Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
90. S2 - Under the Bridge


Entah mengapa Ella merasa tak ingin menolak uluran tangan Roni padanya kali ini. Ella merasa ingin mencoba untuk menuruti nasehat Intan ataupun mamanya agar dapat membuka hatinya pada pria lain. Jujur saja dirinya juga sudah merasa lelah untuk terus menghindar dan menutup diri dari siapapun yang berusaha untuk mendekat dan masuk ke dalam kehidupannya.


Dan tentu saja sudah jelas Roni bukanlah kandidat yang buruk untuk menjadi pendamping bagi Ella. Roni malah sangat lebih dari cukup dan mumpuni untuk dapat menjadi seorang pasangan ideal bagi Ella.


Roni memiliki wajah yang ganteng, dengan kulit yang putih bersih, perawakan oke yang tinggi dan tegap. Pekerjaan dan carier Roni juga jelas, tinggal menunggu waktu saja sampai Roni menyelesaikan study-nya dan mendapatkan gelar sebagai spesialis Jantung dan pembuluh darah.


Diluar semua kelebihan fisiknya Roni juga sejauh ini bersikap dan memperlakukan Ella dengan sangat baik. Dan yang paling penting adalah Roni adalah teman seprofesi Ella, sebagai dokter dan lebih lagi sebagai sesama dokter spesialis. Hal ini berarti Roni sangat mengerti dan memahami akan passion serta dunia kedokteran yang selama ini digeluti, dijalani, diperjuangkan oleh Ella sampai saat ini.


Bahkan secara luas sudah banyak yang mengetahui kedekatan Ella dengan Roni. Baik rekan-rekan PPDS mereka, dosen dan mentor mereka, bahkan para perawat dan paramedis di seluruh rumah sakit. Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa Ella dan Roni sedang berada dalam suatu hubungan yang serius. Yah kesalah pahaman yang hampir sama seperti yang terjadi saat mereka berdua Intetenship di Genting setahun yang lalu.


Mungkin aku hanya perlu untuk sedikit mencoba menerima pria itu, menerima Roni untuk mengisi kekosongan didalam hatiku. Ella sudah berkali-kali mencoba untuk melupakan cinta, perhatian, waktu kebersamaan dan segalanya tentang hubungannya dengan Ardi selama satu tahun ini, tetapi nyatanya sangat sulit.


Seakan segala kenangan indah saat dirinya bersama dengan Ardi sudah terpahat dalam-dalam jauh di lubuk hatinya. Terpatri disana bagaikan sebuah prasasti batu suci yang akan kekal dan abadi disana. Membuatnya sangat sulit untuk dapat membuka kembali hatinya dan membiarkan pria lain untuk memasuki hatinya itu.


Bukan hanya Roni, dalam satu tahun ini tidak sedikit pria yang berusaha mendekati Ella. Baik para dokter sesama PPDS-nya yang satu prodi atau dari prodi lain. Bahkan ada juga para pria yang dikenalkan khusus oleh teman-teman, sahabat, bahkan oleh kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Seakan teman-teman, saudara dan kedua orang tuanya takut Ella tidak laku saja. Takut Ella menjadi perawan tua mungkin.


Tapi tetap saja Ella sendiri seakan sama sekali tak berminat untuk menjalin hubungan serta menorehkan kisah cinta yang lain di hatinya. Sosok Ardi yang begitu tampan, baik, perhatian. Ardi dengan segala kesempurnaannya masih saja selalu menghantui dirinya dan membuatnya tak dapat menerima pria lain selain dirinya. Seakan memberikan kutukan tersendiri agar Ella tak sanggup berpaling dari sosok pria itu.


Ella dan Roni duduk bersama berhadapan di kursi yang tepat bersebelahan dengan pagar kapal. Mereka berdua nongkrong di restoran yang ada di lantai paling atas kapal pesiar. Mengambil posisi yang sangat strategis untuk dapat melihat laut, memandangi pemandangan di sekitar serta menantikan tenggelamnya matahari di ufuk barat. Sambil menikmati hidangan makanan dan minuman ringan pesanan mereka. Dengan semilir angin laut yang berhembus kencang, menambah hangatnya suasana lautan di sore hari ini.


"Liat, El. Mataharinya sudah mulai tengelam, cantik banget." Roni menunjukkan langit di bagian barat. Ella memutar tubuhnya dibatas kursi, memperbaiki posisinya yang sejak tadi membelakangi arah tenggelamnya matahari. Seketika dapat dilihatnya sang matahari kemerahan yang akan segera tenggelam dan bersatu dengan lautan kembali ke peraduannya.


"Waaah beneran keren banget, Ron. Gak rugi deh kesini kalau bisa melihat pemandangan kayak gini. Makasih banyak ya Ron sudah membawaku kesini dan bisa melihat pemandangan indah kayak gini." Ella tak bisa berkedip memandangi keindahan alam di hadapannya. Tak lupa dia memakai kacamata hitamnya untuk melindungi kedua matanya dari sinar matahari yang sangat menyilaukan.


"Kalau kamu mau jalan-jalan kemana aja aku siap kok nganterin kamu, El. Aku bisa jadi sopir, jadi bodyguard kamu juga boleh hehe." Roni menawarkan diri.


"Jangan nyesel lho ya. Ntar sekalinya aku pengen kemana yang agak jauh kamunya sibuk. Kan residen bagian jantung dan pembuluh darah kayaknya sibuk banget." Ella mengingatkan Roni akan kesibukannya.


"Ya nanti bisa diatur lah...Emang kamu mau minta anterin kemana?" Roni penasaran.


"Kali aja lagi pengen jalan-jalan kemana gitu."


"Kemana?"


"Ke Papua hehe..."


"Pengen aja sekali-kali ikut misi kemanusiaan atau bakti sosial ke sana."


"Oh kamu pengen ikut acara yang ke Papua? Kan ada tahunan itu diadain sama kampus. Nanti ya kalau kita udah dapat sif jaga di Rumah Sakit. Biar bisa enak ngatur dan menyesuaikan tuker-tukeran jadwal jaganya." Roni menyanggupi dan menata jadwalnya.


"Beneran kamu mau nemenin?" Ella masih tak percaya Roni menyetujui permintaannya.


"Boleh. Nanti kita atur lagi jadwalnya."


"Janji lho ya." Ella kegirangan. Kalau ada Roni ikut juga pasti papanya akan memberinya ijin untuk ikut misi kemanusiaan dan bakti sosial ke Papua lain kali. Bagaimana pun papanya sudah kenal dengan Roni dan biasanya si tidak keberatan kalau dirinya pergi agak jauh selama bersama dengan Roni.


"Iya iya...Eh udah keliatan tu jembatannya..." Roni menunjukkan jembatan Suramadu yang semakin lama semakin mendekat.


"Wah itu jembatan yang kita lewatin tadi ya? Keren banget kalau dilihat dari jauh gini." Ella sekali lagi mendecakkan kekagumannya.


"El...Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu..." Roni tiba-tiba saja berbicara dengan wajah dan nada seriusnya.


"Mau ngomong apa under the bridge kayak gini? Sok-sokan romantis banget kamu, Ron." Ella mencoba menerka-nerka.


"Sudah setahun berlalu, El...Sudah setahun berlalu sejak kita selesai Interenship. Sudah setahun juga kita berdua menempuh pendidikan PPDS di kampus yang sama. Sudah setahun juga kamu berpisah dari Ardi Pradana..."


Roni menghentikan ucapannya sejenak, mengamati reaksi dan mimik wajah Ella dengan disebutnya nama Ardi. Nama yang seakan tabu untuk diucapkan di hadapan Ella dalam setahun belakangan ini. Roni dapat melihat ekspresi Ella sedikit berubah, wajah gadis itu terlihat sedikit muram dan mengerutkan dahinya demi mendengar nama Ardi Pradana disebut.


"El, sekali lagi aku katakan sama kamu...Aku sayang sama kamu, El. Aku cinta sama kamu. Kamu mau gak menjalin hubungan yang serius denganku?" Roni meraih jemari tangan Ella di atas meja, menggenggamnya dengan erat tapi lembut. Pria itu melanjutkan pernyataan cintanya.


Ella terdiam, tertegun untuk beberapa saat. Bingung, tak tahu bagaimana harus bereaksi dan menjawabnya. Dirinya sama sekali tak mengira Roni akan berani menyatakan perasaannya sekali lagi padanya. Padahal Ella mengira Roni sudah menganggapnya sebagai teman saja atau sahabat dekat sejak Ella menolaknya waktu itu.


Apalagi setelah Ella berpisah denga Ardi, Roni seolah selalu hadir dan siap sedia menemani serta menghiburnya disaat sedih. Tanpa sekalipun menunjukkan itikad lain yang tidak tulus serta perasaan sukanya padanya. Ella tak mengira kalau Roni masih menyimpan perasaan cinta padanya. Tak mengira Roni masih berharap pada Ella untuk dapat menerima dirinya, berharap Ella dapat menjalin hubungan asmara dengannya.


Memang benar sudah satu tahun berlalu sejak Ella memutuskan hubungan asmaranya dengan Ardi Pradana. Tapi bahkan selama itu, tak pernah sedetik pun Ella dapat melupakan Ardi. Sosok Ardi tak pernah menghilang dari lubuk hatinya. Sulit, sangat sulit untuk menghapuskan segala kenangan indah yang telah terpahat disana, kenangan manis yang telah Ardi berikan untuknya. Sulit bagi Ella untuk membuka hati dan menerima cinta dari pria yang lainnya.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼