Driver My Hubby

Driver My Hubby
Bab 48 Kerinduanku


Cinta yang merasa bahwa dirinya saat ini telah berada di pertengahan hutan dan menurut pendapat dari Rio, saat mereka sedang menempuh perjalanan ke kampungnya Rio saat ini, sama sekali akan jarang menemukan desa ataupun kota kecil seperti saat mereka berhenti untuk beristirahat seperti sebelumnya ini.


Cinta merasa mulai kembali takut akan keadaan yang dilihatnya itu. Karena, melihat kembali jalanan yang penuh dengan pepohonan dan hutan rimba. Rio yang menoleh ke samping melihat kelakuan Cinta tertawa kecil karena, selalu merasa takut dengan keadaan hutan.


" Hehehe,, Kenapa, Dek,," Tanya Rio yang tertawa kecil melihat tingkah Cinta itu.


Cinta pun menoleh karena, mendengar panggilan dari Rio untuk dirinya.


" Kenapa ketawa, Kak,, " Ucap Cinta yang merasa Rio sedang menertawakan dirinya.


" Yah,, habis Dedek kenapa, gitu wajahnya,," Ucap Rio yang menunjukkan wajah Cinta membuat Cinta bingung sendiri dan menyentuh pipinya.


" Akh,, memangnya kenapa dengan wajah Cinta,," Tanya Cinta yang melihatkan pantulan wajahnya dari balik kaca spion mobilnya.


" Nggak apa-apa,, cuma terlihat ekspresi di wajah Dedek itu, seperti ngeri banget melihat jalanan dengan kondisi hutan seperti ini." Bilang Rio yang menjelaskan ekspresi wajah Cinta.


" Hahahaha, Kak Rio ada-ada aja,," Ucap Cinta yang menepuk lembut lengan Rio.


Karena, sekarang keadaan mereka berdua sudah sangat akrab sekali, membuat Cinta sudah terbiasa dengan kedekatannya itu pada Rio. Sesaat Cinta terlihat seperti menguap dan pastinya terlihat sangat mengantuk karena, posisinya saat ini cuaca sedang turun hujan. Enak sekali dan tepat sekali untuk waktu tidur bagi penumpang yang bukan supir seperti Cinta saat ini.


" Emang bener, kan,," Bilang Rio yang menjelaskan kebenaran pada diri Cinta yang telah dilihatnya saat ini.


" He'eh,, ngalah aja,, Iya,," Jawab Cinta yang segera mengalah saat itu.


Lalu, karena merasa sangat mengantuk atau merasakan sesuatu lain di dalam hatinya, jadi, Cinta ingin mengenang kembali keluarganya yang telah ditinggalkannya itu.


" Eeemm,, Cinta ngantuk kak,, Cinta mau bobo ya,, kalau udah sampe, kasih tau aja, bangunin Cinta,," Ucap Cinta yang seenaknya kalau sudah sampai bangunkan saja.


Cinta seolah terlihat menguap dan segera membelokkan tubuhnya ke arah samping menatap jalanan yang seakan sepi tidak ada kendaraan lain yang bertemu bahkan memotong kendaraan mereka.


Karena, merasa takut melihat jalanan yang penuh dengan hutan semak belukar. Membuat Cinta segera menutup kaca dengan tirai penutup jendela kaca mobilnya. Setelah merasa nyaman akhirnya Cinta menutup matanya secara perlahan.


Rio yang melihat Cinta telah berbalik menghadap ke arah kaca dan menutup jendela serta diam, tersenyum lalu, menyetir mobil dalam kecepatan normal supaya Cinta bisa nyaman tidur dan pastinya perjalanan mereka akan terselamatkan.


" Ma,, Cinta kangen sama Mama,," Ucap Cinta dalam hati sambil menangis sendiri menghadap ke arah samping itu.


Ternyata, Cinta yang yang pura-pura mengantuk dan tertidur itu, merasakan kekosongan dalam dirinya yaitu tidak adanya kehadiran Mama dan Papanya di saat dia menikah, di saat dirinya sesaat telah berubah menjadi istri seseorang.


Karena, bagi Cinta sudah cukup Rio membantu dirinya dalam rencana yang ia buat sendiri itu. Cinta tidak ingin membuat Rio terlalu banyak berpikir atas perasaannya saat ini.


" Apakah, Mama juga merindukan Cinta,," Bilang Cinta yang bersedih sendiri di dalam hati.


" Cinta akan pulang Mama, jika Papa, tidak menginginkan perjanjian itu lagi terhadap Cinta,," Ucap Cinta lagi yang merasa cukup lama dirinya pergi dari rumah itu.


Padahal sebenarnya, Cinta baru pergi beberapa hari dari rumahnya, tapi, kenapa ia sangat merindukan kehangatan keluarganya itu, ia ingin sekali kembali lagi seperti dulu, saat dimana dirinya belum mengetahui bahwa Papanya telah melakukan perjanjian ini.


" Ini semua Cinta lakukan, demi kebaikan kita semua, supaya Papa sadar, tidak ada seorang putri yang mau dipaksa menikah dengan laki-laki seperti Romi, yang telah memiliki istri, tidak ada perempuan yang mau menjadi perebut suami orang dan kebahagiaan keluarganya." Ucap Cinta yang menangis sesenggukan sendiri saat ini.


Membuat Rio yang mendengarkan sesenggukan suara Cinta merasa bahwa Cinta bukannya tidur melainkan menangis. Dengan memelankan laju mobilnya, Rio memilih untuk mendengarkan suara Cinta itu, apakah menangis nyata atau menangis dalam mimpinya.


" Kenapa Dedek, sepertinya menangis bukannya tidur,," Pikir Rio saat mendengar suara tangisan Cinta yang tidak terlalu kuat itu.


Saat itu membuat Rio ingin memperjelas lagi apa yang didengarkannya itu lalu, dengan lembut Rio mendekatkan telinganya pada tubuh Cinta. Rio terperanjat saat terdengar bahwa benar Cinta memang menangis bukan dalam mimpi melainkan suara tangisan Cinta yang nyata. Rio merasa kasihan pada Cinta yang menangis sendiri seperti saat ini, tanpa menceritakan perasaannya pada Rio. Rio ingin sekali menggapai tubuh Cinta, tapi, Rio takut dan khawatir mengganggu perasaan Cinta yang sedang menangis ini.


Tapi, Walau bagaimanapun dia sekarang adalah suami Cinta, jadi sewajarnya apabila dirinya harus memenangkan Cinta dan mendengarkan cerita apa saja yang terjadi pada Cinta saat ini. Dengan perasaan berani dan rasa tidak bersalah, Rio segera menyentuh bahu Cinta dengan lembut dan menegurnya.


" Dek,, Dedek Kenapa,," Tanya Rio yang memastikan bahwa Cinta bukannya sedang tidur dan bermimpi melainkan menangisi suatu hal.


Cinta yang merasa bahwa Rio tahu kalau dirinya saat ini sedang menangis, kaget saat Rio memegang bahunya, lalu, menghapus air mata di wajahnya, setelah itu segera menoleh ke arah Rio dan segera memeluk Rio.


" Cinta kangen Mama, Kak,," Ucap Cinta yang langsung memeluk Rio dengan erat.


Rio yang kaget karena dipeluk oleh Cinta itu bingung mau melakukan apa pada Cinta saat ini, Rio merasa kasihan pada Cinta yang kabur dari rumahnya dan sekarang merindukan kehadiran Mamanya, Rio saat ini hanya bisa mengelus lembut rambut Cinta dengan tulus.


" Maafkan, Kakak, kalau Kakak nggak pernah mengerti keadaan dan perasaan, Dedek,," Ucap Rio yang masih mengelus lembut rambut Cinta.


Lalu, Cinta pun melepaskan pelukannya dan duduk menghadapi Rio. Dalam pikiran Cinta daripada dia sendiri yang harus menahan kerinduan ini pada Mamanya, lebih baik dia menceritakan keadaan sebenarnya pada Rio saat ini.


" Nggak apa-apa, Kak,, Cuma Cinta merasa rindu aja pada Mama,, Karena, selama ini Mama juga menyetujui tindakan Cinta ini." Ucap Cinta yang membuat Rio membelalakkan matanya.


Jadi, selama ini Nyonya Ranita juga menyetujui tindakan Cinta untuk kabur dari rumah, hal itu yang telah bergelayut dalam pikiran Rio saat ini. Dan, sekarang Cinta merasakan rindu kepada sosok Mamanya itu. Rio memaklumi bahwa apa yang dirasakan Cinta terhadap Mamanya karena ia merupakan seorang putri tunggal jadi wajar kalau dirinya merindukan Mamanya itu.


***