
Mahes mengakhiri panggilan telponnya dengan Roni. Makin cemas dan khawatir saja dengan keadaan Sari, adiknya. Masih perlukah pura-pura tidak tahu? Masih perlukah menunggu Sari sendiri yang bercerita sendiri masalahnya dengan Jun? Kalau keadaan sudah seperti ini sepertinya dirinya harus bertindak dan menjemput adiknya itu.
Mahes segera menelpon Indra, asisten sekaligus sekretaris pribadinya untuk mengurusi segalanya menggantikan dirinya. Mengurus keperluan dan kepentingan di Banyu Harum selama beberapa hari. Selama dirinya pergi ke Surabaya atau mungkin sampai Jogja juga. Indra yang sudah terbiasa dengan tugas ini hanya menyanggupi saja sebagai jawaban pada bosnya.
Selanjutnya Mahes mengambil kopernya dan mengemasi beberapa baju dan barang-barangnya ke dalam koper. Paling tidak harus ke Surabaya dulu untuk mengurusi hal-hal yang terbengkalai dan ditinggalkan Sari selama beberapa hari ini. Urusan rumah sakit bahkan perusahaan farmasi di Bisnis Park. Sudah begitu belum jelas lagi sampai kapan Sari akan pulang dari Jogja.
Laras memasuki kamar untuk memanggil suaminya turun ke bawah. Mamanya sudah mengkode untuk segera memanggil Mahes ke bawah. Untuk ikut menemui tamu yang kebetulan berkunjung ke rumah mereka hari ini. Mungkin papa dan mamanya ingin Mahes ikut berdiskusi dan mengikuti percakapan mereka. Membantu kalau harus membuat keputusan mendadak.
Sengaja Laras tidak menyuruh pembantu untuk memanggil suaminya itu, karena Laras merasakan ada suatu yang aneh. Sudah terlalu lama Mahes di dalam kamar, tadi katanya cuma mau menelpon klien kok gak turun-turun juga sampai sekarang? Padahal biasanya suaminya itu tak akan keberatan untuk beramah tamah sebentar sebelum acara makan siang dengan kedua orang tuanya.
Dan betapa kagetnya Laras saat mendapati Mahes sedang mengemasi pakaian dan barang-barangnya kedalam koper. Mau kemana? Kenapa mendadak sekali mau pergi? Ada masalah apa ini sebenarnya? Mau tak mau Laras menjadi tidak tenang juga melihat peragai suaminya yang seperti sedang cemas dan gelisah itu.
"Mas? Mas Mahes mau kemana?" Laras menghampiri Mahes yang masih berbenah.
"Mau ke Surabaya, Yang." Jawab Mahes singkat.
"Kenapa? Kenapa mendadak sekali?"
"Ada urusan penting yang harus ditangani."
"Urusan apa? Kenapa belakangan ini kamu seperti menyembunyikan sesuatu dari aku?" Laras bertanya curiga. Tak biasanya Mahes menyembunyikan sesuatu darinya. Sebagai wanita tentu saja ada rasa tidak tenang kalau-kalau...
"Sari ada keperluan ke Jogja selama beberapa hari. Aku yang gantiin dia ngurusin kerjaan di Surabaya. Kan belum stabil yang disana belum bisa ditinggal."
"Alaaah, malah Sari yang dijadikan alasan."
"Sayang, kamu mikir apa si?" Mahes menutup koper yang telah selesai dikemasnya. Beralih dari kesibukannya untuk menatap wajah cantik istrinya.
"Mas Mahes udah main rahasia-rahasiaan sekarang. Udah bosen ya sama aku? Udah nemu yang lebih cantik dari aku?" Laras memasang muka ngambek.
"Lebih cantik dari kamu? Wah susah tu nyarinya. Apalagi kalau yang lebih cerewet dari kamu? Gak bakal ada hahaha." Mahes malah menggodanya sebagai balasan dari omelan istrinya.
Membuat Laras mau tak mau luluh juga. Memang susah untuk ngambek terlalu lama menghadapi kesabaran dan kedewasaan Mahes ini.
"Huuuuuh dasar, kalau yang lebih ganas dari aku ada gak?" Laras balas menggoda dengan mengalungkan kedua lengannya di leher Mahes. Mendongakkan wajahnya, seolah menyodorkan bibir ranumnya yang merekah dalam sapuan warna merah merona. Menantang!
Siapa yang sanggup menolak coba godaan duniawi seperti ini? Mahes sebagai pria normal juga pasti tergoda. Mahes tentu saja tak mau kalah, tak ingin menyia-nyiakan bibir indah merekah yang disodorkan padanya. Langsung disambutnya bibir merah membara itu, dicium dan dinikmatinya sesuatu yang manis dan memabukkan itu.
Cukup lama keduanya berbagi kecupan, beradu lidah dan bertukar saliva, saling menikmati cumbuan yang semakin memabukkan dan membuat jiwa melayang.
"Laras, Mahes! Kok lama bener si gak turun-turun!" Teriakan Kartika seketika menyadarkan keduanya untuk mengakhiri percumbuan mereka. Menata napas mereka yang hampir habis dan dada yang berdebar kencang. Menata aliran gairah yang melanda isi kepala untuk sesaat tadi.
"Duh...Mama bisa banget si milih waktunya..." Mahes menggerutu sebal. Memang nyatanya sudah berkali-kali Kartika merusak 'kesenangan pribadi dirinya dan Laras'. Seakan gak ada ketenangan saja di kediaman Pradana ini, susah banget buat cari waktu untuk bersenang-senang dengan istrinya.
Keduanya insan yang setengah mabuk itu, buru-buru melepaskan diri dan menjauhkan tubuh satu sama lain sebelum sang mama mengecek apa yang mereka lakukan di dalam kamar berduaan.
Laras pun beranjak ke arah wastafle kamar mandi untuk merapikan lipstik di bibirnya yang berantakan akibat ulah ganas seseorang. Sementara Mahes juga mengusap bibirnya sendiri dengan telapak tanganya. Jaga-jaga kalau ada warna lipstik yang menempel di sana.
Dan benar saja, tak lama kemudian Kartika muncul di dalam kamar sambil menggendong Rangga. Sedikit heran juga mendapati Mahes dengan kopernya yang sudah siap diatas kasur dan Laras tidak ada di sampingnya. Apa Mahes berencana pergi ke suatu tempat? Apa mereka bertengkar? Masa iya si Mahes bisa ngambek terus mau kabur dari rumah? Gak mungkin kan?
"Kamu mau kemana, Hes? Gak mau minggat dari rumah kan?" Kartika bertanya terang-terangan.
"Haaaaah? Kabur dari rumah gimana ma?" Mahes yang ditanya makin kebingungan.
"Ya kali aja kamu gak kuat ngadepin Laras yang cerewet dan galak."
"Eh enak aja! Mama ini ngomong apaan si? Pamali tahu ngomong kayak gitu? Apalagi ada Rangga yang dengerin. Gimana kalau dia bersedih ngirain mama dan papanya lagi bertengkar beneran?" Laras yang mendengar ucapan Kartika langsung keluar dari walk in closet-nya. Nyerocos memprotes ucapan mamanya yang sedikit keterlaluan.
"Ya makanya kamu itu jadi istri jangan terlalu galak. Kasian Mahes makan hati terus."
"Hehehe udah kebal kok ma. Oh iya, ada perlu apa sampai manggil saya ke sini?" Mahes mengalihkan pembicaraan absurb kedua ibu dan anak itu.
"Itu ada tamu. Om Pramono dan Tante Rahayu Sampoerna. Kamu temenin papa menjamu mereka ya. Takutnya nanti ada sesuatu yang perlu diputuskan." Kartika menceritakan tujuannya.
"Baik ma, saya turun dulu." Mahes menurut saja beranjak ke lantai bawah, ke ruang tamu. Dalam hati merasa sangat penasaran juga. Ngapain tuan dan nyonya besar Sampoerna Group sampai jauh-jauh datang ke Banyu Harum dari Kedori. Kalau urusan bisnis kan bisa aja nyuruh orang langsung ke kantor. Eh ini kok sengaja ke kediaman pribadi begini?
"Selamat siang," Mahes menyapa begitu sampai di ruang tamu. Menghampiri dan menyalami tamunya satu persatu sebelum mengambil duduk di sofa sebelah papanya.
"Perkenalkan ini menantu saya Maheswara Hartanto. Putranya Gatot dan Tina Hartanto." Erwin mengenalkan Mahes pada kedua tamunya. Mahes tersenyum dan mengangguk sopan sebagai tanda perkenalan mereka.
"Oh Hartanto Group yang menguasai dunia medis ya?" Pramono mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Eh ayo monggo unjukkannya disambi, jangan sungkan-sungkan lho. Papa ini gimana tamunya kok diajak ngobrol melulu ndak ditawari unjukkan." Kartika kembali bergabung di ruang tamu dan mengambil duduk di sofa yang sama dengan suaminya. Rangga sudah dikembalikan dan diungsikan kepada emaknya.
"Nggak repot kok. Monggo dicobain itu teh favorit saya dan suami kalau buat evening tea. Semoga sesuai dengan selera anda berdua," ujar Kartika
"Hmmmm wangi sekali. Teh dari Inggris ya?" Rahayu penasaran dengan nama dari teh nikmat pilihan Kartika. Mengangguk puas dengan selera Nyonya Pradana yang high class ini.
"Ronnefeldt. Dari Jerman si asalnya. Teh dengan warna cerah yang bisa membuat suasana hati menjadi hangat. Tapi sekarang gak usah jauh-jauh ke Jerman belinya. Buttler kami biasa pesen di Rotz Carlton hotel di Bali." Kartika menjelaskan asal muasal teh favoritnya itu.
"Bisa direkomendasikan ya nanti, jeng Kartika." Rahayu kegirangan mendengar jawaban Kartika.
Senang menemukan Nyonya yang standart serta hal yang disukainya hampir mirip dengannya. Mulai dari cara berpakaian Kartika sampai penataan dan dekorasi rumahnya sangat cocok dengan selera Rahayu. Selera high class nyonya besar tentunya.
"Waduh nemu temen yang sefaham ini kayaknya mama hehe." Pramono mengomentari.
"Iya ini cocok kayaknya istri-istri kita." Erwin ikut menimpali. Jarang-jarang melihat istrinya bisa cocok dengan orang lain. Kayaknya sesama emak-emak rempong ini berdua.
"Nah saking cocoknya gimana kalau kita besanan aja jeng?" Rahayu tiba-tiba menyeletuk. Membuat Kartika, Erwin dan Mahes kaget mendengarnya.
"Besanan? Maksudnya mau jodohin anak-anak kita?" Kartika memastikan perkataan Rahayu.
"Iya, Jeng. Saya punya anak perempuan namanya Praditha baru lulus kuliah di Australia. Bisa tu diatur perjodohan dengan tuan muda Pradana." Rahayu menjelaskan maksud hatinya. Padahal memang tujuannya datang jauh-jauh ke Banyu Harum ini memang untuk urusan ini.
Rahayu sampai heran sama Ditha putrinya itu. Bisa-bisanya jatuh cinta dan minta dijodohin dengan tuan muda Pradana. Tumben-tumbennya kan anak muda jaman sekarang tertarik dengan perjodohan. Tapi mengingat keluarga yang diinginkannya adalah keluarga Pradana yang terhormat, maka Rahayu dan suaminya tidak keberatan juga.
Daripada putri mereka merengek terus minta dijodohin. Kayaknya sudah beneran suka deh sama tuan muda Pradana ini. Sampai-sampai Rahayu jadi penasaran seperti apa pria yang bisa membuat putri tomboy-nya jatuh cinta begini.
"Tapi putra kami ada dua orang. Mau dijodohkan dengan yang mana?" Erwin ikut kebingungan.
"Lho yang mana ya pa?" Rahayu balik bertanya pada suaminya. Duh Ditha gak bilang kalau keluarga Pradana ini memiliki dua orang tuan muda.
"Ya mana aku tahu." Pramono menjawab.
"Tapi Ardi sudah punya calon. Bagaimana kalau adiknya saja? Linggarjati?" Kartika menawarkan.
Merasa sayang kalau gak jadi perjodohan ini. Karena pastinya akan sangat menguntungkan bagi kedua grup raksasa mereka untuk bergabung nantinya. Yah tapi balik ke anak-anak lagi si. Kartika masih trauma dengan kisah cinta Ardi. Tak ingin Linggar juga berakhir mengenaskan seperti kakaknya itu.
"Kalau boleh bertanya Praditha ini usianya berapa?" Mahes ikut menengahi karena sepertinya semua masih bingung untuk memutuskan.
"Tahun ini 21 tahun." Rahayu menjawab.
"Sepantaran dengan Linggar berarti. Linggar juga baru saja lulus kuliah di fakultas management UNER. Kalau Ardi sudah 30 tahun usianya, seusia saya dan Prasetyo putra kalian. Saya rasa Ardi terlalu dewasa untuk Ditha." Mahes memberikan pendapatnya.
Mahes tahu benar sebenarnya siapa yang disukai Ditha dari pesta pembukaan bisnis park waktu itu. Tapi Mahes juga tahu benar Ardi masih mencintai Ella. Dan kalau mendengar cerita Laras, sepertinya Ardi berencana kembali merebut Ella ke sisinya. Gak mungkin kan untuk menyodorkan Ardi pada Ditha?
Tapi Mahes juga tidak mengira Ditha seagresif dan seberani ini. Dia sampai berani meminta kedua orang tuanya untuk langsung bertindak. Benar-benar gadis yang cerdas dan penuh strategi. Cocok sebagai pemimpin perusahaan dan sultanwati.
"Hmmm bener juga ma, ketuaan kalau sepantaran Tyo." Pramono menyetujui.
"Lagian mereka kan masih 21 tahun gak mungkin mau menikah semuda itu kan? Kayaknya bakal jadi long engagement relationship nantinya. Sampai keduanya benar-benar siap menikah." Mahes kembali memberikan alibinya.
"Bener banget, jeng. Sementara untuk Ardi sudah kebelet nikah kayaknya hehe. Dan dia juga sudah punya calon sendiri." Kartika ikut menambahkan.
"Iya juga ya, si Ditha juga kayaknya belum siap untuk nikah. Gimana pa? Jadi nggak ini?" Rahayu memastikan kembali pada suaminya.
"Apa gak ditanyain anak-anaknya dulu? Mau apa nggak?" Pramono mengingatkan.
"Benar sekali. Sekarang sudah jaman modern bukan jaman Siti Nurbaya lagi. Udah gak musim perjodohan paksa. Kalau perjodohan sama-sama suka si gak pa-pa." Erwin ikutan menambahkan. Dan semua yang hadir mengangguk-anggukkan kepalanya tanda menyetujui.
"Kalau begitu kita atur saja pertemuan mereka. Seperti blind date, kalau keduanya setuju bisa lanjut kalau mau konferensi pers atau pesta besar-besaran." Mahes memberikan sarannya.
"Iya, ide bagus itu. Kalau bisa secepatnya saja. Di Surabaya enaknya acaranya." Rahayu menyetujui usulan Mahes.
"Bagaimana kalau next week end? Cukup kan persiapan seminggu?" Kartika menawarkan. Kesempatan ini bisa ke Surabaya, sekalian bisa untuk menemui Ella juga.
"Boleh-boleh..." semua yang hadir menyetujui. Persetujuan tanpa melibatkan kedua calon mempelai.
Pada saat yang sama di tempat lain, baik Linggar dan Ditha bersin-bersin tanpa sebab yang jelas.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼