
Keesokan harinya Ardi dan Ella berangkat ke Surabaya dari kontrakan Ella tepat pukul 13.00 siang. Tak lupa mereka mampir dulu ke toserba dua puluh empat jam untuk membeli perbekalan perjalanan mereka. Dan seperti biasanya Ardi akan mengambil sekantong plastik penuh perbekalan untuk mereka berdua. Berbagai macam roti, snack, kacang-kacangan, minuman vitamin c, isotonic, susu, tisue, sampai air mineral lengkap semua ada. Sudah hampir mirip perbekalan piknik anak SD rasanya hehe.
"Jangan lupa obat anti maboknya diminum." Ardi mengingatkan Ella sambil terus menyetir mobilnya membelah aspal. Mumpung perjalanan mereka baru satu jam, mumpung Ella belum keburu mabuk. Sekuat-kuatnya orang tahan mabuk, biasanya pasti merasa gak nyaman juga kalau harus berkendara selama tujuh jam.
"Ok siap boz," jawab Ella sambil terus menggigit dan mengunyah rotinya sobek rasa keju di tangannya. Masih saja sibuk berkutat dengan buku tebal dihadapannya.
"Ok tapi gak dilakuin. Kebiasaan kamu banget itu," ujar Ardi terdengar dongkol.
"Iya, iya mas Ardi sayangku, cintaku yang paling ganteng dan keren sejagat raya." Ella akhirnya menyerah, menutup bukunya dan mengambil obat anti mabuk dan air mineral dari kantong plastiknya. Meminumnya dengan bantuan air mineral tadi.
"Apaan sih! Lebai banget!" Wajah Ardi terlihat bersemu merah malu-malu mendengar ucapan Ella yang lebai. Lebai sih tapi aku suka banget dengernya, batin Ardi kegirangan.
"Tapi kalau abis minum obat kan bawaanmya ngantuk. Ntar gak bisa gantian nyetir."
"Yaudah tidur aja kalau ngantuk. Siapa juga yang minta digantiin?"
"Beneran lho ya? tak tinggal tidur. Awas kalau mas Ardi berani aneh-aneh." Ella kepikiran ucapan Ardi kapan hari yang akan bangunin dia dengan ciuman.
"Aneh-aneh apa? Wake up kiss?" Goda Ardi.
"Tu...kan. Udah mikir aneh-aneh." Wajah Ella langsung memerah. Ardi tertawa geli mendengar dan melihat reaksi malu-malu Ella. Aduh ini cewek lugu banget, kayaknya belum pernah ciuman sebelumnya. Yes berarti ciuman pertamanya punyaku hehe.
"Semua cowok itu mesum, El. Tapi tenang aja aku tahu batasanku kok. Dan aku juga gak bakal maksain kamu melewati batas itu." Ardi juga ikut memerah wajahnya. Dia cuma ingin meyakinkan pada Ella bahwa seorang pria pasti tak akan memaksakan batasan pada wanita yang dicintainya.
"Iya, aku juga tahu kok tentang kebiasaan biologis laki-laki. Tapi kan kita udah sama-sama dewasa. Udah bisa jaga diri, kita harusnya bisa menjalani pacaran yang sehat."
"Emang pacaran kita gak sehat?" tanya Ardi penasaran tentang pandangan Ella tentang hubungan percintaan mereka berdua.
"Sejauh ini si sehat." Ella sedikit merenung.
"Gimana gak sehat wong kamu makan mulu kerjanya hahaha" Celetuk Ardi sambil tertawa ngakak tanpa ditahan-tahan lagi.
"Aku gemukan ya mas?" Tanya Ella tiba-tiba.
Duh ini pertanyaan yang paling susah dijawab ni, batin Ardi. Dijawab jujur salah dijawab boong juga pasti salah. "Sama aja kayaknya. cuman pipinya nambah gembil. Jadi gemes pingin nyium pipinya terus hehe"
"Nah lo, nah lo bahaya ni mas Ardi lagi tinggi kayaknya" Ujar Ella panik dengan muka merah padam. Cepat-cepat ditutupnya wajahnya, menutup pipi gembilnya yang terasa sangat panas dengan kedua telapak tangannya.
"Hahahahaha kamu lucu banget si. Aduh jadi makin gemes kan." Sekali lagi Ardi menertawai Ella. Ella sendiri memasang muka yang manyun saking keselnya.
"Dah aku mau tidur aja deh. Bangunin kalau sidah sampai." Ella memundurkan kursinya, menidurkan sandarannya dan mulai menata posisinya senyaman mungkin. Diambilnya selimut dan bantal sapi dari jok belakang juga untuk menambah kenyamanan tidurnya.
"Widih beneran siap tempur pergi ke negeri mimpi tu kayaknya." Ardi tersenyum melihat persiapan tidur Ella yang komplit.
"Totalitas mas. Ini namanya totalitas hehe" Ella menarik selimutnya sampai ke batas leher. Merapatkan dengan tubuhnya, memberi kenyamanan ekstra.
"Sleep tight, honey." Ardi membelai dahi dan rambut Ella dengan sebelah tangannya. Ella hanya senyum-senyum aja kegirangan dielus-elus oleh Ardi kayak gitu. Dan Tidak lama gadis itu pun sudah terlelap pergi ke negeri mimpi. Tinggallah Ardi sendirian yang harus berjuang menyetir dalam waktu yang lama. Melawan rasa ngantuk, lelah dan penat. Hanya ditemani cemilan dan permen untuk meredakan rasa ngantuknya.
(*Tidur yang nyenyak, sanyang)
Kalau ngeliat Ella tidur pulas kayak gitu mana tega coba buat bangunin. Yang ada Ardi terpaksa mampir ke indom*ret untuk membeli secangkir kopi kalau rasa kantuknya sudah tak tertahankan lagi. Atau sekedar mampir ke rest area waktu ngisi bensin. Yang penting tidak menggangu si putri tidur hehe.
"El, Ella sayang. Bangun donk." Ardi menepuk-nepuk pipi Ella ringan. Ella kaget dan langsung terbangun, mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ini lewat mana kalau mau kerumahmu?" Ardi lanjut bertanya saat Ella sudah sadar sepenuhnya.
"Sebelum Roy*al plasa belok kiri mas." Ella membuka ponselnya dan mengaktifkan google map penunjuk jalan ke rumahnya buat Ardi. Biar diarahin mbak google aja yang lebih jelas. Dan akhirnya sekitar jam delapan malam mereka sampailah di rumah Ella dengan selamat sentosa.
Kedua orang tua Ella segera menyambut mereka berdua dengan suka cita. Langsung mempersilahkan mereka masuk dan menyuguhkan makan malam. Ardi merasa senang sekali dengan sambutan hangat keluarga Ella ini. Sedikit merasa bersalah juga pada Ella yang mendapatkan sambutan tidak menyenangkan dari mamanya waktu berkunjung ke Banyu Harum. Rasanya tidak adil kalau dirinya diperlakukan sebaik ini sementara Ella diperlakukan seperti itu.
"Kok nak Ardi sendiri yang nganterin Ella? kirain Ella dianter Pak Hasan lagi." Ujar Lilik berbasa-basi pada Ardi setelah mereka menyelesaikan prosesi makan malamnya.
"Pas kebetulan longgar jadwalnya, te." Ardi menjawab dengan ramah.
"Kan lagi week end ma. Kantor kan libur kalau akhir minggu." Ella membantu menjelaskan.
"Gak apa-apa, om. Mumpung jadwalnya pas saya longgar aja kok." Ujar Ardi sama sekali tidak keberatan. "Oiya udah malam ini saya pamit dulu ya, mau cari hotel buat istirahat." Ardi pamit mohon diri karena sudah malam dan dirinya merasa sangat lelah setelah nyetir maraton tujuh jam tadi.
"Lho ngapain cari hotel? Tidur sini aja." Mama Ella menawarkan. "Gak apa-apa kan pa? toh kita ada kamar tamu yang kosong?" Lilik kembali meminta persetujuan suaminya.
"Iya gak masalah. Toh masih ada kita berdua, jadi kalian gak mungkin ngapa-ngapain kan?" Bowo pun tidak keberatan Ardi menginap di rumah mereka. Yah anggap aja tamu, masak Hasan drivernya boleh nginep. Eh malah si Ardi yang pacar anaknya gak boleh?
"Wah nanti saya ngerepotin ini." Ardi benar-benar merasa sungkan dan tidak enak.
"Udah gak usah sungkan. El, anterin nak Ardi ke kamar tamu donk. Suruh istirahat." Lilik memerintahkan Ella mengantar Ardi.
"Lewat sini mas," Ella mengajak Ardi melewati ruang tengah dan berjalan ke sayap kiri bangunan rumah. Ella membuka sebuah kamar yang tepat berhadapan dengan kamarnya sendiri. "Oiya barang-barang mas Ardi di mobil tadi turunin aja taroh sini."
"Iya aku mau sekalian mandi dan ganti baju dulu abis ini." Ardi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Rasanya nyaman sekali akhirnya bisa meletakkan punggungnya ke kasur.
"Sini kunci mobilnya, biar aku yang ambilin aja barangnya." Ujar Ella tak tega melihat Ardi yang sepertinya sudah kelelahan. Melihatnya yang sepertinya sudah nyaman tiduran di kasur. Merasa bersalah karena dirinya yang keterusan molor dan gak sempet gantiin nyetir sama sekali tadi.
Ardi segera mengambil kunci mobil dari saku celananya dan menyerahkan pada Ella. Kemudian dia memejamkan matanya sejenak menikmatin nyamannya rasa kasur. Tak lama kemudian Ella kembali lagi membawakan tas ransel Ardi, tas plastik perbekalan mereka, serta sehelai handuk bersih untuk Ardi.
"Mas, mandi dulu. Abis itu baru istirahat biar nyenyak tidurnya." Ella membangunkan Ardi.
Ardi menggeliat, meregangkan tubuhnya yang terasa kaku sebelum bangkit dan terduduk di ranjang. Diambilnya handuk yang disodorkan Ella lalu dia beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dan mengembalikan kesegaran tubuhnya. Serta menghilangkan sebagian penat dan lelahnya.
Ella pun beranjak ke kamarnya sendiri. Mandi, membersihkan diri dan berganti pakaian pula. Kemudian dia kembali ke kamar Ardi yang tidak dikunci. Didapatinya Ardi juga sudah terlihat segar dan wangi karena habis mandi. Pria itu sedang mengetik sesuatu di ponselnya dengan serius.
"Kamu mau begadang malam ini?" Ardi bertanya pada Ella saat menyadari kehadiran gadis itu di kamarnya.
"Iya, kayak biasanya. Maklum aku kan penganut faham SKS (Sistem Kebut Semalam)," jawab Ella. "Emangnya kenapa?" Dia kembali bertanya.
"Kayaknya aku gak kuat buat nemenin kamu. Maap ya, aku capek banget."
"Mas Ardi istirahat aja deh. Besok kan masih harus jadi supir lagi?" Ujar Ella pengertian.
"Kamu gak apa-apa? Gak ngantuk belajar sendirian?" Ardi masih khawatir.
"Udah biasa kok. Dulu sebelum kenal mas Ardi juga selalu begadang sendirian kalau mau ujian." Ella mengarahkan Ardi untuk duduk di ranjangnya.
"Udah tidur duluan sana. Makasih ya buat hari ini." Entah setan mana yang merasuki Ella tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya ke wajah Ardi yang wangi beraroma sabun, dan tanpa sadar dia sudah mendaratkan ciuman ringan di pipi Ardi. Kemudian seolah tersadar dari mimpinya, cepat-cepat Ella menarik tubuhnya menjauh dan segera berlalu dari Ardi. Berusaha kabur dari kamar tamu itu.
"Eh?..." Ardi bengong, kaget untuk beberapa saat. Bingung dengan tindakan Ella yang begitu tiba-tiba. "Untuk apa itu?"
"Ucapan terima kasih," ujar Ella membalikkan badan setelah sampai di daun pintu.
"Ulang dong. Tadi belum siap, gak kerasa hehe." Protes Ardi ketagihan dengan kejutan yang diberikan Ella padanya.
"Enak aja!" Ella menolak. "Yaudah met bobok ya Mas Ardi," ujar Ella cepat-cepat menutup pintu kamar tamu itu. "Sleep tight!"
Ella cepat-cepat kembali ke kamarnya dengan jantungnya yang masih berdetak tak karuan dan wajahnya yang terasa sangat panas. 'Gila! Aku pasti sudah gila! Apa yang sudah aku lakukan tadi? Aaarrrgghhh!' Ella berteriak-teriak frustasi di dalam hatinya sendiri. Abisnya-abisnya mas Ardi ganteng dan seger banget tadi kelihatannya...kan jadi pengen nyium. Doh kenapa aku yang jadi mesum gini...enyahlah kau pikiran kotor!
Ella beranjak ke meja belajarnya, menata buku-buku yang akan dibacanya dan mulai dibacanya satu persatu buku diktat yang rata-rata tebalnya sepuluh centi meter itu.
Berusaha membaca buku, tetapi yang ada di kepalanya malah wajah Ardi dan aroma sabun yang segar. Wajah Ardi yang tampan, dirinya yang tiba-tiba mencium pria itu... Aaaarrghh! Kenapa denganku? Sepertinya aku ketularan gila dan mesummnya mas Ardi.
Ella keluar kamarnya, beranjak ke bagian dapur. Merebus air dan membuat kopi hitam three in one. "Kayaknya kurang ngopi ni makamya otakku error" gerutu Ella sambil menyeduh kopinya. Begitu kopinya siap, Ella pun kembali ke kamarnya. Duduk di meja belajar dan melanjutkan ritual belajarnya.
Setelah beberapa menit membaca buku-buku super tebal itu, akhirnya Ella dapat menghilangkan bayangan wajah dan aroma Ardi dari otaknya. Ella mulai bisa berkonsentrasi penuh untuk membaca buku-bukunya dan menghapalkan apa saja yang tertulis disana. Malam masih panjang, waktunya aku berjuang sekarang! Semangat! Ella menyemangati dirinya sendiri untuk belajar dengan giat.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak ya, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼