Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
68. Bittersweet


"Congratulation, honey. Itu kue buat kamu sebagai ucapan selamat karena keberhasilanmu lulus ujian masuk PPDS. Aman kok gak ada vodka-nya kali ini hehe." ujar Ardi sambil tersenyum lebar kepada Ella.


(*Selamat ya, sayang)


"Buat aku?...Oh my god, Bagus banget kuenya. Makasih banyak lho mas..." Ella kebingungan harus menjawab apa akan surprise dari Ardi ini. Lagi dan lagi, Ardi selalu bisa memberikan kejutan yang sangat manis untuknya.


Kenapa kamu begitu baik dan manis sama aku mas? Kalau kayak gini bagaimana aku bisa mempertimbangkan kemungkinan untuk meninggalkan kamu? Untuk berpisah darimu?


"Sorry ya, El. Aku gak bisa beliin dan milihin sendiri kue favorit untuk kamu. Aku juga gak bisa jemput kamu atau datangin kamu secara langsung ke kontrakan. Yah mudah-mudahan kamu suka sama kue kali ini."


"Gak apa-apa mas. Kuenya bagus banget. Kayak gini aja aku udah seneng dan makasih banget sama kamu." Siapa yang gak melting coba? Ardi yang masih sakit dan masih pusing, bahkan belum sanggup untuk sekedar nyetir mobilnya. Masih saja bisa memikirkan hadiah untuk Ella? He's just so sweet. Bisa diabetes lama-lama ini Ella saking manisnya perlakuan Ardi padanya.


"Glad if you like it." Ardi tersenyum manis pada Ella.


(*Seneng kalau kamu menyukainya).


"Yuk cobain, mau dimakan gak ni? Atau mau dilihatin aja?" Ardi tahu bahwa sepertinya Ella merasa sayang untuk memotong kue cantik itu. Mau tak mau Ardi jadi senyum-senyum sendiri melihat Ella yang kayak gak rela gitu kue secantik itu dipotong-potong.


"Makan donk!" jawab Ella bersemangat


"Yuk potong kuenya..."


"Hmmm boleh gak aku bawa pulang utuh gini?" Nah kan? Ella beneran gak tega.


"Emang kamu bisa ngabisin sendirian?"


"Bisa! Aku sama Intan bisa duet maut ngabisin kue ini nanti."


"Hahahah dasar kamu ini lucu banget."


"Hmmm mas Ardi pengen nyobain?"


"Nggak. Kayaknya manis banget, pasti eneg. Perutku masih agak error gak berani makan yang bikin eneg gitu."


"Ok aku potong beberapa iris deh." Ella memutuskan.


"Lho kok? Katanya sayang?" Ardi keheranan.


"Menghargai mas Ardi yang udah susah-susah beliin. Akan kumakan di depan mas Ardi." Ella mengambil piring kecil dan pisau kue yang telah disediakan Bambang di meja.


Ella memotong kue menjadi tiga irisan kue dan diletakkannya masing-masing ke piring di meja. Kemudian memandang lagi kue cantik yang sudah terkoyak itu dengan sedih.


"Kok banyak ngirisnya buat siapa aja? Tapi kamu kok kayak gak rela gitu si hehe"


"Buat mas Ardi, buat bi Ijah sama buat Bambang," jawab Ella.


"Aku gak usah. Diwakilin kamu aja," tolak Ardi.


"Oke. Tapi cobain dikit aja ya..." Ella sedikit memohon. Diambilnya salah satu piring di meja dan disendoknya irisan chocolate cake disana, disodorkan pada Ardi.


Ardi tak sanggup menolak permintaan Ella kali ini. Ardi pun membuka mulutnya untuk menyambut suapan kue itu. Dikunyah dan ditelannya cepat-cepat. Rasa manis berlebihan yang menyerangnya membuat Ardi sedikit mual. Cepat-cepat dia menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, menahan sensasi ingin muntah yang tiba-tiba saja melandanya.


"Mas?...Mas Ardi kenapa?" Ella kebingungan. Cepat-cepat diletakkan piringnya tadi ke meja. Diambilnya beberapa lembar tissue dan diberikan kepada Ardi. Ella jadi merasa bersalah sudah memaksakan Ardi untuk memakan kuenya. Padahal tadi kan Ardi sudah bilang kalau dia masih eneg untuk memakan sesuatu yang terlalu manis.


"Gak apa-apa kok." Ujar Ardi beberapa saat kemudian setelah dapat mengatasi segala sensasi ingin muntahnya. "Kamu aja ya yang lanjut makan kuenya."


Ella menurut saja, diambilnya kue dipiring tadi dan segera dimakannya. Enak, benar-benar enak. Coklatnya terasa manis dan kepahit-pahitan, tanda coklat berkualitas yang digunakan sebagai bahan kue ini. "Enak kok, enak banget malah." Ella berkomentar sambil terus mengunyah kuenya.


"Iya emang enak. Cuman aku lagi gak bisa makan yang semanis itu, eneg banget..."


"Rasanya manis tapi kayak ada pahit-pahitnya gitu," celetuk Ella sambil menikmati kelembutan dan kelezatan kue tadi.


"Bittersweet..." celetuk Ardi.


"Nah itu kata yang paling tepat."


Ella meneruskan mengunyah dan menghabiskan potongan kuenya. Sementara Ardi hanya memandangi, menikmati ekspresi Ella yang sangat bahagia memakan kuenya.


Ketukan di pintu kamar membuat keduanya serentak mendongak. "Masuk..." Ardi mempersilahkan dan ternyata bi Ijah yang masuk ke dalam kamar.


"Makan malam sudah siap, tuan." Ijah memberi tahukan maksud kedatangannya.


"Oke. Oiya itu ada kue buat kamu dan Bambang. Bawa saja keluar, sama sisa kuenya kamu bungkus buat Ella." Ardi menjawab.


"Yuk kita makan dulu," Ardi buru-buru bangkit dari sofa, tubuhnya oleng seketika. Cepat-cepat mencari pegangan agar tidak jatuh. Ella kebetulan melihatnya, dengan sigap membantu menahan dan menopang tubuh Ardi agar tidak jatuh.


"Kalau vertigo harus pelan-pelan berdirinya. Kalau mau bangkit dari posisi tidur atau duduk yang lama. Biar gak kaget dan pusing," Ella menjelaskan gejala yang barusan dialami Ardi secara medis.


"Iya, lain kali aku akan lebih hati-hati." Ardi menjawab pasrah, merasa agak pusing.


Mereka berjalan beriringan dengan Ella masih memegang erat lengan Ardi. Takut pria itu tiba-tiba pusing dan oleng lagi. Mereka keluar dari kamar tetapi tidak ke ruangan makan di lantai bawah. Syukur deh gak perlu naik turun tangga. Ella merasa Ardi masih belum bisa untuk naik turun tangga dengan aman saat ini.


Ardi mengarahkan Ella ke kamar tamu di sebelah kamarnya, terus berjalan memasuki kamar itu sampai ke balkonnya. Dan disana Ella dapat melihat balkon kecil itu telah berubah menjadi tempat yang sangat berbeda.


Dengan lampu-lampu bulat yang ditempelkan di temboknya, lentera-lentera dan seperangkat meja dan kursi yang telah tertata hidangan diatasnya. Dua buah lilin juga diletakkan di atas meja untuk menambah manisnya suasana. Tak ketinggalan sekuntum mawar merah diletakkan di atas salah satu kursinya.


"What? What is it?" Ella bertanya dengan sedikit takjub dan kebingungan.


(*Apa? Apa-apaan ini?)


"Candle light dinner, maybe?"


(*Makan malam diterangi cahaya lilin, mungkin?)


"Awwww so sweet banget. Makasih lho, mas." Ella kegirangan dan tanpa sengaja dia memberikan kecupan ringan di sebelah pipi Ardi sebagai ucapan terima kasih.


"Buat kuenya tadi belum..." Ardi ketagihan, minta dicium lagi.


"Duh perhitungan banget..." Ella pura-pura kesal. Dasar ini mas Ardi kayaknya doyan banget dicium-cium. Ella juga menyesali tindakannya sendiri yang seolah memancing Ardi untuk lebih agresif.


"Makasih ya mas, buat semuanya." Ella kembali mendaratkan ciuman ringannya di pipi Ardi yang satunya lagi. Dan Ardi hanya senyam-senyum kegirangan menerima ciuman kedua di pipinya.


Ella mengambil sekuntum mawar merah di kursi sebelum mendudukinya. Diciumnya bunga itu sesaat sebelum kembali diletakkan di atas meja. Di atas meja sudah tersaji beef streak yang terlihat masih hangat sebagai menu santapan mereka. Gelas wine juga telah terisi oleh cairan merah bersoda sebagai ganti wine. Aman ni no alkohol for this candle light dinner.


(*Tak ada alkohol untuk acara makan malam romantis kali ini.)


"Emang mas Ardi udah bisa makan daging? gak eneg?" Ella bertanya penasaran dengan menu makanan Ardi yang sama dengannya.


"Katanya buat nambahin tensi yang cepet makan yang berlemak-lemak? sate kambing dan semacamnya?"


"Iya bisanya sate kambing paling ampuh kata orang-orang buat obatnya darah rendah."


"Kalau daging kambing belum sanggup aku rasanya. Baunya itu lho...Tapi kalau daging sapi panggang kayaknya masih bisa." Ardi mencoba mengiris beef steak-nya. Kemudian menusuknya dengan garpu lalu menyuapkan daging itu ke mulutnya. Pelan-pelan dikunyahnya sampai habis di mulut.


"It's Ok...aman kayaknya," ujar Ardi lega mengetahui perutnya tidak melakukan pemberontakan untuk memuntahkan kembali makanan yang baru saja ditelannya.


Ella pun ikut menikmati sajian makan malam itu. Masakan Ijah benar-benar tidak kalah dengan masakan restoran di hotel bintang lima. "Tumben-tumbennya mas Ardi ngajakin makan romantis kayak gini?".


"Part of celebration for you," jawab Ardi.


(*Bagian dari perayaan untuk keberhasilanmu).


"Kamu beneran sweet banget, mas. Aku sampai gak bisa komentar apa-apa lagi. Makasih aja pokoknya buat kamu."


"El, menurut kamu hubungan kita sekarang bagaimana?" Ardi tiba-tiba bertanya dengan wajah sangat serius.


"Hah? Gimana apanya? We're just doing great. Sweet couple as always. And you're the most sweet of every things," jawab Ella sedikit bingung juga untuk mendeskripsikan bagaimana hubungan mereka.


(*Kita menjalaninya dengan luar biasa. Pasangan yang terlihat manis. Dan kamulah yang paling manis dari segalanya).


"Sweet? The real sweet? Or just a fake one?"


(*Manis? Beneran manis? Atau hanya sesuatu yang palsu?)


"Kok kayak gitu sih ngomongnya?" Ella tidak senang dengan omongan Ardi.


"Bittersweet. Aku kok ngerasa hubungan kita kayak gitu." ujar Ardi dengan suara pelan.


Ella diam saja kali ini, tak dapat memungkiri juga bahwa selain rasa manis yang mereka dapatkan. Rasa pahit juga kadang ikut hadir dalam hubungan asmara mereka. Apa Ardi ingin membahas soal hal ini sekarang? Apa Ardi ingin membuka bom waktu yang telah mereka simpan rapat-rapat? Kenapa harus sekarang?


Ella memang belum ingin membahas tentang kelanjutan hubungan mereka secara mendalam untuk saat ini. Terlalu takut kalau mereka berdua tak dapat menahan ledakan bom waktu yang selama ini mereka kubur rapat-rapat dalam hati mereka masing-masing. Ledakan yang bisa saja berakibat fatal dan mungkin menghancurkan hati dan hubungan mereka berdua seketika.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼