Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
24. Back to Genting


Bis patas jatim jurusan Surabaya-Banyu Harum yang Ella dan Ardi tumpangi telah melaju dengan kecepatan tinggi dan stabil. Sudah tiga jam lebih mereka terduduk di kursi bis yang sempit tanpa dapat melakukan kegiatan lainnya.


Rasa bosan, rasa lelah, lapar dan rasa jenuh mulai merasuki mereka berdua. Apalagi sejak tadi keduanya tidak banyak bicara, berbicara seperlunya saja.


Tantangan berat yang harus dihadapi untuk perjalan panjang adalah kebosanan. Ardi sepertinya dapat mengatasi kebosanannya dengan lebih baik daripada Ella.


Yah bagi pria yang hobi tidur itu tentu saja bisa dengan mudahnya tidur dimana saja. Memejamkan matanya dan langsung terlelap ke alam mimpi. Tanpa memperdulikan guncangan-guncangan ringan serta suara-suara berisik disekitarnya.


Berbeda dengan Ella, dia harus berusaha keras untuk dapat memejamkan matanya dan tertidur. Tetapi tak akan lama, beberapa menit kemudian Ella pasti akan segera terjaga kembali saat terjadi guncangan ringan pada bis atau terdengar suara-suara kecil yang mengganggu. Membuat gadis itu lebih lelah beberapa kali lipat dan merasakan sesuatu yang tidak nyaman pada tubuhnya.


Perjalanan panjang menggunakan bis memang selalu menyiksa bagi Ella. Karena itu dia lebih menyukai perjalanan menggunakan kereta api yang lebih minim guncangan untuk perjalanan panjangnya. Bahkan perjalanan dengan mobil pribadi pun tak masalah bagi Ella. Entah mengapa hanya perjalanan bis yang membuatnya tidak nyaman.


Sesekali Ella membuka ponselnya untuk menghilangkan kebosanan, untuk sekedar membaca dan bertukar pesan. Membaca-baca dari akun sosial medianya atau melihat berita-berita tidak penting untuk menghabiskan waktu.


Tetapi membaca di dalam kendaraan yang terus bergerak itu malah semakin membuatnya makin pusing dan mual. Akhirnya Ella meletakkan kembali ponselnya ke saku jaketnya.


"Kamu gak bisa tidur? Kok kayak gelisah gitu dari tadi?" Tanya Ardi tiba-tiba sudah membuka matanya.


'Ah rupanya pria itu sudah bangun, atau dia hanya pura-pura tidur? Apa dia terus mengawasi aku? Sejak kapan?' pikir Ella saat melihat Ardi terjaga.


"Iya. Bosen tapi juga gak bisa merem. Jadinya galau," jawab Ella.


"Mau makan roti? tadi aku beli beberapa cemilan juga," Ardi menyodorkan kantong plastik belanjaannya yang berisi banyak sekali makanan dan minuman botolan.


"Ini aja," Ella mengambil sebotol minuman suplemen vitamin c dari kantong plastik dan meminumnya.


Tetapi baru meminumnya beberapa teguk saja sudah membuat Ella sangat mual seakan mau memuntahkan seluruh isi perutnya.


Rasa mual yang amat sangat dan sensasi rasa asam lambung yang naik ke tenggorokannya. Membuat rasa tidak nyaman menyerang mulut dan tenggorokan gadis itu. Keringat dingin tiba-tiba merayapi sekujur tubuhnya. Cepat-cepat Ella menutup mulutnya, mencegahnya memuntahkan segala isi perutnya.


"El? Ella kamu kenapa?" tanya Ardi sangat khawatir melihat keanehan Ella.


Apa Ella mabuk? Dengan sedikit panik diambilnya minuman botolan ditangan Ella. Ditutupnya dan diamankannya minuman itu kembali ke kantong plastik.


"Kamu mabuk?" tanya Ardi kebingungan.


Ardi mencari-cari kantong plastik yang biasanya disediakan oleh bis-bis jarak jauh. Untuk memfasilitasi siapapun penumpangnya yang mabuk dan ingin muntah.


Dapat dilihatnya beberapa buah plastik yang tergantung di besi pegangan bis agak jauh ke belakang. Ardi beranjak, berjalan kesana untuk mengambil beberapa buah kantong plastik.


"Ini, El," Ardi kembali ke tempat duduknya besama Ella dan menyerahkan sebuah kantong pada Ella. Dia juga mengambil beberapa lembar tisue dari kantong bekalnya untuk diberikan pada Ella.


Ella segera menerima pemberian Ardi. Berbalik membelakangi pria itu dan memposisikan kantong plastik tepat di depan mulutnya. Membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya yang mendesak keluar. Menampungnya dalam kantong plastik.


Ardi membantunya dengan memijat dan mengelus ringan bagian punggung Ella. Berusaha membantu meringankan penderitaan Ella.


Untuk beberapa saat Ella terus meringkuk di depan kantong plastiknya. Sampai dia merasa sedikit lega dan seluruh isi perutnya telah berhasil keluar semua. Dia menutup kantong plastiknya dan ditali mati kencang-kencang agar tidak tumpah dan menimbulkan bau tidak sedap. Ardi memberinya kantong plastik yang lain untuk melapisi kantong tadi.


Ella melapisi dobel kantong plastiknya. kemudian membersihkan mulut dan tangannya dengan tisue. Gadis itu kembali bersandar dan mengatur napasnya yang tidak teratur. Terlihat sangat lemah, pucat, berkeringat dan tidak nyaman.


Ardi memandangi Ella dengan sangat sedih dan prihatin. Seolah dia dapat merasakan penderitaan dan rasa sakit yang diderita oleh gadis itu. Dia tak pernah melihat Ella selemah itu, gadis yang biasanya selalu cerah ceria dan selalu tersenyum manis kini berubah menjadi sangat lemah, pucat dan mengiris hatinya.


Ardi mengambil kantong plastik di tangan Ella dan membuangnya ke keluar jendela bis. Ditutupnya lubang AC diatas kepala Ella, dilepasnya kardigannya sendiri, dan ditutupkan ke tubuh gadis itu.


"Minum sedikit El. Biar gak lemes," Ardi mengambilkan botol minuman Ella dan membantunya minum.


Ella menurut saja, meminum beberapa teguk. Terlalu lemas untuk menolak.


"Makasih mas..." Ujarnya berusaha tersenyum.


"Kenapa gak bilang kamu mabuk kalau naik bis?" Ujar Ardi lembut, terdengar sangat khawatir dan merasa sangat bersalah.


Dielusnya ringan rambut diatas kepala Ella. Disingkirkan rambut-rambut Ella yang berantakan disekitar wajahnya dengan lembut.


Ardi sedikit kaget mendengar ucapan Ella. Jadi daritadi gadis ini diam saja tak bersuara, menahan semua ketidak nyamanannya hanya karena mengira dirinya marah?


'Bagaimana aku bisa marah sama kamu? Bagaimana aku sampai tega melihatmu begini?'


"Aku gak marah kok. Lain kali bilang ya kalau kamu tidak nyaman. Kalau kamu tidak bisa atau tidak suka dengan sesuatu hal. Jangan diam saja. Aku tak akan tahan melihatmu begini," ujar Ardi tak berdaya.


Ella hanya mengangguk lemah dan tersenyum menjawabnya. Ardi meletakkan kepala Ella dipundaknya. Dielusnya rambut dan kepala gadis itu dengan lembut, berusaha memberikan kenyamanan dengan sebelah tangannya.


Sementara sebelah tangannya yang lain dia gunakan untuk menggenggam erat jemari tangan Ella yang terasa sangat dingin. Ingin menyalurkan sedikit kehangatan tubuhnya pada gadis itu.


Tak lama kemudian Ardi dapat mendengar dengkuran halus Ella. Ardi tersenyum lega melihat wajah tidur Ella di bahunya yang terlihat tenang. Akhirnya gadis itu bisa tidur juga, pikirnya.


Ardi tanpa kesulitan dapat menyusul Ella ke alam mimpinya. Jadilah kedua insan manusia itu tertidur dengan kepala saling bersandar satu sama lain. Sepanjang sisa perjalanan mereka habiskan dengan tidur sehingga waktu terasa cepat berlalu.


Waktu sudah beranjak sore saat bis patas yang mereka tumpangi memasuki terminal Genting. Ella yang sudah bangun duluan segera membangunkan Ardi dan menyuruhnya bersiap-siap turun.


"Mas, mas Ardi? Udah sampai mas."


Ardi langsung terbangun dan menggosok-gosok matanya dengan kedua tangannya untuk mengembalikan kesadaran. Kemudian dia mengambil tas ransel Ella di bagasi atas, serta mengemasi kantong plastik yang berisi perbekalan mereka. Yang bahkan tidak sampai separuhnya mereka makan. Rupanya tadi Ardi terlalu semangat berbelanja perbekalan mereka.


"Kamu udah enakan, El?" Ardi tiba-tiba teringat keadaan Ella yang tadi sempat mengkhawatirkan.


Tapi sekarang didapatinya gadis itu sudah tidak sepucat dan selemah tadi. Ella bahkan sudah bisa tersenyum manis untuknya.


"Udah donk," jawab Ella berusaha terlihat kuat. Tak ingin Ardi mengkhawatirkannya.


Begitu bis yang mereka tumpangi berhenti, mereka berdua segera turun dari bis itu. Ardi membawakan tas ransel Ella, membawakan tas plastik bekal di tangan kiri dan tangan kanannya menggandeng tangan Ella. Seakan dia takut Ella kenapa-napa. Mereka berjalan beriringan ke parkiran mobil, menghampiri honda jazz Ardi yang telah terparkir disana sejak kemarin.


Mereka berdua segera memasuki mobil dan Ardi melajukan mobilnya dengan kencang kearah kontrakan Ella. Sepanjang perjalanan keduanya hanya terdiam tanpa berbicara. Ardi melirik ke kursi Ella dan didapatinya gadis itu sedang tertidur pulas. Rupanya dia hanya bermasalah dengan alat transportasi bis, Ardi mengingat dan mencatat dalam benaknya.


Perjalanan dari terminal ke kontrakan Ella sekitar setengah jam. Tanpa membangunkan Ella yang masih tertidur, Ardi membelokkan mobilnya ke warung soto Ayu dan membungkus dua porsi soto. Mesin mobil dan AC sengaja dia biarkan tetap ON untuk memberikan kenyamanan pada Ella.


Setelahnya Ardi kembali melajukan mobilnya ke kontrakan Ella. Dia memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah kontrakan itu.


"El...Udah sampai. Bangun yuk," Ujar Ardi sambil membelai halus pipi Ella.


Tapi gadis itu tak juga mau membuka matanya. Dengan penasaran Ardi membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Ella. Ardi semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Ella. Semakin jelas memandangi wajah cantik gadis yang sedang tidur itu. Tersenyum-senyum sendiri memandangi wajah tidur Ella yang menggemaskan.


Entah setan mana yang kemudian datang dan merasukinya hingga Ardi semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ella. Dekat dan semakin dekat, sampai akhirnya didaratkan sebuah ciuman ringan dan lembut sebelah pipi gadis itu. Sensasi hangat yang menyenangkan tiba-tiba merasuki dirinya, seolah ada bunga-bunga merah muda yang bermekaran disana.


Ardi cepat-cepat menjauhkan tubuhnya begitu disadarinya Ella mulai bergerak-gerak dan terbangun dari tidurnya.


"Lho udah sampai mas?" tanya Ella sambil mengamati keadaan di luar mobil. Pemandangan depan rumah kontrakannya.


"I, iya..." Jawab Ardi salah tingkah dengan wajah sedikit memerah. "Yuk, turun. Tadi aku udah beliin soto ayu. Kita makan dulu abis ini."


"Soto ayu? kapan belinya? "


"Tadi pas lewat. Kamu nyenyak banget tidurnya jadi gak tega bangunin."


"Maap ya, malah ditinggal tidur."


"Gak apa-apa. Yuk turun," Ardi segera turun dari mobil dan membawa seluruh barang bawaan mereka masuk ke kontrakan.


"Aku disini dulu ya nanti pulang sekalian anterin kamu ke RSUD." Dia meminta ijin pada sang pemilik rumah.


"Boleh. Yuk makan dulu terus mandi. Badan kita udah sama-sama apek baunya hehe." Ella sama sekali tak keberatan, malah dia merasa senang dengan perhatian Ardi padanya.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik RATE (⭐⭐⭐⭐⭐), JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR and GIFTS Makasih 😘🌼