Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
32. Hadiah


Ella dan Ardi memasuki toko Elizab*th itu. Mereka berjalan beriringan mengelilingi lantai satu toko. Berputar putar di bagian tas wanita. Mencari-cari barang yang sekiranya pas untuk diberikan kepada mama Ardi sebagai hadiah ulang tahunnya.


Jika Ella perhatikan toko ini memliki koleksi yang cukup lengkap. Penataannya pun apik, berdasarkan kualitas dan harga produk. Produk-produk high quality di display di bagian depan, produk-produk ini biasanya memiliki harga selangit. Harga yang dibandrol untuk produk ini bernilai jutaan hanya untuk sebuah tas. Harga yg tentunya membuat Ella mundur teratur daripada membelinya. Tetapi bagi Ardi dan mamanya tentu saja harga segitu sama sekali bukan masalah besar. Huh, lhawong uang tiga belas milyar aja dibilang gak seberapa sama mama Ardi? Yah orientasi mahal dan tidak bagi sultan memang berbeda dengan rakyat jelata.


Dilain sisi toko juga disediakan product middle quality dengan harga yang terjangkau untuk kalangan menengah seperti kantong Ella. Memang masih tergolong bagus si bahan yang dipakai tapi harganya tidak terlalu mencekik, paling mahal harganya tak akan sampai satu juta rupiah.


Bahkan di sudut lain toko juga disediakan low cost quality dengan desain dan kualitas produk standart. Produk yang sekiranya bisa terjangkau olah kalangan mahasiswa atau pekerja kantor rendahan. Harga yang dibandrol biasanya tak akan melebihi setengah juta rupiah. Dan Ella sebagai dokter yang masih dalam masa pengabdian tentu saja tak akan ragu untuk berbelanja di bagian ini. Asalkan bentuk dan desainnya sesuai dengan seleranya, dia tak akan ragu dan gengsi untuk membeli produk di bagian ini.


"Hmmm...Tas favoritnya mama mas Ardi yang kaya gimana?" Tanya Ella bingung untuk memutuskan melimilih yang mana.


"Gimana ya?..." Ardi ikut bingung. Sebagai seorang pria dia tak pernah ambil pusing soal mode dan tas yang biasa dipakai oleh para wanita.


"Biasanya mama mas Ardi make tasnya buat apa? Kerja? Jalan-jalan? Kondangan? Paling sering yang mana?" Ella sedikit memberikan clue tentang macam-macam tas berdasarkan tempat pemakaiaanya.


"Paling buat kumpul-kumpul sama ibu-ibu sosialita, jalan-jalan atau kondangan saja" Ardi mengingat-ingat kapan biasanya mamanya menenteng sebuah tas.


"Sukanya yang simple elegan atau yang glamour?" Ella kembali bertanya.


"Liat kondisi si. Kalau lagi kondangan biasanya glamour abis-abisan. Tapi kalau cuma jalan biasanya pakai yang simpel elegan. Tapi dari jauh bakal keliahatan dia make barang mahal" Ardi membayangkan penampilan mamanya dalam setiap situasi.


Sedikit banyak Ella dapat memahami selera calon ibu mertuanya itu. Untuk para sultan yang sama sekali tak akan memperdulikan soal harga, mode dan selera tentu yang menjadi pertimbangan utama dalam memilih. Ella berjalan perlahan ke bagian clutch bag dan tas pesta yang dipajang di bagian paling depan toko.


Ella berputar-putar mengamati, melihat dengan cermat semua tas yang dipajang itu. Menimang dan mempertimbangkan untuk memilih yang mana. Tas seperti apa yang kira-kira cocok dikenakan oleh wanita seperti Kartika Pradana sang istri sultan itu.


"Yang kayak gini?" Ella akhirnya memantapkan pilihan, dia mengambil sebuah tas jinjing berbahan kulit berwarna hitam yang terlihat sangat simple dan elegan. Bahan kulit yang dipakai untuk tas itu sepertinya kulit asli entah dari binatang apa. Ella mengernyit melihat bandrol harga tas itu, dua belas setengah juta.


"Atau yang kayak gini?" Ella mengambil tas lainnya yang menarik hatinya. Tas dengan bentuk yang lebih mewah berhiaskan mutiara, mutiara asli sumbawa sepertinya. Dan lagi-lagi bandrol harga yang terpampang disana sangat fantastis, diatas tiga belas juta. Haduh apaan coba harga tas-tas ini hampir kaya belanja beberapa bulan saja, pikir Ella.


"Kalau kamu suka yang mana?" tanya Ardi.


"Aku sih suka yang kulit. Simple banget tapi kelihatan berkelas." jawab Ella.


"Yaudah ambil aja," ujar Ardi Enteng.


"Jadi ambil yang ini ni?" Ella berniat mengembalikan tas mutiara yang tidak jadi dipilihnya tadi.


"Ngapain dikembalikan?" Ardi mencegah Ella mengembalikan tas tadi. "Ambil dua-duanya"


"Eh? Mau ngasih kado dua tas?" tanya Ella sedikit bingung dengan ucapan Ardi.


"Yang mutiara buat kado mama, dan yang item buat kamu, sayang" jawab Ardi gemas.


"Lhooo kok buat aku?" Ella semakin bingung.


"Karena kamu tadi bilang suka. Yaudah aku beliin buat kamu." Lagi-lagi Ardi menjawab dengan entengnya. Pria itu lalu merebut kedua tas ditangan Ella dan membawanya ke kasir dan membayarnya dengan kartu saktinya. Sementara Ella hanya sanggup berdiri sambil terbengong-bengong melihatnya.


"Yuk naik," Ardi menghampiri Ella yang masih bengong setelah menyelesaikan transaksi pembayarannya, menenteng tas belanjaan.


"Mau beli apa lagi?" Ella sedikit ngeri, takut salah omong lagi dan takut dibelikan sesuatu lagi oleh Ardi. Bagaimanapun dia tak suka untuk dibeli-belikan barang, apalagi barang mahal oleh seorang pria yang belum menjadi suami sah nya.


"Dasi. Bantu pilih dasi buat aku" Sebelum Ella sempat menjawab Ardi sudah menarik tangan Ella, menggirignya ke lantai dua ke bagian pakaian. Ardi segera menuju ke bagian pakaian pria, tepatnya di bagian dasi.


"Bagus yang mana ni, El?"


Ella benar-benar bingung sekarang, tak tahu harus memilih dasi yang seperti apa untuk Ardi. Menurut pendapatnya pribadi Ardi pasti sangat cocok untuk memakai dasi dengan motif apapun itu. "Kayaknya bagus semua deh buat mas Ardi" jawab Ella jujur.


"Hehe berarti aku ganteng ya?" goda Ardi.


"I, iya" jawab Ella malu-malu.


"Aku? kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Lho kan kita mau ke pesta"


"Hah? Pesta apa?"


"Pesta ulang tahun mama. Rencananya si aku mau bawa kamu. Mau kukenalin ke seluruh keluarga besarku." Jawab Ardi dengan santainya.


"Tunggu-tunggu. Ini pesta ulang tahun sederhana kan?" Ella mulai panik demi mendengar Ardi akan mengenalkannya kepada seluruh keluarganya bahkan di acara pesta ulang tahun mamanya.


"Ya pesta kecil-kecilan di rumah. Paling cuma ngundang kerabat dekat dan beberapa relasi bisnis aja" lagi-lagi Ardi dengan entengnya menjawab, seakan tak mengerti kepanikan Ella.


Haduh! Pesta kecil-kecilan ala keluarga Pradana ini kayak apa? Batin Ella menjerit. Kepanikan dan kebingungan yang semakin menjadi-jadi menyerangnya. Aku harus pake baju apa coba? kebaya? bruklat? atau dress pesta? Gimana kalau salah kostum? Gimana kalau keliatan seperti tidak pada tempatnya?


Dan masalah utamanya adalah, Ella sama sekali tak membawa dan menyiapkan baju pesta di kontrakannya. Semua baju pestanya saat ini ada di rumahnya sendiri di Surabaya.


Ardi sepertinya dapat sedikit memahami kebingungan Ella. Diajaknya gadis itu beralih ke bagian baju wanita. "Coba kamu pilih. Kamu suka yang mana?" Dia membawa Ella ke depan deretan beberapa dress pesta yang sekiranya cocok untuk dikenakan Ella.


Dengan ragu-ragu Ella mulai memilih baju-baju yang sesuai dengan ukuran dan seleranya. "Yang ini gimana?" Ella menunjukkan sebuah high neck dress tanpa lengan berwarna toska yang terlihat simple tapi elegan. Dia menempelkan baju itu di depan badannya, meminta persetujuan Ardi.


"Nggak! Belahan pahanya ketinggian!"


Dengan sedikit kecewa Ella mengembalikan baju itu. "Kalau ini?" Kali ini Ella mengambil dress hitam tanpa lengan dengan model krah depan rendah yang terlihat sangat modis.


"Gak boleh. Potongan dadanya terlalu rendah"


Ella mulai kebingungan mencari baju. Yang mana coba? "Ini ya?" Kali ini Ella mengambil dress panjang berwarna putih tulang tanpa lengan yang terlihat simpel dan lebih sopan.


"No! Punggungnya kebuka itu" sekali lagi Ardi memprotes pilihan Ella.


"Haduh. Terus yang mana lagi coba? Mas Ardi deh yang pilihin" Keluh Ella frustasi. Malas memilih lagi, pasti bakalan diprotes lagi.


Ardi ikut memilih ke ke deretan baju perempuan. "Yang itu" Ujarnya menunjuk salah satu manekin yang memakai dress simple minimalis berwarna merah menyala dengan potongan simple dan berlengan pendek dengan model bawahan span selutut.


Ella tersenyum melihat dress pilihan Ardi yang terlihat manis, sederhana namun cukup elegan. Rupanya Ardi tidak rela dia memakai baju yang terlalu terbuka dan menunjukkan lekuk tubuhnya kepada orang lain.


"Mau pake yang itu?" tantang Ardi.


"Boleh. Siapa takut?" jawab Ella tak mau kalah


Ardi segera meminta pada pelayan toko untuk mengambilkan baju seperti yang dipakai manekin itu. Tak beberapa lama kemudian pelayan itu kembali dengan membawa baju yang sama persis dengan yang dipakai manekin itu. "Cobain gih" perintah Ardi menyerahkan dress itu pada Ella.


Ella segera memakai baju merah itu di kamar pass. Seorang pegawai yang membantu Ella dengan bersemangat menawarkan tas dan sepatu ber-haq tinggi berwarna merah yang senada dengan bajunya juga. Hanya untuk coba-coba saja, katanya. Benar-benar ahli marketing sepertinya tu pegawai.


Tak beberapa lama kemudian Ella keluar dengan dandanan lengkapnya dalam balutan dress, high heels dan tas serba merah. Gadis itu berjalan perlahan menghampiri Ardi yang sedang duduk-duduk di sofa menantinya. "Gimana mas?" tanyanya malu-malu. Ella merasa warna merah ini ternyata sangat mencolok untuk dikenakannya.


Mata Ardi terbelalak saat melihat gadis cantik di hadapannya. Untuk sejenak dia sampai lupa untuk bernafas demi menikmati kecantikan Ella yang semakin terpancar dengan outfit serba merah itu. "Cantik! Cantik banget!" pujinya pada Ella. Pujian yang mampu memerahkan wajah Ella menjadi semerah outfit yang sedang dikenakanya.


"Bungkus semua yang dia pakai ya mbak" Perintah Ardi pada si pegawai toko.


"Lho lho, kan tadi udah dibeliin tas? Ini bajunya aja, mas lainnya gak usah" Ella semakin tidak nyaman mendengar Ardi akan membeli semua outfit yang sedang dipakainya. Aduh tahu gitu tadi gak usah nyobain tas dan high heelsnya. Berapa juta coba ini outfit sepaket lengkap gini? Ella makin panik memikirkan uang yang akan dihamburkan Ardi untuknya.


"Gak papa bungkus semua mbak" Perintah Ardi sambil mengikuti sang pegawai toko ke arah kasir. Tak lupa Ardi juga menghampiri bagian dasi dan mengambil salah satu dasi berwarna merah menyala yang matching dengan dress Ella untuk dipakainya sendiri nanti.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼