Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
211. S2 - Berbeda Kasta


Ella mengikuti saja dengan pasrah langkah Laras dan Kartika, calon adik ipar dan ibu mertuanya itu. Rasanya dirinya sudah gak bakal kaget lagi dengan gaya belanja mereka yang seperti orang kesurupan setan shopping. Apa semua sultanwati segila ini ya kalau sudah berurusan dengan belanja? Mentang mentang duit mereka unlimited jumlahnya.


Selanjutnya Jillia membimbing mereka menghampiri etalase yang memamerkan berbagai tas keluaran luar negri dengan berbagai merk. Mulai dari Chanel, Dior, Louis Vuitton, Fossil, bahkan sampai Hermes dan Yves Saint Laurents (YSL). Merk-merk yang sama sekali tak akan Ella lirik untuk membelinya demgan uangnya sendiri. Mana sanggup...Yah mentok-mentok beli tas KW Batam saja bisanya.


"Kamu mau cari tas yang kayak gimana?" Jillia menanyakan selera tas Ella.


"Hand bag atau shoulder bag yang agak besar biar bisa dipakai kerja sekalian." Ella menjawab.


"Ini ada Hermes dan Louis Vuitton yang cocok sama kriteria kamu." Jillia mengeluarkan sebuah tas hitam bermerk Hermes dan sebuah tas coklat dengan motiv khas LV dari salah satu etalase.


"Hermes-nya agak mahal si $ 65.000, soalnya terbuat dari kulit buaya asli ini bahannya. Kalau LV-nya sih murah saja cuma sekitar 30 jutaan lah." Jillia menjelaskan harga tas-tas yang membuat Ella menelan air ludahnya, tak masuk akal rasanya untuk membeli tas-tas dengan harga segitu.


"Hermes-nya bagus itu, El." Kartika berpendapat.


Bagus si ma...Tapi berapa rupiah itu $ 65.000? Batin Ella sudah menjerit dan otakknya membuat hitungan kasar berapa harga tas itu kalau dirupiahkan. Tinggal kalikan saja 14.000. Devinitely NO buat Ella.


"Jangan deh ma, kulit buaya asli kok rasanya agak ngeri ya. Ella kan pecinta lingkungan jadi rasanya gak tega kalau membayangkan buaya-buaya yang dibunuh hanya untuk bikin tas." Ella sengaja mencari alasan yang sedikit cerdas untuk menolak.


"Yawes ambil yang Louis Vuitton aja. Mumpung ada yang murah." Kartika kemudian memutuskan.


Murah? 30 juta itu oiiii... Bisa buat beli banyak hal yeng lebih berguna daripada sekedar tas branded.


"Tas pesta juga harus punya lho. Sekalian saja..." Laras mengingatkan. "Karena setelah ini kamu akan sering menghadiri pesta menemani mas Ardi."


"Coba pilihin yang sekiranya cocok sama sepatu yang tadi dibelikan, Jill." Pinta Kartika pada Jillia.


"Ini ada clutch bag dari Dior bewarna silver, ada lagi Yves Saint Laurent soulder bag berwarna beige, dan terakhir mini bag Louis Vuitton berwarna putih. Pasti cocok banget untuk dipadukan dengan ketiga sepatu yang tadi." Jillia menunjukkan ketiga tas yang dimaksudnya dan mengambilnya dari etalase.


"Yang ini saja," Ella mengambil tas putih dari Louis Vuiton dan mencobanya. Tas yang memiliki bandrol harga paling murah. Dan semurah-murahnya masih diatas 30 jutaan. Duh apa-apaan si tokonya Jillia ini. Kenapa jualan barang dengan harga yang gak manusiawi begini coba?


"Iya cocok banget sama kamu. Ambil saja, sekalian yang tiga tadi dibungkus juga." Kartika lagi-lagi memutuskan pembelian dengan semena-mena.


"Ma, satu saja yah. Tas Ella di rumah juga masih banyak..." Ella berusaha menolak sehalus mungkin. Mencoba sedikit mengerem pembelanjaan mereka yang menurutnya sudah terlalu brutal. Bisa jebol itu kartunya mas Ardi lama-lama.


Laras dan Kartika tidak senang mendengar jawaban Ella. Gemes dengan sifat Ella yang menurut mereka terlalu keras kepala dan susah untuk beradaptasi.


"Mbak Ella, setelah pertunangan kalian nanti, kamu akan jadi calonnya Ardi Pradana lho ya." Laras mengingatkan. "Segala yang kamu pakai terutama dalam sebuah pesta high society pasti akan menjadi sorotan. Gak lucu kan kalau tas, sepatu dan baju yang kamu pakai itu-itu saja." Laras berkata dengan gayanya yang sedikit jutek dan ceplas-ceplos.


Laras ingin menekankan kembali pada Ella perlunya sedikit show off di kalangan mereka. Perlunya penampilan mewah dan terhormat demi eksistensi untuk mendukung prestige serta nama baik kelurga mereka. Untuk gengsi keluarga sultan mereka.


"Iya bisa jadi skandal nanti, masa Ardi pradana sang pewaris Pradana Group pelit sama calon istrinya. Gak mau beli-belikan istrinya outfit yang layak untuk pesta." Kartika menyetujui ucapan Laras.


"Jadi intinya...Kamu dibeli-beliin ini bukan hanya untuk kamu saja. Tapi ya untuk mas Ardi sendiri juga. Makanya gak usah ragu untuk memilih. Toh mas Ardi sendiri juga gak bakal keberatan kalau kamu sedikit menghambur-hamburkan uangnya." Laras kembali menekankan ucapannya.


Ella terdiam dan tertegun memikirkan ucapan Laras. Memang sejak tadi Ella hanya memikirkan berapa jumlah uang yang harus mereka keluarkan. Sedikit apanya? Sudah ratusan juta yang mereka keluarkan hari ini. Pemborosan dan menghambur-hamburkan uang hanya untuk membeli berbagai barang yang menurut Ella tidak penting. Tidak penting bagi rakyat jelata seperti Ella.


Tapi Ella lupa bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi istri dari Ardi Pradana. Ella lupa untuk berpikir dan menempatkan dirinya sebagai the next nyonya Pradana. Istri dari CEO Pradana Group. Otomatis dirinya akan menjadi wanita yang harus mendampingi Ardi untuk hadir di setiap undangan pesta para sultan.


Dirinya juga pasti akan menjadi sorotan publik nantinya. Dirinya akan menjadi patokan atau simbol kebanggan, prestige dan kehormatan bagi Ardi juga. Lalu bagaimana mungkin dirinya dapat tampil apa adanya dengan outfit seadanya ala rakyat jelata yang biasa dikenakannya? Tampil bagaikan gembel di pesta para sultan? Pasti bakalan memalukan nama baik Ardi dan Pradana grup sekaligus.


"Udah-udah, kita ambil semua ya kecuali yang hermes dari kulit buaya tadi." Kartika mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit canggung.


Merasa tidak enak juga pada Ella, si Laras kalau tidak berkenan dengan sesuatu memang judesnya bisa keluar tanpa bisa direm lagi. Tapi apa yang dilakukan Laras sudah benar dengan mengingatkan Ella akan posisinya. Posisi yang mau tak mau harus Ella emban setelah menjadi pendamping Ardi.


Kemudian Kartika dan Laras mengikuti pelayan yang membawa barang-barang yang mereka beli ke arah kasir. Cindy juga ikut mengekor menemani mereka, bersiap-siap sebagai tukang bawa tas belanjaan mereka nantinya. Tugas seorang asisten yang baik.


"Ella, I have something for you," ujar Jillia saat sudah berduaan saja dengan Ella.


Wanita itu berusaha menghibur Ella yang masih tampak murung. Dirinya tahu pasti sangat tidak nyaman bagi Ella untuk harus menyesuaikan diri dengan dunia yang sama sekali berbeda dengan dunianya. Pasti sangat berat untuk Ella untuk bisa memasuki dan memahami dunia para sultan ini.


"Wait a minutes..." Jillia pamit undur diri sebentar untuk mengambil sesuatu dari storage room.


Ella hanya mengangguk sebagai jawaban. Masih sibuk dengan memikirkan perkataan Laras tadi. Memikirkan keputusan yang telah diambilnya sendiri untuk menjadi istri Ardi. Memikirkan dunia asing yang akan dia masuki sebagai konsekuensi nanti setelah menjadi istri seorang sultan.


"Here we go...You can take it and wear for your daily routines." Jillia kembali tak lama kemudian sambil menyodorkan sebuah kotak sepatu dan sebuah tas selempang berwarna coklat merk fossil pada Ella.


(*Ini dia...Kamu bisa ambil dan pakai untuk kegiatan sehari-harimu).


"What is it?'" Ella menerima pemberian Jillia dengan sangat kebingungan.


"My gifts for you. Salamin saja ke Ardi nanti. Dia udah banyak banget bantuin perusahaan dan butikku ini waktu masih awal-awal berdiri. Ardi yang bantuin invest saat para investor lainnya masih ragu bahwa usahaku ini akan sukses. Anggap saja aku ngasih hadiah ke kamu as my gratitude for him." Jillia tersenyum menjawab.


Sekali lagi Ella tertegun demi mendengar satu lagi kebaikan Ardi untuk temannya. Entah karena dia tahu Jillia bakal sukses atau karena alasan apa. Ardi tak ragu untuk membantu temannya itu dengan menginvestasikan dana dalam jumlah besar. Semakin memperjelas pula pada Ella bagaimana permainan uang calon suaminya itu. Mengerikan!


"Makasih ya Jill, Thanx a lot." Ella benar_benar terharu menerima hadiah dari jillia. Hadiah yang disesuaikan dengan selera dan kemungkinan dipakainya sehari-hari lebih sering. Bukan barang yang akan lebih sering nongkrong di almari sebagai barang koleksi semata.


"No problems dear. Kamu yang semangat donk. Kamu dan Ardi sudah melalui banyak hal sampai akhirnya kalian bisa bersama lagi. Jangan sampai masalah-masalah sepele kayak gini bisa menjadi penghalang bagi hubungan kalian."


"It's not easy..." Ella mengutarakan kegundahannya.


"Dari awal kan aku sudah pernah bilang. Gak bakal mudah untuk hubungan berbeda kasta ini... Tapi sesuatu yang tidak mudah dan butuh perjuangan akan menghasilkan sesuatu yang sangat manis."


"Ku harap juga begitu...."


"Yang semangat donk! Jangan lupa kamu masih punya Ardi. Dia pria yang sangat dapat diandalkan. Just believe on him El... Just like I do. I can believe him as my best friend and business partner."


(*Percaya saja sama Ardi, El...Seperti aku. Aku percaya sama dia sebagai teman dan rekan bisnis yang terbaik).


"I will...Thanx ya Jill." Ella mengangguk mantap menjawabnya. Benar sekali, dirinya hanya harus percaya pada Ardi. Biarkan saja Ardi yang akan menjaga dirinya nantinya.


Jillia tersenyum lega melihat Ella yang sudah bertekad. Gadis itu pun memberikan sebuah pelukan hangat pada ella sebagai tambahan penyemangat.


Ternyata setelah mendapatkan perhiasan, tas dan sepatu, acara belanja mereka masih belum selesai juga.Tujuan selanjutnya adalah ke butiknya Iwan Gunadi di Galaxy mall. Buat mencari baju tentu saja.


Ella menjadi sedikit pendiam selama perjalanan sampai mereka tiba di butik Iwan. Mood belanjanya seakan hilang entah kemana. Ditambah badannya yang mulai lelah karena tadi sudah jaga poli seharian dan siang harinya sampai senja berkeliling dari satu toko ke toko lainya untuk berbelanja.


Bahkan sampai hampir malam hari ini Ella masih belum mengisi perutnya sejak tadi pagi. Semakin membuat tubuhnya lemas dan sedikit pusing. Mau minta berhenti sebentar untuk beli makan rasanya sungkan sama rombongan, duh jadi serba salah.


"Tenang saja sudah saya siapkan kok baju-baju pesanan nyonya Laras. Untuk nona cantik calonnya bos ganteng kan?" Iwan berbicara dengan Laras dan Kartika setelah puas menyapa dan berbasa-basi.


Sementara Ella sudah gelisah dan sedikit kehilangan konsentrasinya. Menunggu sambil duduk beristirahat di sofa. Sampai tak lama kemudian ponselnya berdering. Ardi yang menelponnya.


"Halo..." Sapa Ella setelah beranjak mencari tempat yang sedikit jauh dari kerumunan.


"Halo honey, gimana acara shopping-nya? Kamu beli apa aja tadi?" Ardi bertanya dengan bersemangat.


"Belum kelar..."


"Haaaah? Belum kelar? Sejak tadi siang?" Ardi bertanya dengan nada tak percaya.


"Iya..." jawab Ella lemah.


"Astagaa...Dasar mama dan Laras suka kebablasan kalau sudah perkara belanja." Ardi menggerutu kesal mengingat kebiasaan mama dan adiknya itu.


"Kamu gak papa kan?" Ardi kembali bertanya karena menyadari suara Ella yang tidak begitu antusias.


"Gak papa."


"Gak papa gimana? Sini aku mau liat wajah kamu." Ardi semakin penasaran, mencoba mengalihkan panggilannya ke vidio call. Tetapi Ella menolaknya.


"Aku nggak papa kok sayang." Ella sengaja memberikan pangilan mesra untuk menenangkan Ardi. "Cuma capek dan agak pusing."


"Pusing? Kamu sudah makan siang tadi?" Ardi kembali menginterogasi. Ingat benar Ella biasanya baru makan siang setelah jadwal jaga polinya berakhir. Kalau tadi Laras dan mamanya menjemput di rumah sakit, pastinya Ella belum sempat makan siang. Dan sekarang matahari sudah terbenam. Sudah saatnya jadwal makan malam sekarang.


"Hemmm..." Ella bingung harus menjawab apa.


"Kamu dimana sekarang?" Ardi mengganti topik pertanyaannya pada Ella.


"Butiknya Iwan Gunadi...Udah dulu ya mama udah manggil..." Ella menutup panggilan telpon mereka karena Kartika sudah memanggilnya.


Ella menghampiri Kartika dan Laras untuk memilih beberapa baju dari deretan baju-baju yang telah direkomkan Iwan.


Belasan buah baju pesta berjajar dihadapan Ella. Gaun-gaun dengan berbagai warna, model dan potongan detail yang terkesan mewah dan mahal. Dan Laras serta Kartika sudah sangat antusias menyuruh Ella untuk mencoba satu persatu baju itu.


Ella tak kuasa untuk menolak permintaan mereka. Terlalu malas untuk berdebat lagi. Akhirnya Ella menurut saja untuk mencoba satu-persatu baju yang sesuai dengan seleranya. Keluar masuk dari fitting room untuk memperlihatkan penampilannya pada Kartika, Laras dan Cindy untuk dikomentari.


Setelah mencoba baju kelima, Ella sudah tak kuat berdiri lagi rasanya. Sudah pusing dan lemes banget sekujur tubuhnya. Seperti mau pingsan saja saat Ella keluar dari fitting room. Oleng dan gontai karena tulang-tulang ditubuhnya serasa melunak.


Dan pada saat itulah sebuah tangan kokoh tiba-tiba meraih dan mendekap tubuh Ella, menahannya agar tidak jatuh...Ella mencoba mengenali siapa yang sudah menolongnya di tengah kebingungannya, Aroma parfum greens yang begitu khas dan segar ini...Mas Ardi?


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼