
I still breath, I still eat
And the sun is shines the same like it did yesterday
But there is no warm, no light
I feel empty Inside
(Aku masih bernafas, Aku masih bisa makan
Dan matahari juga masih bersinar seperti yang dilakukannya kemarin
Tetapi tak ada kehangatan, tak ada cahaya
Aku merasakan kekosongan di dalam diriku)
_________________________________
Ella bangun pagi-pagi dan melakukan ritual paginya. Belakangan dia menambahkan kegiatan baru di jadwal keseharian paginya. Jogging keliling komplek perumahan, lumayan setengah jam sampai empat puluh lima menitan untuk berkeringat. Menikmati segarnya udara pagi dan diluar dugaannya dapat efektif membantu meredakan stress. Sport is good for your emosional control. Tidak setiap hari juga Ella melakukan jogging, hanya saat jadwal kuliah paginya kosong saja. Gak mungkin juga untuk maksain olah raga kalau dirinya ada jadwal kuliah jam enam pagi.
"Masak apa ma?" Ella menghampiri mamanya di dapur sepulang dari kegiatan jogging nya. Masih keringetan dengan memakai sport suit-nya dan pastinya masih bau keringet.
"Duh masih bau kayak gitu udah nanyain makanan." Lilik memprotes kebiasaan jelek Ella satu ini. "Mandi dulu sana terus kita sarapan bareng," lanjutnya mengusir Ella dari dapurnya ke kamar mandi.
"Ok, ok." ujar Ella sambil mencomot seiris tempe goreng dan langsung memakannya.
"Aduuh ini bu dokter jorok banget gak pakek cuci tangan dulu." Sekali lagi Lilik memprotes.
"Gak papa ma, meningkatkan imunoglobulin buat sistem imun tubuh hehe." Ella menjawab sambil berjalan santai ke kamar mandi.
"Dasar bisa aja ngeles. Imun goblin apaan coba?" Lilik menggerutu sambil melanjutkan proses memasak menu sarapannya.
Diamatinya anak gadisnya itu berlalu dengan seksama. Lilik merasa lega akhirnya bisa melihat Ella kembali ceria dan tersenyum seperti itu. Ella memang tidak pernah bercerita apapun padanya. Tetapi sebagai ibu, Lilik pasti tahu bahwa ada yang tidak beres dengan putrinya itu.
Beberapa hari yang lalu Ella terlihat sangat suram, sedih dan cemberut selama beberapa hari. Tepatnya setelah keluar untuk kondangan ke pernikahan Intan dengan Ardi. Malam itu entah bagaimana Ella berangkat bersama Ardi tetapi pulang naik taxi. Dan setelah sampai rumah langsung masuk ke kamarnya, mengurung diri dan tidak mau keluar kamar lagi sampai keesokan harinya.
Lilik sampai meletakkan makanan untuk anaknya itu di depan kamarnya. Takut Ella sakit lagi seperti beberapa hari sebelumnya karena sama sekali tidak mau makan. Dan untunglah Ella masih mau makan kali ini, dia masih mau mengambil makanannya dan menghabiskannya sebelum lanjut mengurung dirinya di dalam kamar.
Dan kalau dugaan Lilik benar, kemungkinan besar sikap aneh Ella ini pasti ada hubungannya dengan Ardi. Apa keduanya bertengkar? Kayaknya nggak deh. Lilik tahu benar baik Ella maupun Ardi bukanlah tipe yang emosional dan meledak-ledak. Keduanya terlalu dewasa untuk bertengkar karena hal-hal yang sepele.
Ataukah mungkin akhirnya kedua anak muda itu memutuskan untuk berpisah? Ini yang lebih masuk akal. Yah memang sejak awal hubungan keduanya sudah rumit. Apalagi mama Ardi yang sudah terang-terangan menolak Ella sebagai mantunya. Sudah sewajarnya kalau Ella akhirnya menyerah akan hubungannya itu. Lilik juga sedikit lega akan keputusan anaknya itu. Buat apa jadi isteri sultan kalau hidupnya tidak bahagia?
Dengan begini Lilik hanya bisa mendoakan anak gadisnya itu. Semoga saja Ella bisa lekas pulih dari patah hatinya dan dapat menemukan pengganti cinta yang lainnya.
Beberapa menit kemudian Ella sudah selesai berdandan cantik, siap untuk berangkat ke kampusnya. Papa dan mama Ella juga sudah siap dengan seragam dinasnya. Mereka bertiga berkumpul bersama di meja makan untuk acara sarapan pagi bersama mereka.
"Hari ini acaranya ngapain aja, El?" Papa Ella bertanya, berbasa-basi.
"Kuliah, Pa. Sampai siang terus kayaknya lanjut bantuin penelitiannya Prof. Mei. Baru pulang abis ashar kayaknya." Ella menjelaskan tentang jadwalnya hari ini.
"Kamu ikutan penelitian lagi?" tanya Bowo keheranan. Tak biasanya Ella menambahkan jadwal kegiatan di kampus di luar jam kuliahnya. Sejak lulus dan menjadi dokter Ella memang lebih suka berdiam di rumah atau sesekali menggantikan temannya untuk berjaga di rumah sakit atau klinik. Mengisi waktu sekalian cari uang ceperan katanya.
"Iya pa, bantu-bantu aja. Sapa tahu ntar Ella bisa jadi asisten profesor. Kan keren hehe." Ella menjawab sambil menyantap menu sarapannya.
"Gak usah profesor-profesoran. Kamu itu anak perempuan. Jadi dokter spesialis aja sudah sangat hebat. Jangan ketinggian," Bowo mengingatkan putrinya. Entah mengapa Bowo juga tidak begitu senang kalau Ella terlalu mengejar gelar dan cariernya. Mengingat putrinya itu masih belum menikah.
Selain itu Bowo juga tidak senang jika Ella terlalu sibuk dan banyak kegiatan di luar rumahnya. Sehingga dirinya tak bisa mengontrol dan mengawasi keberadaan anak gadisnya itu. Bowo tak ingin putrinya itu salah pergaulan atau kebablasan dalam pergaulannya dengan teman-temannya.
Apa Ella sengaja mencari-cari kesibukan untuk saat ini? Apa telah terjadi sesuatu pada putrinya itu? Beberapa hari yang lalu Ella memang terlihat sangat sedih dan tak bersemangat. Apakah akhirnya Ella sudah mengakhiri hubungannya dengan Ardi? Yah apapun yang telah terjadi semoga putrinya itu kuat dan dapat bertahan.
"Iya, Pa. Cuma gantiin dr. Sita yang lagi umroh aja kok. Jadi Ella cuma gantiin posisinya sebagai asisten prof. Mei untuk sementara waktu. Selama dua minggu ini saja." Ella menjelaskan agar papanya tidak khawatir.
"Yaudah jangan terlalu sibuk. Gak baik anak gadis kebanyakan keluyuran di luar rumah." Bowo sekali lagi mengingatkan putrinya.
"Bener banget kata papa, Ella di rumah aja sama mama belajar masak." Mama Ella ikut mendukung ucapan ayahnya.
"Iya pak bos, dan bu bos." Ella tersenyum geli menyadari kedua orang tuanya yang semakin perhatian dan protektif padanya. Mungkin mereka berdua sudah menyadari keanehan yang terjadi pada dirinya sejak beberapa hari yang lalu. Mungkin mereka sudah menyadari akan kegagalan hubungan cintanya dengan Ardi. Ella sangat bersyukur memiliki mama dan papa yang begitu perhatian padanya. Keluarga yang selalu mendukungnya dalam keadaan apapun, dalam suka dan duka.
Setelah sarapannya selesai, Ella pamit untuk berangkat ke kampus duluan. Dikeluarkannya mobil swiff putih kesayangannya dan dilajukan ke kampus A Uner. Sesampai di kampus Ella langsung memasuki ruang kuliah untuk menghadiri kelas besar. Santi dan Roni menghampiri Ella seperti biasa dan mereka mengambil posisi tepat di kanan dan kiri kursi Ella. Santi adalah teman baru Ella sesama PPDS interna. Sama-sama lulusan Uner juga jadi sudah lumayan lama kenal dengan Ella.
"Udah kelar Journal-mu, El?" Roni bertanya. Sedikit khawatir Ella belum menyelesaikan tugasnya karena beberapa hari ini Ella terlihat berbeda dan sangat bersedih sepertinya. Mungkin Ella sedang ada masalah dengan Ardi. Mungkin mereka berdua sedang cekcok dan bertengkar? Tapi masak si? Perasaan sabtu kemarin waktu pesta pernikahan Intan keduanya hadir dengan mesranya. Bikin iri banyak orang yang melihat mereka, karena keduanya terlihat sangat serasi untuk bersanding bersama, cantik dan ganteng.
"Udah donk," jawab Ella enteng.
"Si Ella kan rajin, mana mungkin belum selesai." Santi menyeletuk membela Ella.
"Kalau keadaan biasa si pasti Ella udah kelar duluan. Tapi kayaknya si Ella lagi PMS dan gak mood belakangan ini...Ya takutnya aja jadi kepengaruh sama tugas dia." Roni menjelaskan kekhawatirannya.
"Kalau ada masalah kamu bisa cerita aja sama aku, El. Jangan ama Roni gak peka biasanya kalau cowok hehe." Santi ikut menawarkan bantuannya dengan prihatin. Memang beberapa hari ini Ella sedikit terlihat berbeda dari biasanya, lebih suram auranya.
"Yaampun kalian ini apaan si. Jangan terlalu lebai gitu." Ella menertawakan kedua temanya yang terlihat mengkhawatirkannya.
Sekali lagi Ella merasa beruntung memiliki teman-teman yang baik, suportif dan dapat ada saat dirinya membutuhkan bantuan. Merasa beruntung dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang baik padanya.
Dunia belum berakhir, memang hubungannya dengan Ardi telah berakhir. Tapi Ella masih memiliki dunianya sendiri. Dunia yang bisa memberinya ketenangan, mendukungnya, dan menjadi tujuan hidupnya selanjutnya.
Ella masih miliki keluarga, teman-teman serta cita-cita yang masih ingin dicapainya. Membuat Ella masih bisa bersemangat dan tersenyum serta tertawa untuk menjalani hari-harinya walaupun masih ada rasa sedih dan kehilangan yang tersisa.
~∆∆∆~
Putus cinta? Patah hati?
Boleh nangis?... Boleh banget.
Menangis Lah dan meratap lah sampai puas
Bahkan sampai air matamu mengering
Tapi setelah itu lupakanlah
Tersenyumlah, tertawa lah, dan berbahagialah
Ingatlah masih ada sisi kehidupan yang indah
Ingatlah masih ada keluarga dan teman-teman yang siap selalu ada
Ingatlah masih banyak hal lain yang bisa kita perjuangkan di dunia ini
🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼