghadap arah di dinding.
" Heemm ya udah kalo sekarang belum dibolehkan, semoga saja suatu saat nanti dibolehkan oleh Dedek sendiri,," Bilang Rio sambil mendekatkan tubuhnya tepat di belakang Cinta.
Sebenarnya Rio ingin memeluk tubuhnya Cinta dari belakang namun, karena, saat ini terlihat Cinta masih malu dengannya oleh sebab itu, Rio mengurungkan tindakannya itu untuk memeluk Cinta.
Dan Cinta sendiri merasa kurang nyaman ketika tubuhnya Rio tidak memeluk tubuhnya saat ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dinding. Dengan lembut Cinta membalikkan tubuhnya itu untuk kembali menghadap ke arah Rio. Dan bertanya balik pada Rio ketika Cinta melihat Rio sudah memejamkan kedua matanya itu.
" Kak Rio, udah bobo ?" Tanya Cinta lembut pada Rio.
" Hemm belum dek, Dedek bobo aja gih, soalnya sekarang udah malam,," Jawab Rio yang hanya menggerakkan mulutnya tanpa membuka kedua matanya.
" Sebenarnya, Cinta mau bobo tapi, Cinta nggak dipeluk oleh Kak Rio, jadi, Cinta nggak bisa bobo,," Gumam Cinta sambil memanyunkan bibirnya berharap Rio membuka matanya.
Namun, ketika Cinta berkata seperti itu pada Rio, dengan lembut juga Rio membalikkan tubuhnya dan langsung memeluk pinggang Cinta dengan erat. Namun kedua matanya itu sama sekali tidak dibukakannya, hingga membuat Cinta merasa kurang lengkap jika Rio memeluk tubuhnya tanpa menatapnya dengan tatapan penuh pesonanya itu.
" Iya dek, Kakak peluk ya, tapi Dedek bobo,," Jawab Rio sambil memeluk tubuhnya Cinta.
" Heemmm, Kak Rio memang memelukku, tapi, matanya sama sekali tidak terbuka,," Gumam Cinta jengkel dalam hati pada kelakuan Rio yang seolah-olah sudah mengantuk sekali itu.
Namun ungkapan rasa jengkelnya itu hanya bisa diungkapkan oleh Cinta di dalam hatinya saja. Dan Cinta sendiri memberikan sebuah ucapan terima kasih pada Rio. Dan setelah Cinta mengucapkan ucapan terima kasihnya pada Rio, tidak lupa Cinta juga mengungkapkan suatu ungkapan yang membuat Rio spontan langsung membuka matanya.
" Terima kasih, Kak udah mau peluk Cinta,," Ucap Cinta pada Rio.
" Sebenarnya, Cinta mau mengatakan sesuatu pada Kakak,," Sambung Cinta lagi yang tubuhnya sudah dipeluk oleh Rio.
" Apa itu dek ?" Tanya Rio yang posisi tidurnya tepat di belakang tubuh Cinta dan tetap memeluk Cinta dengan pelukan hangatnya itu.
" Sebenarnya, Cinta mengizinkan jika Kak Rio mau melihat semua yang ada pada tubuh Cinta, karena, Cinta adalah istri sah Kak Rio dan Kak Rio juga nggak usah bertanya pada Cinta jika ingin melihat semua bagian tubuh Cinta, hanya saat ini Cinta masih merasa malu dan belum siap untuk melakukannya,," Ucap Cinta dengan suara lembutnya dan berkata secara perlahan-lahan.
Tentu saja hal itu membuat kedua matanya Rio spontan terbuka dan dengan lembut Rio membalikkan tubuhnya Cinta untuk menghadap dirinya kembali. Sambil tersenyum Rio memberikan tatapan sayangnya pada Cinta dan menjawab semua ungkapan Cinta yang membuatnya merasa luluh.
" Kak Rio tidak pernah memaksa Dedek untuk melakukan kewajiban Dedek sebagai seorang istri, melayani keinginan Kak Rio dalam hal hubungan int.im dalam sebuah pernikahan, Kak Rio hanya ingin Dedek bisa menerima Kakak sebagai seorang suami yang sesungguhnya,," Ucap Rio lembut menatap mata Cinta.
" Dan satu lagi, Kak Rio tidak menuntut Dedek untuk melakukan hal itu secepat mungkin, Kak Rio akan selalu menunggu kesiapan dari Dedek untuk kita melakukan hal itu, jadi, Dedek nggak usah berpikir jika Dedek merasa bahwa Kak Rio akan kecewa karena Dedek belum siap melakukannya, Kak Rio akan selalu menunggu kesiapan Dedek untuk kita melakukan hal itu ya,," Ucap Rio lembut pada Cinta.
Ucapan lembut dari Rio ini membuat Cinta sangat terpesona melihat wajah Rio yang menjelaskan tentang kebutuhan hubungan pernikahan di antara mereka berdua. Sehingga membuat Cinta hanya bisa mengangguk tersenyum mendengar dan menyetujui semua ucapan yang diungkapkan oleh Rio barusan padanya itu.
" Heemm terima kasih banyak Kak, karena, Kak Rio akhirnya menerima Cinta sebagai seorang istri dengan apa adanya tanpa menuntut apapun dari Cinta,," Ucap Cinta yang langsung memeluk erat tubuh Rio.
" Dan Cinta juga minta maaf jika waktu itu, Cinta menganggap pernikahan kita hanyalah pernikahan sandiwara, tapi, sebenarnya Cinta menginginkan jika pernikahan kita ini adalah pernikahan yang sesungguhnya,," Ucap Cinta di dalam pelukan Rio dengan wajahnya yang sengaja ia sembunyikan di dalam pelukan itu.
" Iya dek, Kakak mengerti, mungkin di awal pernikahan kita dulu, Dedek merasa bahwa Dedek akan mengikat Kakak dan membuat Kakak tidak bisa bebas dari Dedek, tapi, sebenarnya Kak Rio sangat bahagia ketika Dedek ingin melakukan pernikahan ini secara sah bukan siri,," Ucap Rio sambil membelai lembut rambut Cinta.
" Heemm iya Kak, Cinta ingin segera kita kembali ke kampung dan Cinta ingin Kak Rio selalu bersama dengan Cinta tidak boleh kemanapun dan tidak boleh pergi dengan siapapun,," Ucap Cinta yang begitu jelas sekali terlihat bahwa ia saat ini sudah merasakan suatu perasaan cinta yang sangat besar pada Rio.
" Iya dek, Kak Rio janji, Kak Rio tidak akan pernah meninggalkan Dedek, dan akan selalu bersama dengan Dedek di setiap detiknya, serta Kak Rio tidak akan pergi dengan siapapun, kecuali Dedek sendiri yang memberikan izin kepada Kakak,," Jawab Rio yang begitu jelas hingga membuat Cinta merasa lega dan bahagia.
" Harus janji, awas kalo Kak Rio sampe bohongin Cinta,," Celetuk Cinta sambil mendongakkan kepalanya dan memberikan tatapan serius pada Rio.
" Hehehehe iya Dedek, Kakak janji,," Jawab Rio sambil memberikan jari kelingkingnya pada Cinta.
Karena, melihat Rio memberikan jari kelingkingnya itu pada dirinya dengan segera Cinta menautkan juga jari kelingkingnya itu. Sambil tersenyum bersama dan mengucapkan kata perjanjian akhirnya Cinta bisa merasa lega akan kepastian dari pendirian Rio terhadap dirinya itu.
" Janji,," Gumam Rio sambil memberikan senyumannya pada Cinta.
" Heemm, Cinta pegang janji ini,," Bilang Cinta sambil menautkan jari kelingkingnya.
" Termasuk pada Rossa jangan terlalu dekat, awas jika Kak Rio berani mendekati wanita itu, Cinta pastikan Cinta akan pergi dari kehidupan Kak Rio." Ucap Cinta dengan tegas seraya memberikan sebuah peringatan pada Rio untuk tidak berdekatan dengan Rossa.
" Iya dek, itu hal yang paling utama bagi Kakak, yaitu, Kakak nggak akan pernah untuk dekat dengan wanita lain termasuk Rossa,," Ucap Rio yang memberikan sebuah penjelasan pada Cinta supay Cinta bisa yakin akan ucapan perjanjiannya itu
" Di dalam hati Kakak selama ini hanya ada satu wanita yang selalu mengisi ruang hati dan perasaan itu yaitu hanya Dedek seorang,," Sambung Rio lagi sambil mengecup lembut kening Cinta.
" Heemm, Cinta pegang janji ini,," Gumam Cinta sambil menurunkan kepalanya dari atas dada Rio.
" Iya dek,," Jawab Rio mengangguk.
" Ya udah jika ucapan Kak Rio bisa meyakini Cinta seperti ini, Cinta akan tetap mempercayai Kak Rio dalam hal apapun, tapi, jika Kak Rio sekali saja mengkhianati Cinta, Cinta nggak akan lagi percaya apapun dari Kak Rio,," Gumam Cinta lagi sambil menatap wajah Rio dengan tatapan serius namun menggemaskan.
" Iya Istriku yang paling manis,," Jawab Rio sambil sedikit mencubit pipi Cinta karena gemas melihat wajah istrinya.
" Aduhhh Kak Rio,," Seru Cinta seolah terasa sakit.
" Aduhhh sakit nggak dek ?" Tanya Rio spontan pada Cinta, karena terlihat wajah Cinta sedikit meringis.
" Nggak, Kak, cuma kaget aja,," Jawab Cinta sambil memegang pipinya sendiri.
" Hehehe maaf ya dek, habis Kak Rio gemes,," Bilang Rio sambil tersenyum dan memeluk erat tubuh Cinta kembali.
" Ya udah kalo gitu, kita bobo ya Dek, karena hari sudah larut malam dan besok kita akan berangkat,," Sambung Rio lagi untuk mengajak Cinta agar Cinta bisa tertidur dengan pulas tanpa memiliki perasaan yang mengganjal lagi di hatinya.
" Heemm iya Kak,," Jawab Cinta sambil mengangguk.
Secara bersamaan Rio dan Cinta menutupkan kedua matanya dan tertidur secara pulas di atas tempat tidur sambil berpelukan untuk mendapatkan sebuah kehangatan dan kenyamanan yang dirasakan oleh kedua pasangan sekarang ini.
****