
Hari ini adalah hari perjamuan yang dikatakan Mahes, graduation party kecil-kecil ala Hartanto family. Entah seperti apa acara kecil-kecilan bagi keluarga sultan ini, mau tak mau Ella jadi penasaran.
Pastinya juga hari ini Roni akan menjemput Ella untuk hadir ke kediaman Mahes. Kebetulan sore ini papa Ella sedang tidak ada kegiatan, Ella menawarkan pada Roni untuk sekalian saja ketemu dan berbicara dengan papanya.
Walaupun sangat mendadak, Roni tanpa ragu menyanggupi tawaran Ella ini. Udah terlanjur basah dirinya mengejar Ella selama dua tahun ini, sekalian aja diteruskan sampai ke papanya. Membuktikan bahwa dirinya memang serius untuk berhubungan dengan Ella. Nothing to lose dah, apa kata nasib aja mau diterima atau nggaknya.
Sore harinya Roni datang ke rumah Ella sesuai waktu yang sudah dijanjikan. Ella membukakan pintu dan mempersilahkan pria itu masuk dan duduk di ruang tamu.
"Duduk dulu, Ron. Aku panggilin papa ya," Ella mempersilahkan sekaligus pamit pergi.
"El, doain ya..." jawab Roni terdengar sedikit nervous. Heran kok dirinya bisa-bisanya grogi kayak gini, batin Roni.
"Good luck for the batlle!" Ella tersenyum menahan tawanya melihat kegugupan Roni. Lucu aja melihat Roni yang biasanya selalu ceria menjadi segugup itu, sampai berkeringat dingin banyak banget. Roni yang biasanya selalu berpikiran positif dan berusaha menghadapi segala sesuatu dengan tenang serta tersenyum.
Bahkan tak jarang Roni menertawakan kegagalan dan kesialannya terutama dalam urusan keseharian dan pendidikanya. Saat dirinya gagal dalam ujian tulis maupun lisannya, gagal dalam ujian profesi, atau lebih jauh gagal untuk menyelamatkan nyawa pasien yang menjadi tanggung jawabnya.
Hidup dan mati memang kembali pada nasib dan takdir, sebagai seorang dokter Roni juga tahu benar akan hal itu. Dirinya tak akan mampu mengganggu gugat segala keputusan Tuhan akan kematian. Tetapi tetap saja, sebagai seorang dokter, kematian pasien yang menjadi tanggung jawabnya merupakan suatu pukulan tersendiri. Tak jarang bahkan membuat depresi bahkan trauma tersendiri.
Bagi Roni yang berkecimpung di bidang Jantung dan pembubuluh darah. Tentunya sangat sering harus menghadapi kematian pasien. Yah tahu sendirilah orang indonesia tak akan ke rumah sakit kalau tidak benar-benar parah penyakitnya. Apalagi penyakit jantung sudah terkenal sebagai silent killer paling mematikan.
Membuat Roni dan teman seprodi-nya lebih dewasa dan santai dalam menghadapi kematian pasien. Percuma juga ditangisi dan diratapi, kejadian gak bakal bisa diulang lagi. Mending diikhlasin, bahkan diketawain aja lalu kita bangkit dan berjanji pada diri kita untuk menjadi lebih baik. Begitulah prinsip yang dianut Roni, menjadikannya seorang pria dengan daya survival tinggi.
Ella mengetuk kamar papanya, memberi tahukan kedatangan Roni. Kemudian dirinya beranjak ke dapur untuk mempersiapkan suguhan dan minuman untuk tamunya.
Roni langsung bangkit dari duduknya, begitu papa Ella menghampirinya di ruang tamu. Menyapa dan memberikan salam, mencium tangannya sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua. Kikuk, asli kikuk dan cangung rasanya. Padahal dirinya udah sering banget ke rumah Ella dan bertegur sapa dengan kedua orang tuanya. Kepapa sekarang bisa segugup ini si?
"Mari duduk, nak Roni." Bowo mempersilahkan Roni untuk kembali duduk.
Roni menurut saja duduk dengan kecanggungan semakin menjadi-jadi demi menyadari Bowo yang memperhatikannya. Mengamatinya dengan teliti, mungkin sedang menilai tentang penampilan fisik dan segala sikap serta perilakunya.
"Kamu sama Ella itu udah lama kan ya kenalnya?" Bowo memulai pembicaraan.
"I, iya om...Saya satu tim interenship sama Ella di Genting empat tahun yang lalu." Roni menjelaskan awal mula perkenalannya dengan Ella.
"Setelah interenship kebetulan kami sama-sama diterima di proggram PPDS di kampus yang sama. Yah meskipun kami mengambil program study, prodi yang berbeda." Lanjunya menjelaskan.
"Kamu ambil prodi apa?"
"Jantung dan pembuluh darah, Om."
"Kenapa kok ambil itu? bukannya susah dan lama ya masa study-nya?" Bowo semakin menyelidik, ingin mengenal Roni lebih jauh.
"Awalnya si karena masih jarang dokter spesialis jantung di Jawa Timur. Selebihnya saya merasa tertarik dan tertantang untuk bejuang membantu pasien dalam melawan salah satu penyakit paling mematikan ini." Roni menjawab, mulai bisa menguasai dirinya.
Bowo mengangguk-angguk mendengar jawaban Roni. Dari cara bersikap dan berbicaranya, anak muda dihadapannya ini bisa dikatakan sopan dan cerdas. Jelas saja si Roni ini anak pintar, kalau otaknya pas-pasan dia tak akan bisa melanjutkan ke jenjang spesialis dengan mengambil prodi yang tergolong susah itu.
"Kamu tinggal dimana selama ini? Asli Surabaya atau luar kota?" Bowo mulai bertanya tentang kehidupan pribadi Roni.
"Saya ngontrak dengan beberapa teman PPDS lainnya di daerah dekat kampus," Roni menjawab. "Saya asliya dari Malang, Om. Seluruh keluarga saya tinggal disana."
"Oh Malang to, daerah mana?"
"Daerah Ijen om. Sekitaran Ijen boulevard sana." Roni menjelaskan lokasi rumahnya.
"Orang tuamu gimana? Keluargamu? Kerjanya dibidang apa?" Bowo bertanya menyelidiki keluarga Roni semakin dalam.
Bowo merasa puas dengan latar belakang keluarga Roni. Paling tidak kan dia berasal dari keluarga baik-baik dan berpendidikan. Bahkan orang tua Roni mampu mendidik kedua anaknya menjadi dokter semua.
Pembicaraan mereka terhenti sejenak saat Ella menghampiri mereka ke ruang tamu. Ella menyuguhkan minuman serta cemilan ke atas meja di hadapan Roni dan papanya. Kemudian gadis itu pamit undur diri, tak ingin mengganggu pembicaraan serius antara kedua pria itu.
Padahal aslinya Ella sudah kepo banget dengan apa yang kira-kira nanti akan ditanyakan papanya ke Roni. Tapi Ella lebih memilih undur diri saja kembali ke kamarnya sekalian bersiap-siap dan berdandan untuk menghadiri pesta Mahes.
"Ayo silahkan hidangannya. Diminum dulu nak Roni," Bowo menawarkan.
Roni langsung saja menurut dan meneguk setengah gelas minumannya, membasahi tenggorokanya yang memang sudah terasa kering. Persiapan untuk melanjutkan interogasi dari papa Ella yang pasti bakal berlanjut lagi.
"Terus kamu sama Ella itu gimana?" Bowo mulai pertanyaan tentang hubungan mereka.
"Saya serius sama Ella, Om. Saya ingin melanjutkan hubungan yang lebih jauh dengan Ella." Roni menjawab semantap mungkin, ingin menunjukkan keseriusannya.
"Saya sebenarnya tidak suka kalau Ella keluyuran sama lelaki yang tidak punya hubungan jelas sama dia. Yah gak baik dalam segala segi, baik dari segi agama ataupun segi norma kesusilaan." Bowo menjelaskan apa yang menjadi kekhawatirannya sebagai seorang ayah pada Roni.
"Saya mengerti, Om. Terus terang saya sebenarnya masih menunggu respon dari Ella nya sendiri. Kalau dari saya sendiri, insyaallah saya sudah siap untuk kejenjang yang lebih serius dengan Ella." Roni mencoba menjelaskan kegundahannya. Kegalauannya akan hubungan mereka yang tidak jelas. Akan perasaan Ella padanya yang juga belum pasti.
"Hubungan kamu sama Ella itu udah sejauh apa?" Bowo ingin mengetahui sudut pandang Roni soal hubungan mereka. Memang dirinya sudah mendengar cerita dari sudut pandang Ella. Tetapi dirinya juga ingin mendengar dari sisi Roni juga agar dirinya dapat berfikir dan memutuskan sesuatu dengan adil.
"Gimana ya, Om. Dibilang kami pacaran juga bukan pacaran, dibilang sahabat juga kayaknya lebih dari itu..." Roni sedikit kebingungan menjelaskan hubungannya yang rumit dengan Ella.
"Sebenarnya saya yang egois. Saya yang ingin memaksakan hubungan dengan Ella. Saya yang memaksa untuk menemani dan terus berada disisinya. Padahal saya tahu benar kalau perasaan Ella masih belum bisa move on dari hubungan cintanya yang lama..." Roni mengambil jeda sebentar.
"Awalnya saya hanya ingin membantu Ella melupakan dan mengobati luka hatinya. Saya ingin membuat Ella bahagia, saya tak tega melihat dia yang masih saja terbelenggu oleh masa lalu. Tapi seiring berjalannya waktu kebersamaan kami, rasa cinta saya pada Ella juga semakin tumbuh dan bersemi. Saya sangat mencintai Ella, Om." Roni mengakhiri ceritanya dengan dramatis.
Bowo terdiam dan mempertimbangkan semua ucapan pria muda dihadapannya itu. Bowo dapat melihat kesungguhan dan keseriusan dari Roni untuk anak gadisnya. Bahkan dari cerita Ella si Roni ini sudah rela menanti dan menunggu putrinya itu selama dua tahun. Hanya ingin menantikan Ella untuk membuka perasaanya untuk Roni.
Padahal kalau dilihat-lihat Roni memiliki latar belakang keluarga serta pendidikan yang menjanjikan. Penampilan Roni juga tampan dengan perawakan dan wajah yang diatas rata-tara. Tentunya tak akan sulit bagi Roni untuk mencari dan mendapat gadis selain Ella jika dia mau. Tetapi pria itu malah menunggu Ella, dua tahun dia menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu kepastian Ella.
"Baiklah om mengerti..." Bowo menjawab, memahami keadaan rumit antara Ella dan Roni. "Tapi om juga tidak bisa memutuskan secara sepihak. Om akan menyerahkan keputusan akhir kembali ke Ella. Karena nanti bagaimana pun juga kalian yang akan menjalani hubungan kalian berdua." Bowo menambahkan penjelasannya.
"Sekali-kali kamu ajakin Ella main Malang juga. Kenalin sama orang tua dan keluargamu disana." Bowo juga memberi saran untuk kelanjutan hubungan keduanya. Paling tidak Bowo ingin keluarga Roni juga mengenal Ella. Agar mereka dapat mengenal serta menerima putrinya itu jika nantinya hubungan Ella dan Roni akan berlanjut lebih serius.
"Iya, Om. Terima kasih banyak. Saya pasti akan membawa Ella ke rumah secepatnya." Roni merasa senang dan lega paling tidak reaksi dan tanggapan papa Ella cukup wajar. Om Bowo sepertinya masih mau memberinya restu sebagai kandidat calon suami Ella.
Tak lama kemudian Ella kembali ke ruang tamu menghampiri Roni dan papanya yang sedang menikmati hidangan mereka. Ella lega akhirnya pembicaraan serius mereka berdua selesai juga.
"Udah siap, El?" Bowo bertanya pada putrinya.
"Udah, Pa. Ella mau keluar dulu ya, ke rumahnya mas Mahes." Ella pamit dan minta ijin pada papanya.
"Yuk, Ron." Ella mengajak Roni untuk segera beranjak dari duduknya.
"Saya pamit dulu, Om. Kami pergi dulu ya." Roni bernjak dari tempat duduknya dan meminta ijin untuk membawa Ella pada papanya.
"Iya, hati-hati di jalan. Nanti pulangnya jangan malam-malam." Bowo memberi ijinnya.
~∆∆∆~
🌼Tolong luangkan waktu klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin, bagi TIP dan IKUTI author ya. Makasih 😘🌼