
Beberapa hari berlalu sejak acara shopping gila-gilaan untuk mencari seserahan dan balasan lamaran. Sejak saat itu pula Ella dan Ardi tidak pernah bertemu, hanya berhubungan intens lewat media komunikasi saja. Alasannya si babang sultan lagi banyak kerjaan katanya. Proyek dan tender baru dengan teman-teman sesama sultan mudanya.
Sepertinya para sultan muda itu sengaja datang ke Surabaya ini untuk menghadiri pesta ulang tahun Ceicillia Tang sabtu besok. Pesta besar sang CEO wanita dari Ciputra Group yang bagaikan sang ratu. Membuat Ella semakin penasaran saja seperti apa kira-kira sosok Ceicilia ini.
Nah seperti kebiasaan grup young bisnisman mereka kalau kumpul-kumpul sesamanya pasti gak jauh-jauh dari ngomongin bisnis. Dan disinilah rencana hari ini, Ardi mengatakan pada Ella untuk berdandan sedikit lebih 'rapi' daripada biasanya. Dan akan menjemput jam 12 siang. Rapi ala sultan pastinya ini, mau diajak ketemu mereka jelasnya.
Dan bagaimana Ardi bisa mendapat lampu hijau untuk menculik Ella sebelum jadwal jaga poli spesialis berakhir? Tentu saja karena direktur RS. Hartanto Medika, Mahes tidak keberatan. Mana berani nolak permintaan kakak ipar coba?
Tepat sesuai janjinya jam 12 siang Ardi sudah menunggu di parkiran. Ella pun langsung pamit dan beranjak meninggalkan ruangan jaganya. Menghampiri si babang sultan yang sudah menantinya di dalam mobil porsche-nya.
"Hallo honey, I miss you." Ujar Ardi langsung melajukan mobilnya keluar parkiran rumah sakit.
"Mau kemana kita? Kenapa gak bisa nunggu 2 jam lagi sih?" Ella bertanya, tak suka dengan ide korupsi jam kerja dan memanfaatkan koneksi begini.
"Penyambutan tamu penting. Irza dan Kika Wismail serta Johanh Astin. Kita lunch bareng mereka siang ini." Ardi menjawab.
"Kamu gak kangen aku?"
"Nggak," jawab Ella.
"Duh jahatnya..." Ardi pura-pura sedih.
"Gimana mau kangen kalau tiap hari vidio call. Tadi pagi juga kan? Masa masih kurang aja?"
"Kurang. Sebelum bisa bawa kamu pulang dan simpen di kamarku masih belum cukup."
"Dasar, mas Ardi makin parah saja sakitnya."
"Iyaaaa malarindu tropikangen kronis."
"Apaan coba," mau tak mau Ella ketawa juga dengan bucinan garing Ardi yang selalu ada-ada saja.
Ternyata Ardi membawa mereka ke Tunjungin Plaza , memarkirkan mobilnya di parkiran vip biar gak perlu nyari tempat. Kemudian mereka berjalan beriringan menuju ke main food cort mall untuk menunggu kedatangan tamu mereka. Mereka hanya memesan minuman dari Cha Time untuk menemani penantian mereka.
"Oiya untuk outfit-mu buat acara pertunangan kita jumat depan mama pengennya pakai adat jawa." Ardi membicarakan masalah pertunangan.
"Boleh saja." Ella tak keberatan. "Kan sudah punya empat kebaya mewah, tinggal pilih salah satu."
"Lho beda lagi honey, masih dipesenin di Ani Avani, nanti kalau sudah deket hari H bakal dikirim ke rumahmu." Ardi menjelaskan.
"Lho kok gitu? Katanya semua konsep diserahkan pada keluarga kami?" Ella memprotes.
"Cuma outfitmu doank kok. Kebaya merah. Gak tahu mengapa mama pengen kamu pakai merah di acara nantinya." Ardi menjawab.
"Kenapa gitu?"
"Mana kutahu. Nanti outfit mama dan papamu menyesuaikan saja atau perlu dikirim juga?"
"Gak usah biar gak ribet." Ella menolak. Tahu benar papanya tak akan suka dengan keribetan.
Pembicaraan mereka terhenti saat Ardi menangkap sosok yang ditunggunya dengan pandangannya. Segera saja Ardi memanggil mereka. Seorang pria tampan yang Ella kenali sebagai Irza Wismail dan seorang gadis cantik berwajah oriental.
"Irza," Ardi berdiri dari kursinya, menyapa dan memberikan gesture untuk menyalami Irza, tetapi pria itu tidak menggubris sapaan Ardi. Bahkan lebih jauh Irza memukul perut Ardi dengan sebelah telapak tangannya sampai menimbulkan bunyi 'plak' yang cukup keras.
Gak sakit sih, tapi sukses membuat Ardi terlonjak kaget juga. Bingung, tak tahu harus merespon bagaimana perlakuan aneh Irza padanya ini.
"Dasar penghianat!" Irza tiba-tiba berseru dengan nada marah.
Baik Ella, Ardi dan wanita disamping Irza langsung kaget dengan apa yang mereka dengar dan lihat itu. Apa yang sebenarnya terjadi sampai penerus Wismail Grup ini semarah itu pada Ardi?
"Ingat nggak, tiga tahun lalu elu minta gue nemenin elu menjomblo. Biar gak jadi kambing congek sendirian di acara-acara pesta. Terus tega lu ye gak ngundang gue ke acara lamaranmu? Katanya kita temen? Sahabat? Cuih!" Irza nyerocos ngamuk.
Ardi langsung membuang napas lega mendengarnya. Ternyata karena masalah ini? Padahal Ardi sudah bingung dan takut ada kesalahan yang diperbuatnya sehingga membuat pewaris Wismail ini marah. Takut kemarahannya akan berdampak pada kerjasama bisnis mereka.
"Memang serba mendadak kemarin. Jadi cuma sempet ngundang yang lagi ada di Surabaya saja. Private party kecil-kecilan." Ardi mencoba beralibi.
"Nanti acara akad dan resepsi resminya kamu pasti bakal diundang kok." Ardi melanjutkan.
"Harus donk. Jangan sampai lu baru ngundang gue pas acara sunatan anak lu." Jawab Irza seenaknya.
"Sorry bro...Aku gak ngira kamu semarah ini." Ardi meminta maaf pada sahabatnya itu, merasa bersalah juga melupakan Irza. Tapi memang dadakan banget acara kemarin gak kepikiran buat ngundang siapa-siapa jadinya.
"Gue bukan sekedar marah lagi...Tapi gue bahagia."
Baik Ardi maupun Ella kembali bingung dengan maksud dari ucapaan Irza.
"I'm happy for you bro, semoga lancar acaranya sampai hari besar nanti." Lanjut Irza dengan intonasi lebih lembut. Pria itu pun menyunggingkan senyumannya dan menepuk kedua pundak Ardi. Membuat suasana canggung tadi sedikit mencair.
"Thank you, bro." Ardi ikut tersenyum membalas ucapan Irza. Kemudian melakukan bro hug yang tertunda dengan Irza Wismail. Lega sekali rasanya mengetahui pria itu hanya bercanda. Brengsek banget memang dia! Keterlaluan bercandanya.
"Kak Irza iiih...Kasian tu kak Ardi dan calon istrinya sampai pucet begitu." Ujar gadis disebelah Irza tersenyum menahan tawanya.
"Habis kalau gak diginiin tuman dia," Irza mengerutu.
"Eh iya Kika, kenalin ini calonku." Ardi mengalihkan pembicaraan dengan mengenalkan Ella pada gadis yang bersama Irza yang ternyata bernama Kika.
"Selamat siang, aku Amellia. Panggil saja Ella." Ella menyodorkan tangannya pada Kika.
"Aku Kika, maafin ulah kakakku sebelumnya ya," Kika menyambut uluran tangan Ella sambil melirik kesal pada Irza, kakaknya.
"Kika ini tunangannya Johanh Astin yang waktu itu bantu cariin kita tiket konser Coldplay." Ardi menjelaskan pada Ella
"Udah pada makan belum? Ke Holysteak yuk aku yang traktir." Ardi menawarkan, berlaku sebagai tuan rumah yang baik. Semuanya langsung setuju dan beranjak menuju restoran yang dimaksud.
Selama perjalanan baik Ardi dan Irza masih terus saja ribut dan berdebat mengenai status jomblo Irza. Irza mencoba mencari teman sesama jomblo yang sepantaran dengan mereka. Menyebutkan berbagai nama, sementara Ardi bersemangat menjodohkan Irza dengan Ceicilia Tang.
"Udah deh, sampai kapan kalian mau berdebat terus? Jadi makan nggak?" ujar Kika kesal
"Iya nih, kita tinggalin ja yuk." Ella pura-pura ngambek dan mengajak mendahului langkah kedua pria itu.
"Iya deh honey, jangan ngambek. Kamu lapar ya..." Ardi berusaha merayu Ella yang pura-pura ngambek.
"Ck...ck...ck...Bener-bener ya kalau lagi kasmaran. Ai Kucing pun rasa coklat." Irza bersungut kesal.
"Makanya buruan cari jodoh. Biar bisa ngerasain manisnya rasa coklat beneran." Ardi membalas sadis. Tak kenal ampun, membuat Irza semakin merana. Dan membuat semua yang melihat tertawa.
Sesampai di restoran Holysteak ternyata sudah menunggu mereka Johanh Astin yang menunggu mereka di dekat pintu masuknya. Johanh langsung menyapa Kika, tunangannya.
"Sini, Jo. Ayo gabung." Ardi memanggil Johanh
"Kamu manggil dia?" Irza tiba-tiba bertanya dengan nada naik satu oktav.
"Iya. Makin banyak makin seru kan?" Ardi menjawab dengan tidak punya dosa.
"Yo Ardi, long time no see." Jo menyapa dan memberikan bro hug pada Ardi.
"Halo Ella," Jo lanjut menyapa pada Ella juga tapi tak berani menyalami atau phisikal kontak apapun. Takut kena semprot Ardi, Kika dan Irza sekaligus. Jo langsung mengambil posisi nempel deket-deket ke Kika seakan membuktikan gadis itu miliknya.
"Nice to meet you, Jo." Ardi balas menjawab. Sekali lagi menjauhkan Ella dari jangkauan Johanh.
"Jadi makan gak ni?" Ella mengingatkan mereka untuk tidak berdiri saja di depan restoran.
"Iya ayo masuk. Kita ngobrol sambil makan siang saja." Ardi senang karena Ella bisa mengambil inisiatif untuk menjadi tuan rumah yang baik. Cocok jadi nyonya Pradana hehe. Jadi makin cinta kan.
Kelima orang itu langsung memasuki restoran dan memesan makanan mereka. Jo terlihat cengengesan nempel-nempel sama Kika, Ardi juga dengan kebucinan kronisnya asik godain Ella. Sementara Irza yang jadi obat nyamuk semakin kesal sendiri memainkan ponselnya.
"Terus kita kumpul-kumpul ini buat ngapain?" Jo bertanya karena Ardi hanya mengajaknya makan siang dan mengatakan akan ada Kika juga hadir. So tak ada alasan untuk menolak datang kan?
"Aku sih cuma mau nyambut kalian saja." Jawab Ardi juga tak tahu tujuan mereka berkumpul.
"Aku mau ngajak Ardi nyari kado buat ultahnya Cecil. Tapi malah jadi rombongan begini." Irza menjawab dengan muka ditekuk-tekuk, dongkol.
"Lho katanya kamu mau bawa Kika?"
"Ya karena kamu bilang mau bawa Ella!"
"Terus kenapa kalau aku bawa Ella?"
"Ya aku gak mau jadi obat nyamuk lah! Eh sekarang malah jadi doble obat nyamuk gini." Irza semakin bersungut-sungut, membuat keempat yang hadir lainnya tertawa ngakak.
Tepat setelah mereka selesai menyantap semua menu makanan di meja, seorang gadis yang sangat cantik menghampiri meja mereka.
"Irza? Kamu kenapa? Mau minta tolong apa?" gadis itu bertanya dengan khawatir.
"Cecil!" Irza langsung sumringah, bangkit dari kursinya menyambut si gadis. Bersalaman dan cupika-cupiki sebagai sapaan. "Akhirnya kamu datang juga. Selamatkan aku dari terbakar diantara dua pasangan ini. Aku beneran jadi obat nyamuk."
"Haaah?" Cecil kebingungan sementara keempat lainnya sudah cekikikan.
"Halo Ardi, halo Jo. Dan... Don't tell me..." Cecil mengedarkan pandangannya, menyapa Ardi dan Jo. Kemudian menyadari alasan kekesalan Irza dengan melihat kedua gadis lain disana.
"Kak Cecil, salam kenal. Aku Kika." Kika memperkenalkan dirinya dengan ramah.
"Tunanganku, Cil. Cantik kan?" Jo membanggakan tunangannya pada Cecil.
"Halo Kika. Kamu beruntung banget Jo nemuin gadis sebaik dan secantik Kika." Cecil menyapa Kika.
"Kenalin ini tunanganku, Ella." Ardi ikutan mengenalkan Ella pada Cecil.
"Wow finally i can meet the girl who stole Ardi's heart." Cecil mengamati Ella dari ujung kepala ke ujung kaki. "You look georgeous, natural beauty and smart." Cecil memberikan penilaiannya pada Ella.
"Thank you. You're very beautifull too." Ella menyambut sapaan Cecil. Dalam sekali lihat Ella dapat merasakan aura Cecil yang sangat mengintimidasi, benar-benar seperti sosok sang ratu agung yang untouchable seperti kata Tyo.
Jadi inilah Ceicillia Tang sang CEO Ciputra Group? Sangat cantik dengan wajahnya yang mirip Park Mi Yo, sangat cerdas dan berkarisma juga. Wanita manapun tak akan berani untuk bersaing dengannya dalam hal apapun. Kalah telak.
"Yuk duduk, kamu udah makan belum?" Ardi mempersilahkan Cecil.
"Thanx, aku sudah makan. Kalian kok bisa kumpul begini?" Cecil bertanya penasaran.
"Si Irza ini mau cari gift buat kamu Cil." Johanh membuka kartu Irza pada Cecil
"Kado? For my birth day party." Cecil bertanya dengan sedikit curiga.
"Dari Irza?" Cecil melanjutkan dengan nada sedikit ngeri. Teringat akan kejadian mengerikan di masa lalu.
"Aku kan sudah berkali-kali minta maaf soal kadoku dua tahun yang lalu." Irza berujar dengan nada sangat tak berdaya dengan tatapan curiga Cecil.
~∆∆∆~
Penasaran dengan tokoh Johanh, Kika dan Irza? Mereka ada di novelnya temenku ASTARI berjudul YOUNG MISS. Jangan lupa dikepoin juga ya dijamin gak kalah serunya 🥰
🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN yaaaa 🌼