Dokter Ella Love Story

Dokter Ella Love Story
57. Hang Over


Another Friendship quotes


Many people will walking in and out your life, but only true friends will leave foodprints in your heart _ Eleanor Roosevelt


(*Banyak orang akan keluar masuk dalam kehidupanmu, tetapi hanya teman sejati yang akan meninggalkan jejak yang berkesan di dalam hatimu).


________________________________________


Semakin malam pembicaraan mereka berenam semakin akrab seperti pembicaraan para pemuda dan pemudi biasa yang membahas soal gosip terkini teman-teman mereka. Bukan lagi pembicaraan para sultan dan sultanwati yang membicarakan tentang bisnis dan duit. Ella yang tidak tahu menahu sama sekali tentang siapa saja anggota grup bisniman itu jadi sedikit banyak mendapat informasi juga.


Kebanyakan si informasi tentang betapa mengerikannya mereka dalam menghabiskan dan menghambur-hamburkan uang dengan mudah. Bagaimana juga mereka dapat dengan mudahnya mendapatkan uang dan keuntungan juga. Seolah mereka punya pohon uang saja. Jumlah uang yang menurut Ella harus didapatkan dengan menabung beberapa lama dapat mereka habiskan dalam sekali transaksi saja. Tak ada keraguan untuk membuang uang berapapun jumlahnya demi tercapainya apa yang mereka inginkan.


Para pria melanjutkan untuk menghabiskan malam dengan bermain-main di meja bilyar. Bersenang-senang menyodok bola bilyar dengan sesekali bercanda, bersenda gurau dan meneguk minuman mereka. Luna juga ikut bergabung dengan rombongan para pria.


Entah mengapa menurut insting Ella gadis itu sepertinya sedang berusaha mendekati Masrur. Mencari perhatian dari pangeran dari Abu Dhabi itu. Tapi sayangnya Masrurnya sendiri sepertinya tidak sadar dengan sinyal dari Luna. Atau mungkin pura-pura tidak peka? Entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu kebenarannya.


Mau tak mau Ella jadi tersadar bahwa para sultan ini juga memiliki beban dan masalah hidupnya masing-masing. Semua orang memiliki masalahnya sendiri-sendiri. Mungkin para sultan ini bergelimang harta dan sama sekali tidak kesulitan di bidang ekonomi.


Tetapi tetap saja selalu ada masalah lain yang harus mereka selesaikan dalam kehidupan. Yah namanya juga hidup? Hidup itu penuh perjuangan. Kalau gak mau berjuang gak usah hidup hehe. Dan kita juga harus ingat semakin tinggi pohon makan semakin kencang angin bertiup menerpanya. Semakin besar seseorang maka ujian yang dihadapinya juga semakin berat dan hebat.


Sebut saja Johanh yang pesta pertunangannya ditunda karena tunangannya yang katanya sedang sakit. Luna yang cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak terbalas terhadap Masrur. Masrur dengan keluarganya sepertinya belum mempercayainya sepenuhnya untuk memegang kendali perusahaan. Jillia yang masih akan mencoba memulai membuka perusahaan baru atas namanya sendiri.


Serta Ardi...Yah seolah masalah dan beban Ardi dalam masa peralihan perusahaannya belum cukup berat. Beban kerja dobel untuk mengurusi beberapa perusahaan sekaligus. Beban pikiran Ardi masih saja harus ditambah dengan memikirkan hubunganya dengan Ella yang agak rumit dan sampai sekarang belum menemukan titik keluar.


"Kamu udah lama sama Ardi?" Jillia tiba-tiba saja menyeletuk bertanya pada Ella. Mereka hanya berduaan duduk di sofa sekarang. Memandangi keempat teman lainnya bermain bilyard di kejauhan. Jillia sudah memesan beberapa gelas cocktail lagi untuk dirinya sendiri, dan deretan gelas itu sudah berjajar dihadapannya sekarang. Berwarna-warni dengan indahnya. Sepertinya cewek blasteran ini sudah berniat mabuk-mabukan malam ini.


"Belum setahun." Ella menjawab.


"Sudah sejauh apa?"


"Maksudnya?" Ella kebingungan dengan pertanyaan Jillia kali ini.


"Maaf ya sebelumnya aku mau tanya, kamu bukan dari golongan kami kan?" Jillia memastikan. Dengan gerakan anggun dia meminum habis segelas cocktailnya. "Apa kamu sudah dibawa ke orang tua Ardi, ke keluarganya?"


"Sudah," jawab Ella sedikit murung mengingat pertemuannya dengan kedua orang tua Ardi.


"Tak perlu cerita sepertinya aku dapat menebak apa yang terjadi," jillia meneguk cocktail dari gelasnya lagi. "Aku cuma mau ngingetin kamu aja, El. Dunia kami ini benar-benar berbeda. Dunia yang sangat sulit untuk dijangkau oleh golongan diluar kami. Aku tak akan membahas masalah kalian. Tapi aku akan mencoba memberi contoh dengan kisahku sendiri." Jillia berhenti sebentar, mengambil napas dalam-dalam dan meneguk habis gelas cocktail keduanya.


"Kupikir setelah aku hamil dan punya anak maka keluargaku akan menerimaku. Tapi ternyata aku terlalu naif, aku salah, El. Mereka, keluargaku malah makin membuangku. Seolah nama baik kaluarga lebih berharga bagi mereka daripada aku yang anak mereka. Mereka marah, menganggapku telah mempermalukan nama baik keluarga, mengusirku dari rumah." Jillia kembali melanjutnya, sepertinya dia sedikit mabuk karena meminum tiga gelas cocktailnya tadi.


"Aku memaksakan lagi untuk minggat bersama pacarku dan melahirkan anak kami berdua. Tetapi tetap saja banyang-banyang keluargaku selalu menghantui kehidupan kami. Kami terus diteror, bahkan pacarku tak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Kami stress, kami miskin dan akhirnya sering bertengkar. Sampai akhirnya pacarku tak kuat dengan segala tekanan. Dia meninggalkanku dan anakku, menghilang begitu saja." Jillia meneteskan air mata disudut matanya. Gadis itu terlihat berusaha keras menahan tangisnya sekarang. Ella cepat-cepat memberikan tisue dari tasnya pada gadis itu. Tak mengira gadis secantik dan sekaya Jillia memiliki kisah cinta yang sangat memilukan begitu.


"Aku yang sudah hancur tak punya pilihan lain, aku harus tetap hidup dan membesarkan anakku. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke keluargaku. Untunglah mereka mau menerimaku, mereka memang tak mengijinkanku ikut dalam perusahaan utama. Tapi paling tidak mereka masih memberiku kesempatan dengan perusahaan baru yang akan kubuat. Aku ingin membuktikan bahwa aku mampu mengelola perusahaanku sendiri. Agar seluruh keluargaku dapat menerima dan mengakui diriku lagi." Jillia mengakhiri ceritanya. Berusaha keras menyeka air mata yang merembes di pipinya. Ella merasa tak tega mendengar cerita Jillia ini, berusaha menenangkan Jillia dengan membelai punggungnya dengan lembut.


Mengapa Jillia menceritakan kisah hidupnya pada Ella? Apa dia ingin menegaskan bahwa kisah cinta antara sultan dan rakyat jelata ini imposible untuk dilanjutkan? Ataukah dia cuma tidak ingin Ella dan Ardi mengambil jalan yang salah seperti dirinya? Bagaimana pun hubungn dengan niat yang sudah salah sejak awal tak akan berakhir bahagia. Sama seperti Jillia yang memaksakan untuk hamil duluan dengan pacarnya, tapi tetap saja pada akhirnya tak mendapat restu pada akhirnya. Sama sekali tak ada jalan pintas untuk masalah mereka. Hanya ada satu jalan penyelesaian, yaitu restu dari kedua orang tua.


Ella meneguk habis mocktailnya, membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa keluh dan kering. Dimakannya juga puding coklat diatas meja, entah mengapa puding itu terasa agak pahit. Campuran antara manis dan pahit menjadi satu. Tapi Ella benar-benar membutuhkan makanan yang manis-manis sekarang, untuk memperbaiki suasana hatinya yang sedang gundah gulana.


"Mungkin kisah kalian bisa berbeda. Ardi adalah pria yang baik dan bertanggung jawab tidak seperti pacarku yang lemah." Jillia berusaha memperbaiki make up nya untuk menutup bekas tangisannya. Memakai bedak tipis-tipis di sekitar matanya. "Ardi tidak seperti kebanyakan para sultan muda yang play boy dan gila party. Bahkan di grup pun sudah terkenal siapa saja yang the real gentleman dan Ardi menjadi salah satu diantaranya" Jillia mengulaskan lipstik merah merona untuk mencerahkan wajahnya.


"Bukannya aku bilang Ardi tak pernah bawa cewek, gathering, dan minum-minum kayak gini lho ya. Jujur saja kegiatan clubbing dan gathering kaya gini sudah menjadi makanan kami sehari-hari. Semua pria bahkan wanita dari golongan kami sering melakukannya meski hanya untuk formalitas saja." Kali ini Jillia membuka sisi lain dari Ardi Pradana yang tidak diketahui Ella.


Ella terdiam dan berpikir sejenak. Pantas saja Ardi jago banget berciuman, entah sudah berapa banyak wanita yang telah diciumnya sebelum Ella. Para mantan pacarnya atau sekedar wanita-wanita cantik yang menemaninya di bar dan club malam seperti ini. Dan lagi, Ardi juga terlihat cukup tahan untuk meminum minuman yang mengandung alkohol. Bukti nyata dirinya juga sering minum minuman keras di acara-acara seperti ini ataupun pesta resmi lainnya.


Entah mengapa perasaan Ella menjadi sedikit emosi, marah dan bergejolak mendengarnya. Mendengar Ardi ternyata tak sebaik dan sesempurna yang Ella duga sebelumnya. Masih banyakkah sisi lain Ardi yang tidak Ella ketahui?... Ella merasa tubuhnya semakin memanas dan pandangannya sedikit kabur, kepalanya terasa sangat berat.


Cepat-cepat Ella mengambil segelas minuman di hadapannya di meja dan langsung saja diteguknya. Diteguknya sampai habis minuman itu dalam gelasnya. Ella heran kok rasa minumannya beda ya dari miniman mocktail alkohol free yang daritadi diminumnya. Ternyata Ella memang salah minum. Yang diminumnya barusan bukanlah mocktail. Melainkan dia meminum cocktail beralkohol entah milik siapa yang ada di meja.


Tentu saja keadaan Ella tidak menjadi lebih baik setelah minum cocktail tadi. Bahkan kepalanya semakin terasa berat dan berputar-putar. Sekujur tubuhnya juga terasa sangat panas dan gerah. Keringatnya mulai mengucur deras dan napasnya pun seolah terengah-engah. Mirip orang demam saja rasanya. Jadi kayak gini rasanya mabuk? Rasanya lebih jauh tidak nyaman daripada mabuk kendaraan.


"El? Ella? Are you Ok?" Jillia kebingungan melihat Ella yang sepertinya mabuk berat itu. Ditepuk-tepuknya pipi Ella perlahan yang sudah memerah dan memanas saking mabuknya. Gadis itu hanya terlihat merem melek dan berguman tidak jelas.


"Hei, Ardi. Berhenti dulu main bilyardnya. Cewekmu mabuk berat ni kayaknya." Jillia memanggil Ardi dengan sedikit panik.


"Ella? Mabuk?" Ardi bertanya kaget dengan sedikit keheranan dan khawatir. Cepat-cepat beranjak untuk menghampiri Ella di sofa tadi.


~∆∆∆~


Buat yang penasaran sama karakter-karakter Johanh, Kika, Masrur, dan Luna, bisa langsung mampir dan kepoin di novel berjudul YOUNG MISS karya author teman saya ASTARI. Dijamin gak bakal kalah serunya.


🌼Tolong klik JEMPOL (LIKE), klik FAVORIT (❤️), kasih KOMENTAR, kasih RATE bintang 5, VOTE pakai poin yang banyak, bagi TIP dan FOLLOW author. Makasih 😘🌼