
Halaman gedung serba guna kampus A Uner sudah padat dipenunuhi orang siang ini. Gerombolan manusia dengan dandanan rapi dan mewah berdiri atau duduk di kursi-kursi yang disediakan panitia. Mereka adalah para keluarga dari dokter-dokter spedialis jantung dan pembuluh darah yang sedang dilantik di dalam ruangan.
Acara pengambilan sumpah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah sedang berlangsung di dalam gedung. Acara ini sangat sakral dan hanya dihadiri oleh sedikit orang. Hanya dua orang dari masing-masing keluarga dokter yang melakukan penyumpahan yang dapat masuk ke dalam gedung dan mengikuti prosesi.
Biasanya untuk para dokter yang masih jomblo atau belum menikah akan membawa kedua orang tua mereka untuk hadir. Sedangkan untuk mereka yang sudah berpasangan biasanya akan membawa pasangan, kekasih atau siapapun kerabat mereka. Tapi hanya terbatas dua orang saja, selebihnya harus menunggu di luar gedung.
Di luar gedung sudah disediakan beberapa layar besar yang menampilkan siaran langsung berjalannya acara prosesi penyumpahan. Para keluarga dokter yang tidak dapat masuk ke gedung masih dapat melihat jalannya prosesi dari layar itu.
"Keluarga dokter yang ikut penyumpahan udah ambil semua kan kuenya?" Roni memastikan jumlah kotak kue pada Ella.
"Iya kayaknya udah semua. Udah ada tanda terima di semua nama kok." Ella menjawab sambil mengecek lagi buku yang dipakainya sebagai daftar tanda terima konsumsi untuk keluarga peserta prosesi.
"Yaudah berarti kita bisa ambil satu ni, masih sisa." Roni mengambil satu kotak, membukanya dan langsung menggigit lemper yang diambilnya sebagai makanan pertama.
"Panitia dapat jatah ya?" Ella masih sungkan untuk ikut mengambil sekotak kue.
"Dapet lah, nih buat kamu. Banyak kok sisanya ntar, sengaja kita lebihin buat dibagiin ke temen-temen yang lagi jaga di poli ntar." Roni menyerahkan sekotak kue pada Ella.
Ella akhirnya mau menerima kotak kue itu setelah yakin jumlahnya cukup. Karena tugas membagikan konsumsi sudah selesai, Ella memutuskan duduk saja di kursi sambil tetap menjaga stan. Menjaga kue-kue yang tersisa untuk para panitia dan resident lainnya.
"Ron, mengenai pembicaraan yang kemarin..." Ella mengambil duduk di kursi tepat di sebelah kursi Roni.
"Hmm? Pembicaraan yang mana?" Roni berusaha mengingat-ingat sambil menikmati lempernya.
"Mengenai kapan kita nyusul..." Ella menjawab dengan sedikit ragu.
"Uhuuuk uhuuuk," Roni tersedak demi mendengar jawaban Ella. Tak biasanya Ella mau membicarakan tentang hubungan mereka. Ada apa ini?
Ella buru-buru mencari air mineral botolan dan menyerahkannya pada Roni. Merasa bersalah sudah membuat Roni sampai tersedak. "Minum dulu, Ron."
Roni langsung menerima sebotol minuman dari Ella dan meminumnya sampai merasa lega ditenggorokannya. "Makasih ya," ujarnya sambil mengatur napas. "Kamu udah mau mikirin tentang itu?" Roni bertanya dengan setengah tidak percaya.
"Begini...Kalau kamu mau serius..."
"Ella! Udah dua tahun, El! Masa kamu masih nganggap aku belum serius?" Roni memotong pembicaraan Ella. Masih belum cukupkan aku menunjukkan keseriusanku? Roni semakin geram bertanya-tanya dalam hatinya.
"Iya...Aku tahu kamu serius," Ella mencoba memperbaiki kata-katanya. "Karena itu papa ingin ngomong sama kamu. Kalau kamu ada waktu mampir ke rumah ya buat ketemu papa." Ella menjelaskan maksud pembicaraannya pada Roni.
"Papamu pingin ngomong sama aku?" Roni sedikit heran tapi juga merasa senang. Well, paling tidak mungkin papa Ella ingin menanyakan bagaimana kesungguhan dirinya pada putri kesayangannya itu. "Aku siap kapan aja," lanjutnya bersemangat.
"Yaudah nanti aku bilangin papa. Kalau beliau sudah menentukan waktunya, aku kabarin kamu lagi ya." Ella memberikan kesimpulan.
"Makasih ya, El." Roni senang karena akhirnya Ella mau menghargai keseriusannya. Ella sudah mau memberinya kesempatan untuk dapat berbicara serius dengan papanya. Tandanya gadis itu mungkin juga ingin mencoba untuk semakin membuka hati untuk dirinya. Hanya memikirkannya saja membuat Roni senyum-senyum sendiri kegirangan.
"Apaan sih? Kan belum apa-apa...Awas aja kalau kesanmu jelek ke papa. Bisa ditolak mentah-mentah nantinya hehe." Ella sedikit menggoda Roni.
"Wah iya, papamu itu kan agak nyeremin ya orangnya. Gawat ni harus semedi dulu kayaknya." Roni ikutan panik membayangkan papa Ella yang agak menyeramkan kalau berurusan dengan masalah anak gadisnya.
"Hahahaha iya cari wangsit dulu sana," Ella tertawa riang keasikan menggoda Roni. Dibukanya kotak kuenya, diambil dan dimakannya sebuah roti gulung sambil menikmati wajah panik Roni yang lucu.
Tak beberapa lama kemudian perhatian mereka teralihkan karena prosesi utama pengambilan sumpah dokter spesialis segera dimulai. Satu persatu nama dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang baru, dipanggil untuk maju ke tengah ruangan. Nama, gelar, nama orang tua, serta daerah asal mereka pun disebutkan juga sebagai tanda kehormatan.
Setelahnya lengkap sepuluh dokter sudah berdiri dan berjajar rapi di tengah ruangan, menantikan acara pelantikan, pengukuhan gelar serta pengambilan janji profesi dan sumpah dokter mereka. Sang pembawa acara meminta hadirin yang hadir baik di dalam gedung maupun di luar gedung untuk berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan. Lagu indonesia raya pun akhirnya menggema dengan khidmadnya dinyanyikan bersama.
Selanjutnya hadirin dipersilahkan duduk kembali, termasuk Ella dan Roni yang kembali duduk ke kursinya. Mengamati prosesi yang ditayangkan di layar lebar dengan lebih seksama. Sang pembawa acara kemudian mempersilahkan dan memperkenalkan perwakilan dokter untuk membacakan sumpah mereka yang akan diikuti oleh rekan-rekannya. dr. Maheswara Satya Hartanto, Sp.Pj adalah nama yang disebutkan.
Ella dapat melihat salah satu perwakilan dokter yang akan mengikrarkan sumpah maju beberapa langkah kedepan mendekati microphone. Mahes berjalan dengan elegan dan gagahnya dalam balutan setelan jas resminya yang berwarna hitam. Beberapa pemuka agama dari berbagai agama yang dianaut menghampiri barisan para dokter. Menyodorkan kitab suci yang akan menjadi saksi sumpah suci para dokter itu. Kemudian suasana menjadi sunyi dan sakral saat Mahes dengan lantangnya menyuarakan ikrar sumpahnya yang diikuti oleh seluruh rekannya yang berdiri dibelakangnya.
"Demi Allah saya bersumpah, bahwa:
Saya akan membaktikan hidup saya guna kepentingan perikemanusiaan.
Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter.
Saya akan memelihara dengan sekuat tenaga martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran.
Saya tidak akan menggunakan pengetahuan saya untuk sesuatu yang bertentangan dengan perikemanusiaan, sekalipun diancam.
.
.
.
Saya ikrarkan sumpah ini dengan sungguh-sungguh dan dengan mempertaruhkan kehormatan diri saya."
Terharu, Ella yang tidak ikut menjalani penyumpahan saja sangat terharu demi melihat jalannya prosesi itu. Bagaimana beberapa insan manusia berjanji dihadapan tuhannya, dihadapan kitab suci, dihadapan guru-gurunya, orang tua, keluarga serta semua kerabatnya. Bagaimana mereka berjanji dengan tulusnya untuk mengabdikan hidup mereka sebagai seorang dokter yang profesional demi kemanusiaan.
Ella menyeka matanya yang sudah berkaca-kaca dengan sehelai tisue. Dirinya teringat prosesi penyumpahannya sendiri empat tahun yang lalu sebagai seorang dokter. Di tempat ini juga, empat tahun yang lalu. Ella ingat betul di gedung ini pula awal dari cariernya sebagai seorang dokter umum dimulai. Awal dari kehidupannya dan tekadnya untuk mengabdikan diri kepada kemanusiaan yang ditandai dengan ikrar sumpah dokter yang diucapkannya.
Mungkin tak lama lagi, beberapa bulan kedepan mungkin Ella akan kembali mengucapkan ikrar sumpah suci itu saat pendidikan spesialisnya selesai. Saat dirinya akhirnya dapat menyandang gelar sebagai dokter spesialis penyakit dalam dengan resmi. dr. Amellia Rieka Safitri, Sp.Pd nama dan gelar yang sudah dicita-citakan dan diimpikannya sejak lama.
"Emang selalu bikin merinding ya kalau denger prosesi penyumpahan," Roni berkomentar tersenyum gemas melihat reaksi Ella yang sampai hampir nangis.
"Iya, gak tahu kenapa rasanya sakral banget. Seolah diingatkan kembali akan sumpahku sendiri empat tahun yang lalu," jawab Ella.
"Apalagi Mas Mahes bacanya tegas dan menjiwai banget tadi. Jadi ikutan terbawa suasana dan mau tidak mau jadi diingatkan akan sumpah kita juga...Yah semoga saja kita bisa amanah untuk terus menjalankan profesi kita sesuai sumpah yang kita ikrarkan."
"Amiiin..." Ella tersenyum mengamini ucapan Roni. Memang dokter mana pun pasti akan tergetar hatinya saat mendengar dan mengingat kembali sumpah dokter mereka.
Acara kemudian berlanjut dengan persembahan lagu-lagu dari kelompok paduan suara mahasiswa, penutupan dan doa bersama. Setelah seluruh acara resmi selesai tinggalah acara pemotretan dan ramah tamah. Membuat suasana gedung serba guna menjadi lebih ramai dn heboh dalam sekejam mata. Membuat Ella dan Roni malas untuk beranjak dari tempat duduknya yang nyaman di stan konsumsi.
Mereka berdua melanjutkan tugas dengan membagikan kotak kue pada para dosen dan profesor, mahasiswa peserta paduan suara, para panitia acara serta beberapa rekan residen yang kebetulan ikit hadir menyaksikan prosesi penyumpahan.
"Kayaknya kita tunggu agak reda dulu deh nyari mas Mahes. Masih heboh kayak gitu di dalem." Roni mendengus pasrah menyaksikan keruwetan di dalam gedung.
"Iya bener juga. Lagian dia juga paling masih asik foto-foto sama teman-teman dan keluargnya." Ella menyetujui usulan Roni.
"Aku udah kirim pesan si tadi sama mas Mahes. Kubilang jangan kabur dulu ntar mas, aku sama Ella mau ngucapin selamat."
"Iya kalau dibaca, lagi ruwet kayak gitu mana bisa pegang ponsel?" Ella tertawa membayangkan keruwetan acara setelah prosesi penyumpahan.
"Eh tapi misal nanti gak bisa ketemu, kita masih bisa kok nyapa dia."
"Hah? Dimana?"
"Masa kamu lupa kalau mas Mahes itu sultan? Jelas aja dia ditodong sama anak satu prodi untuk bikin pesta syukuran hehe."
"Owalah, mau ada graduation party tidak resmi?" Mau tidak mau Ella tertawa geli demi mengingat status kesultanan Mahes. Yah jelas aja ditodong teman seprodinya dan tentunya semua biaya jelas ditanggung si sultan tanpa merepotkan peserta sumpah yang lain. Bikin pesta dan ngeluarin duit segitu mah gak ada apa-apanya buat keluarga sultan pemilik Hartanto Group itu.
"Iya. Nanti aku ajakin kamu ya buat dateng. Masa kamu tega aku dateng sendirian? Ntar aku digebet cewek lain lho..." Kali ini Roni meminta dengan sedikit merajuk.
"Ya syukur-syukur donk kalau ada yang mau gebet kamu, Ron. Jangan ditolak, mubazir hehe." Ella malah menjawab dengan santai.
"Asyem. Kayak aku beneran gak laku aja." Roni mendendengus kesal dan Ella hanya tertawa cekikikan menanggapinya.
"Nah itu kayaknya mereka udah mulai sesi pemotretan outdor." Roni menunjuk ke arah rombongan para dokter dan keluarganya yang baru keluar gedung.
"Iya kayaknya, kita tungguin disini aja. Pasti bakalan lama juga sesi foto-fotonya."
"Itu mas Mahes, sama isterinya kayaknya..." Roni kembali menunjuk suatu arah.
Ella mangalihkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjukkan Roni. Dapat dilihatnya Mahes yang sedang berjalan beriringan dengan seorang wanita cantik yang mengenakan kebaya bruklat berwarna kuning cerah lengkap dengan jarik, selendang serta tatanan rambutnya yang tersanggul rapi. Benar-benar dandan totalitas yang membuatnya terlihat seperti bangsawan jawa yang sangat anggun. Isteri sultan emang wajar saja sih untuk berdandan begitu.
Roni memanggil dan melambaikan tangannya pada Mahes. Pria yang dipanggil itupun menolehkan wajahnya ke arah Roni dan Ella, wanita yang bersamanya juga ikut menoleh. Seketika Ella terbelalak melihat wanita yang bersanding bersama Mahes. Wajah cantik itu, wajah judes yang terlihat sedikit angkuh itu. Wajah blasteran jawa dan bule khasnya, senyuman simpulnya yang terkesan tidak ramah. Wajah yang tidak asing dan sangat dikenal Ella.
~∆∆∆~
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼