Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
37. Kediaman Keluaraga Pradana


Ella membuka matanya perlahan dan yang pertama dilihatnya adalah wajah Ardi tepat didepan matanya. Pria itu sedang tertidur di hadapannya dengan nyenyak. Aku dimana? Ella mengedarkan pandangannya kesekelilingnya dan didapati dirinya sedang tidur di ranjangnya di hotel Santika tempatnya menginap.


Bagaimana aku bisa pulang ke hotel? Bagaimana mas Ardi bisa ada disini juga? Ella bangkit dari tidurnya, terduduk di ranjang dan dapat dirasakan sebelah tangannya digenggam erat oleh tangan Ardi. Ella masih keheranan mendapati Ardi yang tertidur disebelahnya. Pria itu bahkan bisa tidur pulas sambil duduk di lantai dengan posisi kepalanya bersandar di ranjang Ella dan sebelah tangannya menggenggam tangan Ella.


Kebingungan Ella semakin bertambah saat disadarinya dirinya memakai jas hitam dengan parfum aroma green yang segar melekat disana. Aroma parfum yang biasanya dipakai Ardi sehari-hari. Ella menyibakkan bed cover yang menutupi tubuhnya, dapat dilihatnya pula plester yang menempel di atas tumit kakinya...Apa yang terjadi semalam?


Ella mencoba mengingat-ingat kembali apa yang terjadi semalam saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Saat kecerdasan sudah kembali bersemayam di dalam otaknya, membuatnya dapat kembali berpikir dan mengingat-ngingat kejadian kemarin...


Ella merasa bodoh sekali dengan apa yang dilakukannya kemarin. Bagaimana bisa dia pergi begitu saja dari pesta? Bagaiman bisa dia berjalan tanpa tujuan keliling kota kayak orang gila begitu? Bagaimana bisa juga dirinya berakhir kedinginan di taman remang-remang begitu?...


Jelas saja banyak yang bingung mencarinya. Terutama Ardi, jelas saja pria itu khawatir mengetahui dirinya menghilang. Dan pastinya Ardi sudah keliling kota mencari keberadaannya kemarin malam.


Dengan lembut Ella mengusap rambut dan kepala Ardi. Wajah tampan Ardi saat tidur tetap menggemaskan seperti biasanya. Ditepuknya pipi ardi dengan lembut, coba dibangunkannya pria itu. "Mas, mas Ardi. Bangun udah pagi."


Ardi terlonjak kaget dan membuka matanya. Mengerjap dan membuka tutup matanya untuk mengembalikan kesadarannya. "Ella? Kamu sudah bangun? Udah baikan?"


"Sini naik. Pasti dingin kan semalaman mas Ardi tidur di lantai?" Ella menepuk ranjangnya mengajak Ardi untuk duduk disebelahnya.


"Aku gak papa. Kamu gimana?" Ardi mendekat dan mengambil duduk disebelah Ella. Diarahkan telapak tangan kanannya ke wajah Ella, dan dielusnya lembut pipi gadis itu. Sudah hangat, sudah tak sedingin kemarin. Wajah Ella pun sudah lebih cerah pagi ini. Cantik as always meskipun mata Ella masih terlihat sembab karena terlalu banyak menangis kemarin malam.


"I'm Ok" jawab Ella memaksakan senyumnya.


"Ella...Ella sayang, aku minta maaf..."


"Iya..."


"Iya apa?" Entah mengapa Ardi menjadi sebal dengan reaksi Ella. Gadis ini terlalu baik, terlalu baik sampai tak bisa marah padanya. Ella lebih memilih untuk menangis sendirian dalam diam seperti kemarin daripada marah atau melampiaskan segala emosinya pada Ardi.


Ardi tak suka itu, dia tak suka Ella harus menanggung semuanya sendirian. Dia juga ingin ikut merasakan penderitaan Ella. Ingin berbagi segala rasa bersamanya. Sikap Ella ini bukannya membuatnya lebih baik malah semakin menambah rasa bersalahnya. Menambah rasa sesalnya yang tak bisa melindungi gadis yang dicintainya.


"Kamu boleh mengeluh, boleh berteriak, boleh marah, boleh nangis sama aku, El...Tapi jangan kayak gini, aku gak bisa liat kamu begini." Ujar Ardi mengutarakan uneg-unegnya.


"Ngomong El! Ayo omongin semua biar kamu lega."


Ella terlihat menelan ludahnya beberapa kali sebelum membuka mulutnya. "Sakit mas, sakit sekali rasanya. Aku tahu mas Ardi melakukannya karena terpaksa. Aku juga tahu mas Ardi masih menyayangiku...Tapi nyatanya aku tetap gak bisa melihatmu berbuat begitu dengan wanita lain" Tanpa disadari Ella air matanya kembali meleleh. Tetapi entah mengapa dia merasa lega setelah mengungkapkan semua yang dirasakannya pada Ardi, seakan sebagian bebannya sudah terangkat dari pundaknya.


Ardi tersenyum dan menepuk-nepuk puncak kepala Ella dengan sayang. "Lain kali jangan gini lagi ya. Kan udah kubilang kamu bisa cari aku, Laras atau Linggar. Eh kamu malah lari tanpa tujuan gitu. Untung aja kamu gak papa, aku khawatir banget kemarin"


"Tapi kenapa harus Sari?" Tanya Ella.


"Keluarga Sari itu adalah keluarga Hartanto yang menguasai industri kesehatan di wilayah timur ini. Keluarga dokter turun temurun. Mereka mempunyai tiga rumah sakit besar di Banyu Harum, Jembar, dan Bondowosi. Belum lagi klinik, apotek, dan perusahaan farmasi mereka yang menyebar dimana-mana. Kakek Sari, Ayahnya, bahkan Maheswara kakak Sari juga seorang dokter, Mahes sekarang malah sedang sekolah spesialis Jantung di Surabaya." Ardi menjelaskan tentang keluarga Hartanto.


"Bukannya mama mas Ardi tidak suka menantu yang bekerja?"


"Hmm Laras ya yang bilang?... Kalau Sari si gak perlu kerja juga udah tajir. Dia cuma perlu jadi direktur rumah sakit. Butuh nama saja tak perlu ikut kerja juga bisa. Mama sepertinya berharap keluarga kami semakin kokoh dengan pernikahan kedua keluarga. Bidang properties dan kesehatan bisa kami kuasai nantinya."


"Oh jadi pernikahan politik ya?"


"Ya bisa dikatakan begitu. Tapi gak usah dipikirkan, selama aku dan Sari tidak setuju maka pernikahan tak akan terjadi."


"Tapi mama mas Ardi..."


"El, kamu sekali aja percaya sama aku. Sekali ini tolong kamu bergantung padaku, biar aku yang mengurus semuanya. Kamu gak usah terlalu mikir, yang penting fokus sama hubungan kita aja" Ujar Ardi menekankan.


"Tapi aku gak mau nikah tanpa restu orang tua. Terutama seorang ibu" Ella masih ragu Ardi dapat mengubah keputusan mamanya.


"Pasti akan kita dapatkan restunya. Cepat atau lambat" jawab Ardi mantab.


Saat hari sudah beranjak siang, Ardi mengajak Ella mengemasi barang-barangnya dan check out dari hotel. Setelah itu diluar dugaan Ella, Ardi malah membawanya ke kediaman keluarga pradana. Untuk sekalian pamit sebelum kembali ke Genting.


"Mama dan papa ada, Gus? Linggar dan Laras juga ada dimana sekarang?" Tanya Ardi kepada Agus sang butler sebelum mambawa Ella masuk ke dalam rumah.


"Ada tuan. Tuan besar dan nyonya besar sedang di taman belakang menikmati tehnya. Nona Laras dan tuan Linggar di kamarnya masing-masing"


Ardi menggandeng tangan Ella dengan Erat seakan bertekat untuk tidak akan pernah meninggalkan Ella sendirian lagi di rumah ini. Dibawanya Ella melintasi ruangan super luas yang kemarin bertindak sebagai party hall. Ruangan ini terlihat kosong karena sudah dibersihkan dari segala peralatan dan pernak pernik pesta kemarin dan perabotan aslinya masih belum dikembalikan seperti semula.


Mereka berdua berjalan melewati tangga pualam ke lantai dua. Kemudian berbelok ke kiri melewati koridor-koridor yang memisahkan antar kamar disana. Ardi mengetuk salah satu kamar dan tak lama kemudian Linggar membukakan pintunya.


"Nggar, titip Ella bentar" Ujarnya menarik Ella memasuki kamar. "Kamarku tepat di sebelah. Aku mandi dan ganti baju dulu ya" Pamitnya kemudian meninggalkan mereka berdua.


"Masuk yuk mbak" Ajak Linggar mempersilahkan Ella memasuki kamarnya. Kamar yang tentu saja sangat rapi mengingat banyaknya maid di rumah ini. Kamar Linggar terlihat lebih hidup seperti kamar ABG laki-laki normal. Sangat berbeda dari kamar Ardi yang terkesan plain dan membosankan.


Beberapa poster super hero tergantung di dinding kamar yang dipasang wall papper dengan nuansa biru. Seperangkat kasur king size di salah satu sisi kamar, sebuah meja belajar lengkap dengan seperangkat komputer canggih di sudut lain, sebuah sofa dan coffe table di sebelah tv yang lengkap dengan home teatre dan console game beraneka jenis juga ada disana. Sementara di sudut lain terdapat mini studio musik dengan gitar dan keyboard disana. Kamar yang menyenangkan sepertinya.


Linggar menghempaskan dirinya di karpet bulu depan tv dan kembali berkutat dengan joy stick game ya. "Silahkan duduk dimana saja mbak, bebas" Linggar mempersilahkan Ella sambil memainkan game sepak bolanya.


"Kamu mau kemana nggar?" tanya Ella ikut duduk di karpet disebelah Linggar. Dari sana dirinya bisa melihat wardrobe room di kamar itu yang langsung terhubung dengan kamar mandi. Ada beberapa koper besar di ruangan itu yang sepertinya sudah penuh terisi.


"Mau minggat. Pergi dari rumah" jawab Linggar santai.


"Hah? minggat?" Ella kebingungan.


"Hehehe aku kan udah kuliah mulai bulan depan mbak. Di Surabaya, uner jurusan management"


"Wah selamat ya. Kukira kamu masih kelas dua SMA" Ella mengingat-ingat terkahir kali dia bertemu adik Ardi ini beberapa bulan lalu.


"Aku kelas dua axelerasi mbak. Gini-gini aku pinter lho" Ujar Linggar menyombongkan diri.


"Keren. Ternyata meskipun badboy kamu pinter juga ya" puji Ella, sedikit kaget mengetahui Linggar ternyata memiliki otak yang sangat cerdas diluar segala kenakalannya. Linggar hanya membalasnya dengan tawa ringan. Tak berselang lama Laras membuka pintu dan memasuki kamar juga. Mungkin Ardi yang memberitahunya tentang kedatangan Ella.


"Mbak Ella, kemarin malam kemana aja? Kami semua nyariin, mas Ardi apalagi sampai panik nyari mbak kemana-mana" Ujar Laras sambil menghampiri Ella, ikut duduk di karpet.


"Maaf kemarin aku jalan-jalan sebentar ke taman" jawab Ella membuat alasan.


"Yah memang wajar si kalau mbak marah karena kejadian kemarin malam. Tapi setidaknya jangan tiba-tiba menghilang begitu. Kasian mas Ardi yang harus nyariin mbak keliling kota kayak kemarin." Laras kembali berkata dengan nada tegasnya.


"Udah lah mbak Laras. Kita semua tahu kemarin mbak Ella murni sebagai korban" tanpa diduga Linggar membela Ella.


"Iya juga sih. Semua juga kaget mendengar pengumuman mama yang tiba-tiba kemarin" Laras ikut membenarkan. "Terus mbak Ella mau gimana? Masih mau memperjuangkan mas Ardi atau menyerah sampai disini?"


"Kami masih mencoba untuk mendapatkan restu mamamu. Yah semoga saja beliau dapat merestui kami cepat atau lambat" jawab Ella menceritakan rencananya.


"Kalau sudah memutuskan begitu berarti kalian harus habis-habisan. Kalian harus siap menanggung segala konsekensinya. Aku dan Linggar disini akan bantu mendukung kalian sebisa kami" Laras mengakhiri ucapannya pembicaraannya dengan dramatis.


"Sepertinya ntar mas Ardi mau mencoba ngajak mama ngomong lagi. Pas makan siang nanti. Lebih baik mbak Ella siapkan mental dulu sebelum bertempur hehe" Linggar ikut menambahkan setelah menyelesaikan satu permainan gamenya.


"Makasih ya. Kalian memang adik yang terbaik" Ella terharu mendapatkan dukungan dari kedua adik Ardi.


Ella tahu benar tujuan Ardi membawanya kesini kali ini, tentu saja untuk sekali lagi menghadap kepada kedua orang tuanya. Tapi diingatkan begitu oleh Linggar bukannya membuat dirinya semakin siap, malah nyalinya semakin menciut dan rasa cemas dan takut kembali merasukinya untuk bertemu dengan kedua calon mertuanya itu.


~∆∆∆~


Pertemuan kedua dengan calon mertua bakal kayak gimana ya?...Bisakah mereka membuat kedua orang tua Ardi menyetujui hubungannya dengan Ella?


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼