Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
74. Fear


Love can't exist without fear. If the tought of losing someone doesn't scare the shit out of you. Then it is not love.


(*Cinta tidak bisa ada tanpa rasa ketakutan. Jika pikiran akan kehilangan seseorang tidak dapat membuatmu ketakutan. Maka itu bukanlah cinta).


Maybe I'm scared because you mean more to me than anyother person. You are everything I think about, everything i need, everything I want.


(*Mungkin aku takut karena kamu lebih berarti bagiku daripada orang lain. Kamu adalah segalanya yang aku pikirkan, segalanya yang aku butuhkan, segalanya yang aku inginkan).


_______________________________________


Ella berjalan keluar kamarnya untuk menemui Ardi yang menunggunya di ruang tamu. Didapatinya Ardi yang masih menggenakan setelan kemeja kerjanya. Rupanya pria itu bahkan belum pulang ke rumah dari kantornya. Malah menyempatkan untuk mampir ke kontrakannya.


"El? Kamu kenapa, El?" Tanya Ardi berdiri dari sofanya menyambut kedatangan Ella.


"Gak pa-pa kok mas, cuma capek aja," jawab Ella. Dapat dilihatnya di teras, pengantar makanan mereka datang. Ella pun segera mengambil makanan pesanannya dan membawanya masuk untuk Intan sebungkus dan untuk dirinya sendiri sebungkus.


"Kamu belum makan malam?" tanya Ardi melihat Ella membawa sebungkus nasi, piring dan sendok. Duduk di lantai depan sofa dengan makanannya di atas mejanya.


"Baru bangun tidur, kelaparan. Jadi baru pesen delivery order food," jawab Ella. "Mas Ardi udah makan?"


"Udah. Tau gitu aku bawain makanan tadi." Ardi menyesali kedatangannya dengan tangan kosong.


"Mau ngapain malam-malam kesini?" tanya Ella menyelidik.


"Kangen. Sama sekalian nagih kiss yang kemarin belum dikasih."


"Gak ada. Udah kedaluarsa voucher kiss nya."


"Duh pelit bener." Ardi memprotes.


"Aku makan dulu ya, mas," Ella tak menanggapi protes Ardi. Dia membuka nasi bungkusnya dan mulai memakannya. Sambel khas dari nasi tempong dimakannya dengan lahap banyak-banyak, pedes banget.


Ardi hanya mengamati Ella yang memakan makanannya dengan lahapnya, kelaparan? Tapi kok kayaknya dia sengaja makan sambelnya banyak-banyak. Dan benar saja beberapa saat kemudian wajah Ella sudah memerah, berkeringat dan air mata Ella pun mengalir, dia menangis pelan.


"El? Kamu kenapa?" tanya Ardi prihatin. Bingung dengan sikap Ella. Masa gara-gara kepedesan sampe nangis-nangis gitu. Ataukah memang ada yang lain? Makanya tadi dia seakan tak mau menemuinya?


"Pedes. Pedes banget mas," jawab Ella sambil memgambil tisue. Berusaha menyeka ingus dan air matanya yang mengalir tiba-tiba. Entah karena saking pedesnya sambel tempong yang dimakannya atau karena suasana hatinya yang sedang mengharu biru.


Ardi mengambil sebuah minuman gelasan, menusukkan sedotannya dan memberikan kepada Ella. "Minum dulu ni."


Ardi selanjutnya diam saja sambil mengamati Ella yang sedang berkonsentrasi untuk menghabiskan menu makanannya. Ardi beranjak dari duduknya di atas sofa. Ikut duduk di lantai sebelah Ella, untuk bisa mengamati wajah Ella lebih dekat.


Ella menghentikan makannya setelah menghabiskan hampir separuh porsi nasi tempongnya. Tak sanggup lagi untuk lanjut mengunyah dan mengisi perutnya.


Dia kemudian berlalu begitu saja tanpa berkata-kata. Mengembalikan sendok dan piringnya ke dapur serta membuang sisa nasi bungkusnya. Ella juga menyempatkan diri ke wastafle kamar mandi, mencuci tangannya, mencuci mukanya. Menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.


Begitu kembali lagi ke ruang tamu Ella membawa sebuah buket bunga kecil berisi bunga Edelweis. Diberikannya buket itu pada Ardi yang masih duduk di lantai menungunya.


"Ni oleh-oleh buat mas Ardi dari Bromo."


"Bunga Edelweis? Makasih ya." Ardi sedikit bingung juga menerima hadiah buket bunga. Bukannya harusnya cowok ya yang ngasih bunga ke cewek? Gak pa-pa deh anggap aja sebagai emansipasi wanita. Ardi meletakkan buket bunganya di meja di hadapannya.


"Iya gak tahu kenapa pengen aja ngasih bunga abadi itu buat mas Ardi." Ella duduk di lantai juga tepat disebelah Ardi. Duduk berdampingan dengan bersandar pada sofa.


"Karena bunga itu melambangkan cinta abadi?" tanya Ardi menebak-nebak.


"Karena aku juga ingin cinta kita abadi."


"Tentu, sayang. Cinta kita akan abadi...selamanya tak lekang oleh waktu." ujar Ardi sambil memberikan tatapan yang tajam dan menyakinkan pada Ella.


"Aku takut mas, aku takut. Aku terlalu takut untuk kehilanganmu..."


"Kamu tadi nangis kenapa?" diletakkan kepala gadis itu dipundaknya. Ingin memberikan Ella rasa aman, ingin memberikan padanya tempat untuknya dapat menumpahkan segala kesedihannya. A shoulder to cry on.


"Waktuku di Genting sudah hampir habis, mas. Tinggal seminggu lagi aku disini. Saat-saat kebersamaan kita juga tinggal beberapa hari lagi disini..." Alih-alih membahas tentang bomb waktu yang tadi sempat Ella bicarakan dengan Intan, dirinya malah membahas hal lainnya yang lebih ringan untuk dibahas.


"Yaampun kirain kenapa, kalau cuma Surabaya kan aku bisa kesana tiap beberapa minggu sekali. Kita masih bisa menjalin Long distance relationship." Ardi sedikit lega mengetahui alasan ketakutan Ella. Padahal dari tadi dia sudah kepikiran Ella akan mengungkit lagi masalah mereka yang tak kunjung mendapatkan solusi.


"Apa kita akan baik-baik saja?" tanya Ella.


"Everything gonna be ok. Kita pasti dapat melaluinya. Kuncinya adalah komunikasi dan kepercayaan untuk hubungan jarak jauh." Ardi merasa optimis mereka berdua dapat melewati keadaan LDR mereka nantinya.


"Kapan kamu mau boyongan-nya?" tanya Ardi.


"Week end ini. Kalau gak sabtu ya minggu."


"Udah gak bisa ditunda lagi ya?" Ardi sedikit meminta kelonggaran waktu.


"Awal bulan kontrakan rumah ini sudah habis. Dan lagi aku harus ngurusi daftar ulang dan segala persiapan untuk menjadi mahasiswa PPDS di Uner."


"Aku juga bakalan sibuk beberapa hari mendatang. Kayaknya kita bakal susah ketemunya." Ardi mengatakan sesuatu yang membuat hati Ella mencelos kecewa. Padahal dirinya sudah berharap untuk dapat menghabiskan sisa waktunya di Genteng degan berduaan dengam Ardi. Tapi sepertinya harapan itu juga sulit tercapai.


"Aku harus ke luar kota bahkan ke luar negeri. Menemui infestor-infestor perusahaan. Untuk sekedar menyapa, berkenalan dan menyampaikan visi dan misi sebagai CEO baru dari Pradana Group." Ardi menjelaskan rincian kegiatannya tak ingin Ella salah paham.


"Hal ini sangat crucial dan menentukan, apakah mereka bisa terus menanamkan investasinya pada perusahaan kami setelah pergantian pemimpin."


"Iya aku tahu..." Ella sedikit banyak mengingat ucapan Cindy soal pembalikan nama beberapa perusahaan menjadi milik Ardi. Serta mengingat percakapan Johanh dan Masrur bahwa Ardi akan segera naik tahta menguasai seluruh aset Paradana Group. Pria itu semakin tinggi saja, tinggi dak tak terjangkau olehnya.


"Tapi aku bisa bantuin kamu boyongannya. Ntar aku suruh Pak Hasan untuk bawa mobil box buat angkut barang-barang kamu." Ardi tetap bersedia membantu Ella dalam keadaan kesibuk apapun dirinya.


"Gak usah mobil box juga bisa. Mobil biasa juga cukup. Barangku tidak banyak, palingan cuma buku dan pakaian saja. Hampir semua perabotan di rumah ini adalah pemilik owner. Kami hanya meminjamnya saja hehe." Ella menjelaskan tentang barang bawaannya selama pindahan nanti.


"Oh aman berarti. Kalau mobil biasa gak usah mikirin jadwal malah. Bisa berangkat kapan pun saja."


"Kapan mas Ardi mulai berangkat?"


"Besok. Pagi-pagi sekali besok ke Bandara untuk mengejar penerbangan pagi ke Jakarta."


"Besok?...mendadak sekali..." Ella semakin kecewa dengan jadwal dadakan Ardi.


"Karena infestornya juga baru ngasih konfirmasi kesangupan hari ini. Jadi kita rescedule semua acara untuk menyesuaikan dengan jadwal para investor."


"Jaga diri dan jaga kondisi ya, mas. Bakalan sibuk dan banyak mobile gitu kayaknya. Jangan sampai kecapekan dan sakit lagi" Ella sedikit lega juga tak jadi membuka kotak pandora yang berisi bom waktu tadi.


Untunglah dirinya tidak menambah beban pikiran di kepala Ardi. Beban pikiran runyam yang mungkin dapat membuat Ardi bad mood dan kehilangan konsentrasi dalam bekerja. Sesuatu yang tidak baik sebelum keberangkatannya maraton keliling menemui investor keluar kota bahkan keluar negeri.


"Iya, aku janji bakal jaga kondisi. Kamu juga ya take care. Nanti setelah pulang business tour akan langsung aku samperin di Surabaya. Dari bandara ke kamu dulu sebelum balik ke Genting." Ardi memberikan kesanggupan.


"Pantesan aja hari ini kayak maksa banget mau ketemuan. Diusir Intan juga tetap gak mau pergi juga hehe," goda Ella.


"Kalau malam ini gak ketemu kamu, entah kapan bisa ketemu lagi coba? Aku gak mau ambil resiko. Pokoknya harus ketemu kamu malam ini hahaha." Ardi ikut tertawa menyadari kekeras-kepalahannya tadi.


"Thanx ya kamu udah mau nemuin aku malam ini. Dan bilangin maaf buat Intan kalau perkataanku tadi agak nyebelin padanya." Ujar Ardi membelai lembut kepala dan rambut Ella yang masih bersandar di bahunya. "Udah malam, aku pulang dulu ya. Kamu juga pasti capek kan abis jalan-jalan tadi?" pamitnya pada Ella.


Ella mengangkat kepalanya dari bahu Ardi. Perlahan didekatkannya wajahnya ke arah pria itu dan diciumnya bibir Ardi. Pelan, lembut dan ringan saja selama beberapa saat tanpa hasrat dan gairah yang membara.


Ardi juga membalas ciuman Ella itu, mengikuti saja tempo dan ritme yang diinginkan Ella. Tak ingin memaksa atau terlalu bersemangat sehingga menyakiti Ella. Mereka akhirnya berciuman dengan manis dan singkat. Hanya murni sebagai ucapan perpisahan mereka berdua yang tak bisa bertemu selama beberapa saat kedepan.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼