Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
217. Holiday Spesial ~ Bambang


"Mbang, aku mau makan siang nasi padang,"


"Mbang mana kopiku? Pake susu, gulanya dikit."


"Mbang dokumen yang harus ditanda-tangani yang mana? Udah kamu sorting belum?"


"Mbang kontrak kerja baru dengan Ciputra Group yang aku minta bikinin udah selesai belum?"


"Mbang aku nanti mau kencan siapin bajuku."


"Itu si biru kotor banget, bawa ke car wash mbang."


"Oiya beliin bluberry cheese cake dari Breadt*lk buat Ella ya. Full round jangan yang slices."


"Thai tea originalnya Ella kelupaan, Mbang."


Huuuufft... Bambang membuang napas dan duduk menghempaskan tubuh di kursi kerjanya. Capek banget seharian sibuk dan riwa-riwi kesana kemari. Si bos juga mintanya gak sekalian si biar bisa sekali jalan.


Ini malah ngincrit-ngincrit kayak orang nyicil hutang aja. Memang tinggal nyuruh orang untuk ngurusin perintah yang diluar kantor sih. Tapi tetap saja sangat menyebalkan dan merepotkan rasanya.


'Satu kali nyuruh lagi dapat piring cantik kamu pak,' batin Bambang meronta-ronta.


Nasib jadi jongos memang begini ya harus sabar dan tabah menghadapi cobaan duniawi yang menyiksa jiwa dan raga. Kalau bukan karena Pak Ardi termasuk bos yang baik dan ngasih gajinya gede, mungkin Bambang sudah tak sanggup lagi.


Hanya saja pak Ardi sejak kembali bersama dengan bu Ella jadi banyak maunya. Sering merepotkan dirinya dengan segala sesuatu yang tidak penting.


'Dia yang bucin, dia yang mau nyenengin calon istrinya, gue yang ikutan rempong'


"Tuuuutt...tuuuuut..." interkom di meja kerja Bambang berbunyi lagi.


Aduh! Apalagi kali ini? Terus-terusin deh pak nyuruh-nyuruhnya. Bambang sudah pasrah.


"Ya, pak? Bisa saya bantu?" Bambang menyapa.


"Mbang, sini deh." Perintah Ardi serius.


Waduh apa lagi ini? Bambang melirik jam di tangan kirinya. Sudah jam satu siang. Sudah waktunya pulang kantor ini untuk hari sabtu yang cuma setengah hari. Mau ngapain lagi coba? Bambang merasakan firasat buruk...Pulang pak, pulang plisss...Aku ada janji jalan sama Mimin sore ini...


"Ada apa pak?" tanya Bambang saat memasuki ruangan Ardi. Didapatinya bos nya itu sedang serius berkutat dengan dokumen, tab dan layar komputernya sekaligus. Waduh mampus, masalah serius ini kayaknya...Goodbye Mimin...hiks...


"Apa-apaan ini kontrak buat Ciputra? Ancur gini? Benerin atau bikin ulang! Kamu gak boleh pulang sebelum selesai." Ardi melemparkan dokumen yang dibacanya ke atas meja. Marah banget kayaknya.


"Memang kenapa pak?" Bambang kebingungan. Salahnya dimana coba? Perasaan kemarin dirinya sudah bikin sesempurna mungkin bahkan sampai lembur begadang semalaman.


"Salah semua!" ujar Ardi kesal.


Waduh pak Ardi udah beneran marah kalau ini mah. Bambang tak berani bertanya atau membantah lagi.


Kemudian Ardi menerima panggilan telpon entah dari siapa. Ardi berbicara dengan sangat serius.


"Iya, Cil. Sabar ya, besok paling lambat aku kirim yang baru...Iya aku tahu besok libur..."


"Biasa si Bambang teledor. Parah banget! Oh iya OK...Bisa kayak gitu ya...Sip thanx ya..."


'Pasti lagi ngomong sama bu Cecil dari Ciputra Group. Beneran kesalahan fatal kah yang aku lakukan? Aduh pak jangan diomongin ke orang lain donk keburukan anak buah sendiri. Ini sama aja bapak menunjukkan kelemahan bapak sendiri... Dan pastinya mepermalukan nama hamba...'


"Lho ngapain masih disitu? Buruan kerjain!" Ardi mengusir Bambang dari ruangannya.


"Baik, pak." Bambang buru-buru pamit dari ruangan Ardi. Tapi langkahnya terhenti saat hampir sampai ke pintu, dipanggil lagi sama bosnya.


"Oiya panggilin Cindy kesini deh," perintah Ardi.


"Baik, pak." Bambang keluar dari ruangan Ardi dan buru-buru ke meja kerjanya.


Hal pertama yang dilakukan Bambang adalah menghubungi Cindy, mengatakan bahwa Ardi mencarinya. Langsung disemprot dan diomelin sama miss perfect itu. Kerasa dia kalau Bambang pasti ngelakuin kesalahan lagi, dan endingnya Ardi meminta Cindy untuk membantu membereskan urusan itu. Apes...diomelin dobel.


Bambang membuka dokumen yang diberikan Ardi untuk diperbaikinya tadi. Berharap Ardi memberikan sedikit clue untuknya, bagian yang mana dan harus bagaimana benerinnya. Bambang kadang heran sama bosnya itu kok encer banget otaknya, sampai bisa melihat kesalahan-kesalahan kecil dari berbagai dokumen yang dibacanya dengan singkat.


Halaman pertama ada beberapa bagian yang dilingkari dan diberi catatan oleh Ardi...WTF (What the fvck). Halaman dua disilang besar, salah total kah? Ada tulisan juga, Fvck! Halaman ketiga, tepat di perhitungan angka-angka dan duit duit dilingkari. Ada tulisan, Sh*it! Halaman-halaman berikutnya pun banyak tulisan Ardi yang berisi makian-makian. Sama sekali tidak memberikan clue, gimana mau benerinnya?...Bambang nangis dalam hati.


Tak lama kemudian Bambang mendapatkan sebuah pesan singkat dari Mimin. Aduh min, kayaknya gagal deh kencan kita hari ini...Padahal udah sengaja ngepas-ngepasin jadwal mereka dan akhirnya bisa janjian keluar nanti sore. Malam mingguan. Eh malah ada gangguan mendadak begini...


Mimin


Gimana mas Bambs, nanti sore jadi jalan?


Bambs


Maaf ya Min, kayaknya batal deh


Pak Ardi lagi kumat ngamuk-ngamuk, ngasih kerjaan


#emot nangis


Mimin


Oh yaudah gak pa-pa.


Tetep semangat donk ngerjainnya.


Gun battle


Bambs


Ok cemungut


#Emot fight


Bambang senyum-senyum kegirangan melihat layar ponselnya. Seneng banget Mimin gak marah meski dirinya membatalkan janji secara mendadak begini. Yah mungkin karena Mimin tahu benar bagaimana pekerjaan Bambang.


"Ih najis malah senyum-senyum gak jelas!" Sebuah terguran dan gebarakan keras di meja menyadarkan Bambang dari lamunannya.


Bambang buru-buru memasang wajah serius untuk menghadapi Cindy dengan wajah yang sudah bete ditekuk-tekuk. Jelas aja kesal, wong waktu pulang buat week end malah disuruh bantuin Bambang.


"Kamu kok gak pinter-pinter sih jadi orang! Mana sini aku liat!" Cindy meminta dokumen yang katanya salah dan harus diperbaiki.


"Perasaan aku ngerjainnya sudah seperti format biasanya," Bambang mencoba membela diri.


"Biasanya? Biasanya buat siapa? Ini buat Ceicillia Tang jadi harus luar biasa. Harus sempurna tanpa cela bahkan typo 1 huruf pun tidak boleh." Cindy menjelaskan sambil membaca dengan serius dokumen itu lembar demi lembarnya.


"Parah banget ya? Pak Ardi sampai misuh-misuh begitu tulisannya." Bambang merasa bersalah.


"Nggak juga. Harusnya ini udah Ok kalau untuk CEO dari perusahaan lain." Cindy mengambil duduk di hadapan Bambang setelah menyelesaikan membaca dokumennya.


"Pak Ardi kalau lagi kesel emang gitu, tapi setiap kata ini ada artinya, kamu harus apalin!"


"Haaah? Umpatan-umpatan ini ada artinya?" Bambang semakin kebingungan.


"Misalnya halaman pertama, dia bilang WTF, ini berarti susunan kalimatmu ancur. Benerin sampai bagus dan tidak menimbulkan makna ambigu."


Bambang melongo mendengarkan penjelasan Cindy. WTF bisa berarti kayak gitu? Gila ini cewek kayaknya punya radar buat baca pikiran pak Ardi. Pantesan pak Ardi sayang banget sama Cindy, pegawai kesayangan yang diberi banyak kepercayaan.


"Hampir sama dengan WTF, fvck ini artinya kamu memakai kata yang tidak baku. Tidak sesuai EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)." Cindy melanjutkan.


"Terus, terus. Sh*it itu artinya apa?" Bambang semakin bersemangat mempelajari kode-kode dari berbagai kata umpatan Ardi.


"Itu artinya neraca keuanganmu gak balance. Ada yang salah itu jelasnya. Atau angka yang kamu masukin ada yang gak masuk akal. Ini misalnya masa pembelian bahan cuma segini totalnya? Jelas aja disilang, salah total."


Bambang mangut-mangut mengakui kehebatan Cindy. Asli ini cewek keren banget, entah sampai kapan harus belajar biar bisa kayak Cindy ya? Biar bisa disayang pak Ardi juga, jadi orang kepercayaan. Pasti bakal keren.


"Dan yang penting kamu harus liat tulisan kata di halaman terakhir. Itu penilaian pak Ardi akan kinerjamu bikin dokumen ini...Hahahha Rubbish. Yaampun Mbang...Sampah..." Cindy ngakak menertawakan nilai yang didapat Bambang.


Pantesan pak Ardi sengamuk itu tadi. Sampai gak sanggup untuk ngomongin salahnya dimana. Jelas aja semarah itu, pak Ardi itu perfecsionis dan ketemu sama bu Cecil yang lebih perfecsionis lagi. Dibabat abis dan dicaci maki pasti kontrak kerja model begituan. Dibuang ke tong sampah.


"Mbang mana kue dan Tai tea-nya Ella?" Ardi tiba-tiba sudah keluar dari ruangannya dan menghampiri Bambang di mejanya.


"Di kulkas ruangan pak Ardi, sebentar saya ambilkan." Bambang dengan cekatan beranjak mengambil barang yang diminta Ardi dan menyerahkanya pada bosnya.


"Ini pak. Pak Ardi mau kemana?" Bambang bertanya kepo, bukannya belum selesai ya masalah kontrak dengan Ciputra group? Kok udah mau pergi.


"Mau kencan donk. Malam minggu ini." Ardi menjawab santai sambil menerima bungkusan yang disodorkan Bambang.


"Selesaikan kontraknya nanti kirim ke emailku. Awas kalau ancur lagi. Jangan pulang sebelum selesai kerjaanmu." Perintah Ardi sebelum berlalu begitu saja tanpa rasa berdosa.


"Iya, siap pak." Bambang tak sanggup membantah. kembali ke mejanya dan berkutat dengan revisi dokumen kontraknya.


"Pak Ardi udah pulang, aku ikutan pulang ah. Kalau ada yang gak ngeri WA aja. Nanti acc-kan ke aku dulu sebelum ditunjukin pak Ardi." Cindy ikutan pamit meninggalkan Bambang di kantor sendirian.


Apes bener dah, Bambang menyesal kenapa gak minta petunjuk dari Cindy dulu sebelum bikin dokumen ini kemarin. Biar ga dua kali kerja kayak gini, biar kencannya dengan Yasmin gak batal kayak gini. Menyedihkan...


Akhirnya Bambang menghabiskan sepanjang sorenya untuk merevisi dokumen yang banyaknya dua puluhan lembar itu. Berkali kali mengirimkan dan meng acc-kan pada Cindy, menunggu gadis itu membalasnya dengan harap harap cemas.


Dan seperti yang diharapkan dari Cindy, dia dapat memeriksa dan menunjukkan lagi yang harus direvisi. benar-benar perfecsionis, tak boleh ada kesalahan sedikitpun. Sampai akhirnya hampir isyak Bambang baru mendapatkan acc dari Cindy kemudian mengirimkannya pada Ardi.


Cukup lama Bambang menunggu dengan tidak sabar sampai akhirnya Ardi memberikan persetujuannya. Bambang mengeprint dokumen itu dan membawanya untuk nanti diserahkan kepada Ardi di Pradana mansion.


Bambang melirik jam tangannya sambil melajukan mobil BMW Ardi, sudah hampir jam 8 malam. Terlalu malam untuk mengajak Yasmin kencan, tapi kangen pengen ketemu. Gimana ni?


Akhirnya Bambang nekat untuk menghampiri Yasmin ke rumahnya saja. Mampir dulu ke toserba 24 jam untuk membeli es krim, sebagai sogokan dan permintaan maaf pada gadis itu karena kegagalan kencan mereka.


"Lho mas Bambs?" tanya Yasmin sedikit terkejut saat membukakan pintu rumahnya untuk Bambang.


"Mari masuk, mas." Yasmin mempersilahkan.


" Di teras aja boleh gak?" Bambang menawar, ingin sedikit menghirup angin malam yang segar untuk menjernihkan otak buteknya.


"Boleh aja," Yasmin ganti mempersilahkan Bambang duduk di kursi teras.


"Nih buat kamu, sorry ya gagal lagi kencan kita." Bambang menyodorkan kantong plastiknya yang berisi es krim cone.


"Makasih," Yasmin membuka plastik dan mengeluarkan es krimnya, langsung menyantapnya.


"Nih makan juga biar adem." Yasmin memberikan es krim yang tersisa pada Bambang, tahu benar pria itu pasti sedang butek pikirannya.


"Gak papa, mau gimana lagi kan memang tugasnya mas Bambs begitu." Yasmin membalas ucapan Bambang yang sempat tertunda.


"Besok hari libur tapi kita gak bisa kencan juga," Bambang merajuk manja.


"Keluarga Pradana masih ribet ngurusin upacara pertunangan pak Ardi, keluarga Sampoerna juga sibuk mempersiapkan upacara pertunangan bu Ditha. jadi kita berdua harus tetep kerja bahkan di hari minggu." Yasmin tertawa ringan, menertawai keseharian mereka berdua yang bahkan hampir tak punya waktu untuk diri sendiri.


"Resiko profesi ya hehe." Bambang meneruskan menjilati es krimnya, " Enak juga ini ternyata." celetuk Bambang tak bisa berhenti menjilat.


"Emang enak. murah lagi." Yasmin menyetujui, ikutan menikmati es krim yang dipegangnya.


"Tadi kenapa? Kalau boleh nanya si." Yasmin bertanya sedikit ragu, takut menyangkut hal yang merupakan rahasia perusahaan Pradana.


"Kontrak kerja disuruh revisi total."


"Kok bisa?" mimin penasaran


"CEO Ciputra Group."


"Ceicillia Tang? hahaha."


"Kok ketawa?'" Bambang tidak suka reaksi Yasmin.


"Oh sorry, aku juga sumpek kalau disuruh bikin surat apapun untuk sang ratu. Dan pak Tyo juga bawaanya panas kalau bisnis sama dia. Tekanannya gede."


"Wah sama aja ternyata." Bambang menyeletuk. "Pak Ardi juga jadi emosian,"


"Santai aja memang begitu kok bu Cecil, bukan karena kamu gagal. tapi Bu Cecilnya yang memang rewel." Mimin berusaha menghibur.


"Thanx ya," Bambang tersenyum lega. Dan keduanya bertukar senyuman manis sambil terus menikmati sesuatu yang manis di mulut, es krim.


"Oiya mobilmu udah bener belum?" Bambang mencoba mengalihkan pembicaraan, bosen kan ngomongin kerjaan melulu.


"Belum. Maklum aja mobil tua, udah waktunya ganti kayaknya."


"Terus kamu berangkat kerja gimana?"


"Naik taxy online."


"Aku jemput ya mau gak mulai Senin?" Bambang memanfatakan kesempatan dalam kesempitan.


"Emang kamu gak sibuk?"


"Gampang, bisa diatur."


Bambang merasa bersyukur karena malam ini menyempatkan untuk mampir menemui Mimin. Bukan hanya rasa kangennya terobati tapi juga gadis ini rasanya dapat mengerti kegalauan dan kegundahan hatinya. Mimin selalu saja dapat menghibur dan menenangkan pikiran buteknya, memberinya kebahagiaan batin ditengah tekanan kerja serba stressnya.


~∆∆∆~


🌼Yuuuuks say jangan lupa LIKE, VOTE dan KOMEN yaaaa. Thanks 🌼