Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
83. Kata yang tak terucap


'Kadang tak semua yang bertemu harus bersama. Kadang hanya sebatas berbagi cerita. Meninggalkan kenangan, lalu pergi memilih jalannya masing-masing.'


___________________________________


"Aku ingin kita putus mas...Mari kita akhiri hubungan kita sampai disini saja." Ella menggigit bibir bawahnya mencegah air matanya keluar dan mengalir. Aku harus kuat, aku harus bisa mengakhiri saat-saat terakhir kami dengan senyuman, mengakhiri hari ini dengan indah. Mengakhiri hubungan kami dengan tak ada penyesalan serta perasaan yang mengganjal di antara kami.


Serasa ada listrik ribuan volt yang seketika menyambar tubuh Ardi demi mendengar ucapan Ella. Lirih saja, tetapi sanggup membuatnya merasa sangat hampa dan benar-benar tak berdaya. "Nggak. Aku gak mau! Aku gak terima!" Ardi menolak dengan tegas mentah-mentah.


"Aku sudah membuat kesepakatan dengan mama mas Ardi. Aku sudah berjanji akan mengakhiri hubungan kita mas." Ella mencoba meyakinkan Ardi akan keputusannya.


"Tapi kamu belum membuat kesepakatan sama aku. Aku gak akan mutusin kamu!" Ardi tetap bersih keras tak mau kalah.


"Mas tolong, jangan membuat posisiku semakin sulit. Jangan membuatku semakin menderita dan tersiksa dengan hubungan tanpa kejelasan kita." Ella sedikit memohon kali ini. Berharap Ardi mau mengiklaskannya saja. Melepaskan dirinya pergi.


"Jadi kamu merasa menderita dengan menjadi kekasihku, El?..." Kali ini nada bicara Ardi terdengar sedih dan terluka. Dia tak mengira bahwa dirinya sendiri yang membuat Ella, gadis yang dicintainya ini menderita dan tak bahagia.


Kalau sudah begini Ardi bisa apa lagi coba? Mau tidak mau dirinya harus rela melepaskan gadis itu agar bisa lepas dari penderitannya. Agar bisa berbahagia dan lebih menikmati kehidupannya.


"Jujur aku capek mas, aku lelah karena kebanyakan menangis. Aku tak mau lagi mengisi hari-hariku dengan air mata," Ella sedikit berbohong. Berharap Ardi akan merasa iba dan rela melepaskannya pergi.


"Maaf ya, El. Mungkin selama ini aku yang memaksamu untuk terus bertahan. Mungkin aku yang kurang peka sampai tidak memahami bahwa kamu tidak bahagia dengan berada disiku..." Ardi menunduk dalam-dalam. Terlalu sedih untuk melanjutkan kata-katanya.


"Jika memang kamu merasa bahagia dengan melepaskanku, maka aku rela. Kamu boleh pergi dari sisiku...Berbahagialah dan jangan sampai menangis lagi, jangan ada air mata dan kesedihan lagi untukmu."


Sudah berakhir, pikir Ardi. Seperti dugaannya, dirinya tak akan sanggup untuk menolak jika Ella sendiri yang melepaskan genggaman tangannya. Dirinya tak akan sanggup untuk memaksakan kehendak dan keegoisannya pada Ella agar mau terus berada di sisinya.


Tidak jika hal itu akan membuat Ella semakin menderita dan tak bahagia. Jika memang dengan perpisahan ini dapat membuat Ella lebih bahagia, maka dirinya akan rela melepaskan gadis itu. Walaupun dirinya sendiri ragu akan bisa mendapatkan kebahagiaan tanpa Ella disisinya.


Ella tertegun sejenak tak sanggup bereaksi. Sebelumnya dia mengira bahwa dirinya akan sesikit lega saat Ardi akhirnya setuju untuk melepaskannya. Tetapi nyatanya rasanya tidak begitu, rasanya tetap saja sangat menyakitkan.


Terasa ada sesuatu yang patah di hatinya dan hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa ngilu dan sakit yang mendalam. 'Keputusanku sudah bulat, aku tak bisa mundur lagi', Ella menguatkan dirinya sendiri untuk terus melangkah maju.


"Makasih yah mas Ardi buat segalanya, buat kebaikan mas Ardi sama aku, buat perhatian, cinta dan kasih sayang mas Ardi yang begitu besar padaku... Makasih banget. Mungkin apa yang kulakukan padamu sama sekali tak sebanding dengan apa yang mas Ardi pernah berikan untukku. Dan sampai kapan pun aku tak akan dapat membalasnya." Ella berkata sambil meremas-remas jemarinya di bawah meja untuk tetap bertahan. Agar tetap bisa terlihat tegar tanpa air mata yang mengalir di wajahnya.


"Ella, please...Jangan pergi..." Ardi sekali lagi mencoba memohon pada Ella. Tak sanggup merangkai kata-kata lagi untuk menyakinkan Ella. Hati Ardi terasa hancur lebur menjadi berkeping-keping demi mendengar keputusan akhir Ella tentang akhir hubungan mereka. Keputusan yang sepertinya sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi.


"Maaf ya mas, maafkan ketidak mampuanku untuk menjadi pasanganmu. Tak pantas untuk bersanding denganmu. Maafkan semua tingkah manja, egois dan segala tindakanku padamu yang mungkin tidak berkenan dihati dan menyakitimu. Maafkan aku yang tak bisa menemanimu lagi..." Ella berhenti sebentar. Terlalu perih rasanya untuk melanjutkan. Dia menarik napas dalam-dalam. Menata hatinya sekali lagi untuk kembali menahan air mata yang semakin kuat mendesak keluar, mengalir deras dari kedua matanya.


"Kamu harus bahagia setelah ini, mas. Jalani hidupmu dengan lebih baik dan bahagia tanpaku. Lakukan semua itu untukku juga, jaga kondisi dan jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri dan bekerja terlalu keras. Jangan sampai sakit-sakit lagi. Dan terakhir temukanlah wanita yang lain yang lebih baik dariku. Berbahagialah dengannya..."


Tak sanggup, Ella merasa tak sangup lagi meneruskan kata-katanya. Segala kalimat yang tertata rapi di otaknya seakan hilang begitu saja. Tak mampu untuk terkoneksi dan terucap dari bibirnya. Ella hanya bisa menggenggam kedua jemarinya dengan semakin erat di bawah meja. Sampai-sampai telapak tangannya terasa sakit karena tertusuk oleh kuku jemarinya sendiri.


"How could you..." Ardi pun tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Tak sanggup mengatakan bahwa Ella begitu tega dan jahat karena mematahkan dan menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping. Karena Ardi tahu benar kalau hati Ella juga pasti sama hancur leburnya saat ini. Mereka berdua sama-sama hancur dan patah hati. Mereka berdua merasakan kesakitan yang sama, patah hati dan ketidak berdayaan.


"Aku punya sesuatu untuk mas Ardi..." Ella tiba-tiba saja berdiri dari kursinya setelah mereka hanya terdiam dan berpandangan cukup lama. Ella berjalan perlahan menghampiri musisi akustik di panggung. Meminta ijin pada mereka untuk mengiringinya menyanyikan sebuah lagu untuk Ardi. Dia memberikan judul lagu yang akan dinyanyikannya dengan bantuan mereka, menjelaskan tentang nada dan kunci lagu yang akan disenandungkannya.


"Selamat malam para hadirin semuanya. Perkenalkan saya Ella. Sebelumnya saya minta maaf jika kualitas suara saya nantinya dapat membuat telinga kalian semua sakit." Ella menyapa semua orang yang berada di restoran ini dengan ramah.


"This song is dedicated for the one I love the most. But sadly I can't live with. Lazuardi Edwin Paradana..." Ella memberikan pandangan dan senyuman manisnya ke arah Ardi. Gelombang tepuk tangan langsung memenuhi seisi restoran untuk memberi Ella semangat dan dukungan.


(*Lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang paling kucintai. Tetapi sedihnya aku tak dapat hidup bersama dengannya).


Alunan musik mengalun dengan merdunya dan Ella sudah memgambil posisi, bersiap menyanyikan lagunya dengan sesekali memberikan senyuman simpulnya kepada Ardi yang tetap duduk di kursinya.


Ardi sedikit heran dengan tindakan Ella kali ini. Bagaimana Ella yang biasanya pemalu dan tak suka tampil menonjol dapat maju ke atas panggung. Untuk bernyanyi dan mempersembahkan sebuah lagu baginya. Pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan Ella dari lagu yang akan dibawakannya itu.


Ardi pun tak mau ketinggalan memasang telinganya baik-baik untuk mendengarkan nyanyian Ella. Memusatkan pandangannya untuk memandang gadis cantik itu di kejauhan. Mengukir ingatan indah tentang Ella dengan penampilan cantiknya berdiri di atas panggung dan bernyanyi untuknya.


Ardi dapat mengenali lagu yang akan dibawakan Ella dari musiknya. Lagu yang sangat menyayat hati dan mengena dihati yang menceritakan tentang perpisahan sepasang kekasih. Ardi tak menyangka Ella akan membawakan lagu sedih ini untuknya. The hardest word is good bye dari John Newman.


If I don't leave, how will you see?


All the better love that you deserve without me


If I don't go, how will you know?


You'll find space to breathe and time to heal tomorrow


I hope time, oh, time will tell the truth


I'll give the time to you


The hardest word is goodbye


So make it easy, don't cry


I'll love you for my whole life


The hardest word is goodbye


I know it hurts, screaming "Don't go"


But I promise you your heart won't stay hollow


I'll always hope that you'll move on


And you'll find a love that what's we had but more


Time, oh, time will tell the truth


The hardest word is goodbye


So make it easy, don't cry


I'll love you for my whole life


The hardest word is goodbye


Oh-ooh, oh-ooh


Oh-ooh, oh-ooh


Oh-ooh, oh-ooh


The hardest word is goodbye


Dan setelah Ella mengakhiri nanyiannya seluruh isi restoran diam seketika. Terpesona oleh suara Ella yang diluar dugaan sangat enak didengar dan menghayati lagunya. Ella menyanyikan lagu tadi dengan sangat emosional dengan suaranya yang sesekali bergetar menahan tangis dan matanya yang sudah berkaca-kaca.


Tepuk tangan riuh terdengar beberapa waktu kemudian saat Ella pamit dan undur diri turun dari atas panggung. Hanya Ardi yang tetap terdiam mematung tak sanggup bereaksi. Meresapi segala Lirik lagu yang seakan merupakan ungkapan perasaan Ella untuknya. Perasaan dan perkataan yang sulit terucap dan disampaikannya langsung secara lisan padanya. Kata yang tak terucap...


~โˆ†โˆ†โˆ†~


Sekali lagi ini lagu pas banget untuk kondisi yang terjadi pada Ella dan Ardi. Kalau penasaran bisa coba chek lagunya di Yout*be untuk lebih menghayati hehe. Dan untuk memudahkan penghayatan tentang liriknya akan coba diartiin ya di bagian ini agar tidak merusak susunan cerita di atas. Part lagu yang diulang gak usah ditulis lagi yes.


If I don't leave, how will you see?


All the better love that you deserve without me


If I don't go, how will you know?


You'll find space to breathe and time to heal tomorrow


Jika aku tidak pergi, bagaimana kamu akan dapat melihat?


Semua cinta yang lebih baik yang pantas kamu dapatkan tanpa diriku


Jika aku tidak pergi, bagaimana kamu akan tahu?


Kamu akan dapat menemukan ruang untuk bernapas dan waktu untuk memulihkan dirimu nanti


I hope time, oh,


Time will tell the truth


I'll give the time to you


Aku berharap waktu, oh,


Waktu akan mengatakan yang sebenarnya


Aku akan memberikan waktu untukmu


The hardest word is goodbye


So make it easy, don't cry


I'll love you for my whole life


The hardest word is goodbye


Kata yang paling sulit adalah selamat tinggal


Jadi buatlah mudah, jangan menangis


Aku akan mencintaimu seumur hidupku


Kata tersulit adalah selamat tinggal


I know it hurts, screaming "Don't go"


But I promise you your heart won't stay hollow


I'll always hope that you'll move on


And you'll find a love that what's we had but more


Aku tahu akan menyakitkan, untuk berteriak "Jangan pergi"


Tapi aku berjanji hatimu tidak akan kosong


Aku selalu berharap kamu dapat terus maju


Dan kamu akan menemukan cinta seperti yang kita miliki yang bahkan lebih baik dari itu


Tisue mana tisue ๐Ÿ˜ญ


๐ŸŒผTolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (โค๏ธ), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih ๐Ÿ˜˜๐ŸŒผ