
Sebagai penutup setelah rangkaian seremonial yang cukup panjang, juru bicara dari pihak keluarga wanita akhirnya memimpin untuk memanjatkan doa. Ucapan puji dan syukur atas berjalan lancarnya acara pertunangan. Serta ditambahkan dengan lantunan ayat-ayat suci dan doa dan harapan ke depannya bagi kedua calon mempelai.
Selanjutnya Hendry sebagai juru bicara pihak keluarga wanita menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya yang ditujukan kepada seluruh pihak yang mendukung acara ini. Kemudian menutup acara dengan kegiatan ramah tamah.
Hampir seluruh tamu beranjak dari kursinya untuk mendatangi meja prasmanan dan mengambil sajian makanan dan minuman yang telah disediakan. Hanya Ella dengan kedua orang tuanya serta Ardi dan kedua orang tuanya pula yang belum beranjak dari posisi mereka.
Mereka berenam masih duduk-duduk di tengah ruangan. Mencoba sedikit berbincang dan saling berkenalan mengakrabkan diri sebagai calon besan. Sebagai calon keluarga baru. Karena Ella sudah memanggil Erwin dan Kartika sebagai papa dan mama, Lilik pun tak mau kalah. Lilik meminta Ardi untuk memanggil dirinya dan Bowo dengan panggilan mama dan papa juga.
"Eh tapi si Ella ini gak bisa masak lho jenk," Lilik menceritakan kelemahan putrinya pada Kartika. Merasa sedikit gagal mendidik anak perempuan semata wayangnya ini ilmu perdapuran.
"Bisa kok ma, yang simple-simple." Ella membela diri. Duh bisa gagal jadi mantu ni belum-belum aib dan kelemahannya udah dibuka duluan. Tapi gak pa-pa sih daripada nanti kaget mama mertuanya itu.
"Si Ardi malah pinter masak, biar Ardi aja yang masakin Ella nanti hehe. Dia paling ahli masakan Jepang dan Western yang kayak spaghetti." Kartika sepertinya tak keberatan dengan keadaan Ella.
"Gak pa-pa kok ma, saya cari istri bukan cari juru masak. Tugas istri saya nanti cuma dandan cantik, nemenin saya dan ngelayanin yang lainnya aja." Ardi sok-sokan membela Ella.
"Iya masalah masak kan ada Ijah." Erwin juga tidak keberatan dengan ketidakmampuan masak Ella. Lhawong Kartika juga sama aja gak pinter masak, tapi pinter banget menilai masakan, cerewet.
"Kalau nak Ardi kayaknya bisa segalanya ya? Ada gak Weakness yang harus diketahui istrinya?" Lilik makin penasaran dengan calon mantunya ini. Masa iya dia ini sempurna tanpa cela bagaikan malaikat?
"Mas Ardi sering hypotensi ditambah vertigo, jadi dia gak bisa bangun mendadak dari duduk lama atau tidur. Bisa oleng." Ella menjelaskan kelemahan calon suaminya yang diketahui olehnya.
"Wah bagus kalau Ella sudah tahu. Jadi bisa ngingetin kalau Ardi lupa." Bowo ikutan nimbrung dengan pembicaraan mereka.
"Itu karena si Ardi ini sering overworked. Sering lembur sampai lupa waktu. Jadi nanti tugasnya nak Ella ya buat jewer telinganya kalau masih kayak gitu lagi. Suruh tidur, istirahat yang cukup, makan banyak." Kartika memberikan tugas pertama untuk Ella sebagai calon.
"Memang untuk Ardi yang suka lupa jaga kesehatan pas banget kalau dapatnya dokter kayak Ella ya? Biar nanti Ella yang jagain kesehatan Ardi." Erwin menyetujui untuk memasrahkan Ardi pada Ella.
"Kalian kok kayaknya bahagia melepas aku? Kayak aku ini beban berat aja?" Celetuk Ardi sedikit kesal.
"Iya emang. Kamu sampai 30 tahun gak nikah-nikah bikin pusing mama papa tahu!" Jawaban Kartika kontan membuat Ardi makin sewot.
"Iya ma, pa, Ella siap jewer telinganya mas Ardi kalau nakal." Ella tersenyum menyanggupi permintaan kedua calon mertuanya itu.
"Lho bukan siap jewer honey, siap jagain yang bener." Ardi mengoreksi ucapan Ella. Dan semua yang mendengar tertawa ringan mendengarnya.
"Ada satu lagi honey, my Weakness... gak bisa duduk bersila di lantai terlalu lama." Ardi mengatakan satu lagi kelemahannya dengan malu-malu.
"Haaah? Kenapa gitu?" Ella bertanya keheranan. Memang selama ini dirinya gak pernah melihat Ardi duduk di lantai.
"Gak tahu kenapa. Aku cepet kesemutan kalau duduk di bawah. Jadinya aku selalu memilih duduk di kursi daripada lesehan." Ardi menjelaskan.
"Nurun dari papa kalau yang itu, papa juga begitu. Jadinya sering dianggap sombong karena tidak mau berkumpul duduk di bawah pada acara-acara tertentu." Erwin ikut menambahkan cerita Ardi.
"Iya sebenarnya bukan sombong, tapi memang karena gak bisa aja." Ardi juga mengingat dirinya dulu sering dianggap sok oleh teman-temannya karena tak mau ikut duduk di bawah. Tapi sekarang mah bodoh amat, mana ada yang berani protes?
"Ada satu lagi fatal Weakness. Buah kelengkeng. Ardi gak bisa makan buah itu." Kartika memberitahu Ella. Sebagai ibu yang baik Kartika ingat benar apa yang bisa dan tidak bisa dimakan oleh putranya.
"Lho bukannya enak ya?" Lilik jadi kepo. Padahal buah kelengkeng itu adalah satu buah kesukaan Ella.
"Iya memang enak. Dan sebenarnya saya juga suka kok makannya. Tapi setelah makan, meskipun cuma sebutir pasti akan muntah-muntah parah gak tahu kenapa." Ardi menjelaskan alasannya.
"Apa karena eneg saking manisnya?" Ella ingat Ardi tak suka makanan manis
"Kayaknya bukan. Kalau eneg dr awal gak bisa makan. Ini sudah masuk perut baru dimuntahkan lagi. Kayak ditolak sama tubuh." Ardi menjelaskan.
"Iya dulu waktu kecil Ardi pernah makan buah itu Sampai habis banyak. Karena memang rasanya manis dan disukai anak-anak. Tapi setelahnya, Ardi kecil langsung muntah-muntah parah bahkan sampai dehidrasi dan harus dirawat di rumah sakit. Sejak saat itu mama gak berani lagi ngasih buah kelengkeng ke Ardi." Kartika mengingat kejadian saat masa kecil Ardi.
"Waktu udah dewasa juga pernah kejadian kan? Yang sampai dipulangin dari pesta malem-malem pakai ambulance? Bikin heboh dunia persilatan." Erwin juga mengingat-ingat.
"Iya waktu ultahnya Hartanto Grup. Aku minum cocktail yang ada kelengkengnya. Dikerjain temen-temen." Ardi membenarkan ucapan Erwin.
Ella kaget sekali mendengar soal tragedi kelengkeng ini. Sampai separah itu bahkan setelah Ardi dewasa? Apa alergi? Atau intolerant kayak kasus Cecil? Ella bertekad dalam hati untuk tidak akan membiarkan Ardi sekalipun makan buah kelengkeng lagi.
"Intinya kalian nanti sebagai pasangan itu masih perlu banyak penjajakan. Biar semakin mengenal satu sama lainnya. Memang awalnya pasti kaget karena banyak perbedaan. Tapi papa percaya kalian berdua itu sudah sama-sama dewasa pasti dapat bertoleransi satu sama lainnya. Untuk menerima apapun kelebihan dan kekurangan dari masing-masing pasangannya." Bowo menambahkan dengan wejangannya kepada keduanya.
Baik Ella, Ardi dan semua yang mendengarkan ucapan Bowo jadi ikut menganggukkan kepala setuju dengan perkataannya yang bijaksana.
Kemudian Bowo dan Lilik meminta ijin untuk beranjak, menyambut dan beramah tamah dengan para tamu lainnya. Para tamu dari pihak keluarganya sendiri. Sementara Kartika dan Erwin tetap duduk disana dengan beberapa crew Pradana yang mengambilkan makanan untuk mereka berdua.
Ardi dan Ella juga memutuskan untuk pamit dan berkeliling menyapa serta berkenalan dengan tamu-tamu dari kedua pihak keluarga. Pertama Ardi mengajak Ella untuk menyapa keluarga dari pihak mamanya dahulu.
"Om, Tante, ini kenalin calon istri Ardi. Mereka ini mama dan papanya Mahes serta Sari." Ardi mengenalkan Ella pada sepasang suami istri yang sedang menikmati sajian bersama Sari.
"Salam kenal Om dan Tante Hartanto," sapa Ella.
"Halo nak Ella, salam kenal." Tina menyapa Ella dengan ramah, sementara Gatot hanya mengangguk ramah sebagai sapaan.
"Kapan-kapan bawa main ke Genting, Di." ujar Gatot.
"Pasti itu berapa tahun lagi?" Sindir Tina. Tahu benar kesibukan keponakannya itu.
"Yah paling gak sampai sunatannya si Rangga."
"Hahaha awas aja kalau selama itu. Bisa jadi ponakan durhaka kamu." Jawaban Tina langsung disambut tawa yang lainnya.
"Selamat ya mas Ardi dan mbak Ella. Semoga lancar sampai hari H nanti." Sari ikut nimbrung menyelamati. Memberikan pelukannya untuk Ella.
"Iya makasih ya, Sar." Jawab Ella sumringah.
Selanjutnya Ardi juga memperkenalkan Ella pada keluarga dari pihak ayahnya. Kali ini berisi orang-orang yang berwajah ganteng dan cantik karena memang keluarga papa Ardi ini masih ada turunan bulenya. Mereka menyambut Ella dengan ramah. Senang karena Ardi akhirnya memutuskan untuk menikah setelah sekian lama menjomblo.
Sesi ramah tamah berlanjut dengan menghampiri keluarga Ella yang sedang berkerumun di sekitar barang-barang hantaran seserahan. Sibuk bergosip membicarakan tentang berapa kira-kira harga barang-barang mewah yang diberikan keluarga Pradana untuk meminang Ella.
Seserahan yang jumlahnya sangat banyak, dikemas dengan, apik, mewah dan elegan. Kemasan berhiaskan bunga mawar putih indah dalam kotak-kotak transparan. Dengan berukir keemasan dipinggirnya, serta beralaskan kayu putih juga.
Disebelah seserahan untuk pihak wanita, juga dipajang seserahan sederhana dari Ella untuk Ardi. Simple, sederhana dan tidak berlebihan dengan nuansa biru dan hiasan bunga serta pita putihnya. Sangat sesuai dengan sifat Ella. Hanya ada satu set pakaian Ardi, prayer set, kitab suci, serta kamera. Karena Ella tahu Ardi hobi Travelling dan fotografi.
Sementara untuk barang-barang Ardi yang dibelinya di departemen store kapan hari sengaja disimpan. Untuk nanti saat pria itu menginap di rumahnya. Waktu mereka sudah sah jadi suami istri hehe.
Sebagai kesopanan Ella mengajak Ardi menyapa rombongan keluarga besarnya yang sudah ramai berkumpul di sana. Mereka berdua bersalaman dan beramah tamah dengan para kerabat Ella dari segala gender dan usia.
"Wah selamat ya El. Tante kira kamu jadi sama dokter yang dulu itu, eh gak tahunya malah sama pengusaha tajir begini." Tante Erna, salah satu tante Ella yang paling cerewet menyeletuk.
Beliau dan beberapa Tante lainnya terlihat terang-terangan mengamati Ardi dengan seksama dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kelihatan sekali sedang menilai penampilan Ardi.
Ella tersenyum menyadari para tantenya itu tidak dapat menemukan sesuatu cacat untuk dikeluhkan dari penampilan Ardi. Jelas ganteng dan sempurna lah. Seorang Lazuardi Pradana dalam balutan tuxedo resmi keluaran butik ternama.
"Ternyata kalau dilihat aslinya jauh lebih ganteng dari yang di TV dan koran ya?" Tante Susi ikutan menyeletuk setelah puas mengamati Ardi juga.
"Kenalin donk, El siapa tahu nanti bos Ardi bisa bantu-bantu kita dikit kalau mau bisnisan." Om Sis ikutan menyeletuk, omongan materi lagi kan?
"Iya sapa tahu bisa bantu invest juga kecil-kecilan." Pakdhe Hari ikut menambahkan.
"Yaudah kenalin semuanya, ini Ardi Pradana calon suami Ella." Ella mengenalkan Ardi yang mengangguk sopan dan berusaha mengembangkan senyumannya walau agak canggung dengan perlakuan para tante dan Om Ella yang sangat kepo.
"Nak Ardi ini sebenarnya kerjanya apa to?" Kali ini budhe Umi yang ikutan bertanya pada Ardi.
"Saya kerja di sektor bisnis properties kecil-kecilan," jawab Ardi sedikit merendah. Bingung juga mau jawab apa, mau jelasin soal perusahaan dan omsetnya? Bisa makin heboh ini para om tante ntar.
Duh salah langkah ni si mas Ardi, batin Ella. Bisa-bisa makin ditindas kalau sekali aja kelihatan merendah dan tidak memuaskan bagi para om, pakdhe, tante dan budhe rempong ini. Harusnya sekalian aja disombongin biar mereka mingkem tak berkutik lagi. Biar gak terlalu lama proses interogasi menyebalkan ini.
"Mas Ardi ini direktur dari perusahaan Pradana. Perusahaan keluarga mereka, salah satu cabang perusahannya adalah Pradana Bisnis Park itu" Ella ikut menambahkan keterangan Ardi.
"Piye to? Katanya kecil-kecilan? Kok bisa masuk ke kawasan bisnis elit itu?" Celetuk tante yang lainnya tak kalah kepo. Memang sebagian orang tidak dapat memahami tentang perusahaan multy level seperti perusaahan di bawah naungan Pradana grup.
"Kecil piye to wong sampe masuk tv gitu? Kamu gak liat TV ya? Kok gak tahu?" tante Mira yang mengetahui maksud ucapan Ella menambahi.
"Saya ini cuma ditugaskan sebagai CEO atau direktur di beberapa perusahaan di bawah naungan Pradana Grup. Tapi saya fokus ngantornya sekarang di Pradana Bisnis Park. Mengenai pemilik atau penguasa semua aset Pradana tentunya masih dipegang dewan komisaris dan pemegang saham." Ardi menjelaskan dengan sabar.
Sedikit menutupi kalau dewan komisaris dan pemegang saham terbesar ya keluarganya sendiri. Bahkan sekarang Ardi-lah pemegang saham terkuat yang bahkan mengalahkan posisi Erwin yang sudah pensiun total dari dunia bisnis.
"Owalah. Jadi begitu. Pak direktur ini gajinya pasti gede, liat saja itu seserahan buat Ella gila-gilaan begitu. Semua barang branded dan perhiasan dengan permata asli." Mira kembali menyeletuk soal materi dan materi, membuat Ella merasa semakin tak enak saja pada Ardi.
"Itu tas nya kayak yang dipake Syahreni lho."
"Sepatunya juga yang dipake Sondra dewi."
"Baju-bajunya juga dari Butiknya Iwan Gunadi."
"Jangan lupa itu jewelry setnya. Permata asli."
"Pinter banget Ella pilih calon suami."
"Ngelepas dokter ganteng malah dapet direktur yang lebih ganteng dan kaya lagi. Gak rugi deh sekolah tinggi-tinggi."
"Iya beruntung banget Ella."
Berbagai tanggapan dan celetukan spontan dari keluarga besarnya mau tak mau membuat Ella tersenyum masam. Duh dasar emak-emak rempong. Coba kalau pekerjaan Ardi tidak memuaskan, pasti bakalan lebih pedes lagi gunjingannya.
Tapi tetap saja Ella merasa tidak nyaman karena bahkan saudara-saudaranya sendiri mengira dirinya mendekati Ardi karena hartanya. Bagaimana dengan orang lainnya? Kenapa hanya harta dan kedudukan yang selalu jadi patokan untuk menilai seseorang?
~∆∆∆~
🌼Yuuuuks say PLIIIIS jangan lupa kasih LIKE, VOTE dan KOMEN 🌼