Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
121. S2 - Pradana Mansion


Hari minggu, hari yang seharusnya bisa dipakai untuk tidur seharian dan beristirahat sepuasnya bagi Ardi. Hibernasi seharian selayaknya beruang kutub di musim dingin. Apalagi setelah acara pembukaan Pradana Bussiness Park kemarin malam, rasanya Ardi bisa tidur seharian hari ini. Bahkan mungkin sehari semalam jika tidak ada yang mengganggu.


Setelah segala keruwetan dan kerempongan terlewati, terbitlah rasa lelah kronis pada tubuhnya yang harus segera diobati. Untuk menghilangkan lelahnya, mengembalikan kesegaran tubuhnya, untuk mengembalikan kewarasan otaknya juga.


Dan obat yang paling ampuh baginya saat ini adalah tidur sepuasnya sebelum harus kembali beraktivitas lagi dihari senin. Hari senin yang pastinya sangat sibuk dengan padatnya jadwal kegiatan. Beneran banget memang kalau sampai ada sindrom I hate monday. Terutama bagi orang-orang seperti Ardi.


Apalah daya Linggar membangunkan Ardi dari tidur damainya di kamar pribadi di kantornya. Padahal sudah sengaja ngumpet tidur disana kok masih ketahuan aja. Benar-benar Sial rasanya.


Mau ngapain coba? Waktu juga masih belum tengah hari, belum waktunya untuk makan siang juga. Membuat Ardi bad mood dan uring-uringan karena kedamaian tidurnya terusik.


"Apaan si Nggar? Aku mau tidur, masih ngantuk!" Ardi menarik kembali selimut tebal untuk menutupi tubuhnya dan bersiap memejamkan matanya lagi.


"Udah siang ayo bangun, mas!" Linggar mencoba membangunkan kakaknya itu. Linggar tahu benar betapa capeknya Ardi setelah lembur beberapa hari mempersiapkan acara pembukaan kemarin.


Tapi hari ini mereka harus hadir di pradana mansion. Untuk acara makan siang sekeluarga. Semua anggota keluarga sudah menyempatkan datang, tidak mungkin untuk membiarkan Ardi tidak datang dengan alasan ingin tidur.


"Heeemm." Ardi malas menjawab, lanjut merem.


"Mas Ardi!! ayo bangun donk! Kita ada acara makan siang sama mama dan papa." Linggar tak mahu kalah. Ditariknya dengan paksa kakaknya itu sampai terbangun dari posisi tidurnya. Terduduk di atas ranjang dengan kedua mata masih merem.


Dengan lebih semena-mena Linggar lanjut menarik kedua lengan Ardi untuk bangkit dari ranjangnya. Mendorong dan mengarahkan tubuh kakaknya itu ke arah kamar mandi. Linggar yang sekarang memang memiliki postur tubuh yang sama besarnya dengan Ardi, tak akan sulit baginya untuk menyeret tubuh Ardi yang masih setengah sadar itu.


"Udah mas Ardi mandi dulu sana, biar melek!" Linggar menutup pintu kamar mandi dari luar. Sengaja dengan kasar untuk menghasilkan suara debaman keras. Biar bangun si mas Ardi hehe.


Setelah didengarnya suara air mengalir dari dalam kamar mandi Linggar pun beranjak dari posisinya. Bagus mandi juga akhirnya. Linggar memilih duduk di sofa saja, memainkan game online di ponselnya sambil menunggu Ardi selesai mandi.


Tak lama kemudian Ardi keluar dari kamar mandi sekaligus walk in wardrobe-nya. Sudah rapi dengan dandanan casual santai polo shirt, celana jeans pendek, dan sneakersnya. Dandanan yang hampir sama dengan yang dipakai Linggar. Hanya saja Linggar lebih suka T-shirt distro yang kekinian dari pada kaos polo. Memang gak jauh beda lah selera kedua bersaudara itu


"Emangnya ada acara apa si? Kok heboh banget?" protes Ardi sambil mengambil ponsel, dompet, dan kunci mobilnya di atas meja kerjanya.


"Kan kita sekeluarga udah lama gak kumpul-kumpul. Mumpung lagi di Surabaya semua anggota keluarga, kan gak ada salahnya buat makan siang bersama... Sini aku yang bawa mobilnya kalau mas Ardi masih ngantuk." Linggar menawarkan diri karena khawatir kakaknya itu masih belum sadar sepenuhnya. Ardi langsung menyerahkan kunci mobilnya, melemparnya ke Linggar tanpa protes.


Kedua bersaudara itu pun langsung meninggalkan kompleks perkantoran dengan mobil BMW hitam milik Ardi. Menuju Pradana Mansion yang berada di kawasan perumahan elite dekat kampus ITS.


Begitu mereka berdua sampai ternyata sudah ada beberapa mobil lain yang sudah terparkir disana. Mobil Mahes, Mobil orang tuanya, Mobil Linggar yang memang ditinggal disana, serta satu mobil lagi yang tidak dikenali Ardi. Mungkin ada tamu lainnya yang diundang makan siang selain mereka berdua.


Ardi langsung memasuki Pradana Mansion itu. Ardi nyelonong masuk saja ke dalam rumah, gak pa-pa kan toh ini juga rumahnya sendiri. Diruang tamu kosong tak ada orang, dia lanjut berjalan ke ruang tengah yang merupakan ruang keluarga.


Di ruangan itu sudah berkumpul dan duduk-duduk bersama beberapa orang, di deretan sofa sofa yang tertata melingkari ruangan. Ada papa dan mamanya, Mahes, Laras lengkap dengan Rangga dengan Nany dan segala peralatan perangnya yang lengkap. Serta ada satu lagi tamu yang hadir, tamu yang sudah tidak asing lagi wajahnya bagi Ardi, Sari.


"Selamat siang," sapa Ardi untuk memberi tahukan kehadirannya. Ardi berjalan menghampiri kedua orang tuanya, mencium tangan keduanya sebagai salam dan penghormatan.


"Tumben ni ada Sari?" Ardi menyapa dan menyatakan keheranannya melihat kehadiran Sari disana. "Gimana kabarnya, Sar?"


"Baik mas. Aku kangen sama dedek Rangga yang ganteng. Sini Rangga, come to Aunty..." Sari menjawab pertanyaan Ardi. Sari juga lanjut menggoda Rangga, merentangkan kedua lengannya, menawarkan gendongan untuknya. Dan anehnya si Rangga sama sekali tidak menolak, malah ketawa kegirangan menyambut gendongan Sari. Wah tau aja ni bayi kalau yang gendong tante cantik.


"Urusan di Surabaya mau aku alihkan ke Sari, Di." Mahes tiba-tiba mengawali pembicaraan saat Ardi mengambil duduk di salah satu sofa.


"Rumah sakit dan perusahaan yang di Bussiness Park milik Hartanto akan dipegang oleh Sari. Aku sama Laras mau balik pulang ke Banyu Harum saja, ngurusin yang ada disana. Papa sudah pengen pensiun aja soalnya." Mahes menjelaskan rencana yang akan diambilnya kedepan.


"Aku sih gak masalah, terserah kalian aja." Ardi tidak keberatan sama sekali. Suka-suka kalian lah lhawong itu perusahaan kalian sendiri. Istilahnya Ardi cuma menyediakan lahan saja bagi perusahaan mereka. Hampir kaya kos-kosan gitu lah intinya. Tapi bayangkan saja yang ngekos perusahaan bukan orang.


"Sari sudah selesai juga kan kuliahnya?"


"Udah lah mas." Sari menjawab pertanyaan Ardi.


"Cuma kemarin-kemarin aku masih sibuk ngurusin perijinan buat rumah sakit baru kita yang di Surabaya. Biasa masalah birokrasi yang selalu ruwet. Yah gara-gara papanya Rangga ini yang ternyata belum beresin semua perijinannya coba?" Sari menambahkan curhatan sekaligus keluhannya terhadap Mahes, kakaknya.


"Aku gak sempet, Sar. Asli ruwet kebanyakan urusan kemaren-kemaren." Mahes menjawab, berusaha membela diri. Tak ingin dianggap lari dari tanggung jawab sebagai direktur rumah sakit.


"Iya iya aku tahu kok. Cuma kaget aja pas peralihan direktur, pas aku yang gantiin jadi direktur ternyata semua perijinan belum diurus. Rasanya kaya aku yang dikerjain sama kamu mas."


"Hahahaha maaf deh." Mahes mengalah saja daripada semakin diomelin Sari.


"Ardi, urusan kantormu juga sudah mulai santai kan? Kamu jangan tidur dan tinggal di kantor melulu lah," Kartika yang gantian memprotes kebiasaan Ardi yang suka tinggal di kantornya.


"Rumah ini kan kosong kalau Linggar kembali ke Banyu Harum. Kamu tinggal disini aja. Nanti mama kirim Ijah buat nemenin kamu disini, Bambang juga boleh tinggal disini juga," Kartika menambahkan.


"Benar kata mamamu. Gak sehat kalau kamu tinggal di kantor, too stressfull, bikin mikirin kerjaan terus." Erwin ikut mendukung ucapan istrinya.


"Gak masalah sih, aku bisa tinggal dimana aja selama masih bisa tidur." Ardi menjawab dengan santainya.


"Nanti aku suruh Bambang pindahin barang-barangku kesini deh."


"Bukannya udah ada bi Inem ya disini? Kok mau kirim bi Ijah jauh-jauh dari Genting?" Laras sedikit bingung dengan keputusan mamanya yang terdengar sedikit ribet.


"Inem itu pengasuhnya Linggar, mana apal dia sama kebiasaan dan makanan kesuakaan Ardi. Beda sama Ijah yang udah ngasuh Ardi dari kecil, pasti sudah hapal benar kebiasaan dan segala kesukaan Ardi." Kartika menjawab seakan tak ada beban. "Inem nanti biar ke Banyu Harum ngikutin Linggar."


Ardi sedikit kaget juga mendengar percakapan mereka. Ternyata mamanya sebegitu detailnya memperhatikan dirinya dan adik-adiknya. Kartika memang tidak merawat dan melayani sendiri semua kebutuhan putra dan putrinya, tapi ternyata mamanya itu sangat selektif dalam memilih orang yang tepat untuk melayani masing-masing anggota keluarganya. Memilihkan yang paling cocok dan nyaman bagi mereka masing-masing.


"Kalau aku? Kayaknya aku gak ada bibi khusus deh." Laras sedikit iri karena tak memiliki pembantu yang khusus disediakan untuk dirinya.


"Kalau kamu kan rewel banget, suka gonta ganti pembantu kan?" Jawaban Kartika mampu membuat Laras sewot. Tapi memang benar si, tak ada pembantu yang betah terlalu lama melayani dirinya.


"Lagian kamu kan udah tinggal di kediaman Hartanto. Urusannya Mahes dan keluarganya sekarang yang cariin pembantu buat kamu," Erwin mengingatkan status Laras sebagai menantu keluarga Hartanto.


"Tenang saja pa, ma, aku pasti akan memenuhi semua keinginan sang ratu Larasati yang agung," ujar Mahes menyanggupi sambil sedikit menggoda istrinya. Mahes sudah hafal betul sifat dan peragai istrinya ini yang memang sedikit rewel bagaikan seorang ratu.


Belum genap dua tahun mereka menikah, Laras bahkan sudah memecat tiga orang pembantu di kediaman Hartanto karena tidak sesuai dengan seleranya. Membuat Mahes, Sari dan mamanya kebingungan harus yang bagaimana lagi yang cocok dengan Laras yang cerewet, terlalu detail dan terlalu perfecsionis ini. Susah banget untuk dituruti semua kemauan dan keinginannya.


Akhirnya Mahes memutuskan meminta ijin Kartika untuk memperkerjakan pembantu yang dulunya melayani Laras di rumah Jembar, dan untungnya sampai sekarang aman saja tak ada keluhan dari istrinya itu.


"Ya semoga kamu selalu kuat dan sabar ya mas Mahes buat ngadepin mbak Laras," Linggar yang baru datang tiba-tiba menyeletuk seenaknya.


"Heh apa maksudnya itu, Nggar?" Laras tak terima dikatai begitu oleh adiknya itu.


"Mbak Laras ya begitu itu deh hahaha." Linggar dengan cueknya mengabaikan Laras, malah menghampiri kedua orang tuanya untuk salaman.


"Mbak Laras itu beruntung banget lho dapet mas Mahes. Kalau bukan mas Mahes siapa coba yang betah menghadapi nenek lampir super cerewet kayak kamu mbak?" Linggar semakin menjadi-jadi mengoda kakak perempuannya itu.


"Iiiihhh Linggar nyebelin banget. Aku sumpahin kamu dapet istri yang lebih rewel lagi ntar!" Laras tidak terima dengan perkataan Linggar.


"Amiiiinnn" Hampir semua yang hadir malah mengamini berharap Linggar merasakan juga derita Mahes. Pasti lucu juga untuk dilihat nantinya. Linggar manyun seketika menanggapi reaksi mereka.


"Tapi seru juga lho, Nggar. Asli Laras kelihatan cute banget kalau lagi ngomel-ngomel, kayak radio rusak hahaha." Mahes mencoba menghibur Linggar.


"Ah kamu aja yang kelainan mas, sudah dibutakan oleh cinta hahaha." Linggar tak mau kalah. Membuat semua yang hadir ikut tertawa lepas mendengar perdebatan menggelikan mereka.


Ardi diam saja tersenyum-senyum sendiri dan sesekali tertawa juga untuk menanggapi semua gurauan tidak penting ini. Rasanya sudah lama sekali memang keluarganya tidak berkumpul, tidak bercanda bersama, tertawa bersama seperti ini.


Kangen juga rasanya dengan suasana hangat kekeluargaan begini. Suasana kebersamaan seperti layaknya keluarga normal. Suasana yang dapat membuat setiap anggota keluarga untuk betah tinggal dirumah.


~∆∆∆~


Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. Komen apa aja, bisa kritik dan saran atau hujatan juga boleh 😉