
"Terus El, kayaknya aku ketinggalan berita terbaru ini. Gimana ceritanya coba kamu bisa balikan sama Ardi Pradana si sultan itu? Terakhir aku denger kan kamu jadian sama Roni?" Intan mulai menginterogasi Ella saat mereka bertiga akhirnya mojok di kamar Sari. Gulung-gulung bersama di kasur Sari yang super empuk dan berukuran king size.
Sementara ketiganya mojok di kamar Sari di lantai atas, Roni dan Ivan menunggu di bawah. Tetap di ruang tengah dengan mengobrol santai sambil menonton balapan moto GP yang disiarkan secara live di TV dengan asiknya.
"Iya aku juga penasaran. Roni juga gak sempet cerita, cuma bilang kalau udah putusin kamu." Sari ikutan penasaran dengan cerita cinta segitiga mereka.
"Tunggu-tunggu...Roni cerita ke kamu?" Intan yang memang memiliki kepekaan tinggi merasakan ada sedikit kejanggalan. Sedekat apa hubungan Sari dan Roni. Kok bisa-bisanya Roni cerita tentang masalah pribadi begitu ke Sari. Bahkan Ella yang tidak peka pun juga dapat merasakan ada sesuatu di antara keduanya meskipun masih samar-samar.
"Sebelumnya aku sempet curhat masalah keanehan Jun pada Roni. Sebelum kami tahu kalau Jun ternyata sakit parah kayak gitu. Roni sempet bantu nemenin aku ke jogja untuk menemui Jun." Sari menceritakan tentang kedekatannya dengan Roni. Baik Intan maupun Ella hanya mendengarkan dengan seksama.
"Setelah putus sama Ella, Roni kembali ke Jogja lagi menghampiri aku. Perayaan patah hati katanya, tapi dia gak cerita apa-apa. Selanjutnya kami disibukkan dengan urusan Jun sampai dia akhirnya..." Sari menghentikan ceritanya. Tak kuat untuk melanjutkan kata-kata tentang kematian Jun.
Fix, beneran ada apa-apa ini. Meskipun mungkin baik Roni ataupun Sari sama-sama belum sadar. Tapi keduanya seperti saling membutuhkan satu sama lainnya. Keduanya saling mencari saat ada masalah. Saling menghibur dan saling memberi dukungan. Apalagi coba kalau bukan karena benih-benih cinta mulai bersemi diantara mereka?
"Roni yang mutusin Ella?" Intan dengan pintarnya mengembalikan pembicaraan ke arah Roni. Tak ingin Sari kembali bersedih dengan mengingat hari dimana Jun meninggal dunia.
Intan sebenarnya kaget mendengar kenyataan Roni lah yang mengakhiri hubungan dengan Ella. Padahal Roni itu sudah lama sekali memendam rasa pada Ella, kok malah diputusin setelah akhirnya bisa menjadi pacarnya? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Ceritanya panjang..." Ella berusaha mengelak untuk menjelaskan. Rasanya tak nyaman untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya secara detail.
"Gak pa-pa kupingku siap mendengarkan." Intan bersikeras untuk mendengarkan. Dan sari juga sudah terlihat sangat antusias mendengarkan. Membuat Ella tak bisa mengelak lagi untuk bercerita kepada keduanya.
Ella mendengus pasrah sebelum akhirnya mulai ceritanya tentang pertemuan tak terduga dengan Linggar. Kemudian bagaimana Linggar mengatur pertemuan antara dirinya dengan Ardi di private room. Tentang kecelakaan Linggar yang memaksanya dirawat di RS. Hartanto Medika. Serta berbagai kebetulan-kebetulan lain yang mempertemukan dirinya dengan Ardi. Kebetulan yang seolah ada campur tangan takdir di dalamnya.
Ella juga menceritakan tentang kedatangan keluarga Roni ke rumahnya, untuk melamarnya pada orang tuanya. Menceritakan bahwa dirinya meminta sedikit waktu sebelum menjawab. Menceritakan pula tentang pembicaraannya dengan Zahreni tentang perasaanya yang sebenarnya.
Ella juga menceritakan kejadian sampai saat dirinya tumbang dan dirawat di rumah sakit. Dimana Ardi datang dan menemaninya sampai ketiduran berdua dan Roni yang ternyata melihat mereka. Dan terakhir Ella juga menjelaskan saat Roni memutuskan hubungan asmara diantara mereka serta memasrahkan dirinya kepada Ardi.
Baik Intan ataupun Sari hanya bisa ternganga dan melongo mendengarkan cerita Ella. Cerita yang bagaikan kisah cinta segitiga di dalam drama koreya. Kisah yang tentu membuat dilema karena dihadapkan antara cinta dan persahabatan mereka.
"Roni melakukan itu?" Intan berujar tak percaya dan kagum sekaligus. "Wah sepertinya Roni kita sudah tumbuh menjadi pria yang keren sekarang ya."
"Pasti sangat berat bagi Roni untuk melakukannya." Sari ikut berkomentar. Sari tahu benar bagaimana hancur leburnya hati Roni waktu itu.
'Kamu hebat Ron, kamu bisa melepaskan gadis yang sangat kamu cintai hanya agar gadis itu bisa berbahagia dengan pria lain yang dicintainya.'
"Iya. Aku juga terharu banget sama apa yang sudah dilakukan Roni padaku. Kuakui memang sangat sulit untuk membuat keputusan mengakhiri hubungan kami. Tapi semua kembali kepada soal rasa. Karena rasa tak bisa dipaksakan. Dan pasti akan semakin menyakiti kedua belah pihak jika hubungan kami diteruskan dengan kepura-puraan." Ella mengakui.
"Memang sudah jelas sejak awal Ella tidak mencintai Roni. Ella masih tidak bisa lepas dari perasaannya pada mas Ardi." Sari ikut mendukung dan lega dengan keputusan Ella.
Bukan hanya karena Ardi adalah saudara sepupunya. Tapi lebih kepada keinginannya agar Ella, Ardi dan Roni juga untuk bisa berbahagia dengan kehidupan mereka selanjutnya. Agar Roni bisa move on dan dapat menemukan kebahagaiaan dengan wanita lain yang dicintainya kelak.
"Tapi gimana dengan restu dari keluarga Ardi? Mama Ardi kan gak suka sama kamu dan gak mau nerima kamu?" Intan ingat benar akan perbuatan mama Ardi pada Ella tiga tahun yang lalu. Pasti kenangan pahit itu masih membekas di hati Ella.
"Aku sudah bertemu dan berbicara dengan nyonya Kartika Pradana. Bertukar pikiran dan pendapat. Dan setelah lebih mengenalnya, ternyata beliau juga bukanlah seseorang yang jahat. Beliau hanyalah seorang ibu yang menginginkan kebahagiaan bagi putranya."
"Kita cuma perlu melihat segala sesuatunya dari berbagai sisi pandang, jangan hanya dari satu sisi saja. Setiap orang dengan berbagai kepentingan dan keinginan pribadinya." Ella menjelaskan tentang penyelesaian masalahnya dengan Kartika.
"Kamu sudah maafin semua perbuatan beliau padamu?" Intan tak percaya bahwa Ella dapat begitu saja memaafkan perbuatan nyonya Pradana. Setelah segala luka dan kesedihan yang dideritanya selama ini karena perbuatan mama Ardi itu.
'Kamu terlalu baik jadi orang, El.'
"Iya tan. Tuhan saja maha pengampun dan maha penyayang. Bagaimana mungkin aku yang hanya manusia biasa tidak mau memaafkan kesalahan seseorang? Arogan sekali kan." Jawab Ella sambil tersenyum manis, beneran kayak malaikat saja.
"Kamu sudah memutuskan akan menikah dengan Ardi? Apa Ardi sudah benar-benar serius akan mempersunting kamu?" Intan bertanya to the point.
Ella mengangguk mantab menjawabnya. "Mas Ardi mengatakan akan segera melamarku secara resmi. Dia sudah pernah memintaku juga kepada papa sebelumnya." Ella menjelaskan dan kedua temannya langsung ternganga, waduh gerak cepat si sultan.
"Bagaimana dengan kehidupan sultan yang akan kamu jalani kalau bersama Ardi nanti? Kamu udah memikirkan semuanya, El? Kehidupan yang sangat berbeda 180 derajat daripada kehidupanmu yang sebelumnya." Intan masih khawatir dengan pilihan hati Ella yang jatuh pada Ardi.
"Pernikahan yang hebat tidak terjadi karena bersatunya 'pasangan yang sempurna'. Tapi pernikahan yang hebat dapat terjadi saat pasangan yang tidak sempurna belajar menikmati perbedaan mereka." Sari ikut berpendapat.
Merasa sedikit tidak nyaman juga dengan ucapan Intan tentang kehidupan para sultan. Ada apa dengan kehidupan kami? Kami juga manusia biasa yang sama saja dengan kalian semua.
"Pernikahan yang baik adalah pernikahan yang memungkinkan perubahan dan pertumbuhan dalam individu dan cara mereka mengekspresikan cinta. Untuk tumbuh menjadi lebih baik bersama-sama." Ella ikut menambahkan ucapan Sari.
"Aku dan mas Ardi memang belum tahu rasanya menikah dan belum tahu juga bagaimana dunia pernikahan kami kelak. Serta apa yang mungkin akan kami hadapi nanti. Tapi entah mengapa aku merasa akan bisa melewati segalanya asalkan dia ada bersamaku. Asalkan dia berada di sisiku." Ella mengungkapkan keyakinan akan pilihan hatinya pada seorang Lazuardi Pradana.
"Kalian benar. Dan semoga saja keputusan kamu ini merupakan yang terbaik dipilihkan Tuhan untukmu." Intan ikut membenarkan ucapan keduanya.
"Komitmen hubungan pernikahan itu sebisanya untuk selamanya. Kamu harus benar-benar memilih seseorang yang tepat untuk berbagi segalanya denganmu. Seseorang yang tak akan membuatmu bosan bersamanya. Seseorang yang mau berjuang bersama dalam segala hal. Karena Pernikahan bukanlah akhir dari perjuangan cinta kalian. Justru pernikahan itu sendiri merupakan awal dari segala perjuangan kalian bersama untuk kehidupan yang baru." Intan menambahkan dengan bijak.
Intan tahu benar baik Ella ataupun Sari adalah dua wanita dewasa dengan pikiran cerdas dan matang. Mereka berdua sebenarnya sudah lebih dari mampu untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Hanya saja nasib dan takdir yang membuat mereka masih berstatus sebagai wanita singel sampai saat ini. High quality lady. Mungkin semuanya merupakan bagian dari proses pendewasaan mereka, untuk menjadikan keduanya menjadi wanita-wanita hebat.
Never marry the one you can live with, marry the one you cannot live without.
(*Jangan pernah menikah dengan orang yang kamu dapat hidup bersamanya, menikahlah dengan orang yang kamu tidak dapat hidup tanpanya.)
"Sudahlah, apapun pilihan kamu yang penting kamu harus bahagia, El." Intan mengakhiri pembicaraan dengan harapan dan doanya untuk Ella. Dan Ella langsung menjawabnya dengan senyuman lebar dan anggukan mantab.
"Kamu juga, Sar. Memang akan sangat berat bagimu, tapi kamu harus bisa membuka dirimu dan menerima cinta yang lain. Kamu juga harus berbahagia Sar, jalani hidupmu dengan baik demi dirimu sendiri dan demi Jun juga." Intan meraih jemari Sari dengan mata berkaca-kaca.
Sari hanya bisa menunduk dan menganggukkan kepalanya. Pembicaraan tentang Jun memang masih selalu merobohkan bendungan air mata yang coba dibangunnya. Masih terlalu menyedihkan... Dan tentu saja kali ini pun pertahanannya jebol untuk tidak mengalirkan butiran bening dari matanya.
"Kamu bukannya harus melupakan Jun, Sar. Simpan segala tentang dia rapat-rapat di dadamu. Jun masih akan selalu ada di hatimu dan menemanimu dengan segala kenangan indah tentangnya." Intan juga tak dapat menahan tangisannya.
Teringat tentang Jun yang sangat dekat dengannya karena selalu satu tim dalam interenship dulu. Jun yang baik dan selalu mengalah, Jun yang selalu membantunya, Jun yang tidak banyak bicara, Jun...
"Kamu kuat, Sar. Kamu hebat. Memang Jun sudah tak ada lagi sekarang. Tapi kamu masih punya kami, kamu juga masih punya keluarga dan orang orang yang mencintaimu. Kamu pasti bisa melalui semua cobaan ini. Dan kamu akan tumbuh menjadi wanita yang lebih hebat lagi...Berbahagialah, kamu juga harus berbahagia..." Ella ikutan menitikkan air matanya bersama kedua temannya itu.
Ella merentangkan kedua lengannya dan dipeluknya kedua teman seperjuangannya itu dengan erat. Ketiga gadis itu pun berpelukan erat bersama saling berbagi kesedihan dan air mata. Saling menguatkan dan memberikan dorongan satu sama lainnya. Perasaan murni yang seakan bisa saling merasakan kesedihan masing-masing, persahabatan.
Seakan masih tak percaya rasanya Jun telah tiada dan meninggalkan mereka. Tapi tetap saja mereka harus rela dan bisa mengikhlaskan kepergiannya. Melepaskan kepergian sahabat mereka dengan senyuman dan tanpa air mata. Serta menyimpan segala kenangan dan kebaikan Jun dalam hati saja.
Selepas magrib ketiga wanita itu akhirnya keluar dari kamar Sari di lantai dua. Berniat menghampiri Ivan dan Roni yang sudah terlalu lama mereka tinggalkan berdua di lantai bawah. Ketiganya puas setelah melakukan ritual girl talks.
Betapa kagetnya mereka karena ternyata jumlah pria yang menanti mereka bertambah satu personil, Ardi. Ketiga pria itu terlihat asik menonton acara balapan motor di TV sambil memakan potongan pizza.
Ella melongo keheranan melihat keberadaan Ardi disana. Ngapain coba si mas Ardi ini? Masa dia gak bisa terima juga Ella pulang bareng Intan Nanti? Hanya karena ada Ivan yang akan semobil bersama mereka? Dasar Sultan bucin super kronis!
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼