
Now I'm here lying down
Looking up to the unknow
Just want to be alone
(*Sekarang aku di sini berbaring
Mencari yang tidak diketahui
Hanya ingin sendiri)
Thinking of you. Thinking of me. Thinking of us
(*Memikirkanmu. Memikirkanku. Memikirkan kita).
Now You're gone
All the dreams are gone
And my feels are gone
(*Sekarang kamu menghilang
Semua mimpi telah menghilang
Dan perasaanku juga menghilang
_________________________________
Jogja di pagi hari, Roni keluar kamar penginapannya untuk sekedar jalan-jalan cuci mata sekaligus mencari sarapan. Ingin makan gudek pinggir jalan yang terkenal di daerah ini. Di jalanan Malioboro yang merupakan jalanan khas yang wajib di kunjunjungi kalau ke kota ini. Gudek mbok Atul.
Pikiran Roni begitu penuh rasanya selama beberapa hari ini, sedih sesak, frustasi menjadi satu. Karena apa coba? Karena kandasnya hubungan cintanya dengan Ella beberapa hari yang lalu. Patah Hati. Memang terdengar terlalu dramatis, kekanakan, dan tidak realistik. Bahwa dirinya yang seorang pria dewasa bisa sampai kacau begini.
Tapi justru karena dirinya seorang pria, seorang pria yang tidak bisa menangis tersedu-sedu dan meraung-raung seperti seorang wanita untuk meluapkan segala emosinya. Seorang wanita akan merasa lega setelah menangis sepuasnya. Sementara seorang pria hanya bisa diam membisu dan bermain dengan pikiran buteknya sendiri. Bisa stress dan bahkan gila lama-lama kalau diteruskan.
Roni bahkan menjadi sulit untuk sekedar berpikir dan berkonsentrasi dalam bekerja dan kehidupan sehari-harinya. Bisa bahaya banget kan kalau dirinya sampai salah diagnosa bahkan salah terapi untuk pasien-pasiennya. Lebih gawat lagi kalau-kalau sampai kena mal praktek segala.
Karena itulah Roni memutuskan untuk mengambil cuti dan rehat sejenak beberapa hari dari kegiatannya sebagai dokter.
Roni ingin lari dari segala pikiran ruwetnya dan mencari ketenangan sejenak. Pergi sejauh-jauhnya dari kota Surabaya. Pergi dari segala kenangan dan segala sesuatunya di kota itu yang bisa mengingatkan pada sosok Ella. Melarikan diri, Escapes.
Begitu sadar Roni sudah melajukan mobilnya memasuki tol ke arah Jogja. Entah mengapa kota itu yang pertama terlintas kepalanya. Jogja, ada apa dengan kota itu? Kenapa harus Jogja?
Apa karena ada Sari disana? Apa karena Roni ingin bertemu gadis itu? Untuk sekedar berbagi cerita dengannya? Untuk sekedar mencurahkan segala kesedihan dan kegundahan hatinya. Sepertinya hanya Sari yang bisa mengerti apa yang dia rasakan. Sepertinya hanya Sari tempatnya untuk mengadu dan mencari ketenangan batin.
"Mau lauk apa mas?" Mbok penjual gudek menanyai Roni saat tiba giliran antriannya. Membuyarkan semua lamunan dalam kepala Roni.
"Ayam bacem, bungkus dua mbok." Roni menyuarakan pesanannya tanpa pikir panjang. Dan tak lama kemudian si mbok penjual gudek memberikan dua bungkus gudek pesanannya. Roni pun membayarnya, kemudian berlalu pergi kembali ke arah penginapannya.
Dalam perjalananya Roni berpikir. Duh kok beli dua bungkus ya? Buat apa coba? Siapa yang mau makan? Tadi sempat kepikiran Sari si, jadi otomatis pesen dua porsi... Apa dikasiin Sari saja ya? Udah sarapan atau belum dia kira-kira? Cobain aja deh siapa tahu dia belum sarapan.
Akhirnya Roni memutuskan untuk mengunjungi kamar Sari yang memang menginap di penginapan yang sama dengannya. Lebih tepatnya Roni yang sengaja menginap di tempat yang sama dengan Sari. Tempat yang sama sejak Roni mengantarnya beberapa hari yang lalu ke Jogja.
Entah mengapa Sari lebih memilih untuk menginap di losmen sedehana. Losmen dengan nuansa joglo dan jawa yang kental unsur alamnya daripada di hotel mewah berbintang. Lebih asri, sejuk, adem dan tenang katanya.
Nuansa yang cuma ada di Jogja, biar gak sia-sia udah jauh-jauh ke kota ini. Padahal dengan segala status dan uang yang dimilikinya Sari bisa saja menginap di hotel berbintang lima bahkan selama apapun yang di inginkannya.
Roni menghampiri kamar Sari dan mengetuk pintunya. Tak lama kemudian Sari muncul membukakan pintu untuk Roni dengan tampang bangun tidurnya.
"Roni?..." Sari bertanya sangat kaget melihat Roni di depan pintu kamarnya sepagi ini.
"Hehe met pagi Sar," Roni menyapa sambil menahan ketawanya melihat penampilan Sari dengan rambut yang masih acak-acakan. Pemandangan yang jarang terlihat untuk gadis yang sangat memperhatikan penampilan seperti Sari. Agak beda dengan Ella yang lebih cuek dengan penampilannya.
"Duh, aku jelek banget ya?" Sari menyadari ekspresi Roni saat melihat wajahnya.
"Masuk dulu deh, aku mau mandi bentar." Sari mempersilahkan Roni masuk kamarnya sementara dirinya beranjak mengambil handuk dan lari ke kamar mandi.
Roni meletakkan bungkusan nasi gudeknya di meja kemudian keluar lagi ke kantin losmen untuk membeli dua gelas teh hangat. Kemudian Roni membawanya kembali ke kamar Sari. Ternyata gadis itu sudah selesai mandi dan merapikan penampilannya. Sudah segar dan cantik seperti Sari yang biasanya.
Bahkan entah mengapa Roni merasa Sari lebih cantik dengan penampilan santainya kali ini. Wajah polos tanpa make up, rambut panjangnya yang diikat tinggi di kepala. Serta t-shirt dan celana pendek diatas lutut. Simple dan manis, sampai membuat Roni menelan ludah untuk sejenak demi melihatnya.
"Kamu bawa apa ni?" Sari penasaran dengan kantong plastik bawaan Roni di mejanya.
"Nasi gudek, sarapan yuk. Nih sekalian ada teh hangatnya." Roni menyodorkan dua gelas teh hangat yang dibawanya ke atas meja.
"Wah pas banget ni lagi laper, makasih ya." Sari mencuci tangannya di wastafle sebelum mengambil duduk dan membuka bungkusan nasi gudeknya. Roni pun melakukan hal yang sama, kemudian duduk berhadapan dengan Sari untuk menikmati nasi gudeknya.
"Kenapa? Gak enak ya?" tanya Roni melihat reaksi Sari yang sedikit aneh. Kayaknya gak cocok sama lidahnya deh rasa dari makanan ini.
"Enak sih, tapi rasanya manis banget. Jadi agak eneg gitu ya?" Sari mencoba menjelaskan rasa dari makanan yang disantapnya.
"Hahahaha emang masakan orang Jogja dan orang Kulonan manis ciri khasnya. Kamu kan biasanya makan masakan orang Timur yang cenderung asin dan pedas. Pasti agak aneh ya rasanya."
"Kamu kan orang Malang? Timur juga kan?"
"Mamaku asli Klaten si. Jadi udah gak kaget dengan masakan manis ala kulonan."
"Jun gimana kabarnya?" Roni memulai pembicaraan setelah menyelesaikan sarapannya, meminum teh hangatnya, serta mencuci tangannya.
"Udah stabil. Udah boleh pulang kemarin." Sari menjawab dengan nada sedih.
"Syukurlah..." Roni menanggapi, sedikit lega juga. Terakhir ditinggalnya sabtu lalu keadaan Jun sedang nge-drop kondisinya. Karena itulah Sari bersikeras untuk tinggal di Jogja dan menunggui Jun. Sehingga Roni terpaksa harus meninggalkan Sari dan kembali ke Surabaya sendirian.
"Kamu kapan datang? Kok pagi-pagi udah disini?" Sari mengalihkan pembicaraan ke Roni. Ngapain coba ini orang datang lagi kesini? Bukannya masih banyak urusan dan pekerjaannya di Surabaya? Tapi di sisi lain Sari juga senang Roni datang. Entah mengapa rasanya jadi lebih tenang kalau ada Roni.
"Tengah malam kemarin. Gak tahu kenapa tiba-tiba pengen nyetir kesini. Kangen kamu palingan hehe."
"Idih gombalnya keluar!" Sari tertawa menanggapi gurauan Roni. Ini yang disukainya dari Roni, selalu bisa bercanda dan mencairkan suasana.
"Kamu kenapa, Ron?" Sari menambahkan pertanyaan. Pasti ada yang tidak beres juga dengan pria ini, Sari dapat merasakan kegelisahan yang nyata dari gelagat Roni.
"Aku...aku udah putus sama Ella..."
"Haaah? Serius?" Sari benar-benar kaget mendengarnya. Sari tahu benar bagaimana cerita cinta Roni sejak jaman mereka interenship bersama. Bagaimana usaha pria itu dalam mengejar Ella. Setelah melalui waktu dan perjuangan yang panjang akhirnya mereka jadian juga. Tapi sekarang malah harus berpisah kembali.
"Iya, aku yang mutusin dia. Aku juga mengembalikan dia ke sisi Ardi Pradana." Roni menjawab.
Sari ternganga mendengarnya. Tak mengira Roni memiliki hati selapang itu. Tapi Sari juga tak dapat membayangkan betapa hancurnya hati Roni saat harus melakukan semuanya itu. Pasti sakit dan hancur, remuk redam segala perasaan Roni.
"You're doing great. I'm very proud of you." Sari tersenyum lebar sebagai penghargaan bagi sikap Roni yang menurutnya sangat luar biasa.
(*Kamu telah melakukan hal yang hebat. Aku bangga sekali padamu).
"Makasih ya..."
"Terus kamu kesini sebagai perayaan pesta patah hati?" Sari sedikit menggoda Roni. Tak ingin menanyakan detail dan kronologi kejadian bagaimana putusnya hubungan mereka. Tak ingin membuka kembali luka di hati Roni yang mungkin sudah mulai sembuh.
"Hahahaha kamu tahu aja."
"Hari ini aku mau nengokin Jun ke rumahnya. Abis itu kita jalan-jalan ya. Ayo aku temenin kemana gitu." Sari menawarkan diri menemani dan menghibur Roni. Gantian, beberapa hari yang lalu Roni lah yang selalu ada dan menemani dirinya di saat-saat paling buruk dalam hidupnya. Sekarang adalah saat yang tepat bagi Sari untuk membalas budi ke Roni.
"Aku mau ke Candi Prambanan, sama tebing Breksi." Roni menentukan tujuan mereka.
"Idiiih niat banget, udah googling ya?"
"Iya donk. Kan emang niatnya mau traveling hehe."
"Boleh deh. Terus malemnya jalan-jalan di Malioboro ya. Aku pengen sekalian cari-cari barang antik." Sari menambahkan list tujuan mereka.
"Sekalian kuliner makan malam di Malioboro."
""Wedang ronde!"" Seru mereka hampir bersamaan.
Kemudian keduanya tertawa riang bersama menyadari keinginan mereka yang sama.
"Cuma ada di Jogja si, gak bakal ada di tempat lainya minuman itu." Sari berkomentar.
"Kata siapa? Kamu kurang jauh mainnya hehehe. Coba deh ke daerah pegunungan di Jawa timur. Banyak juga kok yang jualan wedang ronde atau wedang uwuh." Roni memprotes.
"Eh seriusan? Beneran ada? Daerah mana?" Sari sepertinya penasaran. Yah daripada jauh-jauh ke Jogja kalau pengen minum wedang ronde.
"Iya. Yang paling deket kalau dari Surabaya si ke daerah Pacet atau Tretes, Trawas. Bisa sekalian makan jagung bakar sama sate kelinci disana."
"Waaaaah seru juga tu kayaknya." Mata Sari terlihat berbinar-binar membayangkannya.
"Kapan-kapan aku ajakin deh kamu kesana." Roni tersenyum menjanjikan pada Sari yang terlihat antusias dan penasaran.
"Wah asik-asik. Janji lho ya!" Sari kegirangan.
"Iya janji. Tapi kalau kita udah di Surabaya."
"Pastinya lah..."
"Terus kamu kapan pulangnya? Sampai kapan mau disini?" Roni bertanya hati-hati.
"Aku mau disini sampai Jun sembuh..."
"Sar, kamu juga punya kehidupan sendiri. Kamu gak bisa disini terus-terusan. Mas Mahes dan seluruh keluargamu bisa khawatir kalau tahu kamu kayak gini." Roni mencoba meyakinkan Sari untuk pulang.
"Tapi aku mau nemenin dia..."
"Kamu harus tahu kapan harus menyerah juga, Sar. Sama kayak aku yang melepaskan Ella, sekarang sudah waktunya kamu lepaskan Jun. Bukankah hal itu juga yang diinginkan oleh Jun?"
"Aku gak bisa, Ron. Aku gak bisa sejahat itu..."
"Sar, ikhlaskan dia. Ini adalah yang terbaik bagi kamu, bagi Jun, bagi kalian berdua." Roni memberikan sarannya sambil menggenggam erat jemari Sari di atas meja. Ingin memberikan kekuatan dan dorongan semangat agar gadis itu bisa membuat keputusan dan terus melangkah melanjutkan jalan kehidupannya.
Sari tak sanggup menjawab. Hanya bisa terdiam membisu memikirkan perkataan Roni. Meyakini kebenaran ucapan pria itu. Mungkin Roni benar, sudah waktunya dirinya untuk bangkit juga. Menjalani kehidupannya dengan sebagai mana mestinya. Bukannya luntang lantung gak jelas di kota orang kayak begini. Sari masih punya segudang pekerjaan dan tanggung jawab menantinya.
~∆∆∆~
🌼Gak pernah bosen buat ngingetin LIKE, VOTE dan pliiiiissss kasih KOMEN. 🌼