Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
45. Ujian Tahap I


Pagi-pagi sekali Ella sudah bersiap untuk brangkat ke kampus A Uner. Tempat diadakannya ujian masuk penerimaan PPDS hari ini. Pak Hasan ternyata udah dikontrak oleh Ardi untuk jadi supir pribadinya selama perjalanan ke Surabaya. Siap antar jemput kemanapun Ella pergi.


Duh ini kayaknya supir sekalian bodiguard deh. Ardi kayaknya memerintahkan Hasan untuk mengawasi Ella juga. Bahkan mungkin dia akan melapor pada Ardi setiap beberapa jam sekali. Melaporkan apapun kegiatan Ella. Dan pagi ini pak Hasan juga udah stand by siap sedia mengantar Ella kemana aja sesuai perintah si sultan.


Setelah selesai sarapan pagi Ella pamit kepada kedua orang tuanya dan minta doa restu agar diberi kemudahan dalam ujiannya hari ini. Kemudian dengan diantar oleh Hasan Ella segera meluncur ke area kampus Uner.


Ella mendatangi kampua A, fakultas kedokteran Uner. Dia menuju ke ruang kuliah 1 dan didapatinya kelas sudah mulai dengan Prof Mei yang sedang mengisi materi di depan kelas. Seperti biasa Prof Mei bahkan sudah memulai kuliahnya pukul 6.00 pagi. Membuat para mahasiswa harus berjuang ekstra keras untuk mengikuti kuliah itu. Berjuang agar tidak terlambat juga berjuang menahan rasa kantuk yang amat sangat karena hawa dingin di pagi hari.


Ella melirik jam tangannya, Pukul 7.15. Lima belas menit lagi sebelum perkuliahan berakhir. Ella mengambil duduk di kursi yang terdapat di depan ruangan kuliah. Dikeluarkannya ponselnya untuk menemaninya menunggu. Didapatinya pesan dari Ardi disana.


Lazuardi


Pagi Ella sayang. Semangat ya buat hari ini. Good luck and wish you all the best.


(*Semoga beruntung dan mendapatkan yang terbaik buatmu)


Ella


Doain ya mas. Asli udah mulai nervous ini


Lazuardi


Pasti dong. Kamu juga jangan lupa baca-baca ya doa biar lancar dan tenang.


I know you can do it, honey


(*Aku tahu kamu bisa, sayang)


Ella


thanx...need some spirit hug...


(*Makasih...butuh pelukan semangat...)


Lazuardi


#kirim stiker peluk yang lucu


i love you


Ella langsung berdiri saat dia mendemgar ucapan salam dari para mahasiswa kepada sang dosen sebagai tanda berakhirnya perkuliahan. Ella langsung menghampiri prof Mei begitu pria paruh baya itu keluar dari ruangan perkuliahan.


"Selamat pagi, Prof." Sapa Ella.


"Ella! Ayo ikut ke ruangan saya." Mei mengajak Ella ke ruangannya yang tidak jauh dari ruangan kuliah tadi. Ella memang sudah menghubungi prof. Mei melalui pesan bahwa dirinya bermaksud berkunjung untuk meminta rekomendasi guna pendaftaran PPDS.


"Jadi gimana-gimana?" Tanya Prof. Mei sambil mempersilahkan Ella untuk duduk di kursi di depan meja kerjanya.


"Saya ingin minta rekom dari prof Mei. Buat PPDS Interna." Ujar Ella dengan sedikit takut dan sungkan kepada mantan gurunya itu.


"Wah kamu ambil Interna ya? Seneng banget kamu mau ngikutin jejak saya untuk study di bagian interna. Boleh-boleh saya setuju saja. Karena saya tahu kamu anaknya gimana." Prof Mei sepertinya tidak keberatan.


"Beneran Prof? Makasih banyak prof." Ella sangat terharu. Gak sia-sia dulu dia menjadi anak bimbing prof Mei dalam skripsinya. Ella juga bahkan sempat membantu prof Mei juga dalam membuat karya tulis dan penilitianya.


"Tentu saja. Sayang itu otakmu kalau gak dipakai study lagi. Jadi mana yang perlu saya tandatangani?" Lanjut beliau bertanya.


Ella buru-buru mengeluarkan map dokumennya dan disodorkan lembaran berkas rekomendasinya untuk ditandatangani Prof Mei. "Disini prof." Ella menunjukkan dimana tempat yang harus ditandatangani.


"Hmm kamu juga dapet rekomnya Albertus? Dia temenku kuliah dulu." Celetuk prof Mei sambil membolak balik dokumen Ella.


"Iya prof. Saya kebetulan inship di RSUD G tempat dr. Albertus bertugas." Ella menjawab. Tak beberapa lama kemudian pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang wanita muda dengan jas putih khas PPDS yang dikenakannya. Sepertinya wanita ini adalah asisten Prof.Mei saat ini.


"Sita. Sini kamu kasih rekom juga buat Ella." Perintah Prof Mei pada wanita itu. Sita mengerutkan dahinya tetapi tidak berani menolak perintah profesornya. Diapun menurut saja dan menandatangani rekomendasi untuk Ella.


"Terima kasih dok." Ella senang sekali menanggapi bantuan yang diberikan Sita. Berarti dirinya sudah mendapatkan tiga rekomendasi. Yes! Yes!


"Sama-sama," jawab Sita singkat.


"Baiklah saya pamit dulu prof, dok. Makasih banyak atas bantuannya." Ella pamit dan undur diri.


Dari ruangan prof Mei, Ella beranjak ke aula tempat dimana akan dilaksanakan ujian penerimaan PPDS nya. Roni ternyata sudah hadir disana duluan. Pria itu langsung saja menghampiri Ella begitu melihatnya.


"El? Kok pagi bener? Katanya kamu ujian sesi dua jam 10.00?" Tanya Roni keheranan.


"Tadi ngadep prof Mei dulu minta rekom."


"Owh, Tapi Dapet kan? Enaknya kamu udah dapet dua rekom dari spesialis penyakit dalam. Gak kayak aku masih gak jelas. Susah banget cari kenalan spesialis jantung."


Ella mengangguk untuk menjawab Roni. "Kamu belum dapet rekom?" tanyanya.


"Ada si kakak kelas dan kakak kosan waktu kuliah dulu di Unibrew. Ini lagi nungguin orangnya tapi belum nongol-nongol."


Roni mengajak Ella untuk duduk di kursi diluar ruangan aula. Mereka membahas tentang soal-soal yang pernah keluar tahun sebelumnya. Mendiskusikan jawaban-jawaban dari setiap soalnya. Cukup lama mereka berdiskusi sampai seorang pria menghampir mereka dan menyapa Roni.


"Ron? Sorry telat. Abis visite pasien dulu tadi." Pria itu menyapa, mengulurkan tangannya pada Roni sambil tersenyum lebar. Dengan sedikit penasaran Ella mengamati pria dihadapannya. Seorang pria yang lumayan tampan dengan wajah teduhnya. Pria itu mamakai jas putih panjang khas PPDS nya.


"Mas Mahes. Gak papa kok mas, santai saja." Ujar Roni menyambut uluran tangan itu dan menjabatnya juga.


"Mana rekom yang perlu kutanda tangani?"


"Oiya kenalin mas, ini Amellia temenku yang ikut tes juga ke interna." Roni mengenalkan Ella pada pria itu.


"Amellia, Ella dok." Ella mengenalkan dirinya.


"Maheswara." Ujar pria itu sambil mengangguk sopan. Tunggu dulu, nama itu sepertinya tidak asing. Tapi dimana ya pernah denger? Ella mencoba mengingat-ingat.


"Pacarmu Ron?" Tanya Mahes menyelidik.


"Bukan, pacar orang hehe." Jawab Roni.


"Yah sayang sekali udah ada yang punya."


"Awas Herder-nya galak mas, ati-ati lho." Ketiganya langsung terkikik mendengar celotehan Roni kali ini. Yak betul, Herder Ella emang galak. Ardi memang seakan membuat di jidat Ella tertulis 'Awas anjing galak'. Agar tak ada yang berani mendekati Ella hehe.


Pembicaraan mereka berhenti saat panitian ujian memanggil peserta ujian sesi satu untuk segera memasuki ruangan aula. Roni segera beranjak dari duduknya untuk memenuhi panggilan itu.


"Aku duluan ya, Wish me luck." Pamit Roni.


(*Doain aku beruntung)


"Chaiyo. You can do it, Ron." Ella memberi semangat pada Roni.


(*Chaiyo. Kamu pasti bisa Ron)


"Semangat, bro!" Mahes ikut menambahkan.


Setelah Roni memasuki ruangan tinggalah Ella sendirian bersama Mahes disana. Yah meskipun disekitaran mereka banyak orang lain yang berdiri atau duduk-duduk juga disekitar sana. Para peserta tes sesi berikutnya dan beberapa pengantar mereka.


"Kayaknya saya pernah denger nama dokter. Nama anda sangat jarang sekali, jadi pasti tak salah lagi." Ujar Ella tiba-tiba teringat dimana dia mendengar nama Mahes.


"Oh ya? Denger dimana?" Mahes sepertinya tertarik dan mengambil duduk di tempat Roni tadi duduk di sebelah Ella.


"Di Genting, Banyu Harum. Dokter Mahes inj kakaknya Mayang Sari Hartanto kan?" Ella berusaha menebak-nebak.


"Lho kok kenal sama si Sari?" Mahes semakin penasaran mendengar nama adiknya disebut.


"Saya dan Roni satu putaran iship dengan Sari, dok." Jawab Ella. Mahes mengamati Ella dengan lebih seksama lagi. Membuat Ella sedikit salah tingkah dibuatnya.


"Pantesan kayak pernah lihat kamu. Kamu kan si cewek baju merah yang dibawa Ardi ke pesta ultah mamanya waktu itu?" Tanya Mahes sambil tersenyum lebar.


"Dokter tahu saya?" Ella keheranan kali ini.


"Pernah liat sekali pas di pesta ultah budhe Kartika. Aku kan datang juga waktu itu... Lagian kamu mencolok dan cantik banget di pesta waktu itu dengan baju merahmu. Ditambah lagi tanganmu yang digandeng kemana-mana oleh Lazuardi Pradana. Seluruh yang hadir di pesta udah heboh ngomongin kamu. Menebak-nebak hubunganmu dengan Ardi sang pewaris Pradana Group itu"


Hah? Ella kaget sekali mengetahui kenyataan ini? Jadi dirinya secara tidak langsung sudah menjadi terkenal gara-gara pesta itu?


"Kalau Ardi Pradana si bukan Herder lagi namanya, tapi Doberman hahaha." Celetuk Mahes sambil ketawa renyah. Mau tak mau Ella jadi ikut membayangkan wajah seram anjing doberman yang dianalogikan sebagai Ardi oleh Mahes. Pacar gue ganteng oi, gak seseram itu, teriak batin Ella.


"Kamu ceweknya Ardi ya?" Tanya Mahes langsung to the point.


"I, iya," jawab Ella gugup.


"Sudah kuduga. Kamu tipenya banget si Smart and natural beauty hehe." Sekali lagi Mahes mengamati Ella dengan teliti dari atas sampai bawah. Membuat Ella kikuk saja.


"Dok Mahes kok kayaknya kenal deket banget sama mas Ardi?" Ella mau tidak mau jadi ikut kepo akan hubungan Ardi dan Mahes.


"Kita kan sepupuan, sepantaran lagi. Dari kecil udah sering bareng. Sampai SMA juga kita sekolah barengan." Jawab Mahes enteng.


Kemudian mereka mengobrol tentang beberapa hal kecil lainnya sampai Mahes pamit undur diri karena mendapat panggilan tugas dari ponselnya. Meninggalkan Ella sendirian yang melanjutkan membaca-baca catatan di notes booknya.


Tepat pukul 09.30 peserta tes gelombang pertama akhirnya keluar ruangan. Panitia tes segera memanggil peserta tes gelombang kedua untuk memasuki ruangan. Ella pun bergegas memenuhi panggilan itu.


"Good luck, El. Kamu pasti bisa!" Ujar Roni saat mereka berpapasan di depan pintu ruangan. Dan Ella hanya menganguk dan tersenyum membalasnya. Terlalu gugup dan grogi untuk menjawabnya.


Di dalam ruangan aula sudah tersedia puluhan unit komputer diatas mejanya. Ujian kali ini menggunakan sistem CAT yang lagi booming Computer Assisted Test. Tes online menggunakan komputer yang langsung bisa keluar dan ketahuan hasilnya setelah peserta selesai mengerjakan ujian itu.


Ella segera mengambil duduk di salah satu unit komputer. Menantikan perintah selanjutanya dari panitian ujian. Sekitar lima puluhan peserta memasuki ruangan aula dan sudah menduduki kursinya masing-masing. Seorang panitian memberitahukan tentang peraturan dan tata tertib ujian. Kemudian panitia itu memerintahkan seluruh peserta untuk meletakkan semua barang bawaannya ditempat penitipan barang. Mengumpulkan map berisi berkas-berkas dan rekomendasi juga ke panitia. Lalu dilanjutkan dengan sesi mengisi data diri peserta.


Tepat pukul 10.00 sang panitia ujian mengumumkan aba-aba dimulainya ujian. Dan Ella langsung menekan tombol start di layar komputernya. 'The battle is begind. Let's get fight!' Ujar Ella memperingatkan dan menyemangati dirinya sendiri. Ella berusaha memusatkan konsentrasi penuh untuk mengerjakan berbagai soal yang jumlahnya seratus butir itu dalam waktu satu jam.


(*Pertarungan telah dimulai. Ayo kita berjuang!)


~∆∆∆~


Muncul satu dokter ganteng lagi gaes


Maheswara Hartanto dokter PPDS spesialis jantung yang juga Sultan tajir hehe


Jadi sekarang ada tiga kandidat ni buat ella. Kalian pilih mana?


A. Tetep ardi


B. Roni aja deh


C. Mahes donk


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼