Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
34. Pesta Ulang tahun


Tepat pukul tujuh malam sesuai janji Ardi, ada yang mengetuk pintu kamar Ella di hotel. Ella yang memang sudah bersiap-siap segera membukakan pintu. Disana didapatinya seorang lelaki setengah baya dengan pakaian resmi yang rapi menyapanya.


"Tuan Ardi menyuruh saya menjemput Nona" ujar beliau saat melihat Ella membukakan pintu untuknya.


"Oh iya pak. Sebentar saya ambil tas dulu" Ella mengambil hand bagnya dan kembali menghampiri pria tadi.


"Nama saya Soleh non, Salah satu supir keluarga Pradana." Ujar pria itu sambil menunjukkan jalan kepada Ella dimana dia tadi memarkir mobilnya.


"Saya Ella pak" Ella ikut mengenalkan diri. "Oiya panggilnya jangan nona, mbak aja pak" protes Ella tidak senang dengan gelar barunya. Ella terus mengikuti Soleh berjalan meyusuri karidor hotel menuju parkiran di lantai dasar.


"Waduh mana berani saya non. Apalagi non Ella sepertinya dekat dengan Tuan Ardi" Soleh menolak mentah-mentah protes Ella. "Mari non" dibukakannya pintu belakang sebuah sedan mewah berwarna hitam yang terparkir di depan hotel, Mercedes Benz.


Ella segera memasuki mobil dan Soleh pun segera melajukan mobil meninggalkan hotel. "Bapak udah lama kerja di keluarga Pradana?" tanya Ella mencari-cari topik pembicaraan.


"Lama banget non. Sejak Tuan Ardi masih kecil, ada dua puluh tahunan." jawab Soleh sedikit berbangga.


"Wah lama juga ya pak"


"Iya non. Keluarga itu sangat baik, terutama Tuan Besar dan Tuan Ardi. Mereka yang paling baik memperlakukan anak buahnya"


"Kalau yang lainnya emang gak baik?" Ella mulai menyelidik.


"Aduh jangan bilang-bilang ya non. Nyonya besar itu paling galak dan cerewet. Nona Laras juga cerewet dan banyak maunya. Sementara Tuan muda Linggar yang paling merepotkan. Tukang bikin onar" Soleh menjawab dengan sedikit takut-takut.


"Mungkin karena Linggar masih muda" Ella sedikit membela Linggar yang menurutnya cukup baik.


"Dulu Tuan Ardi waktu muda gak pernah nakal begitu kok" Soleh mengingat-ingat. "Tuan muda Linggar itu sering hambur-hamburin duit buat foya-foya sama temennya. Suka gonta ganti cewek juga. Bahkan pernah nekat bawa mobil tuan besar tanpa supir. Terus nabrak. Semua sopir kena hukuman dari Nyonya besar jadinya.


Ella tersenyum membayangkan Ardi yang sejak dulu selalu baik dan Linggar yang memang badboy dari sononya hehehe.


Tanpa terasa mobil mereka akhirnya memasuki halaman sebuah rumah yang sangat luas dan tertata apik dengan taman-taman disekitarnya. Agak jauh kedalam barulah dapat terlihat Rumah utama keluarga Pradana yang sangat mewah.


Rumah yang sangat besar, luas dan mewah layaknya rumah-rumah dalam sinetron. Sekilas gaya arsitek rumah mewah ini memakai tema mediterania yang memberikan kesan elegan namun asri dan nyaman.


Soleh memberhentikan mobilnya tepat di drop off poin di dekat pintu masuk ke ruangan pesta. Ella segera mengucapkan terima kasihnya sebelum melangkah keluar dari mobil itu. 'The battle is begind' Ella mengingatkan dirinya sendiri. Dinaikinya beberapa anak tangga untuk memasuki rumah. Tepat di sebelah pintu masuk rumah yang terbuka lebar, Ella mendapati sosok yang dikenalnya, Linggar.


"Linggar!" Ella menyapa dan menghampiri anak muda itu. Dalam hati Ella memuji penampilan rapi linggar dalam balutan jas dan dasi kupu-kupunya. Ganteng dan keren abis, sungguh pantas menjadi playboy dan badboy kelas kakap. Ella mengulurkan tanganya pada Linggar, menyapanya.


"Wow mbak Ella! Keren cantik banget!" Ujar Linggar sumringah saat menyadari kehadiran Ella. Alih-alih menerima uluran tangan Ella, Linggar malah menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dia memeluk Ella dengan sangat erat. "Aku kangen mbak! Mumpung mas Ardi gak liat" bisiknya nakal pada Ella.


"Hehe sama aku juga kangen kamu" ujar Ella membalas pelukan Linggar.


"Yuk masuk. Mas Ardi dan Mbak Laras udah nunguin mbak Ella" Linggar mengajak Ella memasuki rumah dengan bersemangat.


Ella mengamati ruangan yang telah disulap menjadi party hall ini. Ruangan yang terlihat sangat luas, entah gabungan ruang tamu dan ruang tengah atau memang ruang yang sengaja dibuat luas untuk acara-acara seperti ini. Ditengah ruangan melingkar dengan megahnya tangga pualam yang menghubungkan dengan lantai dua rumah.


Dekorasi pesta dan booth makanan tertata apik dengan nuansa serba putih yang elegan. Bahkan bunga-bunga hidup yang dipakai sebagai hiasan semuanya berwarna putih, mulai dari mawar, lili, tulip, melati, anggrek, krissan, sampai bunga edelweis pun ada. Beraneka macam makanan tersaji di meja-meja pinggir ruangan, mulai dari aperteiser, main dish, sampai dessert. Segala macam minuman juga tersedia disana mulai dari jus, soft drink sampai wine pun tersedia di beberapa sudut ruangan.


Apaan coba yang pesta sederhana? Untuk pesta ulang tahun Sweet 55 nya ini, Kartika Pradana mengundang sekitar 500an orang. Ampir sama kayak mantu coba? Dan coba liat saja para tamu yang hadir. Hampir semua pria memakai setelan jas yang terlihat elegan, dan para wanita mengenakan dress mewah bikinan butik yang terlihat mahal.


"Kamu gak sibuk ramah-tamah dengan tamu?" tanya Ella penasaran melihat Linggar yang sepertinya sedang santai.


"Mana ada yang mau susah payah ngobrol ama aku. Paling mentok cuma salaman, kenalan udah abis itu pergi lagi hahaha."


Linggar membawa Ella ke kerumunan gadis yang sedang mengerebungi seorang gadis lain. Gadis yang sangat cantik dengan pixy dress warna dark purple nya. Dengan rambut keriting gantungnya yang dibiarkan terurai indah dipadukan head piece yang berkilauan bak permata ungu di sisi kiri. Larasati.


Larasati langsung menghentikan percakapannya dengan beberapa teman dihadapannya begitu melihat kehadiran Ella dan Linggar. Gadis itu meminta ijin dengan sopan untuk meninggalkan kerumunan. "Mbak Ella!" sapanya ramah menghampiri Ella, langsung memeluk dan menciumi kedua pipi Ella kiri dan kanan.


"Kita ke mas Ardi yuk. Sekalian kenalan dengan mama papa" Ajak Laras menggiring Ella dan Linggar ke sudut lain pesta. Tempat berkumpul para pria berjas dan berdasi sebagian besar menggandeng tangan seorang wanita. Beberapa menggandeng wanita seusianya, yang sepertinya pasangan resminya dan beberapa menggandeng wanita yang lebih muda yang entah punya bungungan apa dengannya.


Dan disana Ella melihat Ardi, dalam balutan setelan jas hitamnya dengan kemeja putih dan dasi merahnya. Tampan! As always hehe. Ardi memegang segelas red wine di tangan kanannya dan sedang berbicara dengan seorang pria empat puluh tahunan yang sedang menggandeng gadis muda, sexy dan cantik. Mereka berbicara dengan sangat serius sambil sesekali bersulang meminum segelas wine ditangan mereka.


Ella, Linggar dan Laras berjalan beriringan menuju ke arah Ardi berdiri. Setelah posisi Ella semakin dekat menghampiri Ardi, Ella baru menyadari ada seorang lagi disana yang tadi tertutupi oleh tubuh pria lawan bicara Ardi dari pandangan Ella.


Disamping Ardi berdiri Cindy dengan slit dress warna hitam berbelahan sepaha dengan model tanpa lengan dan tali yang cuma selebar satu senti meter di kedua pundaknya. Cantik, sexy dan sangat menggoda. Gadis itu menautkan sebelah lengannya pada Ardi dan menempelkan tubuhnya sangat dekat dengan pria itu.


Ella menelan air ludahnya demi melihat pemandangan itu. Entah dari mana datangnya hawa panas yang serasa membakar tubuh Ella, menyulutkan emosi dan amarah yang merasukinya. Apa-apaan itu? Apakah itu hanya formalitas seorang bos dan sekretarisnya saat berbicara dengan rekan bisnisnya?


Cindy yang menyadari kehadiran mereka bertiga lebih dahulu terlihat cuek saja, malah sengaja menautkan lengannya semakin rapat pada Ardi. Ella hanya bisa melihatnya dengan kedua telapak tangannya megepal sangat erat sampai kuku-kuku jarinya terasa sakit menusuk pada telapak tanganya.


Laras sepertiya dapat membaca situasi yang tidak menyenangkan ini. Dihampirinya Ardi, dengan lemput dibelainya sebelah lengan Ardi yang memegang gelas dan dibisikknya sesuatu ke telinga kakaknya itu. Kemudian Laras tersenyum sangat manis kepada kedua orang lawan bicara Ardi sebagai sapaan.


Ardi yang sudah menyadari kehadiran Ella segera melepaskan tautan lengan Cindy kemudian berbicara kepada pria lawan bicaranya tadi. Meminta ijin undur diri dengan sopan kemudian meninggalkannya untuk menghampiri Ella.


Laras yang pintar membaca situasi langsung mengajak Cindy mengobrol, mencegah Cindy kembali mendekat pada Ardi.


"Nih udah aku bawa Mbak Ella buat mas Ardi" Linggar memberikan laporannya pada Ardi yang tersenyum sumringah demi melihat kedatangan Ella. "Aku duluan ya mas, mbak. Mau kumpul sama temen yang seumuran aja disana" Pamitnya meninggalkan Ardi dan Ella.


"Halo cantik" Sapa Ardi sambil mengagumi kecantikan Ella yang semakin terpancar dari outfit serba merah pilihannya. Kali ini Ella menambahkan sebuah kalung dari mutiara di lehernya yang membuatnya semakin terlihat elegan dan berkelas.


Ella tidak membalas sapaan Ardi padanya. Terlalu marah untuk mengeluarkan kata-kata. Ardi pun sepertinya dapat melihat kemarahan Ella, Ah mungkin Ella marah karena Cindy yang terlalu dekat menempel padanya tadi. Bisa cemburu juga ternyata Ella hehe.


Ardi mengajak gadis itu sedikit menepi dari keramaian pesta. Kebagian dessert yang menyuguhkan berbagai macam kue dan cookies serba manis disana. Diambilnya seiris blueberry cheese cake diatas piring dan diberikannya kepada Ella.


"Makan manis-manis dulu, yang."


Ella menerima piring itu dan menurut saja memakan sesendok demi sesendok kue di piring yang dipegangnya. Sedikit terharu juga karena Ardi mengingat kue favoritnya, pria itu selalu bisa menciptakan suasana yang sweet.


"Kamu kalau ngambek gini makin cantik deh" goda Ardi sambil mengamati dan mengagumi Ella yang sedang makan kue sambil sesekali meminum wine yang daritadi dipegangnya.


Ella tidak menjawabnya, dia berkonsentrasi memakan kuenya yang ternyata sedikit ampuh untuk meredakan emosinya. Setelah menghabiskan setengah slice Ella meletakkan piringnya dan Ardi menyodorkan segelas air putih pada gadis itu. Tau saja kalau meminum air putih akan sangat melegakan setelah makan makanan manis begitu. Ella menerimanya dan langsung meneguk habis isi gelasnya.


"Udah enakan?" tanya Ardi yang langsung dibalas dengan senyuman oleh Ella.


"Yuk sekarang aku kenalin sama mama dan papa". Sebelum Ella sempat menjawab, Ardi sudah menggenggam lembut tangan Ella menuntunnya berjalan beriringan ke tengah pesta, menyeruak diantara ramainya orang-orang yang berkerumun disana.


Tepat di tengah ruangan pusat pesta berdirilah sepasang pria dan wanita paruh baya yang terlihat sangat serasi bersanding. Beberapa orang mengerubungi mereka, mengucapkan selamat atau sekedar beramah tamah dengan kedua tuan rumah itu.


Sang pria dengan setelan jas hitam dan dasi coklat dengan garis emasnya. Sementara sang wanita memakai pakaian kebaya dengan bahan broklat yang sangat anggun berwarna kuning keemasan juga. Lengkap dengan jarik yang melingkari tubuh bagian bawahnya serta rambutnya yang tersanggul sangat rapi dan elegan. Membuatnya seperti bangsawan jawa yang sangat berkelas.


Jadi itu kedua orang tua mas Ardi? Jantung Ella semakin dag dig dug berdebar dengan kencangnya seiring langkahnya yang semakin mendekati kedua orang itu. Keringat dingin mengalir membasahi tengkuknya saking nervousnya. Segala ketakutan, kecanggungan dan keminderan pun merasukinya demi melihat kedua sosok itu.


"Pa, Ma, kenalin ini Amellia. Pacar Ardi" Ardi mengenalkan Ella pada kedua orang tuanya begitu posisi mereka sudah sangat dekat.


Seketika Ella dapat merasakan pandangan-pandangan mata yang sangat menusuk dari orang-orang disekitarnya yang mendengar ucapan Ardi tadi. Terutama pandangan kedua pasang mata orang tua Ardi di hadapan Ella yang seolah dapat menembus tubuh Ella...


'Aduuh Mati aku...gimana ini...aku harus gimana selanjutnya...' Batin Ella menjerit saking bingungnya.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼