
"Nanti kamu pulang sendiri saja ke Genting. Gak usah nganterin Ella. Ella biar nanti naik travel saja. Om sudah pesankan travel yang nganter Ella pulang ke Genting." Bowo akhirnya membuat keputusan.
"Pa, jangan kayak gitu...Kasian mas Ardi. Dia kan udah jauh-jauh kesini buat nganterin aku. Kalau kayak gini seakan gak ada gunanya donk usahanya. Dan kita seperti orang yang tidak tahu berterima kasih padanya." Ella memohon belas kasihan papanya, tak tega melihat Ardi yang harus pulang seorang diri ke Genting nantinya.
"Iya pa, tolong kasih mereka kesempatan lagi. Lagian di mobil kan mereka tidak bakal ngapa-ngapain. Yang satu paling cuma duduk dan sibuk nyetir. Yang satunya juga paling cuma duduk dan tidur sepanjang perjalanan." Lilik ikut membantu merayu suaminya itu. Terlalu kasihan membayangkan Ardi pulang sendirian dan seperti terusir seperti ini.
"Nanti jemputan travelmu jam empat tepat, El. Kamu siap-siap ya. Jangan terlambat." Bowo bersih keras. Dia beranjak dari kursinya mengakhiri persidangan siang ini. Berjalan santai meninggalkan meja makan ke arah kamar pribadinya sendiri.
Papa bahkan sudah memesan travel untukku? Ella benar-benar tak habis pikir. Sepertinya keputusan papanya untuk memisahkan dia dan mas Ardi selama perjalanan pulang sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat lagi. Seolah seluruh kepercayaan papanya pada Ardi sudah hancur lebur tak tersisa.
Lilik juga beranjak dari kursinya, mengikuti arah suaminya pergi. Mungkin mama Ella itu masih ingin berusaha untuk merayu suaminya agar mau memaafkan kedua anak muda itu. Memberi mereka kesempatan untuk memberbaiki dan menjaga sikap mereka dalam berhubungan antara pria dan wanita.
Ella memandang Ardi yang masih terduduk di kursi meja makan dengan wajah tertunduk dalam-dalam. Hatinya terasa hancur, hancur berkeping-keping karena kekeras-kepalahan papanya. Rasanya sakit sekali mendengar papanya tidak dapat mempercayai pria yang dicintainya. Apakah ini artinya papa juga tidak setuju aku bersama mas Ardi? Apakah papa tidak setuju mas Ardi sebagai calon suaminya?
Tidak-tidak kalau mengingat-ingat percakapan tadi papa malah nyuruh mas Ardi untuk cepat-cepat melamarnya kan? Berarti beliau bukannya tidak setuju. Beliau hanya tidak ingin dirinya digantungkan dengan status pacaran yang tidak jelas seperti sekarang. Beliau tidak rela anak gadis semata wayangnya berduaan dan dibawa kemana-mana oleh pria yang bahkan bukan apa-apanya, bukan muhrimnya.
"Mas...mas Ardi...Are you Ok?" Ella meraih jemari tangan Ardi yang menggenggam di atas meja. Diraih dan digenggamnya dengan erat jemari itu. Dingin sekali rasanya, ternyata dari tadi Ardi sangat gugup sampai bisa berkeringan dingin seperti itu.
"Hei...look at me, everything is gonna be Ok" Ella meraih wajah Ardi, mengusapnya perlahan. Mengarahkan arah pandangan Ardi yang sedari tadi tetap menunduk ke arah wajahnya sendiri. Dan Ella memberikan senyuman terindahnya pada pria itu untuk sedikit memberinya semangat.
(*Hei...liat aku, segalanya akan baik-baik saja)
"I'm fine...It's Ok honey," jawab Ardi pelan.
(*Aku baik-baik saja sayang).
Mereka berdua terdiam saja beberapa saat, saling berpandangan dan saling menguatkan. Dengan kedua tangan mereka masih bertautan, saling memberikan kehangatan satu sama lainnya.
"Kalau begitu sebaiknya aku pulang duluan saja." Ardi memutuskan. Pria itu kemudian beranjak dari duduknya di kursi meja makan. Meninggalkan meja makan ke arah kamar tamu tempatnya menginap. Ella juga mengikuti pria itu dari belakang dengan perlahan.
Di dalam kamar, Ella mendapati Ardi sedang mengemasi barang-barang bawaannya ke tas ranselnya. Ella hanya bisa melihatnya, tak tahu lagi harus berkata apa untuk dapat membantu meredakan perasaan Ardi yang pastinya sedang kacau. Bahkan mungkin hati pria itu juga sedang hacur berkeping-keping.
Tetapi tetap saja Ella merasa tak rela untuk melepas kepergian Ardi kali ini. Terlalu menyesakkan untuk membayangkan Ardi yang harus berjuang menyetir sendirian selama tujuh jam perjalanan. Menyetir dengan berbagai beban pikiran butek di dalam kepalanya. Terlalu beresiko, terlalu berbahaya baginya.
Ella menghampiri dan mendekati tubuh pria itu dan memeluknya dari belakang. Membuat wangi greens aroma khas tubuh Ardi langsung menyerbu indra penciumannya. Di lain pihak Ardi hanya diam saja tak bereaksi, masih memegang tas ranselnya.
"Jangan nyetir sendiri, kumohon. Aku khawatir terjadi sesuatu sama mas Ardi." Pinta Ella pada Ardi. Paling tidak Ardi harus tenang dulu sebelum menyetir jarak jauh begitu. Takutnya dia kehilangan konsentrasi nantinya yang bisa berakibat fatal.
"Ok, aku cari supir saja." Ardi melepaskan pelukan dan dekapan Ella dari tubuhnya dengan lembut. Takut ketahuan oleh kedua orang tua Ella yang mungkin tiba-tiba menghampiri mereka. Masak baru saja diperingatkan untuk menjaga jarak dan tak lama kemudian kepergok berpelukan. Kan tidak lucu...Ardi mengeluarkan ponselnya dari saku dan menelpon seseorang.
"Hallo, Cindy? Bisa carikan aku supir di Surabaya? Ke Genting. Gak papa. Aku cuma capek aja, gak bisa nyetir sendiri." Ternyata Ardi sedang menelpon Cindy sekertarisnya. Sekeretaris serba bisa yang selalu bisa dia andalkan dalam segala kondisi.
"Hmmm...Ok berarti aku jemput dia di bunderan waru ya? Atau kutunggu aja di Mc.Do Waru biar enak?"
"Ya, ya jam setengah dua udah disana ya. Ok thanx a lot. bye." Ardi menutup panggilan telponnya.
"Udah aman. Ada supir yang nanti gantiin aku nyetir ke Genting. Aku cuma perlu menyetir sampai waru aja kok." Ardi memberi laporan pada Ella.
"It's Ok, El. Jangan pasang wajah kayak gitu. Sedih aku ngeliatnya...Kamu nanti pulangnya juga ati-ati ya. Kasih kabar kalau mau berangkat dan udah sampai Genting." Ardi memaksakan sebuah senyuman manisnya untuk menenangkan Ella.
"Iya mas, akan kulakukan." Ella mengangguk mantap menyanggupi permintaan Ardi.
"Ayo anterin aku pamit ke ortumu." Ardi menenteng tas ransel yang telah selesai dipackingnya di pungung dan beranjak keluar kamar. Dengan berat hati Ella mengantar Ardi ke kamar orang tuanya, mengetuk pelan pintu kamar itu.
Tak lama kemudian kedua orang tua Ella keluar kamar. Ardi segera mencium tangan kedua orang tua Ella bergantian. "Makasih banget om, tante atas sambutannya tiga hari ini," ujar Ardi pamit pada kedua orang tua Ella.
"Hati-hati di jalan ya nak Ardi. Pelan-pelan saja nyetirnya jangan ngebut." Lilik menjawab sementara Bowo hanya diam saja melihat Ardi tanpa ekspresi, masih kesal mungkin.
Ella dan Ardi pun kemudian berlalu dari kamar itu. Menuju ke car port tempat mobil Ardi terparkir disana. "Aku pergi dulu ya, honey." Ardi menepuk lembut puncak kepala Ella sebagai ucapan pamitnya.
"Take care ya mas. Hati-hati di jalan," Ella mengangguk. Mengantarkan kepergian Ardi dengan senyuman yang dipaksakannya dan lambaian tangan ringan. Kenapa kayak gini? Kenapa bisa menyesakkan dan menyedihkan begini? Ella melihat mobil pajero sport hitam itu pergi meninggalkan rumahnya dengan hati pilu seolah teriris sembilu.
Setelah mengantar kepergian Ardi, Ella pun kembali ke kamarnya sendiri. Mengemasi segala barang-barang bawaannya yang akan dibawanya kembali ke kontrakan di Genting. Setelah menyelesaikan semua packingan di tasnya, Ella menghempaskan tubuhnya ke ke kasur. Terlentang memandang langit -langit kamar sambil menerawang jauh memikirkan peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi.
Tak lama kemudian Lilik, mama Ella menghampiri kamar putrinya itu. Langsung masuk dan duduk di pinggiran ranjangnya, menghampiri Ella. "El, Ardi udah pulang?" tanya beliau.
"Udah, ma." Ella beranjak bangkit dari posisi terlengtangnya di kasur, berganti menjadi posisi duduk tegak untuk memudahkan berbicara dengan mamanya. "Papa jahat banget tadi. Kasian mas Ardi..."
"Kamu belum tahu saja rasanya jadi orang tua. Papamu itu cuma khawatir akan keadaan kamu. Gak ada pikiran lain dalam pikiran papa dan mama ini selain untuk kebahagiaan kamu, El." Lilik memulai pembicaraan serius.
"Iya aku tahu...Aku tahu kami salah, tapi kan kami sudah berkali-kali minta maaf. Kok papa tega banget ngusir mas Ardi secara tidak langsung kayak gitu." Ella memprotes.
"Karena papamu merasa kepercayaannya sudah dikhianati. Untuk mengijinkan kamu nonton sampai jam dua belas malam dengan seorang pria asing saja sudah membuat beliau ketar-ketir. Eh kalian malah seenaknya menghilang tanpa kabar sampai diri hari kayak gitu. Kalian gak mikir apa gimana khawatirnya kami yang di rumah?"
"Maaf ya, ma..." Ella tahu kedua orang tuanya pasti sangat mengkhawatirkannya kemarin.
"Sebenarnya kami bukannya tidak suka dengan nak Ardi. Dia itu anak yang baik, sopan dan ramah. Bahkan dengan kedudukan dan kekayaan yang dimilikinya dia masih terlihat santun dalam memperlakukan kamu dan kami sebagi orang yang lebih tua. Yah seandainya saja dia bukan putra konglomerat kaya gitu mungkin jalan kalian akan lebih mudah untuk dilalui."
"Mama benar, kadang Ella juga merasa bahwa jalan yang harus kami lewati terlalu terjal dan berat..." Ella ikut menumpahkan kegaluannya.
"Coba sekali-kali kamu tanyakan pada dirimu sendiri, El. Apakah Ardi memang layak untuk kau perjuangkan? Apakah dia cukup baik untuk menjadi pendamping kelak. Menikah itu bukan sehari dua hari. Kalau bisa ya untuk selamanya. Kira-kira kamu bisa tahan dengan gaya hidupnya yang kayak gitu? Gaya hidup mereka tentunya sangat berbeda dengan kita kan?"
"Ella tahu bagaimana kehidupan mas Ardi dan teman-temannya, ma. Mereka itu walaupun dari luar terlihat sangat kuat dan tak tergoyahkan tapi aslinya mereka sama saja seperti kita. Mereka juga sama punya masalahnya masing-masing. Dalam bergaul dan berteman juga mereka tak ada bedanya dengan kita. Yang membedakan mungkin hanya cara pandang mereka terhadap uang."
"Terus setelah ini kamu mau gimana? Mau memaksa Ardi untuk meminta restu pada orang tuanya? Atau kamu mau melepaskan saja profesimu untuk mendapatkan restu mereka?" Lilik kembali mengakat masalah utama yang menjadi kendala hubungan Ella dan Ardi selama ini.
"Tunggu Ella menyelesaikan interenship, tunggu pengumuman PPDS keluar. Barulah aku dapat memikirkan lagi apa yang ingin dan harus aku perbuat, ma." Ella kembali menunda untuk membuka bom waktu mereka.
"Cuma satu yang mama pesen. Kamu tetep harus memikirkan dirimu sendiri dahulu sebagai prioritas. Kamu harus bahagia intinya. Tak usah mikir apa-apa lakukan apa saja yang membuat kamu senang dan bahagia. Mama dan papa akan selalu mensuport kamu. Mama dan papa tak ingin apa-apa lagi selain kebahagian kamu, El."
Ella benar-benar terharu biru dengan perkataan mamanya kali ini. Dipeluknya tubuh mamanya itu dengan sangat erat, penuh kasih sayang. "Aku sayang mama, aku sayang papa dan tentu saja aku juga sayang diriku sendiri." Ujar Ella sambil bermanja-manja di pelukan mamanya.
"Benar. Gak usah dengerin apa kata orang tentang kamu. Yang penting dirimu sendiri merasa nyaman dan bahagia saja sudah cukup. Karena yang akan menjalani kehidupanmu adalah kamu sendiri, bukan orang lain yang cuma bisa mencibir dan mengkritik dirimu."
__________________________________
Marriage Quote
A great marriages isn't something that just happens, It's something that must be created _ Fawn Weaver
(*Pernikahan yang hebat bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja, tetapi adalah sesuatu yang harus diciptakan)
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼