
Ardi berjalan perlahan dengan papa Erwin dan mama Kartika mengapit tubuhnya di sebelah kanan dan kiri. Alunan lagu cinta dari Brian Adams yang legendaris mengalun merdu mengiringi setiap langkah Ardi menuju ke kursi yang telah disediakan di tengah ruangan.
I finally found someone...I finally found you Ella...You Will be mine...now and forever.
(*Aku akhirnya menemukan seseorang...Aku akhirnya menemukanmu Ella...Kau akan menjadi milikku...Sekarang dan selamanya.)
Di sisi lain ruangan, Ardi dapat melihat Ella yang sangat cantik, anggun, rupawan dalam balutan baju kebayanya. Kebaya berwarna merah membara yang membuat calon istrinya itu semakin bersinar dan memancarkan aura feminimnya bagaikan bidadari. Ella berjalan perlahan dengan diiringi oleh kedua orang tuanya. Berjalan dengan sedikit menundukkan kepalanya dan tersipu malu...Aaaaah cantiknya!
Kau yang mempesona
Anggun senantiasa menawan istimewa
Kau membuatku jatuh cinta
Memukau dan bikinku tergila - gila
Khayalku selalu inginkan kehadiranmu
Dan akhirnya kini kau akan menjadi milikku
"Ella cantik banget ya, Di?" Erwin sedikit menyikut dan berbisik menggoda putranya. Kelihatan sekali Ardi terpesona pada penampilan calon istrinya itu.
"Iya Ella memang cantik sekali malam ini." Ardi menyetujui ucapan papanya.
"Jelas donk, kan mama yang milihin bajunya." Kartika tak mau ketinggalan berkomentar.
Kemudian mereka bertiga menempati ketiga kursi yang sudah disediakan di tengah ruangan. Ardi mengamati keadaan disekitarnya serta tatanan dekorasi yang bertema rustik modern yang terkesan simple dan elegan. Sangat cocok dengan Ella dan kepribadiannya.
You're doing great to discribe your self through this decoration, honey.
(*Kamu telah melakukan yang terbaik untuk dapat menggambarkan dirimu lewat dekorasi ini, sayang).
Tepat dihadapan Ardi, duduklah Ella dan kedua orang tuanya. Ardi seakan terpaku, tak bisa melepaskan pandangannya dari tunangannya itu. Sesekali pandangan Ardi bertemu dengan pandangan Ella, lalu gadis itu tersipu malu dan menundukkan pandangannya. Manis, manis sekali. Membuat desiran dan debaran di dada Ardi semakin kuat bergejolak tanpa kenal kompromi.
Ardi bahkan sampai tak bisa fokus berkonsentrasi mengikuti jalannya prosesi acara pertunangan yang telah dimulai. Ternyata memandangi wajah cantik Ella di hadapannya dapat mengalihkan segala dunianya. Mabuk asmara rasanya...
Acara pertama diawali dengan pemberian salam dan sambutan kepada pihak keluarga pria. Kali ini keluarga Ella diwakili oleh seorang pria muda yang pernah ditemui Ardi waktu papa Ella sakit dulu. Mas Hendry kalau gak salah namanya.
Rupanya Ella sengaja menggagas acara semi formal agar suasana tidak terlalu kaku. Bahkan tak ada MC resmi untuk acara ini. Cukup juru bicara dari kedua pihak saja yang akan mewakili masing-masing keluarganya.
Pihak keluarga wanita kemudian memberikan ucapan ‘Selamat datang’ untuk kehadiran pihak keluarga pria. Selanjutnya satu persatu anggota keluarga yang hadir diperkenalkan juga oleh Hendry.
"Ella adik kami ini merupakan putri satu-satunya dari om saya Pak Wibowo dan Tante Lilik. Kami semua sangat menyayanginya dan bangga akan dirinya. Ella dengan segala ketekunan, kegigihan dan perjuangannya hingga bisa menjadi gadis yang luar biasa seperti sekarang ini." Hendry menjelaskan tentang Ella dari sudut pandang keluarganya.
"Sebenarnya keluarga kami masih banyak lagi jumlahnya. Bahkan tersebar di berbagai kota lainnya. Keluarga besar..." Hendry menjelaskan pula tentang beberapa keluarga yang berhalangan hadir.
Setelah Hendry menyelesaikan sambutannya, sekarang giliran Mahes yang maju sebagai perwakilan dari keluarga Pradana. Mahes tentu saja sangat piawai untuk menjadi juru bicara keluarga pria. Dia mengawali dengan salam dan memberikan ucapan ‘Terima kasih’ atas sambutan yang diberikan oleh perwakilan keluarga putri. Dilanjutkan dengan bergantian memperkenalkan anggota keluarga yang dibawa ke acara pertunangan ini.
"Ardi adalah kakak ipar saya, tapi dia juga sudah seperti saudara, sahabat dan rekanan bisnis yang bisa diandalkan bahkan sebelum saya menjadi bagian dari keluarga Pradana. Kami semua sangat bangga memiliki Ardi sebagai putra pertama Pradana yang sangat mengayomi, bertanggung jawab, sayang kepada keluarganya dan satu lagi dia termasuk good boy lho." Mahes menjelaskan tentang Ardi dari sudut pandangnya sebagai keluarga terdekat. Promosi dikit lah intinya hehe.
"Kalau keluarga kami tidak terlalu banyak jumlahnya, dan sebagian besar berdomisili di wilayah timur. Jembar, Genting dan Banyu Harum..." Mahes mengakhiri penjelasannya dengan menceritakan tentang keluarga besar kesultanan mereka.
Bagian pembukaan ini ditutup dengan ucapan ‘Terima kasih’ dari juru bicara pihak keluarga wanita. Ucapan yang ditujukan untuk menghormati kedatangan pihak keluarga pria.
Selanjutnya memasuki tahap berikutnya, Hendry sebagai juru bicara dari pihak keluarga wanita menanyakan maksud dari kedatangan pihak keluarga pria kepada mereka hari ini.
Dengan tegas, Mahes sebagai juru bicara pihak keluarga pria menjelaskan maksud kedatangannya. Maksud tersebut tidak lain adalah untuk meminang calon mempelai wanita.
"Bagaimana mas Ardi? Yang mana ini yang mau dilamar? Beneran ni mbak cantik berbaju merah itu? Saya kok takut salah orang ya?" Mahes sedikit menggoda Ardi untuk sedikit mencairkan suasana yang terasa kaku dan menegangkan.
"Benar sekali. Maksud kedatangan saya kemari dengan membawa seluruh keluarga saya adalah untuk meminang Ella. Gadis tercantik malam ini yang memakai kebaya merah di hadapan saya. Untuk menjadi calon istri saya." Ardi berkata dengan suara tegas dan mantapnya.
Semua yang hadir langsung berbisik-bisik dan beberapa berdecak kagum melihat sikap Ardi yang sangat tegas dan berwibawa itu. Ella juga mau tak mau sangat terharu demi mendengar perkataan Ardi yang disaksikan oleh kedua keluarga besar mereka.
Hendry sekali lagi mewakili pihak keluarga Ella untuk mengucapkan ‘Terima kasih’ atas niat baik dari keluarga pria. Kemudian Hendry pun menanyakan langsung kepada Ella sebagai mempelai wanita.
"Gimana ini dek Ella? Mas Ardi nanyain tu mau gak jadi calon istrinya?" Hendry bertanya.
"Apakah dek Ella sudah menetapkan hati dan bersedia untuk menerima pinangan yang diajukan oleh mas Ardi? Kamu harus benar-benar yakin sebelum menjawab dan membuat keputusan untuk menerima atau menolak pinangan ini..."
Ella mengarahkan pandangannya kepada Ardi, memandangi wajah pria terkasihnya itu dengan seksama. Benar kata Hendry wajah Ardi tampak tegang dan berkeringat dingin, bisa nervous juga rupanya si Sultan satu ini hehehe.
Ella menyunggingkan senyuman terindahnya sebelum akhirnya memberikan jawaban dengan suara mantap. "Saya bersedia."
Pekikan rasa syukur dan kebahagiaan langsung bergaung memenuhi seluruh ruangan. Mengungkap kelegaan semua yang hadir karena acara ini berjalan dengan lancar dengan diterimanya pinangan pihak pria oleh pihak wanita.
"Makasih honey, I love you." Ardy mengutarakan pula kelegaannya langsung pada Ella. Dan gadis itu hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, menjaga image dan keanggunannya.
Pak Wibowo sebagai ayah dari mempelai wanita pun menanyakan lagi kesanggupannya putrinya untuk menjadi istri dari pria pilihannya.
"Ella, anakku. Sekali lagi papa nanya sama kamu, apa kamu bersedia menerima nak Ardi? Tanpa paksaan dari siapapun? Dari lubuk hatimu yang terdalam?"
"Sebagai seorang wanita, jika sudah menetapkan hati pada seorang lelaki untuk menjadi suami maka kamu harus paham akan posisimu. Kamu juga harus bersedia menerima kelebihan dan kekurangan suamimu dalam kondisi apa pun." Lanjut Bowo.
"Saya bersedia, pa." Ella sekali lagi menyatakan ketetapan hati dan kesungguhannya.
Bowo tersenyum mendengar jawaban mantab putrinya itu. Dalam hati dirinya berdoa agar putrinya ini membuat kuputusan yang tepat. Berdoa agar putri kesayangannya dapat berbahagia bersama pria yang dipilihnya sendiri sebagai suami.
Kemudian Bowo mengalihkan pandangannya kepada Ardi, calon menantunya. Menatap pria itu dengan pandangan penuh harapan. Seakan berharap pria ini dapat meneruskan apa yang dilakukannya untuk Ella selama sejak gadis itu kecil sampai dewasa. Untuk menjaga, mencintai, membimbing dan membahagiakan putrinya itu.
"Nak Ardi apakah apakah kamu siap untuk bertanggung jawab kepada Ella yang nantinya akan menjadi istrimu? Apakah kamu siap untuk menjadi seorang suami yang bijaksana dan sebagai imam dari putriku kelak?" Bowo bertanya pada Ardi.
"Saya siap dan bersedia." Jawab Ardi dengan nada mantapnya. Meyakinkan kepada calon ayah mertuanya itu bahwa dirinya akan berusaha menjadi suami yang baik bagi Ella.
Untuk sesaat suasana tiba-tiba menjadi tenang demi mendengarkan janji dan kesanggupan dari kedua calon mempelai. Seakan semua yang hadir ikut terharu, berbahagia serta mendoakan segala yang terbaik bagi kedua mempelai itu.
Henry selanjutnya mempersilahkan kepada orang tua dari kedua mempelai untuk memberikan wejangan kepada anak-anak mereka jika berkenan.
Lilik yang meminta kesempatan untuk sedikit memberikan wejangannya pada Ella dan Ardi. "El, setelah nanti kamu menikah kamu sudah menjadi hak suamimu. Jadi kamu harus selalu ingat akan kewajiabmu kelak. Kamu harus selalu menghormati, meminta dan melibatkan suamimu dalam setiap mengambil keputusan. Jadilah istri yang baik, istri yang bisa menjadi penyejuk rumah tangga. Istri yang bisa membanggakan bagi suami, orang tua dan mertuamu dan seluruh keluarga." Lilik mengatakan wejangannya dengan sedikit berkaca-kaca.
Ella yang mendapatkan wejangan sedemikian dari mamanya pun mau tak mau ikut terharu juga. Ella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban kepada mamanya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. "Terima kasih, ma."
"Dan untuk nak Ardi, titip-titip ya Ella nantinya. Tolong kamu jaga dia. Tolong kamu sayangi dia seperti kami menyayanginya sebelumnya. Tapi tolong kamu bimbing juga dia sebagai istri. Ajari dia bagaimana menjadi istri yang baik sesuai dengan tuntunan agama dan kebaikan. Marahi jika dia melakukan kesalahan, ingatkan dia untuk selalu menjadi lebih baik." Lilik melanjutkan wejangannya untuk Ardi. Berharap Ardi dapat menjadi imam yang baik untuk Ella. Berharap pria itu dapat mewujudkan semua harapannya. Membahagiakan putrinya.
Ardi memberikan senyuman dengan pandangan seriusnya kepada Lilik sebelum menjawab. "Saya bersedia. Dan saya juga akan berusaha menjadi suami yang baik untuk Ella."
Jawaban Ardi terdengar sangat matap dan meyakinkan. Penuh wibawa layaknya seorang pimpinan besar grup raksasa yang berkata. Membuat semua yang hadir dapat dengan mudah mempercayai ucapannya.
Selanjutnya Kartika juga meminta ijin untuk berbicara memberikan wejangannya. "Saya senang sekali nak Ella mau menerima Ardi sebagai calon suaminya. Saya percaya baik Ella ataupun Ardi ini sudah saling mencintai dan tidak bisa terpisahkan lagi. Yang penting keduanya bisa hidup berdampingan dan berbahagia bersama. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan."
Kartika dengan lihainya mengatakan seolah Ardi-lah yang beruntung mendapatkan Ella. Seakan menegaskan bahwa keluarga mereka sama sekali tak mempermasalahkan status sosial keluarga Ella. Tak ingin membuat keluarga calon besannya menjadi minder untuk berhadapan dengan mereka.
Ucapan Kartika seakan memberikan angin segar kepada keluarga Ella. Bahwa keluarga sekelas sultan Pradana sangat senang untuk mendapatkan Ella sebagai menantu mereka.
Selanjutnya karena dari kedua belah pihak mempelai sudah menyanggupinya, maka juru bicara pihak keluarga wanita menyatakan bahwa pinangan pihak keluarga pria diterima. Hendry sebagai juru bicara dari pihak keluarga wanita selanjutnya menyatakan bahwa Ardi dan Ella telah resmi bertunangan.
Sebagai simbolik ‘pengikat’ pada acara acara pertunangan ini, Kartika menyodorkan sebuah kotak perhiasan. Jewelry set pilihan Ella sendiri saat berbelanja dengannya. Kalung, gelang dan anting-anting dari emas putih yang bertahtakan batu permata berlian. Cincin sengaja tidak diberikan lagi karena Ardi sudah memberikannya terlebih dahulu.
Semua mata langsung menatap dengan pandangan takjub seakan tersilaukan oleh kilauan perhiasan yang dipasangkan Kartika sendiri kepada calon menantunya. Pertama Kartika memasangkan kalung, kemudian gelang dan diakhiri dengan anting di kedua telinga Ella.
"Terima kasih, ma." Ella mengucapkan rasa terima kasih yang tak terkira pada calon mama mertuanya. Ella mencium tangan Kartika sebagai hormatnya.
"Selamat bergabung dengan keluarga Pradana." Bisik Kartika sambil memeluk tubuh Ella dengan penuh kasih sayang. Lega rasanya Ella mau memaafkan dirinya, serta mau menerima Ardi kembali. Senang juga karena mendapatkan menantu yang cantik, baik dan luar biasa hebat begitu.
Tahap dilanjutkan dengan pembahasan terkait tanggal pernikahan. Pihak keluarga Pradana menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan pesta akad nikah dan pesta pernikahan sekaligus di hari yang sama. Biar tidak ribet dan buang-buang waktu. Biar sekali jalan juga.
Pihak lelaki menyanggupi akan mengurusi semua yang berkaitan dengan upacara pernikahan antara Ardi dan Ella kelak. Semua tamu dari pihak wanita dipersilahkan untuk tinggal hadir saja di pesta itu. Dan lagi-lagi sesuai dengan itung-itungan primbon, mama Kartika menyarankan tanggal pernikahan mereka akan diadakan satu setengah bulan lagi.
Cukup mepet sebenarnya untuk mempersiapkan sebuah pernikahan Akbar ala sultan dalam waktu empat puluh harian. Tapi Kembali lagi, Sultan mah bebas. Dengan keadaan finansial tanpa batas serta koneksi mereka, semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Hampir sama seperti pernikahan Mahes dan Laras dulu yang juga serba dadakan seperti ini juga. Sim salabim.
Dari pihak keluarga Ella tentu saja hanya dapat menyetujui tanggal yang telah ditentukan oleh pihak mempelai Pria. Paling tidak acaranya akan diadakan di hari Sabtu malam yang merupakan week end dan kebanyakan orang dapat menghadirinya.
Dengan ini akhirnya telah terjadi kesepakan bahwa Ella dan Ardi akan resmi menikah sebulan setengah lagi dari sekarang.
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼