Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
73. Realistik


Ella dan Intan menikmati malam mereka di kontrakan dengan gulung-gulung berdua diatas kasur di kamar Ella. Kelelahan setelah perjalan mereka ke Bromo. Tepat tengah hari tadi mereka mereka kembali pulang dari villa keluarga Hartanto dan baru sampai di kontrakan di Genting menjelang magrib.


"El, laper gak? Pesen grab aja yuk." Intan menawarkan sebelum memilih makanan di aplikasi gr*b food. Kelaparan, karena sekarang sudah jam delapan malam dan mereka belum makan apa-apa sejak tadi siang di villa Sari.


"Aku mau nasi tempong, mumpung masih disini. Kalau sudah di Surabaya gak ada lagi." Ella menjawab sambil tetep tiduran.


"Kan sama aja kaya nasi lalapan. Di Surabaya kan banyak lalapan bebek purn*ma." Intan tak setuju dangan pendapat Ella.


"Beda lah. Kalau nasi tempong ada ikan asinnya. Sama level sambelnya itu lho beda banget." Ella menjelaskan perbedaannya.


"Yaudah nurut aja deh pesen nasi tempong ayam ya? dua. Ok, dibayar COD," Intan berguman sambil memencet ponselnya.


Dan keduanya melanjutkan sesi rebahan mereka di atas kasur sambil menantikan kedatangan kurir pengantar pesanan mereka.


"Tan, kamu kapan boyongan ke Surabaya?"


"Besok udah mulai packing. Lusa mungkin boyongan. Sekalian bareng sama Ivan boyongan kontrakannya di kota Lumayan ntar." Intan menjelaskan rencananya.


"Oh kamu duluan berarti perginya."


"Kamu kapan, El?" Intan balik nanya.


"Aku masih ada hutang jaga tiga hari di puskesmas Sobo. Mengganti hutang jaga waktu cuti untuk ujian PPDS kapan hari. Paling aku besok selasa, rabu, kamis baru bayar hutangnya. Week end mungkin baru bisa boyongan kayaknya." Ella menjelaskan.


"Berani di kontralan sendirian? Apa perlu aku temenin sampai week end?" Intan bertanya sedikit mengkhawatirkan temannya itu.


"Haduh buat apa? Ngerepotin aja malah yang ada kamu. Ribet dan cerewet lagi kaya nenek sihir. Belum lagi harus ngasih makan hehe." Ella menolak tawaran Intan dengan sedikit bercanda.


"Yeee, gini-gini ntar juga kamu pasti kangen banget ama aku ntar, El."


"Pastinya! Tapi kan kita masih se Surabaya. Lagian kayak mau pisah kemana aja? Kangen kan tinggal janjian atau datangin rumahmu, beres." Ella tertawa membayangkan rumahnya dan rumah Intan yang cuma berjarak setengah jam perjalanan.


"Hahaha bener juga si. Tapi abis nikah aku gak di Surabaya lagi lho. Aku ikut Ivan nanti rencananya. Ke Madiun"


"Weleh yang mau jadi cah Madiun ya?...Kapan kamu rencana acara nikahannya?" Ella baru ingat bahwa temannya ini berencana menikah setelah interenship berakhir. Ternyata sudah tiba saatnya, cepat sekali rasanya. Kayak baru kemarin saja Ella menghadiri acara pertunangan mereka berdua. Dan ternyata sudah berlalu setahun lebih sejak saat itu.


"Bulan depan. Ini masih ribet banyak yang harus diurusin. Ntar kalau udah jadi undangan resminya bakal launching. aku kasiin satu-satu. Kamu Wajib datang pokoknya!" Intan menuntut kedatangan Ella.


"Siap boz. Mana berani aku gak datang ke nikahan kamu, bisa kuwalat hehe."


"Tar buket bunganya aku lemparin ke kamu, biar kamu cepetan ketularan hahahaha."


"Mana bisa, maksa banget sih."


"Bisa. Ntar share location aja biar gak nyasar lemparnya hahaha," jawab Intan sotoy.


"Idih. Makin ngaco aja hahaha." Kedua gadis itupun tertawa ngakak bersama-sama.


"Terus gimana lanjutannya kamu sama si Ardi?" Intan tiba-tiba bertanya tentang Ella.


"Ya kayak gitu deh. Jujur aja kami berdua sudah tahu kalau hubungan kami ini sulit. Tapi kami berdua kayak sama-sama sengaja menghindar dan gak mau membahasnya. Seakan takut semuanya akan berakhir."


"El, restu dari orang tua itu mutlak lho ya. Gak bisa jalan kemana-mana hubungan kalian kalau gak dapat restu. Apalagi posisinya Ardi itu sebagai cowok, anak pertama, konglomerat lagi. Runyam deh masalahnya."


"Terus aku harus gimana, Tan?" Ella ingin tahu bagaimana pendapat Intan tentang masalahnya. "Masa kamu nyuruh aku putus begitu saja? Jujur aku masih belum sanggup."


"Sampai kapan? Sampai kapan kalian kayak gitu? Nyesek banget kan rasanya?"


"Iya banget. Mas Ardi bahkan pernah bilang hubungan kami rasanya bittersweet. Manis tapi pahit sekaligus di saat yang sama."


"Daripada makin sakit kayak gini, mending kamu minta kepastian. Kalau bisa lanjut ya lanjutkan, kalau nggak selesaikan saja sekalian. Mumpung kamu juga bentar lagi ninggalin kota ini. Mungkin akan lebih mudah untuk melupakan dan mengobati sakit hati kalau kalian tidak pernah ketemu lagi." Intan mencoba memberi saran. Saran yang terdengar masuk akal dan logis, tapi tentu sangat sulit dan pedih untuk dilakukan.


"Iya aku juga sempat kepikiran kayak gitu."


"Pelan-pelan bicarain baik-baik sama dia, El. Manfaatkan waktumu yang tersisa disini. Bicarakan mau dibawa kemana hubungan kalian. Kalau stuck gak bisa dibawa kemana-mana ya mending diakhiri saja," Intan menegaskan. Dan Ella hanya terdiam membisu tanpa sanggup menjawab.


"Kamu itu berhak untuk bahagia, El. Jangan bikin idupmu susah. No body worted to make you sad, to make you cry. Tidak juga Ardi meskipun dia si sultan yang kaya raya."


"I know..."


"Aku minta maaf sma kamu, El. Karena aku dan Sari dulu yang ngenalin kamu sama Ardi. Aku gak tahu kalau hubungan kalian bakalan se complicated ini."


"Andai aku dan Sari gak ngenalin kalian, mungkin sekarang kamu udah bahagia jadi ceweknya Roni."


"Kok bawa-bawa Roni si..."


"Karena kadang lebih baik dicintai daripada mencintai, El. Dan aku tahu Roni itu sangat mencintai kamu. Mungkin kalau kamu beneran putus sama Ardi, kamu bisa pertimbangkan Roni untuk mengisi hatimu."


"Jahat banget, Tan. Mana bisa aku jadikan Roni sebagai pelarian."


"Cinta itu bisa tumbuh karena kebiasaan, El. Tresno jalaran soko kulino. Kalau kalian terus bersama dan Roni selalu setia menemanimu maka tak akan sulit, El. Asal kamunya masih mau membuka hatimu untuknya."


"Kamu kok kayaknya nyuruh aku nyerah gitu si, Tan? Soal hubunganku dengan mas Ardi?" Ella menunduk sedih.


"Sorry, aku ini realistik mikirnya, El." Intan menepuk pundak Ella dengan lembut. Ingin memberikan sedikit dorongan, kekuatan dan ketabahan pada temannya itu. "Aku pribadi akan memilih untuk berjuang jika dapat diperjuangkan. Dan akan kulepaskan saja jika tak sanggup kuperjuangkan."


Ella kembali terdiam tak sanggup menjawab. Dirinya sebenarnya juga termasuk cewek yang realistik. Dirinya juga berkali-kali berpikiran yang sama dengan Intan. Tapi rasa itu tak pernah berdusta, rasa cinta-nya pada Ardi yang terlalu dalam kadang mampu membuatnya kehilangan akal sehatnya.


"Apapun pilihanmu, kamu harus bahagia." Intan mengakhiri wejangannya, wejangan yang sama dengan yang pernah diucapkan mama Ella. Nasehat agar Ella dapat hidup dengan bahagia.


Dan ella hanya bisa mengangguk sebagai jawabannya. Sedih, Ella jelas akan merasa sangat sedih kalau harus berpisah dengan Ardi nantinya. Bagaimana mungkin Intan dan mamanya memintanya untuk bahagia?


Pembicaraan mereka terhenti saat bel rumah berbunyi. Intan segera bangkit dari kasur untuk menyambut sang tamu. Bersemangat dan berharap babang gr*b yang datang membawa makanan mereka.


Tapi tak lama kemudian Intan menghampiri Ella kembali ke kamarnya. Dengan tangan kosong, rupanya bukan pengantar makanan mereka yang datang. "El, Ardi yang datang. Kamu mau nemuin dia?" tanya Intan.


"Mas Ardi?" Ella keheranan. Kok bisa pas banget ini orang datang pas lagi diomongin.


"Kalau kamu gak mau ketemu biar aku yang bilangin." Intan khawatir Ella masih sedikit terbawa emosi karena pembicaraan mereka tadi. Takut temannya itu belum siap untuk bertemu dan berbicara dengan Ardi.


Ella diam saja mempertimbangkan. Jujur dia ingin menemui Ardi juga. Ada rasa rindu setelah dua hari tak berjumpa. Tapi dirinya juga takut akan berbicara yang tidak mengenakkan dengan Ardi nantinya dengan suasana hatinya saat ini.


Intan melihat kebimbangan di wajah Ella dan segera balik ke ruang tamu mengampiri Ardi. "Maaf Ellanya kecapekan. Kamu pulang aja ya. Silahkan datang lain kali," ujar Intan pada Ardi.


"Ella kenapa?" tanya Ardi agak curiga. Gak mungkin Ella tak mau menemuinya hanya karena capek. Pasti ada alasan yang lainnya.


"Nggak pa-pa sih. Kan kita baru pulang tadi sore ya. Jadinya kita masih capek banget."


"Aku pengen ketemu, sebentar juga boleh."


"Dia udah tidur. Kamu pulang aja."


"Kalau gitu aku mau liat dia tidur." Ardi tetap keras kepala.


"Enak aja. Mana boleh kamu masuk kamar cewek." Intan tetap tak mau kalah.


"Kalau gitu suruh dia keluar bentar."


"Hei sultan! Gak semua yang kamu inginkan di dunia ini itu bisa kamu dapetin." Intan jadi kebawa emosi menghadapi Ardi.


"Aku tunggu dia sampai keluar." Ardi tetap tak mau beranjak dari tempat duduknya.


Intan kesal dan meninggalkan Ardi untuk menghampiri Ella di kamarnya. "Parah banget cowokmu. Keras kepala," sungutnya.


Ella tersenyum geli melihat kekesalan Intan. Emang Ardi kalau kumat keras kepala-nya suka ngeselin juga. Ella bergegas turun dari kasurnya, merapikan penampilannya sebentar di depan kaca.


"Kamu yakin, El?" Intan sedikit khawatir.


"Iya gak pa-pa, Tan..." Ella beranjak keluar kamarnya untuk menghampiri Ardi di ruang tamu.


~∆∆∆~


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author ya. Makasih 😘🌼