
It's obvious you're meant for me
Every piece of you, it just fits perfectly
Every second, every thought, I'm in so deep
But I'll never show it on my face
But we know this, we got a love that is homeless
Why can't you hold me in the street?
Why can't I kiss you on the dance floor?
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
'Cause I'm yours
Why can't I say that I'm in love?
I wanna shout it from the rooftops
I wish that it could be like that
Why can't we be like that?
'Cause I'm yours
_Little mix - Secret Love song_
(*Jelas kau ditakdirkan untukku
Setiap bagian dari dirimu, sangat sesuai
Setiap detik, setiap pikiran, aku begitu mendalam
Tapi aku tidak pernah menunjukkan di wajahku
Tapi kita tahu ini, kita memiliki cinta yang tak sepantasnya
Mengapa kamu tidak bisa menggandeng tanganku di jalan?
Kenapa aku tidak bisa menciummu di lantai dansa? Aku berharap bisa seperti itu
Mengapa kita tidak bisa seperti itu?
Karena aku milikmu
Mengapa aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta?
Aku ingin meneriakkannya dari atas atap
Aku berharap bisa seperti itu
Mengapa kita tidak bisa seperti itu?
Karena aku milikmu)
__________________________________
Ella benar-benar gelisah malam ini. Waktunya berjaga di UGD terasa lebih lama jadinya. Apalagi keadaan pasien sore ini sepi. Membuat Ella semakin banyak terdiam dan merenung. Memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi diantara Roni dan Sari. Apa yang sedang mereka lakukan berdua?
Bukannya Ella cemburu atau tidak rela Roni bersama cewek lain. Silahkan saja kalau memang dia sudah tidak mencintai dirinya. Ella juga tak akan keberatan melepaskan pria itu. Karena memang sejak awal Ella juga pernah bilang pada Roni untuk pergi darinya kalau sudah bosan dan lelah dengan sikap Ella. Tapi yang jadi masalah adalah caranya...Kenapa harus dengan cara begini?
Kalau misalnya Roni mengatakan yang sebenarnya padanya. Kalau Roni mengatakan bosan atau lelah dan meminta berpisah, Ella akan rela dan berlapang hati untuk melepasnya.
Tapi ini? Baru beberapa hari yang lalu dia bilang setia, baru beberapa hari yang lalu dia cemburu buta dan menuduh Ella berselingkuh. Tapi nyatanya dirinya sendiri juga melakukan hal yang sama.
Entah mengapa ada rasa sedih dan kecewa juga yang dirasakan oleh Ella. Bukan patah hati karena memang dia tak mencintai Roni. Tapi lebih kepada kecewa karena dikhianati. Kecewa karena dirinya yang telah mencoba bertahan untuk tidak berhubungan dengan pria lain tapi malah Roni sendiri yang berhubungan dengan wanita lain.
Tepat tiga puluh menit sebelum jam jaganya berakhir Ella meminta ijin untuk pulang lebih cepat. Mumpung keadaaan aman terkendali dan sepi. Ella melepas jas dokternya, mengemasi barangnya dan pamit meninggalkan UGD. Berniat pulang lebih awal juga untuk kabur dari Ardi yang tadi katanya mau menjemputnya. Ella berjalan perlahan dari UGD ke arah parkiran mobil, tempatnya memarkir mobilnya di pelataran UGD.
Betapa kagetnya Ella saat melewati pintu UGD seorang pria menyapa dan menghentikan langkahnya. Pria yang Ella sudah hafal betul sosok tubuh dan bentuk wajahnya. Mas Ardi.
"Malam dokter Ella. Wah beneran mau kabur ini ceritanya?" Ardi menyapa Ella dengan senyuman lebar yang terkembang. Terlihat kepuasan di wajahnya seakan telah menangkap basah maling jemuran yang ingin kabur.
"Mas Ardi?" Ella benar-benar kaget mendapati Ardi sudah menungunya di depan UGD. Bahkan masih tiga puluh menit sebelum jadwal jaganya berakhir. Jam berapa coba dia sudah menunggunya disana? Niat banget mau mencegah Ella kabur.
"Yuk berangkat!" Tanpa ba bi bu lagi Ardi langsung menarik sebelah lengan Ella.
"Tunggu...tunggu..." Ella berusaha menolak. Tapi Ardi sesuai yang dikatakannya tadi siang akan menyeret Ella kalau menolak. Dan benar saja hal itu dilakukan oleh Ardi saat ini, membuat Ella tak berdaya untuk melawan.
Ardi menggiring Ella ke parkiran mobil, ke mobil porsche keluaran terbaru berwarna biru metalik yang dengan sekali lihat saja sudah ketahuan harganya selangit. Bisa sampai puluhan juta dolar amerika. Entah berapa milyar itu kalau dirupiahkan.
"Baru lagi mobilnya?" Ella merasa canggung memasuki mobil mewah Ardi.
"Ini? Dikasih klien." Jawab Ardi enteng. Menghidupkan mesin mobilnya dan melajukanya meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Haaa? Dikasih barang milyaran begini? Klien model apa coba?" Ella benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran para sultan dalam menghamburkan uang dan kekayaannya.
"Kamu tahu perusahan MarcusCo yang bergerak di bidang automotif dan perakitan mobil mewah? Nick Marcus sang CEO-nya itu temen baikku. Dia juga ambil bagian di Pradana Businnes Park untuk anak perusahaan mereka. Nah sebagai uang sewa dibayar pake mobil ini sama dia, biar bisa mengurangi jumlah pembayaran pakai duit katanya."
"Emang gak pa-pa gak dibayar pakai duit?" Ella semakin bingung. "Gak rugi buat mas Ardi?"
"Nggak rugi sama sekali, malah untung. Si Nick bilang mobil BMW-ku udah ketuaan. Gak pantes Ardi Pradana naik itu lagi. Ada-ada saja ya hahaha. Jadi dia maksain bayar pakai mobil deh. Dasar para maniak otomotif, orang-orang gila yang suka gonta ganti mobil tiap tahunnya." Ardi menceritakan alasannya mendapatkan mobil baru.
"Hahaha..." Ella tertawa garing. Jiwa miskinnya meronta-ronta. Mobil BMW Ardi kan masih baru. Baru tiga tahunan umurnya, Ella ingat benar Ardi pertama memakainya waktu kencan terkahir mereka sebelum putus. Ketuaan dari mananya coba? Dan lagi itu mobil juga mewah banget yang jelasnya seharga milyaran rupiah juga.
Ardi membawa Ella ke gal*xy mall ternyata. Mall yang terkenal mahal dan hanya dikunjungi oleh orang kalangan menengah keatas. Kebanyakan yang kesini adalah orang-orang berkulit putih atau bermata sipit. Jarang banget orang pribumi yang mampir main ke mall ini.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki mall. Ada rasa canggung rasanya. Meskipun berjalan berduaan mereka tak bisa berjalan sejajar atau terlalu dekat. Tak bisa bergandengan tangan, tak bisa bermanja-manja atau bercengkerama dengan mesranya. Karena hubungan mereka hanyalah hubungan rahasia. Secret Love.
Why can't you hold me in the street?
Why can't I say that I'm in love?
'Cause I'm yours
(*Mengapa kamu tidak bisa menggandeng tanganku di jalan?
Mengapa aku tidak bisa mengatakan bahwa aku sedang jatuh cinta?
Ardi membawa Ella ke sebuah restoran jepang favoritnya. Grilling dan hotpot lah intinya. Masak-masak sendiri sesuka hati. Emang selera orang kaya kadang aneh-aneh aja. Masa bayar mahal tapi makanan disuruh masak sendiri coba?
"Terus itu mukamu kenapa, El?" Ardi bertanya sambil meletakkan daging dan berbagai macam bahan makanan di atas panggangan.
"Emang mukaku kenapa?" Ella kebingungan memegangi wajahnya.
"Dari tadi aku liatin manyun mulu. Muka kayak ditekuk-tekuk gitu? Kenapa?"
"Oh...lagi bete aja."
"Gara-gara dinner pemaksaan ini?" Ardi menyelidik. Takut Ella merasa gak nyaman karena dirinya yang terlalu memaksakan untuk makan malam ini.
"Iya, salah satunya."
"Salah duanya apa?" Ardi meletakkan daging yang telah matang ke piring Ella. Kemudian mengisi kembali griller dengan daging mentah.
"Mungkin lagi tegang aja karena mau acara penyumpahan tapi aku belum siap-siap apa-apa." Ella mulai menyantap daging di piringnya.
"Kapan acaranya? Emangnya apa aja yang perlu disiapkan?"
"Besok sabtu pagi. Yah aku belum booking MUA buat sewa kebaya dan riasnya hahah. Males banget ya, emang hobi dadakan semua." Ella menceritakan kemalasannya dalam mempersiapkan segala keruwetan penyumpahan.
Kenapa juga si ribet banget di indonesia ini kalau kelulusan? Kenapa harus pakai kebaya dan berdandan heboh dengan sanggulnya coba? Ribet banget kan harus make MUA segala. Gak kayak di luar negeri yang tinggal pakai baju biasa, dandanan biasa dan pakai toga doang?
"Oh masalah gampang. Nanti aku suruh Laras booking MUA langganannya buat kamu." Ardi menjawab dengan santainya dan satu masalah teratasi. MUA sultanwati siapa yang berani mencela coba? Pastinya sangat berkualitas dan pastinya harganya juga selangit.
"Gak usah deh aku cari sendiri aja."
"Kenapa? Takut kemahalan?" Ardi terkikik. Ingat benar betapa hemat dan perhitungannya si Ella ini.
"Aku gak bakalan bangkrut cuma karena bayarin MUA kamu kok. Yang penting bisa liat kamu cantik aja...Berapapun gak masalah."
"Dasar maniak!" Ella memperotes tapi Ardi malah tertawa cekikikan makin gemes melihatnya.
"Udah beres kan masalahnya...Senyum nya mana?" Ardi menagih senyuman Ella sebagai balasan bantuan yang diberikannya.
"Belum masih ada lagi."
"Oh masih ada salah tiganya ya? Apa coba?" Ardi bertanya lagi dengan kesabaran ekstra. Awas aja kalau cuma masalah gak penting lagi.
"Roni...Roni tadi keluar berduaan dengan Sari. Kayaknya mau keluar kota berdua karena masing-masing bawa travel bag besar."
"Baguslah," lagi-lagi Ardi menjawab enteng.
"Kok malah bagus?" Ella bertanya kebingungan.
"Yah berarti kalau dia gak datang hari sabtu ke acara penyumpahanmu aku bisa datang dengan damai donk." Jawab Ardi tetap dengan tidak punya dosa.
"Lhooo? Kan aku gak ngundang mas Ardi?" Ella benar-benar kelabakan.
Bayangkan saja nanti yang terjadi misalnya Roni tidak datang malah Ardi yang datang. Apa yang harus dikatakan Ella pada kedua orang tuanya? 'Pa, Ma, ini mas Ardi, sekarang dia selingkuhan Ella.' Kayak gitu? Gila aja!
"Kamu udah ngasih tahu hari dan tanggalnya tadi. Jadi anggap aja kamu ngundang aku."
Fix, sultan berkehendak tak dapat ditolak.
"Tau ah suka-suka mas Ardi saja." Ella menyerah.
"Terus kamu suka bunga apa?" Ardi bertanya tentang buket bunga yang nanti harus disiapkannya untuk hadiah kelulusan Ella.
"Bunga bank. Bunga deposito!"
"Hahahaha yaampun, El! Kamu memang keren banget. Unik." Ardi keterusan ngakak mendengar jawaban Ella. Mana ada coba cewek yang gak doyan dikasih bunga kaya Ella.
"Emang kenapa? Itu bunga paling bermanfaat daripada yang bisa layu dan dibuang." Ella masih ingat buket bunga mawar selama sebulan penuh kiriman Ardi. Awalnya si seneng nerimanya, lama-lama juga menuh-menuhin tempat sampah.
"Yaudah sini nomer rekeningmu." Ardi masih cekikikan geli.
"Haaah? Buat apa?"
"Katanya minta bunga bank? Sini aku transferin duit ke rekeningmu. Mau brapa? Seratus? Dua ratus? Lima ratus juta?" Ardi menantang Ella dengan pandangan nakalnya.
"Ogah. Aku gak mau uangmu!" Ella langsung menolak mentah-mentah. Enak aja mau ngasih duit, emangnya aku cewek apaan?
"Bukan. Bukan dikasiin. Titip doank, biar kamu dapat bunganya hahahaha. Tadi katanya mau bunga bank." Ardi semakin ngakak melihat wajah Ella yang terang-terangan manyun.
"Iiihhhhh dasar mas Ardi ngeselin..." Ella hanya bisa pasrah menanggapi godaan Ardi.
"Udah, ni makan yang banyak..." Ardi mengambilkan daging panggang banyak-banyak ke piring Ella sebagai permintaan maaf, karena keasikan menggoda gadis itu. Asli gemesin banget, bikin keterusan godain.
Ella yang masih kesal tak menjawabnya, hanya menikmati mengunyah daging dan berbagai makanan panggang di piringnya.
"Tapi kok aku jadi kepikiran juga, ngapain Roni keluar kota sama Sari?" Ardi baru menyadari keanehan itu.
"Nah itulah mas..." Ella tak sanggup meneruskan.
"Oh masih ada salah empatnya ini berarti." Ardi mulai memahami duduk perkaranya.
"Iya...salah banyak..."
"Terus kenapa? Kamu cemburu sama Roni? Kamu marah dia keluar sama cewek lain?" Ardi bertanya.
"Marah iya, tapi bukan cemburu juga..."
"Maumu gimana? Bukannya bagus kalau dia sudah ada cewek lain yang disukainya? Bukannya bagus kalau dia bisa melepaskan kamu pergi?"
"Harusnya kan kamu seneng El? Kalau kalian sudah berpisah kan kita bisa bersama lagi"
Ella tertegun memikirkan ucapan Ardi. Benar juga seharusnya ini bisa jadi alasan dirinya dan Roni untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan selanjutnya dia dapat kembali ke pelukan Ardi lagi.
"Kalian berdua perlu duduk ngomongin masalah ini dengan serius berdua. Bagaimana kedepannya hubungan kalian selanjutnya." Ardi memberi saran.
"Akhiri saja hubungan kalian sebelum semakin menyakitkan." Lanjut Ardi dengan nada suara yang lebih serius.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼