Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
141. S2 - Bad Liar


If i have a flower


For every times I think about you


And how much I miss you


Then I would be walking forever


In an endless garden


(*Jika aku memiliki bunga


Untuk setiap waktu memikirkanmu


Dan betapa aku merindukanmu


Maka aku akan selamanya berjalan


Di dalam sebuah taman bunga.)


_____________________________


Hari minggu ini adalah hari minggu yang tenang bagi Ella. Tak ada lagi panggilan-panggilan consul di hari minggu seperti yang selalu dialaminya dalam dua tahun terakhir ini. Bebas rasanya tak lagi cemas dan was-was setiap ada panggilan telpon masuk. Panggilan tugas negara sebagai residen.


Ella memutuskan untuk menggunakan waktu luangnya di hari minggu ini untuk menyenangkan dirinya sendiri. Shoping time bersama Shanti temannya sesama residen spesialis penyakit dalam yang nantinya akan menjalani penyumpahan juga bersamanya. Ella sengaja tidak mengajak Roni untuk berbelanja, karena rasanya tidak menyenangkan untuk memilih barang bersama para pria.


Mereka berdua ingin berbelanja segala keperluan yang mereka butuhkan untuk acara sakral mereka tersebut. Yah tentunya ingin tampil maksimal dan habis-habisan donk di hari itu. Acara seumur hidup sekali itu. Sumpah dokter spesialis.


Dan disinilah sekarang kedua gadis itu akhirnya duduk-duduk di food cort sambil menikmati makan siang mereka. Di tengah hiruk pikuknya mall terbesar di Surabaya ini, Tunjungin Plaza.


"Kamu udah dapet apa aja, El? Kurang apa lagi yang belum?" Shanti bertanya pada Ella sambil menyantap makanan di bento box nya.


"Udah dapet high heels...Kurang kebaya si sebenarnya belum nemu aja yang cocok." Ella menjawa sambil menyantap sushi di hadapannya.


"Kamu sendiri gimana, Shan? Masih ada yang kurang?" Ella balik bertanya pada Shanti.


"Ini clucth bag dan high heels udah dapat. Kebaya set juga aku udah order di butiknya Ina Avanie. Nanti tinggal ambil aja kesana," Shanti menjelaskan.


"Kebaya yang langsung ready ada gak disana? Yang gak pake pre order?" Ella berharap dapat menemukan kebaya yang cocok untuknya. Nyesel juga si gak kepikiran pre order jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau sekarang baru pesen kayaknya gak bakal nutut deh buat hari penyumpahan.


"Ada kok banyak macam dan modelnya. Badanmu kan bagus dan ideal banget pasti gak bakal kesulitan nyari yang pas ukurannya." Shanti memuji bentuk tubuh Ella yang memang sangat ideal.


"Gak kayak aku ini banyak timbunan lemak dimana-mana. Gak bakal ada yang muat kalau gak pre order dulu."


"Apaan si. Kamu juga masih bagus kok badannya. Memang udah bongsor dari sononya aja bentuknya. Jadi terkesan semox hehe." Ella sedikit menghibur temannya itu.


"Ya ya gak gendut kok cuma sedikit semox hahaha." Shanti ikutan tertawa mengambil kesimpulan.


"Oiya undangan sumpah buat sapa, El? Kan cuma dua biji itu undangannya limitted edition."


"Mama dan papa lah jelas. Siapa lagi? Kamu sendiri? Kasiin ke siapa?"


"Owh, kirain Roni salah satunya hehe... Aku mah sama aja kasiin orang tua. Mereka yang udah biayain dan doain kita sampe sukses kok, masak mau undang orang lain?" Shanti juga menyetujui.


"Roni kan bisa nunggu di luar ruangan. Bener banget dukungan terbesar buatku sampai bisa menjadi dokter spesialis penyakit dalam juga datangnya dari mama dan papa. Hanya mereka berdua yang berhak menerima undangan penyumpahan-ku."


Mereka berdua pun menyelesaikan prosesi makan siang mereka sebelum akhirnya kembali melanjutkan petualangan shoping mereka. Dan akhirnya petualangan mereka berakhir di butik Ina Avanie di lantai 2 yang dimaksud Shanti.


Shanti langsung dipersilahkan masuk ke ruang fitting baju. Sementara Ella memilih menunggu di display room butik. Sambil melihat-lihat di bagian kebaya wanita. Mencari yang kalau ada yang cocok dengan seleranya.


"Dith, gimana udah Ok belum?" Tiba-tiba Ella mendengar suara yang rasanya sangat tidak asing. Dari bagian pakaian pria.


Seorang wanita cantik yang sejak tadi memilih-milih kebaya di dekat Ella langsung menghentikan kegiatannya. Beranjak pergi menghampiri ke arah suara sang pria tadi.


"Ehem...Bagus. Cocok banget sama mas Ardi." Ella dapat mendengar jawaban sang wanita tadi pada pria yang memanggilnya tadi.


Ardi? Apa Ardi ada disini juga? Ardi Pradana?


Deg, jantung Ella langsung berpacu tanpa permisi. Apalagi tadi didengarnya juga suara yang sangat mirip dengan suara Ardi. Dengan rasa penasaran yang memuncak Ella berjalan perlahan ke arah bagian pakaian pria.


Betapa kagetnya saat tiba di bagian itu Ella mendapati tiga sosok pria yang sudah tidak asing lagi baginya. Mereka semua berwajah tampan dengan perawakan bagus pula. Dua orang sedang dilakukan pengukuran badannya oleh masing-masing petugas butik. Linggar dan satu lagi pria yang kalau tidak salah bernama Bambang.


Dan satu lagi pria yang berdiri ditengah, mencoba sebuah jas berwarna hitam, Ardi...Ella semakin penasaran dengan apa yang sedang mereka lakukan disini. Dan tanpa Ella sadari, dirinya sudah bergerak semakin mendekat ke arah mereka. Bersembunyi dibalik manekin yang berdiri memajang salah satu karya butik ini.


Entah apa yang kemudian terjadi disana, si wanita yang dipanggil oleh Ardi tadi semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Ardi. Dekat dan semakin dekat, kemudian wanita itu pun sedikit menjinjitkan kakinya setelah posisi mereka sangat dekat.


Apa-apaan itu? Apa yang mereka lakukan di tempat umum seperti ini? Berciuman? Entah mengapa tiba-tiba tubuh Ella terasa panas membara demi melihat kejadian di depannya...


Dan kenapa baik Linggar atau Bambang tidak ada ada yang kaget atau heran melihat perbuatan mereka berdua. Apa sebenarnya hubungan wanita itu dengan Ardi? Apakah istrinya sehingga keduanya memaklumi tindakan mereka?


Mungkin karena saking emosi dan geramnya melihat kejadian itu, tanpa sadar Ella menabrak manekin dari tempatnya tadi menyembunyikan tubuhnya. Dan tanpa dapat dihindari lagi manekin itu perlahan jatuh ke lantai.


"KLONTAAANG..."


Suara keras yang terjadi akibat jatuhnya manekin ke lantai memecahkan keheningan suasana yang ada di seisi butik. Kontan semua mata langsung terarah ke sumber keributan, pada dirinya. Bahkan tak sedikit orang yang langsung menghambur mendekat ke arahnya.


Mati aku! Pasti ketahuan ini kalau aku lagi ngeliatin mereka?! Mau ditaruh mana mukaku coba? Memalukan banget! Ella mulai panik menyadari masalah yang telah diperbuat dan ditimbulkannya.


Ella buru-buru berdiri dari lantai, membungkukkan badannya dalam-dalam sebagai permintaan maafnya kepada siapa saja yang hadir.


Kemudian karena saking malunya Ella buru-buru berpaling dan pergi dari kerumunan ramai yang sudah berkumpul untuk melihat kehebohan yang dibuatnya. Pergi dan berlalu cepat-cepat dari butik itu. Kabur dari segala kehebohan disana.


Ella berjalan cepat menjauhi butik, selain untuk menghindari rasa malunya karena menabrak manekin tadi. Tujuan utama Ella adalah karena tak sanggup melihat Ardi yang bermesraan dengan wanita lain di depan matanya.


'Kenapa rasanya tidak rela? Kenapa rasanya sepedih ini? Padahal seharusnya aku sudah melupakan dan merelakannya?'


Ella terus berjalan dengan langkah semakin lebar dan tak tentu arah. Kepalanya terasa kosong sehingga tak dapat berpikir sama sekali. Dadanya juga terasa perih dan sesak.


Tiba-tiba saja seseorang meraih dan menarik sebelah lengannya. Membuat Ella yang sedang berjalan dengan kecepatan tinggi terpaksa menghentikan langkahnya tiba-tiba. Membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan dan nyaris terjungkal. Melayang di udara selama beberapa detik lamanya


Ella memejamkan matanya. Bersiap-siap jika tubuhnya akan terjatuh dan menghempas ke lantai. Tapi beberapa saat kemudian Ella menyadari tak ada yang terjadi. Dirinya tidak jatuh ke lantai, ada sebuah lengan yang kuat memegangi lengannya, menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Ella membuka matanya, mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang menghentikan langkahnya. Betapa kagetnya Ella saat mendapati sosok pria di depannya itu.


Bagaimana dia bisa ada disini? Bagaimana dia bisa mengejarku sampai kesini, bukannya tadi dia masih disana bersama wanita itu? mas Ardi?


"Lepasin, mas. Tolong lepaskan aku!" Ella berusaha melepaskan cengkeraman Ardi dari lengan atasnya.


Ella menelan saliva-nya beberapa kali untuk membasahi tenggorokannya. Berusaha menenangkan dirinya meski jantungnya menolak untuk tetap tenang. Entah bagaimana dirinya tidak bisa menjaga ketenangan saat Ardi berada sedekat itu posisinya dengan dirinya.


Ardi diam saja tidak menjawab atau menuruti permintaan Ella untuk melepaskan genggaman tangannya pada lengan gadis itu. Dipandanginya wajah Ella di hadapannya, benar tidak salah lagi dia Ella. Bukan mimpi.


Ardi seakan tak dapat melepaskan pandangannya dari wajah gadis itu. Dan yang paling parah adalah debaran di dadanya yang serasa kian mengeras dan tak teratur tanpa kompromi.


"Mas Ardi? Please lepasin...Kita diliatin banyak orang lho," Ella memohon sekali lagi.


Alih-alih menuruti permintaan Ella, Ardi malah menggenggam lengan gadis itu semakin kencang. Pria itu juga menarik tubuh Ella untuk mengikuti langkahnya. Menjauh dari keramaian. Mereka berdua berjalan beriringan dalam diam dan berakhir di lorong sepi tangga darurat yang tidak ada seorang pun disana.


Ardi melepaskan genggamannya pada lengan Ella saat mereka sudah berdiri berduaan dan berhadapan disana. Selanjutnya Ardi kembali diam, lanjut memandangi gadis cantik di hadapannya.


Ella merasakan lengan atasnya sedikit nyeri dan kebas karena genggaman Ardi yang terlalu kuat. Digerak-gerakkan perlahan lengannya untuk meredakan rasa kebas dan sakitnya.


"Sorry...sakit ya?" Ardi merasa bersalah.


"It's Ok..."


"El...Aku kangen kamu..." Ardi langsung berkata jujur kali ini. Tak ingin ada kesalah pahaman lagi karena sikapnya yang sok cool menurut Linggar. Aku harus mengatakan perasaanku yang sebenarnya!


Deg, dia kangen aku? Ella masih tak percaya dengan pendengarannya sendiri.


'Aku juga mas! Aku juga sangat kangen kamu!'...Kata-kata itu hanya sanggup terucap dan menggema di hati Ella tapi tidak di bibirnya.


"Kita tidak boleh berduaan ditempat seperti ini..." malah kata-kata itu yang keluar dari mulut Ella. Pikiran rasionalnya berusaha menolak semua rasa rindu di dadanya. Memaksanya untuk bersikap sewajarnya pada pria di hadapannya itu...


Aku sudah memiliki Roni sebagai pacarku. Dan Mas Ardi juga sudah memiliki wanita tadi...Bagaimana mungkin mereka bisa berduaan dan mengatakan kangen coba?


"Kamu gak kangen sama aku, El?" tanya Ardi masih bersikeras. Penasaran dengan perasaan Ella yang sebenarnya kepadanya. Apa benar yang dikatakan Linggar kalau gadis ini masih mencintainya?


"Nggak..." Ella mencoba menekan segala rasa di dadanya untuk menjawab pertanyaan Ardi.


Yah ini sudah benar, dirinya tak boleh terlalu berharap pada pria ini. Dirinya harus menjaga jarak dan menjauh dari pria ini...


"Sudah ya mas Ardi...kita tak boleh berduaan begini terlalu lama," Ella pamit ingin pergi meninggalkan Ardi. Sangat berbahaya untuk berduaan di tempat sesepi ini. Lagian Shinta pasti sudah khawatir dan mencari-cari dirinya.


Ardi tak tahu harus berkata apa lagi untuk menahan Ella. Dia juga tak tahu lagi apa yang ada di otaknya yang tiba-tiba terasa bodoh. Bodoh karena hanya ada Ella saja yang ada dipikirannya. Dan begitu sadar, Ardi sudah menarik tubuh Ella dan memeluk gadis itu dengan sangat eratnya. Seakan tak ingin melepaskannya lagi selamanya.


"I missed you...Really missed you." Ardi memeluk Ella semakin erat.


(*Aku kangen...benar-benar kangen kamu).


Ardi tak memperdulikan jantungnya yang berdetak semakin kencang. Biar saja, biar saja gadis itu mendengarnya. Biarkan Ella tahu betapa jantung Ardi berdebar karena dirinya. Biar Ella tahu betapa Ardi masih mencintainya.


Ella kaget dan syok mendapati tubuhnya dipeluk begitu erat oleh Ardi. Aroma khas yang sama masih menyelimuti tubuh pria itu, Aroma greens yang segar. Bahkan setelah tiga tahun berlalu Ardi tidak mengganti aroma parfumnya yang terasa memabukkan bagi Ella...


Rasanya tubuh Ardi yang memeluknya begitu panas dan dapat didengarnya sesuatu yang berdetak kencang dari dada pria itu.


Di lain pihak mendapatkan perlakuan begitu dari Ardi mau tidak mau membuat jantung Ella juga semakin berpacu kencang, dag dig dug tak karuan.


"Stop it! We can't do that!" Dengan sekuat tenaga Ella mendorong tubuh Ardi untuk melepaskan pelukan pria itu dari tubuhnya. Mencoba mengatur jarak untuk sedikit menjauh, serta mengatur segala debaran yang tidak teratur di dalam dada.


(Hentikan! Kita gak boleh melakukan ini).


"Liar! You're a bad Liar!" ujar Ardi kali ini dengan nada dingin dan sinisnya.


(*Pembohong. Kamu pembohong yang buruk.)


Ella kebingungan harus menjawab apa. Dirinya sampai dikatai sebagai pembohong oleh Ardi. Apakah seburuk itu kebohongannya? Apakah sejelas itu terlihat bahwa dirinya masih memiliki suatu rasa pada Ardi? Apakah Ella harus mengatakan juga bahwa dirinya juga kangen pada Ardi?


~∆∆∆~


🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🤭🌼