Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
79. Negosiasi


Ardi sekali lagi duduk berhadapan dengan kedua orang tua Ella. Ada rasa canggung dan kikuk tentu saja. Apalagi kalau mengingat pertemuan terakhirnya dengan mereka yang sedikit tidak menyenangkan.


"Ella kenapa lagi?" Bowo, papa Ella bertanya.


"Tadi Ella pingsan di kampusnya," Ardi menjawab.


"Sejak kemarin siang memang keadaan Ella agak aneh pa. Kemarin semalaman juga mengurung diri di kamar dan gak mau makan minum." Lilik, mama Ella ikut menjelaskan.


"Terus kok bisa kamu yang nganterin Ella?" kelihatan sekali Bowo tidak senang dengan Ardi yang mengantar Ella pulang. Kok bisa kebetulan sekali? Kenapa pria ini di Surabaya? Bukannya dia tinggal di Genting?


"Tadi waktu dilarikan ke IGD kebetulan yang sedang jaga dr. Mahes. Dia yang menghubungi saya, dan saya langsung pergi ke IGD untuk melihat keadaan Ella."


"Jadi kamu masih sering ketemuan dengan Ella?" Bowo bertanya to the point.


"Tidak, Om. Saya sudah tidak pernah bertemu Ella hampir satu bulan. Hari ini juga saya baru tiba dari Singaphore, kebetulan pas landing tadi dr. Mahes menelpon saya. Karena beliau bingung harus menghubungi kerabat Ella siapa lagi." Ardi menjelaskan.


"Ella itu sejak pulang ke Surabaya kan memang gak pernah keluar sama laki-laki, Pa. Keluar juga paling cuma untuk kuliah." Lilik sekali lagi membela anaknya. "Nak Ardi juga tidak pernah ke Surabaya kan? Kalau kesini pasti mampir juga minta ijin kalau mau mengajak Ella keluar rumah."


"Iya, Om. Saya juga gak mungkin ngajak Ella keluar tanpa ijin dari orang tuanya dulu."


"Yasudah kamu sudah anterin Ella pulang. Terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi." Bowo tetap tidak suka Ella masih bergaul dengan Ardi.


"Maaf, Om. Kalau boleh saya ingin menunggu Ella sampai bangun. Saya ingin bicara sama Ella sebentar. Saya tunggu di teras juga gak apa-apa." Ardi sedikit memohon.


"Yaudah tungguin saja di ruang tamu." Bowo akhirnya mengijinkan Ardi. Tak ingin dibilang tak tahu berterima kasih pada Ardi yang telah mengantarkan Ella pulang dengan selamat.


"Terima kasih, Om." ujar Ardi senang, dia bersyukur masih diberikan kesempatan. Bowo segera meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya sementara Lilik mengantarkan Ardi ke ruang tamu. Mempersilahkan pria itu untuk duduk menunggu disana.


"Mau minum apa nak Ardi?" Lilik menawarkan. Kalau mendengar ceritanya si kasian juga ini anak barusan pulang dari perjalanan jauh dari Singapore pasti masih capek. Udah gitu masih harus ngurusin Ella dan mengantarnya pulang. Beneran cinta mati pada putrinya ini kayaknya si Ardi.


"Kopi saja, Te. Kalau nggak ngerepotin," jawab Ardi sedikit sungkan pada mama Ella.


Mama Ella berlalu ke begitu saja ke dapur tanpa membalas. Meskipun Ardi hanya memesan kopi tapi dibuatkan juga untuknya mie instan goreng plus telor ceplok untuk sekedar mengisi perut. Lilik juga mempersiapkan segelas minuman dingin dan biskuit untuk Ardi. Setelah semua siap diatas nampang diantarkannya ke ruang tamu.


Saat Lilik sampai di ruang tamu dilihatnya Ardi sudah melepas jas hitamnya, melipat lengan kemejanya sampai siku dan menurunkan dasinya serta membuka beberapa kancing atas kemejanya. Kepanasan kayaknya si sultan. Biasa di ruangan full-AC kali ya dengan pakaian formal lengkap kayak gitu tadi. "Ini nak Ardi silahkan." Lilik meletakkan nampannya di atas meja.


Ardi kebingungan melihat senampan penuh hidangan di meja. Jauh lebih bayak dari segelas kopi yang dipesannya. "Kok banyak amat, Te. Jadi ngerepotin kalau kayak gini."


"Makan aja. Kamu Kan dari pagi udah traveling jauh. Pasti lelah dan lapar kan. Maaf ya disini pasti panas. Kamu kepanasan ya?"


"Nggak kok, Te. Saya cuma salah kostum saja. Maklum abis perjalanan bisnis, jadi saya cuma bawa setelan kayak gini saja." Ardi menjelaskan. "Saya makan dulu ya, Te." Ardi mengambil sepiring mie instannya. Lilik menganguk sebagai jawaban dan Ardi menyantap mie itu dengan lahap.


"Nak Ardi Ella kenapa sebenarnya?" Lilik bertanya menyelidik.


"Maaf, Te. Kemarin Ella bertemu mama saya...Saya masih ada di Singapore kemarin. Jadi saya tidak bisa menemani dan melindungi Ella." Ardi menjelaskan.


"Mamamu marahin Ella?"


"Yah lebih tepatnya mama saya tidak bisa menyetujui hubungan kami. Dan mama meminta Ella untuk menyerah saja."


"Ooo pantesan Ella jadi kayak gitu kemarin." Lilik mengingat kejadian kemarin, berkali-kali dirinya mengetuk pintu kamar anaknya itu. Tetapi Ella sama sekali tak mau membukakan pintu, menguncinya rapat-rapar dan mengurung diri disana. "Terus sekarang kamu mau ngapain lagi?"


"Saya ingin mencoba berbicara pada Ella. Jujur saja kami sudah hampir sebulan tidak bertatap muka. Dan tadi akhirnya ketemu kondisi Ella kayak gitu...Makanya saya ingin menunggunya bangun untuk mencoba sedikit berbicara padanya."


"Iya kalian bicarakan berdua baik-baik. Selesaikan bagaimana enaknya bagi kalian." Lilik menyetujui ucapan Ardi. "Baiklah kamu habiskan dulu makananmu. Nanti kalau Ella sudah bangun, tante kasih tahu kamu."


"Baik, Te. Makasih." ujar Ardi sebelum Lilik berlalu. Ardi pun melanjutkan prosesi mengisi perutnya. Asli udah kelaparan karena dirinya memang belum makan apapun sejak sarapan di bandara tadi.


Tak beberapa lama kemudian Lilik kembali menghampiri Ardi di ruang tamu. Mengatakan bahwa Ella sudah bangun dan dapat menemuinya. Benar dugaan Ardi, Ella pasti tak akan lama tidurnya, karena tadi sudah bayak tidur di IGD.


"Udah enakan, sayang?" tanya Ardi. Dapat dilihatnya raut wajah Ella yang sudah sedikit merona. Tidak terlalu pucat dan lemah lagi, sepertinya sudah jauh lebih baik keadaannya.


"Lumayan...Kata mama, mas Ardi pingin ngomong sama aku?" Ella to the point.


"Aku mau minta maaf sama kamu atas perbuatan mamaku kemarin. Maaf juga aku tak bisa ada untukmu, menjaga dan melindungimu disaat-saat seperti kemarin."


"Gak apa-apa mas, semuanya sudah terjadi."


"Tapi aku gak mau putus, El! Aku gak mau kita berpisah! Aku gak mau kehilanganmu." Ardi seolah menekankan kata-katanya.


"Stuck, mas. Pembicaraan tentang hubungan kita selalu stuck disana. Dititik itu, kita tak bisa kemana-mana lagi." Ella sedikit heran dengan dirinya sendiri, bagaimana dia bisa setenang itu membicarakan hal ini dengan Ardi. Mungkin air matanya sudah habis dan mengering kemarin, tak tersisa lagi.


"Aku mau coba ngomong dulu sama mamaku. Kasih aku waktu, El." Ardi sedikit memohon. Hatinya hancur mengetahui Ella sepertinya sudah mencapai kesepakatan dengan dirinya sendiri untuk mengakhiri hubungan mereka. Apakah benar Ella sudah menyerah? Tak mau memperjuangkan hubungan mereka lagi? Apa Ella lebih memilih untuk mengakhirinya saja?


Sementara di lain sisi Ardi memang masih berharap agar mamanya mau mendengarkan kata-katanya. Menerima permohonannya untuk dapat terus bersanding dengan Ella. Yah Ardi akan mencoba berbicara sekali lagi pada mamanya. Kalau perlu dia akan memohon pada mamanya itu.


"Aku udah ngasih waktu berkali-kali buat mas Ardi. Tapi apa hasilnya? Nihil kan?"


"Bukannya aku tidak pernah memanfaatkan waktu yang kamu berikan, El. Aku juga sudah berkali-kali mencoba untuk bicara dengan mama. Tapi beliau terus saja menghindar untuk berbicara denganku," Ardi menjelaskan.


Memang sejak pesta ulang tahun itu, setiap kali ke Banyu Harum Ardi memang selalu menyempatkan untuk mampir dan menyapa mamanya di rumah. Tetapi mamanya itu selalu saja menghindar setiap kali dirinya mulai membicaraan tentang Ella. Beralih membicarakan tentang perusahaan, aset atau urusan penting lainnya yang dapat mengalihkan perhatian Ardi dari membicarakan Ella juga.


"Mumpung mama juga masih ada di Surabaya. Aku ingin coba ngomong sekali lagi dengan beliau. Negosiasi."


"Baiklah...Kuberi waktu sampai besok malam." Ella menjawab


"Besok malam? Aku boleh kesini lagi?"


"Besok adalah acara pernikahan Intan, mas. Aku ingin hadir ke acara itu dengan ditemani oleh mas Ardi..." Ella memutuskan. Sudahlah apapun yang terjadi kita lihat besok saja. Ella sudah tidak berharap Ardi akan dapat meyakinkan mamanya. Paling tidak jika memang mereka harus berpisah Ella ingin membuat sebuah kencan terakhir yang menyenangkan dengan Ardi. Dengan menghadiri pernikahan Intan bersama-sama.


"Ah Intan teman kontrakanmu itu nikah?" Ardi baru tahu mengenai hal ini. "Baiklah besok aku akan jemput kamu kesini. Jam berapa?"


"Jam 19.00 besok mas Ardi jemput aku kesini ya. Janga lupa dandan yang ganteng. Aku ingin menyanding pria paling ganteng di pesta besok." ujar Ella sedikit menggoda Ardi.


"Emang aku biasanya kurang ganteng ya?"


"Ganteng. Tapi kalau pakai setelan lengkap kaya tadi bisa naik lagi kegantengannya hehe." Ella menjelaskan keinginannya untuk melihat Ardi dengan balutan tuxedo resminya sekali lagi. Mungkin untuk yang terakhir kali.


"Ok, As you wish honey." Ardi menyanggupi. "Kamu juga dandan yang cantik ya, kalau perlu bisa nyaingin pengantin wanitanya. Yah meskipun kamu selalu cantik si buat aku"


"Ok, deal." Ella juga menyanggupi. Dia bisa membayangkan sewotnya Intan besok kalau dirinya berdandan lebih heboh dari pengantin wanitanya sendiri. Yah gak pa-pa lah sekali-kali Ella ingin berjalan bagaikan raja dan ratu dalam semalam dengan Ardi.


"Kalau gitu aku pamit duluan ya. Gak enak udah kelamaan disini." Ardi pamit pada Alla. "Istirahat dan makan yang banyak ya, biar besok bisa tampil cantik maksimal." Ardi menepuk lembut rambut Ella sebagai ucapan pamitnya.


"Kok gitu doank?" Kali ini Ella yang meminta lebih. Ingin sekali bermanja-manja dengan Ardi di saat-saat terakhir mereka ini.


"Mau minta berapa banyak?" Ardi kembali mendekatkan wajahnya ke kening Ella. menciumnya dengan lembut. "Udah ya?"


"Belum..." Ella merentangkan kedua lengannya dengan manja. Membuat Ardi tersenyum dan menuruti saja apa keinginan gadisnya itu. Ardi kembali mendekatkan wajahnya ke arah Ella. Ella memegangi wajah Ardi dengan kedua tangannya, mengusapnya lembut lalu diberikannya kecupan manis di pipi pria itu kanan dan kiri. Lalu terakhir juga diberikannya kecupan ringan di bagian tengah wajah Ardi, di bibir Ardi. "Sekarang udah," Ella melepaskan wajah Ardi dari kedua tangannya.


Ardi cepat-cepat mengakat wajahnya, megangi bibirnya dengan jemarinya. Kaget juga dengan tindakan Ella yang tiba-tiba agresif. Tapi ya sebagai laki-laki normal tentu Ardi juga sangat menyukai apa yang baru saja dilakukan Ella. "Makasih ya, for every things."


"Makasih juga for taking care of me today." Ella mengantar kepergian Ardi dengan senyuman. Baru kemudian saat pria itu sudah menghilang dan menutup pintu kamarnya, air mata Ella yang tadi seolah mengering entah mengapa kembali mengalir. Seakan kepergian Ardi kali ini adalah sebagi pamit terakhirnya untuk berpisah. Mengakhiri segala yang pernah ada diantara mereka. Ella kembali meringkuk dan membenamkan wajahnya ke dalam bantal empuknya. Terisak dengan sedih dan pilu disana.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼