
Ella membuka pintu ke kamar melati 7, tempat ayahnya dirawat. Didapatinya kedua orang tuanya yang sedang asik menonton televisi. Menonton salah satu chanel favorit mama Ella. Yah apalagi coba kalau bukan sinetron yang lagi-lagi ceritanya tentang pelakor, perselingkuhan dan azab yang dibayar kontan di dunia.
Ella kadang heran dengan mamanya itu, kok mau-maunya dibodohi dengan film-film gak bermutu seperti itu.
"Ma, Pa, ada temen Ella mau jenguk." Ella memberi tahukan kepada kedua orang tuanya tentang Ardi.
"Lho Siapa? Kok gak disuruh masuk?" Tanya mama Ella mencari-cari sosok yang dikatakan Ella sebagai teman itu.
Ella memanggil dan mempersilahkan Ardi yang masih menunggu di luar untuk masuk ke dalam ruangan. Seketika kedua orang tua Ella menjadi sedikit tegang demi melihat seorang pria memasuki ruangan.
Tak biasanya anak gadis mereka itu membawa seorang teman sendirian. Apalagi teman yang berjenis kelamin pria. Biasanya teman-teman Ella yang berjenis kelamin pria tak pernah datang seorang diri. Mereka selalu bergerombol dan beramai-ramai kalau main ke rumah Ella.
Sepertinya ada yang sedikit berbeda dengan pria ini. Insting kedua orang tua Ella mengatakan jangan-jangan pria ini adalah orang yang lebih dari sekedar teman, melainkan kekasih anak gadisnya.
"Assalamualaikum, selamat sore, Om, Tante" Ardi menyapa kedua orang tua Ella dengan senyum lebar yang terkembang.
Dihampirinya mama Ella, dan diciumnya tangan wanita itu, begitu pula dengan papa Ella. Ardi tak segan untuk menunjukkan rasa hormatnya dengan mencium tangan kedua orang tua Ella. Ardi juga menyerahkan bungkusan kue dari bakeri yang dibawanya ke tangan Ella.
Kedua orang tua Ella membalas salam Ardi dengan kompak. Lalu mempersilahkan pria itu duduk di sofa. Ella menyuguhkan minuman gelasan dan beberapa biskuit untuk Ardi. Formalitas yang biasa dilakukan untuk melayani tamu.
"Siapa namanya mas? Di mana rumahnya?" Tanya mama Ella memulai interogasi.
Mama Ella memang sedikit curiga bahwa anak gadisnya sudah mempunya pacar. Tapi dia tak mengira Ella akan seberani itu langsung mengenalkan pacarnya secepat ini. Sepertinya Ella sudah beranjak dewasa, dan sepertinya juga kedua anak muda ini serius dengan hubungan mereka.
"Nama saya Lazuardi Pradana. Panggil saja Ardi." Ardi memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua Ella. "Rumah saya di Genting, Banyu Harum."
"Haaah?" Mama Ella tak bisa menyembunyilan kekagetannya. Bahkan Papa Ella juga sedikit terdengar kaget mendengar asal dari pria yang menjenguknya.
"Gak kurang jauh apa menjenguknya?" Celetuk mama Ella. "Genting tempat Ella pengabdian interenship?" Beliau kembali bertanya dan menduga-duga.
"Iya bener banget, Tante. Saya tinggal di kota Genting tempat Ella Interenship." Ardi membenarkan.
"Sudah lama kenalnya sama Ella?" Kali ini papa Ella ikutan menanyai Ardi.
"Sudah dua bulanan Om. Bisa dibilang masih baru."
"Ketemunya di RSUD? Interenship bareng?"
"Bukan Tante, saya bukan dokter. Kebetulan sepupu saya yang dokter interenship bareng sama Ella. Dia yang mengenalkan kami." Ardi menceritakan awal mula pertemuannya dengan Ella.
Ella mendengarkan sambil pura-pura mencari kesibukan, membuka bungkusan dan menata kue-kue yang bawaan Ardi untuk disuguhkan.
"Terus kamu kerjanya apa?" mama Ella yang memang cerewet itu semakin kepo.
Sementara papanya hanya diam sambil terus mengawasi Ardi. Mungkin sedang menimang dan mempertimbangkan tentang fisik, peragai dan cara Ardi dalam menjawab segala pertanyaan.
"Saya menjalankan perusahaan konstruksi kecil-kecilan. Yah ngerjain proyek pembangunan perumahan gitu-gitu deh," jawab Ardi kalem.
Pria itu sedikit salah tingkah mendapati tiga pasang mata memandang dan mengawasinya. Ella nyaris terkikik mendengar bisnis kecil-kecilan Ardi.
'Gila aja bisnis beromset milyaran dia bilang kecil-kecilan. Iya deh, sultan mah bebas.'
"Kontraktor?"
"Bukan. Saya arsitek si basicnya. Ya saya yang merancang model dan desain perumahan itu. Kemudian kerja sama dengan kontraktor-kontraktor untuk proyek pembangunan perumahannya." Jawab Ardi dengan nada amat sangat merendah.
'Apaan coba kerjasama? Dia presiden direkturnya para kontraktor itu kali.'
"Oh arsitek toh. Lulusan mana dulu?" Papa Ella yang memang orang yang berkecimpung di dunia pendidikan tentunya suka menanyakan tentang back ground pendidikan pria yang dibawa Ella ini.
Bagaimana pun putrinya adalah seorang gadis yang sangat pintar. Tentunya Ella harus mendapatkan pria yang sama pintarnya untuk dapat mengimbangi pola pikir Ella. Jika tidak maka akan terjadi ketimpangan dan ketidak seimbangan yang akan berujung konflik.
"Saya dulu kuliah di ITS om. Institur Teknologi Surabaya." Jawab Ardi dan papa Ella terlihat puas mendengar jawabnya.
"Orang tua kamu gimana? Masih ada?" Mama Ella semakin kepo menanyai Ardi.
"Alhamdulillah masih lengkap. Papa dan mama tinggal di Banyu Harum kota bersama adik ketiga saya yang masih SMA. Sementara adik kedua saya sedang kuliah di universitas Jembar, fakultas yang sama kayak Ella."
"Oh..." mama Ella yang juga berprofesi sebagai seorang guru SD ini merasa cukup senang dengan background keluarga Ardi yang terlihat mementingkan pendidikan anak-anaknya. Bahkan Ardi dan adik keduanya sama-sama berkuliah di universitas dan jurusan yang bagus.
"Papamu kerja apa? Konstruksi juga?" Lilik, mama Ella lanjut bertanya.
"Kalau papa wirausaha. Perusahaan di bidang properties dan produksi makanan kalengan." Ardi kembali menyamarkan perusahaan Pradana Group sehingga terdengar seperti usaha mini home industri.
"El, ikut mama beli minuman dan tisue yuk," mama Ella tiba-tiba saja mengajak Ella keluar. Mungkin sengaja ingin membiarkan dan memberi kesempatan papanya untuk mengobrol dengan Ardi.
Ella menurut saja mengikuti berjalan di belakang mamanya. Mereka berjalan beriringan menuju kantin di ujung koridor.
"Ganteng juga pacarmu ya?" celetuk mama Ella tiba-tiba. "Udah lama kalian pacarannya?"
"Ih mama bisa aja. Masa si ganteng? kayak Rangga-nya Ada Apa Dengan Cinta ya?" Ella terkekeh mendengar mamanya menyebut Ardi ganteng. "Baru hari minggu kemarin resmi jadiannya."
"Owalah masih baru toh. Tapi dia kayaknya serius ya. Sampai bela-belain jenguk jauh-jauh kesini. Emangnya dia gak kerja?"
"Kerjaannya itu fleksibel ma. Kalau pas lagi ada proyek ya sibuk sampai lembur-lembur. Kalau lagi santai ya bisa liburan kemana saja."
"Jadi gak ngantor tiap hari?"
"Ngantor kok tiap hari. Hari ini mungkin dia izin tidak masuk."
"Ellanya sendiri gimana? Udah sreg sama dia? Nikah itu kalau bisa seumur hidup sekali lho. Jadi sebagai wanita kamu bener-bener harus pinter memilih orang yang tepat." mama Ella memberikan nasehatnya.
"Yah masih sambil penjajakan lagi si ma. Aku si sudah suka sama dia sementara ini. Semoga saja dia memang orang yang tepat untuk Ella ya ma."
"Duh anak mama bisa jatuh cinta ternyata hehe," goda mama Ella. "Perlu kamu ingat El, lelaki itu harus berani berjuang untuk wanitanya. Jangan sampe kebalik."
"Ya saling berjuang bersama donk ma."
"Nah itu lebih baik lagi," Mama Ella menyetujui. Pembicaraan mereka terhenti saat sudah sampai di kantin. Mereka membeli beberapa botol air mineral dan tisue, kemudian mereka kembali berjalan beriringan ke arah kamar melati 7.
Begitu Ella dan mamanya kembali ke kamar, mereka mendapati Ardi dan papa Ella yang sedang bercakap-cakap dengan akrab. Mereka membahas politik yang sedang hangat-hangatnya di negeri ini. Ella senang sekali melihatnya, paling tidak Ardi dapat memberikan kesan yang baik dan diterima oleh papa dan mamanya.
"Oiya Pa, Ma. Besok siang Ella rencananya mau balik ke Genting bareng mas Ardi. Papa sama Mama gak keberatan Ella tinggal?" Ella memberitahukan rencana kepulangannya.
"Iya gak usah khawatir El. Papa juga sudah sembuh, tinggal nungguin gulanya turun saja. Kalau sudah turun bisa pulang kata dokternya," papa Ella menyetujui.
Beliau sadar betul dengan kewajiban yang diemban oleh anak gadisnya itu. Tak mungkin dia tega untuk menghalangi kepergian Ella yang harus bertugas interenship di UGD sebuah RSUD. Banyak orang yang lebih membutuhkan Ella disana daripada dirinya. Baik itu rekan sejawatnya atau pasien-pasiennya.
"Betul, Pa. Nanti kalau sudah pulang minta tolong mas Hendri untuk dicarikan perawat yang mau home visite untuk rawat luka papa setiap hari," Ella menjelaskan rencana terapi setelah papanya diperbopehkan pulang.
"Malam ini nginepnya dimana nak Ardi?" mama ikut nimbrung dalam pembicaraan.
"Belum tahu te. Mungkin nanti cari hotel saja."
"Yaudah Ella anter Ardi cari makan dan hotel aja dulu. Kasian Ardi abis perjalan jauh biar istirahat. Ella lanjut pulang abis itu istirahat di rumah ya. Ini udah malam, papa juga harus banyak istirahat." Mama Ella memberi saran setengah perintah.
Memberi kesempatan pada kedua anak muda itu untuk keluar berdua. Tau saja kalau kedua anak muda ini ingin jalan-jalan, kencan kecil-kecilan menikmati suasana malam di kota Surabaya.
Tanpa membantah Ella dan Ardi segera pamit dan mencium tangan kedua orang tua Ella. Kemudian mereka berjalan beriringan ke tempat parkir. Mengambil mobil Suzuki Swift putih milik Ella yang diparkir di halaman depan RSI.
Keduanya memasuki mobil itu dan segera meluncur melintasi jalanan ibukota propinsi yang temaram, ramai dengan banyaknya kendaraan berlalu-lalang serta lampu-lampu beraneka rupa dan ukuran yang menghiasi kota serta gedung-gedungnya. Seakan membuat kota ini terus hidup dan tak pernah mati dengan segala aktivitas manusianya selama dua puluh empat jam.
~∆∆∆~
🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼